NovelToon NovelToon
Hatimu Milik Siapa?

Hatimu Milik Siapa?

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami / Selingkuh
Popularitas:19.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira ohyver

​Tiga tahun menikah, Tania hanya menjadi bayangan di rumahnya sendiri. Baginya, Rey adalah semesta, tapi bagi Rey, Tania hanyalah 'obat penawar' saat hatinya hancur ditinggal masa lalu.

Tania sudah memberikan segalanya, sampai dia sadar—di hati suaminya, tetap ada nama wanita lain yang tak sanggup dilepaskan.

​Saat Tania berhenti peduli dan berpapasan tanpa lagi menatap mata suaminya, Rey baru merasakan dingin yang sesungguhnya.

"Apakah mencintai harus sesakit ini? Jika kau cinta, mengapa tak menahannya, Rey?"

Terinspirasi dari lagu Arvian Dwi(Hatimu Milik Dia)

Dukung Authir yaa,,like,komen,gift hehehe

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sandiwara di Ambang Batas

Rumah sakit Medika seolah kembali menjadi panggung bagi Reynald Pratama. Hanya saja kali ini, bukan karena kecelakaan nyata, melainkan sebuah rencana nekat yang lahir dari keputusasaan.

Di atas ranjang rumah sakit yang dingin, Rey berbaring dengan berbagai selang yang terpasang di tubuhnya—sebagian besar sebenarnya tidak terlalu diperlukan, tapi ia memaksa dokter (yang merupakan teman lamanya dan merasa berhutang budi) untuk membuatnya terlihat kritis.

​"Rey, ini gila. Kalau Tania tahu kamu cuma pura-pura koma atau gagal jantung, dia nggak akan pernah mau melihat wajahmu lagi seumur hidup," bisik Dokter Bram, menggelengkan kepala melihat tingkah sahabatnya.

​Rey hanya menatap langit-langit kamar dengan mata cekung. "Dia sudah tidak mau melihatku sekarang, Bram. Ini satu-satunya cara. Aku hanya ingin dia datang, duduk di sampingku, dan menatapku dengan tatapan cemas seperti dulu. Sekali saja."

​"Kamu sedang menjemput kehancuranmu sendiri, Rey," sahut Bram sambil meninggalkan ruangan.

Berita tentang "Kondisi Kritis CEO Pratama Group" langsung menyebar ke media dalam hitungan jam. Asisten Rey, Roni, diperintahkan untuk terus menghubungi Tania, untuk memuluskan sandiwara yang dirancang majikannya.

​Saat itu, Tania sedang berada di lokasi proyek terbarunya—sebuah rumah mewah bergaya modern tropis yang sedang dalam tahap finishing. Ia mengenakan helm proyek putih dan membawa gulungan cetak biru di ketiaknya.

Fokusnya sedang tercurah sepenuhnya pada koordinasi dengan mandor mengenai pemasangan panel kayu jati di ruang keluarga, ketika ponsel di saku celananya bergetar berkali-kali.

​Nama 'Roni' berkedip di layar.

Tania mengabaikannya hingga tiga kali, tetap melanjutkan diskusinya tentang pencahayaan indirect yang kurang presisi. Namun, pada panggilan keempat, getaran itu terasa begitu mendesak.

​"Maaf, Pak, saya terima telepon sebentar," pamit Tania pada sang mandor. Ia menjauh dari kebisingan suara bor dan palu, kemudian mengangkat panggilan itu dengan nada dingin.

​"Ada apa, Roni? Aku sedang mengawasi proyek, jangan ganggu jika tidak mendesak," suara Tania terdengar tegas dan profesional.

​"Ibu ... tolong ... ini tentang Tuan Rey," suara Roni terdengar gemetar (Roni memang aktor yang cukup baik di bawah tekanan Rey).

"Tuan Rey kolaps di kantor. Jantungnya melemah dan sekarang ada di ICU. Beliau ... terus saja menggumamkan nama Ibu sebelum tidak sadarkan diri."

​Tania terdiam. Tangannya yang memegang ponselnya bergetar bukan karena cinta, tapi karena rasa kemanusiaan yang masih tersisa. Bagaimanapun, mereka pernah hidup bersama selama tiga tahun.

​"Dia punya ibu dan dokter terbaik, Roni. Kehadiranku tidak akan mengubah diagnosa medis," balas Tania tegas.

