"Mencintai Pak Alkan itu ibarat looping tanpa break condition. Melelahkan, tapi nggak bisa berhenti"
Sasya tahu, secara statistik, peluang mahasiswi "random" sepertinya untuk bersanding dengan Alkan Malik Al-Azhar—dosen jenius dengan standar moral setinggi menara BTS—adalah mendekati nol. Aris adalah definisi green flag berjalan yang terbungkus kemeja rapi dan bahasa yang sangat formal. Bagi Aris, cinta itu harus logis; dan jatuh cinta pada mahasiswa sendiri sama sekali tidak logis.
Tapi, bagaimana jika "jalur langit" mulai mengintervensi logika?
Akankah hubungan ini berakhir di pelaminan, atau justru terhenti di meja sidang sebagai skandal kampus paling memilukan? Saat doa dua pertiga malam beradu dengan aturan dunia nyata, siapa yang akan menang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fatin fatin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 2
Jika hidup Sasya adalah sebuah program, maka minggu ini adalah fase debugging paling melelahkan. Pasca insiden file teks yang hampir terbaca itu, Sasya memutuskan untuk melakukan "distansi sosial" dari Pak Alkan. Ia tidak lagi duduk di barisan depan saat kuliah Kecerdasan Buatan, tidak lagi rajin bertanya di grup WhatsApp kelas, dan yang paling ekstrem: ia selalu memakai masker kain dobel setiap kali harus lewat di depan ruang dosen.
"Sya, lo kalau kayak gini terus, skripsi lo yang bakal di-terminate sama sistem, bukan perasaan lo," protes Putri saat mereka berada di kantin fakultas.
Sasya mengaduk es teh manisnya dengan tidak bersemangat. "Gue cuma butuh waktu, Put. Malunya itu lho, masih nempel di ubun-ubun. Tiap liat Pak Alkan, gue ngerasa kayak barisan kode yang berantakan. Gak layak tayang."
"Tapi lo liat deh ke arah jam dua," bisik Putri tiba-tiba dengan nada serius.
Sasya menoleh pelan. Di meja pojok kantin yang biasanya sepi, Pak Alkan sedang duduk. Tapi dia tidak sendiri. Di hadapannya, ada Bu Sarah, dosen muda dari Fakultas Ekonomi yang terkenal sebagai "Primadona Kampus". Bu Sarah tampil anggun dengan jilbab satin yang rapi dan tawa kecil yang terdengar sangat... high class.
Dada Sasya terasa seperti terkena deadlock.
"Tuh kan, Sya. Di saat lo lagi sibuk 'sembunyi', saingan lo lagi sibuk 'optimasi'," tambah Putri tanpa filter.
Sasya memperhatikan bagaimana Bu Sarah menyodorkan sebuah kotak bekal ke arah Pak Alkan. Pak Alkan tampak mengangguk sopan, meskipun wajahnya tetap datar, tapi dia tidak menolak. Dia tetap di sana, mendengarkan Bu Sarah bicara dengan penuh perhatian.
"Logika gue mulai main, Put," suara Sasya melemah. "Bu Sarah itu dosen. Pinter, mapan, cantiknya nggak butuh filter Instagram. Sedangkan gue? Mahasiswi yang skripsinya aja masih banyak typo dan sering begadang cuma buat nonton drakor. Secara komparasi, gue itu cuma low-end smartphone dibanding Bu Sarah yang flagship."
"Heh! Jangan self-deprecating gitu dong! Ingat, lo punya jalur langit," hibur Putri.
"Jalur langit itu butuh usaha bumi yang seimbang, Put. Kalau lawannya modelan Bu Sarah, gue ngerasa doa gue ketahan di firewall," Sasya menghela napas panjang, lalu membereskan bukunya. "Gue balik ke lab aja. Mau fokus benerin coding. Perasaan bisa nunggu, tapi deadline nggak bisa kompromi."
Di lab komputer yang dingin, Sasya mencoba menenggelamkan diri dalam deretan syntax Python. Namun, konsentrasinya hancur berkeping-keping saat pintu lab terbuka dan aroma parfum yang sangat familiar masuk.
Aroma kayu cendana dan kopi. Pak Alkan.
Sasya refleks menundukkan kepala, pura-pura sangat sibuk mengetik meskipun yang ia ketik hanyalah huruf 'aaaaaaa' berulang kali di layar.
"Sasya," suara itu terdengar tepat di belakang kursinya.
Sasya tersentak, hampir saja menjatuhkan mouse-nya. "E-eh, iya, Pak Alkan? Bapak ngapain di lab mahasiswa?"
Alkan berdiri di sana, memegang beberapa lembar kertas. "Saya mencari kamu. Saya lihat di log penggunaan lab, kamu belum pulang sejak jam satu siang tadi. Ini ada catatan tambahan untuk Bab 3 kamu. Saya rasa ada beberapa logika di bagian Neural Network yang perlu kita diskusikan secara tatap muka."
Sasya menerima kertas itu dengan tangan gemetar. "B-baik, Pak. Saya pelajari dulu."
Alkan tidak langsung pergi. Ia berdiri diam selama beberapa detik, memperhatikan layar laptop Sasya yang penuh dengan huruf 'a'.
"Kamu sakit?" tanya Alkan tiba-tiba. Nadanya datar, tapi bagi Sasya, itu terdengar seperti perhatian yang luar biasa.
"Nggak kok, Pak. Cuma... sedikit pusing sama error."
"Istirahat, Sasya. Jangan terlalu memaksakan diri. Otak manusia itu bukan prosesor yang bisa kamu overclock terus-menerus tanpa pendingin," Alkan menjeda kalimatnya. "Dan satu lagi, besok jam sepuluh, temui saya di ruangan. Kita diskusi soal revisi ini. Jangan terlambat."
"Tapi Pak... besok kan Bapak ada rapat sama dekanat?" Sasya mencoba mencari alasan untuk menghindar.
"Rapatnya dibatalkan," jawab Alkan singkat. Ia kemudian berbalik, namun langkahnya terhenti. "Oh ya, Sasya. Terima kasih atas doa di file teks tempo hari. Meskipun saya bilang saya hapus tanpa baca, ternyata mata saya lebih cepat menangkap informasi daripada jari saya menekan tombol delete."
Deg.
Sasya merasa jantungnya berhenti berdetak. Pak Alkan... mengaku kalau dia baca?
"Tapi tenang saja," lanjut Alkan tanpa menoleh. "Objektivitas saya masih utuh. Saya tidak akan memberi kamu nilai A hanya karena kamu menganggap saya 'memuliakan wanita'. Kamu harus membuktikannya lewat skripsi ini."
Setelah Alkan pergi, Sasya jatuh terduduk di kursinya. Wajahnya merah padam.
"Ya Allah... ini namanya bukan syntax error lagi. Ini namanya system crash total!" Sasya menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Di satu sisi, dia merasa sangat malu. Di sisi lain, ada sebersit harapan kecil. Pak Alkan tidak marah. Pak Alkan justru mengingatkannya untuk istirahat. Tapi bayangan Bu Sarah dan kotak bekal di kantin tadi kembali muncul.
Sasya mengambil ponselnya. Ia membuka aplikasi catatan yang berisi daftar doanya. Ia menambahkan satu baris di bawahnya:
“Ya Allah, kalau emang Pak Alkan adalah jawaban dari istikharah hamba, tolong kasih tanda yang lebih jelas dari sekadar revisi bab tiga. Dan kalau bisa... tolong bikin Pak Alkan nggak doyan sama masakan Bu Sarah. Amin.”