NovelToon NovelToon
One Piece: Sang Kaisar Api Abadi

One Piece: Sang Kaisar Api Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Time Travel / Mengubah Takdir / Kelahiran kembali menjadi kuat / One Piece / Fantasi Isekai
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Tang Lin

Seorang pemuda dari dunia modern yang sangat mengidolakan Portgas D. Ace terbangun di tubuh Ace, tepat beberapa saat sebelum ia bertemu dengan Shirohige.

Mengetahui nasib tragis yang menantinya di Marineford, ia bertekad untuk menjadi lebih kuat, menguasai Mera Mera no Mi melampaui batas alaminya, dan mengumpulkan pengikut (serta orang-orang tercinta)

untuk mengubah sejarah Grand Line.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tang Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BOUNTY BARU DAN ANCAMAN YANG DATANG

Tiga minggu setelah kunjungan Dragon, kehidupan kembali normal.

Latihan dengan Luffy berlanjut dengan intensitas yang sama. Perkembangannya konsisten—setiap minggu ada kemajuan kecil yang kalau diakumulasi jadi lompatan besar.

Observation Haki-nya mulai stabil. Sekarang bisa hindari tujuh dari sepuluh lemparan batu dengan mata tertutup. Jauh lebih baik dari sebulan lalu yang cuma bisa hindari tiga dari sepuluh.

Teknik Gomu Gomu juga berkembang. Tidak hanya Pistol, Bazooka, dan Gatling—tapi juga mulai bisa kombinasi seperti Gomu Gomu no Rifle yang lebih kuat dari Pistol biasa.

"Luffy," aku memanggil saat istirahat siang. "Coba serang aku dengan teknik terkuatmu sekarang."

"Eh? Ace-nii yakin? Nanti Ace-nii terluka!"

"Tidak akan. Ayo coba."

Luffy ragu sebentar. Tapi akhirnya ambil stance—wajah serius.

"Luffy akan serang beneran ya! Jangan marah kalau kena!"

"Aku tidak akan marah. Ayo."

Luffy tarik napas dalam. Kedua tangannya melar mundur sangat jauh—lebih jauh dari biasanya.

"GOMU GOMU NO... BAZOOKA!"

Kedua tangan ditembakkan dengan kekuatan penuh—angin dari gerakan itu cukup kuat untuk bikin debu beterbangan.

Aku tidak menghindar. Hanya berdiri diam dengan satu tangan terangkat.

Armament Haki Hardening aktif—warna hitam pekat menyelimuti telapak tangan.

WHAM!

Pukulan Luffy menghantam telapak tanganku—menciptakan gelombang angin yang menyebar ke samping.

Tapi aku tidak bergerak sama sekali. Bahkan tidak terdorong sejengkal pun.

Luffy menatap dengan mata melebar. "Ace-nii... tidak bergerak sama sekali..."

"Kekuatanmu sudah bagus untuk anak sembilan tahun. Tapi masih jauh untuk bisa dorong aku. Maka terus latihan."

Aku turunkan tangan. Tidak ada bekas apapun—Haki-ku terlalu kuat untuk pukulan level itu.

"Tapi jangan berkecil hati. Tiga bulan lagi, pukulanmu pasti bisa bikin aku terdorong sedikit. Enam bulan lagi, mungkin bisa bikin aku harus pakai dua tangan untuk block."

"Benaran?!"

"Benaran. Maka latihan terus."

"YOSH! Luffy akan latihan sepuluh kali lebih keras!"

Semangat yang tidak pernah padam. Itu yang membuat Luffy spesial.

Sore harinya, saat kami sedang jalan ke desa untuk beli persediaan, penduduk terlihat lebih ramai dari biasanya.

Berkumpul di depan kantor pos—menatap poster yang baru ditempel.

"Ada apa?" Sabo bertanya pada salah satu penduduk.

"Bounty baru keluar! Kalian harus lihat!"

Kami mendekat. Dan melihat tiga poster besar yang ditempel berjejer.

Poster pertama—fotoku. Wajah serius dengan api menyala di latar belakang. Hinokami terlihat di pinggang.

"FIRE FIST" PORTGAS D. ACE

BOUNTY: 150,000,000 BELLY

DEAD OR ALIVE

Seratus lima puluh juta. Hampir dua kali lipat dari bounty sebelumnya.

Poster kedua—foto Sabo. Wajah fokus dengan Ryuseikon di tangan. Aura Haki terlihat samar di sekitar tubuh.

"WIND DRAGON" OUTLOOK SABO

BOUNTY: 120,000,000 BELLY

DEAD OR ALIVE

Seratus dua puluh juta. Jauh lebih tinggi dari bounty pertamanya yang lima puluh juta.