​"Tapi dokter bilang semangat hidupnya hilang, Bu. Tolong, sekali saja ... jenguk beliau. Saya takut ini akan menjadi pertemuan terakhir kalian."

​Setelah menutup telepon, Tania terduduk lemas. Adrian, yang baru saja masuk untuk menjemputnya makan siang, melihat perubahan raut wajah Tania.

​"Tania? Ada apa?" Adrian menghampiri, raut wajahnya penuh kekhawatiran.

​Tania menceritakan semuanya. Ia mengira Adrian akan marah atau melarangnya, tapi pria itu justru menggenggam tangannya dengan lembut.

​"Jika menurutmu itu akan memberikan ketenangan untuk batin kamu supaya tidak merasa bersalah di masa depan, pergilah. Aku akan mengantarkan kamu," ucap Adrian dengan kedewasaan yang luar biasa. "Aku percaya kamu, Tania. Dan aku tidak takut pada bayang-bayang pria yang sudah menjadi masa lalu."

​Sesampainya di rumah sakit, suasana ICU terasa sangat mencekam. Ibu Rey, Bu Sarah, langsung menghambur memeluk Tania sambil menangis histeris. "Tania! Syukurlah kamu datang. Rey ... anakku ... dia nunggu kamu, Tan."

​Tania masuk ke dalam ruang kaca itu sendirian. Ia melihat Rey yang tampak sangat lemah, wajahnya dipasangi masker oksigen. Detak jantung di monitor tampak tidak teratur—setidaknya itulah yang diatur oleh Bram atas permintaan Rey.

​Tania duduk di kursi samping tempat tidur. Ia menatap pria yang dulu sangat ia puja, pria yang dulu ia sangka akan menjadi pelindung terakhirnya.

​"Rey," bisik Tania.

​Rey tidak bergerak, tapi di balik kelopak matanya yang tertutup, jantungnya berdegup kencang. Ia merasa menang. Tania datang. Tania masih peduli.

​Tania memandangi tangan Rey yang terbaring lemas. Ia teringat bagaimana tangan itu dulu sering mengabaikan genggamannya demi mengetik pesan untuk Bianca. Ia teringat bagaimana tangan itu dulu melepaskan pegangannya saat ia sedang menangis kesakitan.

​"Rey ... kalau kamu bisa mendengar ku," suara Tania mulai terdengar bergetar, "berhentilah. Berhentilah menyiksa dirimu sendiri, dan berhentilah mencoba mengikatku dengan rasa iba."

​Rey terkejut di dalam hatinya. Apa dia tahu?

​"Aku datang ke sini bukan sebagai istrimu yang merana. Aku datang sebagai manusia yang melihat manusia lain sedang menderita," lanjut Tania.

"Tapi kalau kamu pikir dengan kondisi ini aku akan kembali ke pelukan kamu, kamu salah besar. Cinta itu sudah mati, Rey. Bahkan jika kamu bangun sekarang atau tidak pernah bangun lagi, keputusanku sudah bulat."

​Tania berdiri. Ia tidak menyentuh tangan Rey sedikit pun. "Semoga kamu cepat sembuh, supaya kamu bisa melihat betapa bahagianya aku tanpa dirimu."

​Tania berbalik untuk keluar, tapi karena panik mendengar kata-kata dingin Tania, ego Rey pecah. Ia tidak tahan lagi. Saat Tania baru melangkah dua langkah, tangan Rey tiba-tiba bergerak dan menarik ujung blazer Tania.

​"Tan ... jangan pergi," gumam Rey dengan suara yang terlalu kuat untuk ukuran orang yang sedang kritis.

​Tania berhenti. Ia menatap tangan Rey yang mencengkeram blazernya, kemudian menatap wajah Rey yang kini matanya terbuka lebar—tidak tampak seperti orang koma sama sekali. Tania melirik ke arah monitor jantung yang tiba-tiba menunjukkan grafik yang sangat stabil dan normal.

​Tania tersenyum, tapi itu adalah senyuman yang paling mengerikan untuk Rey. Senyuman penghinaan.

​"Sejak kapan orang koma bisa menarik baju dengan tenaga sekuat ini, Rey?" tanya Tania dengan nada sangat tenang.

​Wajah Rey langsung pucat pasi. Ia menyadari kesalahannya. Ia terlalu terburu-buru karena takut kehilangan momentum.

​"Aku ... aku baru saja sadar karena suaramu, Tan," kilah Rey terbata-bata, mencoba memasang wajah kesakitan lagi.

