Ruoling hidup di istana seperti di neraka setelah ibunya di hukum mati karna katanya 'sudah menuangkan racun di makanan utama saat perayaan ulang tahun Kaisar' hingga banyak yang kehilangan nyawa.
Semua penderitaannya itu di mulai saat dirinya di cap sebagai "anak pembunuh", lalu di fitnah, di jauhi sampai di perlakukan tidak selayaknya tuan putri. Parahnya anak-anak itu tak ragu untuk membayar pelayan yang bekerja dengannya untuk membuatnya berada di posisi yang jahat.
Tapi Ruoling remaja diam saja, tapi beranjak dewasa Ruoling sadar mereka tidak pantas memperlakukannya seperti itu. Namun saat kebenaran tentang ibunya terungkap dalam suatu kebetulan yang tak di sengaja membuat Ruoling rela mempertaruhkan nyawa, masa depan dan namanya semakin buruk untuk membongkar pelaku yang tak pernah di sangkanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masalah
Empat tahun telah berlalu sejak sebagian besar orang yang berkerja di lingkungan istana menjadi korban keracunan yang katanya pelakunya adalah Selir Hua. Hal itu pula yang membuat seorang gadis kecil yang dulu ceria berubah perlahan menjadi sosok yang berbeda.
Hari itu, Ruoling berjalan melewati lorong panjang Istana Timur dengan anggun. Gerakannya halus, mantap, penuh wibawa terpendam yang tidak perlu dijelaskan.
Ruoling mengenakan gaun sutra berwarna hijau giok lembut dengan pandangan tajamnya yang menyoroti setiap orang yang melewatinya tanpa memberikan penghormatan. Ia hanya bisa mendegus tapi tidak terlalu memikirkan sikap setiap orang padanya.
Aksesoris rambut dari jade putih menghiasi kepalanya, tersusun rapi dan elegan, menyatakan statusnya sebagai putri kekaisaran meski jika sedang sendirian tidak ada seorang pun yang menghormatinya.
Kulitnya yang pucat, matanya tajam seolah menjadi penguat anggapan kalau dia adalah wanita yang kejam padahal pada kenyataannya Ruoling tidak seperti itu. Ia hanya menyelamatkan dirinya dengan bersembunyi di dalam sosok yang kejam.
“Aku heran, mengapa ia masih dibiarkan tinggal padahal seluruh keluarga besarnya sudah di usir dari kawasan istana?”
"Karna walau bagaimanapun dia adalah anak dari Kaisar kita," balas salah satu pelayan membuat Ruoling yang jaraknya beberapa meter di belakang mereka tersenyum tipis lalu melanjutkan langkahnya. "Tapi kemarin aku sempat dengar dia kembali menyakiti adiknya. Apa kau tahu? Putri Ruoyi sampai menjerit-jerit padahal baru beberapa menit mereka di tinggalkan bedua."
“Aku sudah mendengarnya dan sangat yakin dia sudah menyakiti putri baik hati itu. Sejujurnya aku heran karna sudah cukup lama aku bekerja di sini, tapi kenapa dia tidak pernah jera padahal sudah sering di hukum. Dia menyakiti kita bagiku... bukanlah masalah besar, tapi ini adiknya sendiri dan sudah sangat pantas hukumannya lebih besar."
"Aku setuju! Kau pasti sudah muak kerja di sini, semoga saja aku bisa bertahan lama dan tidak pernah berurusan dengannya."
"Sangat, jika tidak mengikat gaji dan status di luar istana, aku sudah lama meninggalkan tempat ini."
"Padahal aku sangat berharap orang sepeti kalian segera keluar dari sini." Ruoling mengejutkan mereka lalu menarik singkat kedua sudut bibirnya saat mereka berbalik, terkejut melihat keberadaannya. "Apakah semua pekerjaan kalian sudah selesai hingga kalian bisa membicarakan rumor yang tidak jelas itu di sini?"
Ruoling masih menatap mereka dengan tajam. Sudah berbulan-bulan dirinya bersabar sejak di hukum terakhir kalinya dengan tidak terlalu menanggapi anggapan semua orang tentang dirinya sebagai anak pembunuh karna kenyataanya yang sampai saat ini mereka tahu memang seperti itu.
Selama ini ia berusaha diam setiap mendengar rumor-rumor buruk yang tidak tahu berasal dari mana yang dengan cepat menyebar tapi semakin lama mereka keterlaluan hingga Ruoling membalasnya.
Di sini dirinya adalah seorang putri pertama jadi harusnya orang-orang yang posisinya lebih rendah darinya tidak sepantasnya membicarakan itu di dalam atau di luar istana.
Di tambah lagi dengan semakin diam maka semakin banyak rumor-rumor yang tidak benar tersebar tentangnya dan itu semua di mulai dari para pelayan.
“U—um… P-Putri Ruoling… kami hanya membicarakan apa yang di katakan pelayan lain," ungkap salah satu pelayan dengan pandangan menatap tanah.