Dan poster ketiga—yang membuat jantungku berhenti—foto Luffy.

Kapan mereka ambil foto ini? Luffy terlihat sedang latihan dengan topi jerami di kepala dan wajah serius.

"STRAW HAT" MONKEY D. LUFFY

BOUNTY: 30,000,000 BELLY

DEAD OR ALIVE

Tiga puluh juta. Untuk anak sembilan tahun yang bahkan belum berlayar.

"Luffy dapat bounty..." aku bergumam tidak percaya.

"Karena dia sering latihan dengan kita di tempat terbuka. Marine pasti sudah amati dan simpulkan dia juga ancaman," Sabo menjawab dengan nada khawatir.

"Tiga puluh juta itu bounty sangat tinggi untuk anak kecil. Ini akan menarik pemburu bounty..."

"Maka kita harus lebih waspada. Jangan biarkan Luffy sendirian."

Kami ambil ketiga poster dan bawa pulang. Harus kasih tahu Dadan dan Yamamoto tentang ini.

Di gubuk, Dadan langsung panik saat lihat poster Luffy.

"Luffy dapat bounty?! Dia baru sembilan tahun! Kenapa Marine kasih bounty pada anak kecil?!"

"Karena Marine anggap dia ancaman masa depan. Dengan darah Monkey D. dari Garp dan latihan intensif dengan kami—mereka takut dia jadi terlalu kuat," Yamamoto menjelaskan sambil periksa poster dengan teliti.

"Lalu apa yang harus kita lakukan?! Tidak mungkin sembunyikan Luffy terus!"

"Kita tidak akan sembunyikan dia. Tapi kita harus lebih hati-hati. Salah satu dari kami harus selalu ada dengan Luffy saat keluar dari gubuk."

"Dan kita harus ajari dia bertarung lebih serius. Bounty tiga puluh juta berarti pemburu bounty level menengah akan datang. Dia harus bisa bertahan sampai kita datang bantu."

Luffy sendiri malah excited saat lihat posternya.

"LUFFY PUNYA BOUNTY! Seperti Ace-nii dan Sabo-nii! Shishishi!"

"Ini bukan hal bagus, Luffy," aku mencoba jelaskan. "Bounty berarti banyak orang jahat akan coba tangkap kau untuk dapet uang."

"Luffy tidak takut! Luffy sudah kuat sekarang!"

"Kau memang sudah kuat. Tapi masih banyak orang yang jauh lebih kuat. Maka kau harus lebih hati-hati mulai sekarang. Mengerti?"

Luffy akhirnya mengangguk—meskipun masih terlihat excited punya bounty.

"Oh ya, ada satu hal lagi," Yamamoto mengeluarkan koran dan tunjukkan artikel di halaman depan.

"DUA BOCAH MONSTER DI EAST BLUE - TOLAK TAWARAN DRAGON!"

Artikelnya menjelaskan tentang kunjungan Dragon ke Dawn Island dan penolakan kami untuk bergabung dengan Revolusioner.

"Bagaimana mereka bisa tahu?!" Sabo berteriak shock.

"Pasti ada mata-mata Marine yang mengamati saat itu. Atau bahkan mata-mata di dalam Revolusioner yang bocorkan informasi," Yamamoto menjawab dengan nada serius.

"Ini akan bikin situasi lebih rumit. Sekarang bukan cuma Marine yang perhatian pada kalian—tapi juga Revolusioner, World Government, bahkan mungkin Yonko."

"Kenapa Yonko akan perhatian?" aku bertanya.

"Karena kalian tolak Dragon—orang paling dicari di dunia. Itu menunjukkan kalian punya kehendak kuat dan tidak bisa dipengaruhi dengan mudah. Yonko suka orang seperti itu—entah untuk direkrut atau dihancurkan supaya tidak jadi ancaman masa depan."

Situasi jadi lebih berbahaya dari yang kubayangkan.

"Berapa lama menurutmu sampai orang-orang mulai datang kesini?" Sabo bertanya.

"Pemburu bounty level rendah mungkin seminggu atau dua minggu. Yang level menengah sebulan. Marine... mungkin dua atau tiga bulan kalau mereka mau kirim pasukan serius."

"Dan Yonko?"

"Yonko tidak akan datang sendiri. Mereka akan kirim komandan atau anak buah untuk observe dulu. Itu bisa kapan saja—besok, minggu depan, atau bulan depan. Tidak bisa diprediksi."

Yamamoto menatap kami dengan tatapan sangat serius.