​Tania menarik paksa blazernya. "Cukup, Rey. Aku baru saja akan memberikan sedikit rasa hormat terakhir untuk kamu, tapi kamu justru menghancurkannya dengan drama murahan ini. Kamu benar-benar pria yang menyedihkan."

​Tania berjalan keluar dengan langkah cepat. Di depan pintu, ia bertemu dengan Dokter Bram dan Bu Sarah.

​"Dokter Bram, saya harap Anda tidak kehilangan izin praktik Anda hanya karena membantu drama CEO yang kurang perhatian ini," ujar Tania pedas sambil melirik tajam ke arah Bram yang langsung tertunduk malu.

​Tania menghampiri Adrian yang berdiri di ujung koridor. Adrian langsung merangkul pundaknya tanpa bertanya apa-apa.

​"Ayo kita pergi, Adrian. Di sini udaranya terlalu penuh dengan kebohongan," ajak Tania.

​Di dalam kamar, Rey mengamuk. Ia mencabut paksa kabel-kabel di tubuhnya dan membanting masker oksigen ke lantai. "Sialan! Semuanya berantakan!" teriaknya.

​Roni masuk dengan wajah pucat. "Tuan ... di luar ada banyak wartawan. Mereka melihat Ibu Tania keluar dengan wajah marah. Berita tentang 'Drama ICU Palsu' Anda mungkin akan meledak besok pagi."

​Rey terduduk di lantai, memegangi kepalanya yang terasa mau pecah. Ia bermaksud menarik perhatian Tania dengan rasa iba, tapi yang ia dapatkan justru kebencian yang semakin dalam dan kehancuran reputasi yang total.

1
SisAzalea
bodoh Rey ikut ckp Aris,
Daulat Pasaribu
awal yg sad thor bacanya
@Yayang ♡ Risa
Rey kamu dan Bianca sama sama dapat karmanya
🧡⃟ɢᴏᷫɴᷤтєɴɢ ƈιʅιƙ¹ᴸ
wkwkwk Bianca dibully habis"nya, mulutnya tajem juga itu narapidana
🧡⃟ᴀғᷫғᷤαη∂нι⁵ᴸ
dia ga hanya mendukungmu tapi dia melihat kamu dengan bakatmu juga🤭
🧡⃟ʏᴇ ʜͫᴀᷲᴏʀᴀɴ⁴
Adrian perhatian banget, cowo idaman
ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🧡⃟ᴢʜᴇͫɴᷲɢ ʜᴜɪ³𖤍ᴹᴿ᭄
skrng Tania lebih bersinar iya
ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆ᴍᴜᴍᴜ
cie Tania dilamar Adrian ini🤭
🥑⃟🧡⃟ᴡᴀͫɴᷲɢ ʏɪ ʟᴇɪ⁸
karma emang datang begitu cepat
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🧡⃟ᴍᴜᴍᴜ⁷
mulai dari awal lagi rey, harus semangat
❤️⃟Wᵃfᴄͫᴇᷰɢͫɪᷰʟ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ☘𝓡𝓳
karma sedang kalian alami, semoga kalian sadar iya
🧡𑇙ᴄнᷟєᷲηɢ тιαη χιαηɢ⁶
ga selamanya kita selalu diatas
𐘎ʜⷩᴀⷪɴᷜ ͥʏⷥᴜᴛᴏɴɢ
sabar iya
𝐀⃝🥀мυмυ
rey rey kamu harus sabar iya
Yayang Lop3♡ Risa
Bianca kamu taubat kesalahan kamu besar banget
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ🧡⃟ᴢʜᴀͫɴᷲɢ ᴊɪᴊᴜɴ²◌ᷟ⑅⃝ͩ●
semoga kamu bisa belajar dari tania iya bianca
❤️⃟Wᵃfᴍᷟᴀᷰxᷟɪᷰᴀᴏʏᴜ
maun kasian tapi itu karna buat kalian yg jahat ke tania
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻᴢͫʜᷰᴀᷟɴᷴɢ ᴛɪɴɢ ʀᴜɪ
Kasian ibunya rey sakit"an tapi mau gmn dia dlu ga membela tania
☘𝓡𝓳 мυмυ
kalian berdua harus smaa" belajar berubah lebih baik lagi dan bertaubat
ѕ⍣⃝✰ѕнєη нᷟαᷴσᷟηᷴαη
uhuy adrian romantis sekali🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!