Melihat begitu banyak orang hebat di sekitarku membuatku merasa rendah di mata mereka. Bagi dunia ini, nilai akademis adalah segalanya. Namun bagiku, kreativitas merupakan hal terpenting sebagai pengubah karya imajinasi menjadi kenyataan. Apakah diriku, seorang siswa yang dianggap memiliki "kemampuan rendah", dapat membuktikan bahwa cara pandang mereka salah? Ini adalah kisah tentang membuktikan diri di tengah gempuran para jenius akademik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yusuf Fikri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 : Arti Sempurna bagi ku
Jam dinding digital di kamar menunjukkan pukul 23.00.
Rumah besar itu sudah sunyi. Para pelayan sudah masuk ke kamar mereka di paviliun belakang. Lampu-lampu utama sudah dipadamkan, menyisakan lampu taman yang temaram.
Namun, di dalam kamar luas bernuansa monokrom di lantai dua, aktivitas belum berakhir.
"Sembilan puluh delapan... sembilan puluh sembilan... seratus."
Aku menghembuskan napas panjang, menahan posisi tubuhku dalam gerakan planche—menyeimbangkan seluruh berat badan hanya dengan kedua tangan di lantai, kaki melayang lurus di udara sejajar dengan bahu. Keringat menetes dari ujung hidung, jatuh membasahi karpet tebal yang melapisi lantai kamarku.
Otot-otot lenganku bergetar pelan, bukan karena tidak kuat, tapi karena intensitas latihan yang sudah berjalan selama satu jam nonstop.
Bruk.
Aku menjatuhkan tubuh ke lantai, lalu berguling telentang menatap langit-langit kamar yang tinggi. Napasku memburu, teratur dan ritmis.
Aku bangkit berdiri dan berjalan menuju cermin besar di sudut ruangan. Piyama sutra atasan sudah kulempar ke kasur sejak tadi. Kini, aku bertelanjang dada.
Di pantulan cermin, terlihat jelas tubuh seorang remaja yang 'tidak wajar'.
Tinggiku 169 cm—cukup jangkung untuk anak usia 14 tahun yang baru masuk SMA, berkat gizi dan genetik campuran Eropa dari Mam. Tapi bukan tinggi badan yang menjadi fokusku, melainkan apa yang ada di balik seragam sekolah longgar yang biasa kupakai.
Perutku tidak rata biasa. Di sana terpahat deretan otot abdominal (six-pack) yang keras dan terdefinisi tajam. Bahuku lebar dengan otot deltoid yang membulat, hasil dari ribuan pukulan tsuki dan latihan beban tubuh sejak aku belum lancar membaca.
Ini bukan tubuh seorang gamer atau kutu buku. Ini adalah tubuh seorang petarung yang ditempa dalam 'neraka' pelatihan Papa sejak umur 7 tahun.
Aku menyeka keringat di dada dengan handuk kecil.
Ada bekas luka tipis di rusuk kiri—hasil latihan sparing karate melawan instruktur sabuk hitam saat aku umur 10 tahun. Papa bilang itu "tanda kehormatan". Bagiku, itu tanda kegilaan.
"Kenapa aku masih latihan?" gumamku pada diri sendiri.
Padahal aku sudah memutuskan untuk hidup santai. Padahal aku ingin jadi siswa biasa. Tapi, tubuh ini punya ingatannya sendiri. Jika aku tidak bergerak, otot-ototku terasa kaku dan gelisah. Kebiasaan disiplin itu sudah mendarah daging, menjadi kutukan sekaligus anugerah yang tidak bisa kulepaskan begitu saja.
Aku mengambil botol air mineral di meja belajar, meneguknya sampai habis. Lalu mematikan lampu kamar, membiarkan cahaya bulan dari jendela besar menyelimuti ruangan.
Aku menarik selimut, menutup tubuh kekar ini kembali menjadi sosok Callen yang biasa. Di sekolah, aku adalah otak. Di rumah, aku adalah sisa-sisa prajurit kecil yang pensiun dini.
Sementara itu, di balkon kamar utama yang terletak di sayap kanan rumah.
Angin malam Pontianak berhembus pelan, membawa aroma bunga sedap malam dari taman bawah.
Adhitama duduk di kursi rotan, menyesap teh herbal panasnya dengan wajah yang masih tampak berpikir keras. Di tangannya ada tablet yang menampilkan grafik saham perusahaan, tapi matanya menatap kosong ke arah kolam renang.
