NovelToon NovelToon
Aluna Milik Arsen

Aluna Milik Arsen

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / CEO
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Aurora_Minji

Satu tabrakan mengubah segalanya.

Aluna Prasetya tidak pernah membayangkan kecelakaan kecil akan menjebaknya dalam kontrak 6 bulan dengan Arsen Mahendra, pengusaha kaya raya yang dingin, berkuasa, dan obsesif.
Aturan ketat. Kontrol total. Kepemilikan mutlak.
"Kamu milikku, Aluna. Hanya milikku."

Arsen bukan sekadar menginginkannya sebagai asisten. Ia menuntut kepemilikan penuh jiwa, raga, dan hati. Sentuhan possesifnya membakar, obsesinya mencekik, namun Aluna terjerat terlalu dalam untuk kabur.

Ketika masa lalu kelam Arsen terungkap dan ancaman datang menghampiri, Aluna menyadari satu hal, melarikan diri dari Arsen Mahendra adalah mustahil.

Tapi apakah ia masih ingin melarikan diri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora_Minji, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 4: Aturan Ketat

Hari kedua bekerja untuk Arsen Mahendra dimulai dengan sebuah email yang masuk tepat pukul 05.30 WIB satu setengah jam sebelum Aluna bahkan berencana untuk bangun.

Ponsel khusus yang diberikan Arsen bergetar keras di meja samping tempat tidur, membangunkan Aluna dari tidur yang sudah tidak nyenyak. Ia meraih ponsel itu dengan mata setengah terpejam, membaca email yang masuk.

Dari: Arsen Mahendra

Kepada: Aluna Pradipta

Subjek: Aturan dan Protokol Kerja

Aluna,

Berikut adalah aturan yang harus kamu patuhi selama bekerja sebagai asisten pribadiku:

1. Ketersediaan 24/7

Kamu harus selalu siap dihubungi kapan pun, di mana pun. Ponsel yang kuberikan tidak boleh dimatikan dalam keadaan apa pun. Waktu respon mu maksimal 5 menit setelah aku menghubungi.

2. Larangan Kedekatan dengan Pria Lain

Kamu tidak diperkenankan berbicara, berinteraksi, atau berhubungan dengan pria lain di luar keperluan kerja yang tidak bisa dihindari. Ini termasuk teman kuliah, teman lama, atau siapa pun. Pelanggaran akan berakibat serius.

3. Dress Code Ketat

Kamu hanya boleh mengenakan pakaian yang telah ku sediakan. Tidak ada pengecualian. Pakaian dari luar tidak diperbolehkan saat bekerja.

4. Lokasi dan Pergerakan

Aku akan selalu tahu di mana kamu berada melalui GPS di ponselmu. Jika kamu mematikan GPS atau mencoba mengelak, itu akan dianggap sebagai pelanggaran kontrak.

5. Relokasi Tempat Tinggal

Mulai hari ini, kamu akan tinggal di mansion pribadiku di kawasan Pondok Indah. Sopir akan menjemputmu pukul 07.00 WIB untuk membantumu pindah. Ini bukan permintaan ini adalah perintah.

6. Isolasi dari Kehidupan Lama

Interaksimu dengan keluarga dan teman-teman lama harus diminimalkan. Fokus mu sekarang adalah padaku dan pekerjaanmu.

Aturan ini mutlak dan tidak bisa dinegosiasikan. Pelanggaran akan berakibat pada denda sesuai kontrak atau pemutusan sepihak yang mengharuskan mu membayar kompensasi penuh.

Sampai jumpa pukul 08.00 WIB.

— Arsen Mahendra

Aluna membaca email itu sekali, dua kali, tiga kali berharap ia salah membaca. Tetapi kata-katanya tetap sama.

Tinggal di mansion Arsen?

Itu... itu sudah melewati batas.

Dengan tangan gemetar, Aluna bangkit dari tempat tidur dan bergegas keluar kamar. Ia harus bicara dengan ibunya. Sekarang.

Di ruang tengah, ibunya sudah bangun seperti biasa, sudah sibuk menyiapkan adonan kue untuk pesanan hari ini. Wulan mengangkat kepala saat mendengar langkah kaki Aluna yang terburu-buru.