"Dari dulu... dari dulu semua masalah yang menimpaku berasal dari cerita pelayan seperti kalian!" Ruoling mengepalkan kedua buku tangannya karna emosi.
"Karna kami... mendengarnya langsung dari para pelayan khusus yang bekerja dengan anak-anak bangsawan."
"Atas dasar apa kalian menuduhku melakukan itu semua? Apa kalian punya buktinya?"
"Apakah tuan Putri juga bisa membuktikan kalau semua itu tidak benar?"
"Kau berani sekali!" Ruoling semakin emosi. "Aku rasa kalian tahu tentang sopan santun, dan apa yang kalian lakukan itu sopan? Harusnya kalian menjaga telinga dan mulut agar tidak menyebarkannya keluar!"
"Kami hanya membicarakan fakta bukan rumor yang tidak benar," ucapan seorang pelayan yang sama dengan berani yang semakin membuat Ruoling emosi. "Harusnya Tuan Putri bisa bersikap lebih baik lagi dan buktikan itu semua tidak benar bukannya–"
Plak.
Tamparan itu terdengar jelas, membuat beberapa orang yang ada di tempat terbuka menoleh pada mereka. Tapi Ruoling tidak peduli karna pelayan yang terjatuh ke samping sambil memegangi pipinya yang memerah sudah keterlaluan.
"Astaga!" Kata pelayan satunya lagi.
“Kau... Apa hakmu mengatakan itu?" Suaranya lembut, tapi penuh tekanan. “Atau kau pikir aku masih anak kecil yang pantas kalian nasehati?"
Pelayan itu terisak ketakutan, tapi Ruoling belum selesai. Tidak akan pernah selesai sampai dirinya puas.
“Aku tidak keberatan jika ada banyak yang membenciku.” Ruoling menunduk sedikit, menyentuhkan telunjuknya ke dagu pelayan itu, mengangkatnya paksa agar pelayan itu menatapnya. "Apa lagi hanya karna masalah yang di awali oleh rumor tidak benar ini!"
Pelayan itu menggigil. Ruoling tersenyum tipis—senyum yang tidak pernah mencapai matanya. Lalu ia melangkah pergi dengan elegan tanpa menoleh lagi. Seolah-olah adegan itu tidak berarti untuknya, tapi kenyataannya bagi Ruoling memang begitu.
Tujuannya adalah kediaman Putra Mahkota yang selalu dijaga ketat oleh banyak pengawal berdiri tegap di kiri kanan gerbang. Ruoling sudah beberapa Minggu tidak bertemu Zhiyuan karena adiknya itu sibuk menghadiri rapat berkepanjangan tentang keamanan istana dan memperbaiki reputasi keluarga kerajaan yang hancur sejak tragedi beberapa tahun lalu.
Namun, begitu memasuki halaman dalam, langkah Ruoling terhenti. Di bawah naungan pohon plum yang tengah berbunga, ia melihat Ruoyi, adik tirinya—gadis yang selamat dalam tragedi keracunan dulu.
Ruoyi berdiri dikelilingi beberapa pelayan juga putra mahkota. Ia tampak lembut, berperilaku sopan, dan semua orang memperlakukannya bagai harta paling berharga.
Sementara dirinya kebalikannya. Tapi beruntungnya hal yang sama tidak di lakukan oleh Permainan dan Putra Mahkota, mereka menyayanginya sama seperti dulu tanpa menyingung kalau ibunya sangat berdosa.
Walaupun Permaisuri dan Putra mahkota selamat karna tubuh mereka sama-sama tidak bisa menikmati sup daging karna akan membuat gatal-gatal, tapi ada banyak anggota keluarga dari kakak, adik, sepupu serta saudara jauh dari mereka yang terkena dampaknya dan beberapa tidak berhasil selamat.
"Jika aku ke sana maka aku akan menghancurkan kebahagiaan mereka jadi lebih baik aku kembali saja dan datang lagi lain waktu saat adik tidak berkunjung."
Ruoling kembali ke kediamannya. Sepanjang perjalanan pulang, tatapan dari semua orang yang punya jabatan di istana mengikuti langkahnya.
Sebagian tidak suka, sebagian meremehkan, sebagian diam-diam takut. Mereka telah melihat bagaimana Ruoling dewasa berubah—lebih dingin dari salju musim dingin, lebih tajam dari pedang kerajaan.
Tapi Ruoling menyambut semua tatapan itu dengan sorot mata tajam yang seolah berkata: “Coba kalian sentuh aku, lihat apa yang terjadi.”
Tidak ada yang berani menegur. Tidak ada yang berani mendekat. Mereka hanya berani bicara di belakangnya.
Karena mereka tahu, Ruoling bukan lagi gadis kecil seperti dulu yang menangis dalam diam jika di sakiti. Ia adalah wanita yang dibesarkan oleh kehilangan, yang hidup di tengah kebencian, hingga tumbuh dengan kemarahan yang tidak pernah benar-benar padam dan ia tidak akan diam saja saat di sakiti sekecil apapun.