"Kalian harus siap. Hidup damai di Dawn Island mungkin akan segera berakhir. Pertempuran akan datang—lebih banyak dan lebih keras dari sebelumnya."

Hening sejenak.

Lalu aku berdiri. "Kalau begitu kita persiapkan. Perkuat pertahanan di sekitar gubuk dan desa. Latihan dengan intensitas lebih tinggi. Dan yang paling penting—pastikan Luffy dan Dadan aman."

"Aku setuju," Sabo berdiri juga. "Kita tidak akan lari. Ini rumah kita. Siapapun yang datang dengan niat jahat—kita hadapi."

Yamamoto tersenyum tipis. "Itu muridku. Tidak pernah mundur dari tantangan."

Malam itu, kami berkumpul untuk rapat strategi.

Yamamoto menggambar map sederhana Dawn Island di tanah dengan tongkat.

"Area yang harus dilindungi—gubuk Dadan disini. Foosha Village disini. Jalan penghubung disini."

"Kita buat sistem patrol. Ace dan Sabo bergiliran patrol setiap enam jam. Satu jaga area gubuk, satu patrol area desa dan sekitar."

"Luffy tidak boleh keluar sendirian sama sekali. Harus ada yang dampingi setiap saat."

"Lalu kita buat sistem peringatan dini. Aku akan taruh bell di beberapa titik strategis. Kalau ada orang asing mencurigakan masuk area—bunyikan bell dan semua berkumpul."

"Anak buah Dadan juga harus dilatih dasar bertarung. Tidak perlu sampai level tinggi—cukup bisa bertahan sampai kita datang."

Rencana solid. Kami diskusikan detail sampai larut malam.

Besoknya, implementasi dimulai. Aku dan Sabo survey area dan pasang bell di lima titik strategis. Yamamoto mulai latihan dasar untuk anak buah Dadan—stance, block, dan cara lari efektif kalau ketemu musuh terlalu kuat.

Luffy awalnya protes karena tidak boleh keluar sendirian. Tapi setelah dijelaskan bahwa ini untuk kebaikannya—dia akhirnya mengerti.

"Luffy tidak mau jadi beban untuk Ace-nii dan Sabo-nii. Maka Luffy akan dengarin!"

"Good boy. Dan gunakan waktu ini untuk latihan lebih keras. Supaya suatu hari nanti kau bisa jaga diri sendiri tanpa perlu kami selalu dampingi."

"Yosh! Luffy akan latihan super keras!"

Seminggu berlalu tanpa insiden. Tapi tension tetap tinggi—semua orang waspada setiap saat.

Lalu pada hari kedelapan—salah satu bell berbunyi.

DANG DANG DANG DANG!

Dari arah pantai.

"Ada yang datang!" Sabo berteriak sambil ambil Ryuseikon.

Aku langsung aktifkan Observation Haki—rasakan presence yang mendekat.

Tiga presence. Kuat. Level bajak laut bounty tujuh puluh sampai delapan puluh juta masing-masing.

"Pemburu bounty. Tiga orang. Level menengah tinggi," aku laporkan.

"Kita hadapi sebelum sampai desa," Sabo sudah berlari ke arah pantai.

Aku ikuti. Yamamoto tinggal untuk jaga Luffy dan Dadan.

Di pantai, tiga orang sudah turun dari kapal kecil. Semua bersenjata—satu dengan pedang besar, satu dengan senapan, satu dengan chain whip.

Yang di tengah—pria tinggi dengan bekas luka di dada—tersenyum melihat kami.

"Portgas D. Ace dan Outlook Sabo. Akhirnya ketemu. Kami pemburu bounty Iron Fang Crew. Dan kalian—" dia angkat wanted poster kami. "—bernilai total dua ratus tujuh puluh juta berry. Cukup untuk pensiun kaya raya."

"Kalau kalian mau coba ambil—silakan," aku tarik Hinokami dari sarung. Api langsung menyala di blade.

"Kami tidak akan mudah ditangkap."

"Kami tahu. Makanya kami datang bertiga—dan kami semua master Rokushiki."

Rokushiki. Enam teknik Marine.

Ini akan jadi pertarungan pertama sejak pulang dari pulau latihan.

Saatnya tunjukkan hasil tiga tahun neraka.

Saatnya tunjukkan pada dunia—kami bukan target mudah.

Api takdir menyala terang.

Siap membakar siapapun yang menghalangi.

1
I'm Nao
kenapa si ace ama sabo ga belajar rokushiki? kan lumayan teknik nya bisa buat pertarungan di udara
I'm Nao
hmmm bukan nya itu mutlak ya? bagi user devil fruit
Wahyu🐊
Semoga Kalian Suka Sama Karya ku Ini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!