"Luna? Pagi-pagi sudah bangun? Ada apa, Nak?" tanya ibunya dengan senyum lembut.

Aluna berhenti di depan ibunya, kata-kata menggumpal di tenggorokannya. Bagaimana ia bisa menjelaskan ini? Bagaimana ia bisa bilang bahwa atasannya pria yang baru ia kenal dua hari memerintahkannya untuk tinggal di rumahnya?

"Bu... saya..." Aluna menelan ludah. "Perusahaan tempat saya kerja... mereka minta saya tinggal di mess karyawan. Dekat kantor. Biar lebih efisien."

Itu bukan sepenuhnya bohong, tetapi juga bukan kebenaran.

Wulan mengernyitkan kening.

"Mess karyawan? Memangnya perusahaanmu sering lembur sampai malam?"

"Kadang-kadang, Bu. Dan... Bapak Arsen atasan saya orangnya sangat perfeksionis. Dia butuh asistennya standby terus."

Wulan terdiam sejenak, ekspresinya khawatir.

"Ibu tidak yakin ini keputusan yang baik, Luna. Kamu masih muda. Tinggal sendirian di tempat yang asing--"

"Bukan sendirian, Bu. Ada karyawan lain juga kok. Dan tempatnya aman," potong Aluna cepat, kebohongan demi kebohongan keluar dari mulutnya dengan terlalu mudah.

Wulan menatap putrinya lama, lalu menghela napas panjang.

"Kalau memang itu keputusan terbaik untuk kariermu... Ibu tidak bisa melarang. Tapi janji sama Ibu, kalau ada apa-apa, langsung pulang. Mengerti?"

Aluna mengangguk cepat, perasaan bersalah menusuk dadanya.

"Iya, Bu. Terima kasih."

Ia memeluk ibunya erat pelukan yang terasa seperti perpisahan, meski ia tidak tahu mengapa ia merasa seperti itu.

Tepat pukul 07.00 WIB, sebuah Mercedes hitam berhenti di depan rumah kontrakan keluarga Pradipta. Sopir yang sama dengan kemarin pria paruh baya dengan wajah datar keluar dan membukakan pintu untuk Aluna.

"Selamat pagi, Nona Aluna. Saya Pak Joko, sopir pribadi Pak Arsen. Saya akan membantu Anda pindah hari ini," ucapnya sopan.

Aluna hanya mengangguk lemah.

Dengan bantuan Pak Joko, ia mengemas pakaian, buku-buku kuliah, dan barang-barang pribadinya ke dalam dua koper besar. Tidak banyak hidupnya memang tidak pernah dipenuhi barang-barang mewah.

Saat mobil melaju meninggalkan rumah kontrakannya, Aluna menatap keluar jendela melihat ibu dan kakaknya melambaikan tangan dari depan rumah. Dadanya terasa sesak.

Ia merasa seperti sedang meninggalkan kehidupan lamanya.

Dan mungkin memang begitu.

Mansion Arsen Mahendra terletak di kawasan elite Pondok Indah area yang dipenuhi rumah-rumah megah dengan pagar tinggi dan keamanan ketat. Saat mobil memasuki gerbang besar dengan ukiran besi mewah, Aluna terbelalak.

Ini bukan rumah.

Ini adalah istana.

Bangunan bergaya modern klasik dengan tiga lantai, halaman luas yang dipenuhi taman hijau tertata rapi, kolam renang besar di samping, dan garasi yang bisa menampung sedikitnya sepuluh mobil.

Pak Joko menghentikan mobil di depan pintu utama. Pintu besar dari kayu jati terbuka, dan seorang wanita paruh baya dengan seragam pelayan berdiri di sana wajahnya ramah, berbeda dari Dira.

"Selamat datang, Nona Aluna. Saya Bu Sinta, kepala pelayan di rumah ini," sapanya dengan senyum hangat. "Pak Arsen sudah memberitahu kedatangan Anda. Silakan masuk."

Aluna melangkah masuk dan langsung disambut oleh interior yang luar biasa mewah lantai marmer putih mengkilap, tangga melingkar dengan pegangan emas, lampu kristal besar menggantung di langit-langit tinggi, dan lukisan-lukisan mahal di dinding.

"Kamar Anda ada di lantai dua, sayap kiri. Ikut saya," ucap Bu Sinta sambil membawa salah satu koper Aluna.

Mereka menaiki tangga luas dan berjalan melewati koridor panjang yang dihiasi cermin-cermin besar dan vas bunga segar. Bu Sinta berhenti di depan sebuah pintu kayu besar, membukanya.

"Ini kamar Anda."

Aluna melangkah masuk dan hampir tidak percaya dengan apa yang ia lihat.

Kamarnya jika bisa disebut kamar seluas apartemen studio. Ada tempat tidur king size dengan sprei sutra putih, meja rias dengan cermin besar, sofa empuk di sudut, televisi layar datar besar, dan pintu menuju walk in closet yang sudah dipenuhi dengan pakaian-pakaian bermerek semua dengan ukuran pas untuk Aluna.

"Kamar mandi di sebelah sana," tunjuk Bu Sinta pada pintu di sudut lain. "Lengkap dengan bathtub dan shower. Jika Anda butuh apa-apa, tekan tombol interkom di dinding. Saya atau pelayan lain akan langsung datang."

Aluna hanya bisa mengangguk, terlalu terpana untuk berkata-kata.

"Oh ya," Bu Sinta menambahkan dengan nada yang sedikit lebih serius. "Kamar Pak Arsen ada di ujung koridor kamar utama. Beliau berpesan agar Anda tidak memasuki kamarnya tanpa izin. Dan... satu lagi, Nona."

Bu Sinta menatap Aluna dengan pandangan yang sulit dibaca.

"Pak Arsen adalah tuan yang baik, tetapi sangat... keras dalam aturan. Ikuti semua yang beliau katakan, dan Anda akan baik-baik saja. Jangan pernah melawan atau mencoba kabur. Karena... beliau tidak suka itu."

Ada peringatan dalam nada bicaranya peringatan yang membuat bulu kuduk Aluna berdiri.

"Baik, Bu," jawab Aluna pelan.

Bu Sinta tersenyum lagi kali ini senyum yang lebih tulus.

"Istirahat dulu, Nona. Pak Arsen akan pulang sekitar pukul 18.00 WIB. Beliau ingin makan malam bersama Anda."

Setelah Bu Sinta keluar, Aluna duduk di tepi tempat tidur yang sangat empuk, menatap sekeliling kamar mewah ini dengan perasaan hampa.

Ini seperti sangkar emas.

Indah, mewah, tetapi tetap saja sangkar.

Ponselnya bergetar. Pesan dari Arsen.

Sudah sampai?

Aluna mengetik balasan dengan jari gemetar.

Sudah.

Bagus. Kamu suka kamarmu?

Aluna menatap layar ponsel, tidak tahu harus menjawab apa.

Terlalu mewah untuk saya.

Tidak ada yang terlalu mewah untukmu, Aluna. Kamu pantas mendapatkan yang terbaik.

Ini bukan tentang mewah atau tidak. Ini tentang... kenapa saya harus tinggal di sini?

Balasan Arsen datang cepat.

Karena aku ingin kamu dekat. Selalu dalam jangkauanku. Aku tidak suka berjauhan denganmu.

Jantung Aluna berdetak tidak nyaman.

Ini tidak wajar, Arsen.

Aku tahu. Tapi aku tidak peduli tentang wajar atau tidak wajar. Aku hanya peduli tentang memilikimu di dekatku. Dan sekarang kamu sudah di sini. Di rumahku. Di tempatmu berada.

Aluna melempar ponselnya ke tempat tidur, frustrasi dan takut bercampur jadi satu.

Ia bangkit dan berjalan menuju jendela besar yang menghadap ke taman belakang. Pemandangannya indah pohon-pohon rindang, bunga-bunga bermekaran, kolam renang dengan air biru jernih.

Tetapi saat ia mencoba membuka jendela, ia menyadari sesuatu yang membuat darahnya membeku.

Jendela itu terkunci dari luar.

Ia tidak bisa membukanya.

Dengan napas tersengal, Aluna berlari ke pintu kamar dan mencoba membukanya.

Pintunya tidak terkunci terbuka dengan mudah.

Tetapi saat ia melangkah keluar, ia melihat dua pria berbadan besar berseragam keamanan berdiri di ujung koridor. Mereka menatap Aluna dengan pandangan waspada.

"Ada yang bisa kami bantu, Nona?" tanya salah satu dari mereka dengan sopan, tetapi ada ancaman tersirat di sana.

Aluna mundur ke dalam kamar dan menutup pintu dengan cepat.

Jantungnya berdetak kencang.

Ia baru menyadari sesuatu yang mengerikan:

Ia tidak hanya tinggal di mansion Arsen.

Ia... dipenjara di sini.

Pukul 18.00 WIB, Aluna mendengar suara mobil di luar. Dari jendela kamarnya yang terkunci, ia melihat Bentley hitam Arsen masuk ke halaman dan berhenti di garasi.

Beberapa menit kemudian, ada ketukan di pintu kamarnya.

"Nona Aluna, Pak Arsen sudah pulang. Beliau menunggu Anda di ruang makan," suara Bu Sinta terdengar dari luar.

Aluna menarik napas dalam dan membuka pintu. Bu Sinta berdiri di sana dengan senyum ramah.

"Mari, saya antar."

Aluna mengikuti Bu Sinta turun ke lantai satu, melewati ruang tamu yang sangat luas, dan memasuki ruang makan yang tidak kalah megahnya meja makan panjang dari kayu mahoni, kursi-kursi dengan sandaran tinggi, dan lampu kristal besar di atas meja.

Dan di ujung meja, duduk Arsen Mahendra.

Pria itu sudah berganti pakaian tidak lagi mengenakan jas, tetapi kemeja hitam dengan lengan digulung hingga siku, memperlihatkan lengan kekar berotot. Rambutnya sedikit berantakan, membuat penampilannya lebih... manusiawi.

Tetapi mata kelamnya tetap sama tajam, dingin, posesive.

"Duduk," ucapnya sambil menunjuk kursi di sebelah kanannya bukan di seberang, tetapi tepat di sampingnya.

Aluna menurut dengan kaki yang terasa berat. Ia duduk, menjaga jarak sebisa mungkin meski kursi mereka berdekatan.

Arsen memberi isyarat, dan beberapa pelayan mulai menyajikan makanan hidangan mewah yang tidak pernah Aluna bayangkan bisa ia makan: steak wagyu dengan saus truffle, lobster thermidor, salad segar dengan dressing khusus, dan wine merah mahal.

"Makan," perintah Arsen.

"Saya... tidak terlalu lapar," jawab Aluna pelan.

Arsen menatapnya dengan tatapan yang membuat Aluna ingin menghilang.

"Makan, Aluna," ulangnya, kali ini dengan nada yang lebih keras. "Aku tidak suka melihatmu tidak makan."

Dengan tangan gemetar, Aluna mengambil garpu dan pisau, memotong steak yang sangat empuk itu. Ia memasukkan sepotong kecil ke mulutnya rasanya luar biasa, tetapi ia hampir tidak bisa merasakan apa-apa karena tenggorokannya terasa tercekik.

Mereka makan dalam diam yang tidak nyaman. Aluna bisa merasakan mata Arsen menatapnya sesekali memperhatikan setiap gerakan, setiap gigitan, setiap napas.

"Kamu suka kamarmu?" tanya Arsen tiba-tiba.

Aluna mengangguk pelan.

"Bagus."

"Tapi... jendela kamar saya terkunci," ucap Aluna hati-hati.

Arsen tidak terlihat terkejut.

"Aku tahu."

"Kenapa?"

"Untuk keamananmu."

"Atau untuk memastikan saya tidak bisa kabur?" tebak Aluna dengan nada sedikit lebih berani.

Arsen meletakkan garpu dan pisaunya, memutar tubuhnya menghadap Aluna sepenuhnya. Tatapannya menusuk.

"Keduanya," jawabnya jujur. "Aku tidak ingin kamu terluka, Aluna. Tetapi aku juga tidak akan membiarkanmu pergi. Kamu sudah menjadi milikku. Dan apa yang menjadi milikku... aku jaga dengan sangat ketat."

Aluna menatapnya dengan mata berkaca-kaca.

"Ini bukan cinta, Arsen. Ini... obsesi. Ini penjara."

"Mungkin," Arsen mengakui tanpa rasa bersalah. "Tapi ini satu-satunya cara aku tahu untuk... memiliki seseorang. Untuk memastikan mereka tidak akan pergi. Tidak akan... meninggalkanku."

Ada rasa sakit di matanya saat mengatakan itu rasa sakit yang dalam, yang lama.

Aluna ingin bertanya tentang itu, tentang apa yang membuat Arsen menjadi seperti ini, tetapi sebelum ia bisa membuka mulut, Arsen sudah bangkit dari kursinya.

"Ayo," ucapnya sambil mengulurkan tangannya. "Ada yang ingin ku tunjukkan padamu."

Aluna menatap tangan itu dengan ragu, tetapi akhirnya menerimanya.

Genggaman Arsen hangat, kuat, dan posesive jemarinya melingkupi tangan Aluna sepenuhnya.

Mereka berjalan melewati koridor panjang dan berhenti di depan sebuah pintu kayu gelap. Arsen membukanya dan menyalakan lampu.

Di dalam adalah sebuah ruangan yang dipenuhi dengan... foto-foto.

Foto-foto Aluna.

Aluna yang sedang kuliah, yang sedang tertawa bersama teman-teman, yang sedang duduk sendirian di taman kampus, yang sedang berbelanja di pasar tradisional bersama ibunya.

Ratusan foto.

Semua diambil tanpa sepengetahuannya.

Aluna tersentak, tangannya melepaskan genggaman Arsen.

"Apa... apa ini?" bisiknya dengan suara gemetar.

"Ini ruang khusus," jawab Arsen dengan nada datar. "Aku mulai... memperhatikanmu sejak enam bulan lalu. Sejak aku melihatmu pertama kali di sebuah kafe dekat kampusmu. Kamu sedang belajar sendirian, begitu fokus, begitu... indah."

Aluna mundur selangkah, horor mengalir di nadinya.

"Enam bulan? Kamu... kamu menguntit saya?"

"Mengamati," koreksi Arsen. "Aku ingin tahu segalanya tentangmu sebelum... membawamu ke dalam hidupku. Dan saat kamu menabrak mobilku kemarin, itu... itu seperti takdir memberiku kesempatan."

Aluna menggelengkan kepala, tidak percaya.

"Kamu mengatur semuanya, bukan? Tabrakan itu... bukan kebetulan?"

Arsen tersenyum tipis senyum yang menjawab segalanya.

"Aku hanya... memanfaatkan kesempatan yang ada, Aluna. Kamu yang menabrak mobilku itu kebetulan murni. Tetapi aku yang mengubahnya menjadi... kontrak yang mengikatmu padaku."

Aluna merasakan lututnya lemas. Ia jatuh terduduk, air mata mengalir di pipinya.

"Kamu gila," isaknya. "Kamu benar-benar gila."

Arsen berjongkok di depannya, tangannya mengusap air mata di pipi Aluna dengan lembut sangat kontras dengan kekejaman apa yang baru saja ia ungkapkan.

"Mungkin," bisiknya. "Tapi aku gila... karena mu. Dan aku tidak akan meminta maaf untuk itu."

Tangannya bergerak ke belakang kepala Aluna, menarik Aluna lebih dekat hingga kening mereka hampir bersentuhan.

"Kamu milikku sekarang, Aluna Pradipta," bisiknya dengan suara yang berbahaya dan lembut sekaligus. "Dan tidak ada yang bisa mengambil mu dariku. Tidak keluargamu, tidak teman-temanmu, bahkan tidak kamu sendiri."

"Tolong... lepaskan saya," isak Aluna.

"Tidak pernah."

Dan saat itu, Aluna menyadari bahwa ia benar-benar terjebak.

Terjebak dalam obsesi seorang pria yang tidak akan pernah membiarkannya bebas.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!