Pintu kaca balkon bergeser pelan. Genevieve keluar, mengenakan gaun tidur satin panjang yang elegan. Rambut pirangnya tergerai indah, membuatnya terlihat seperti dewi Yunani di bawah sinar bulan.
"Masih mikirin Callen, Pa?" tanyanya lembut, duduk di kursi sebelah suaminya.
Adhitama menghela napas berat, meletakkan tabletnya di meja.
"Aku cuma sayang potensinya, Mam," ucap Adhitama, suaranya terdengar frustrasi namun lelah. "Kamu lihat dia tadi? Dia menyembunyikan kecerdasannya, menyembunyikan fisiknya... Dia itu permata. Tapi dia malah memilih jadi kerikil di sekolah swasta itu. Padahal kalau dia mau, dia bisa masuk MIT atau Harvard di usia 16 tahun nanti."
Genevieve tersenyum tipis, menuangkan teh untuk dirinya sendiri.
"Justru karena dia permata, dia butuh kotak yang nyaman, Pa. Bukan diasah terus sampai retak," jawab Genevieve tenang.
Adhitama menoleh, menatap istrinya tajam. "Retak? Aku melatihnya supaya dia kuat. Supaya dia bisa meneruskan kerajaan bisnis kita."
"Dan hampir membunuhnya secara mental waktu SMP, ingat?" potong Genevieve. Suaranya tidak tinggi, tapi dingin dan menusuk.
Adhitama terdiam. Rahangnya mengeras. Bayangan masa lalu itu melintas lagi. Callen umur 12 tahun, pulang dengan wajah pucat, muntah-muntah karena stres, dan menatap dinding kosong selama berhari-hari tanpa bicara. Dokter bilang itu gejala burnout ekstrem pada anak.
"Pa," Genevieve menyentuh tangan suaminya yang kekar. "Ingat perjanjian kita enam bulan lalu?"
Adhitama membuang muka. "Hm."
"Waktu Callen lulus SMP, Papa mau masukin dia ke asrama militer atau sekolah internasional di Swiss. Callen nggak nolak. Dia cuma nunduk, pasrah kayak robot rusak," Genevieve mengingatkan.
"Tapi Mam yang gebrak meja kerja Papa waktu itu," lanjut Genevieve, matanya berkilat tegas. "Mam bilang: 'Kalau Mas Adhitama maksa Callen lagi, detik itu juga Genevieve bawa Callen pindah ke Perancis. Mas nggak bakal liat kami lagi.'"
Adhitama meringis pelan mengingat ancaman itu. Istrinya terlihat lembut dan manja, tapi kalau sudah menyangkut anak, wanita Eropa ini lebih galak daripada singa betina. Dan Adhitama tahu, Genevieve tidak pernah menggertak.
"Aku mengalah demi kamu, Mam," gumam Adhitama, egonya sedikit terluka.
"Bukan demi aku. Demi anak kita," koreksi Genevieve. "Lihat dia sekarang. Tadi sore, dia pulang bawa teman. Tiga cewek lho, Pa! Tiga!"
Genevieve terkekeh senang. "Kapan terakhir kali Callen mau jalan sama orang lain selain Rafan? Nggak pernah, kan? Dia mulai senyum, dia mulai punya rahasia, dia mulai hidup layaknya remaja normal. Biarin dia main sepeda butut, biarin dia pura-pura jadi murid biasa. Yang penting dia bahagia, Pa."
Adhitama terdiam lama. Dia menyesap tehnya lagi, rasa pahit dan hangat menjalar di tenggorokan.
Dia memang ambisius. Dia ingin anaknya sempurna. Tapi jauh di lubuk hatinya, dia juga takut kehilangan satu-satunya putra yang dia miliki itu.
"Empat belas tahun," gumam Adhitama pelan. "Badannya sudah jadi. Otaknya encer. Tapi jiwanya masih butuh main."
"Nah, itu Papa ngerti," Genevieve menyandarkan kepala di bahu suaminya. "Biarkan dia bebas selama SMA ini. Kalau dia memang emas, seperti kata Papa tadi... lumpur nggak akan bisa nutupin kilaunya selamanya kok. Tunggu aja waktunya dia bersinar sendiri."
Adhitama menepuk pelan tangan istrinya. Matanya menatap ke arah kamar Callen yang lampunya sudah padam.
"Ya sudahlah," Adhitama akhirnya menyerah, meski berat hati. "Asal dia nggak bikin masalah dan nggak tinggal kelas, aku biarkan dia main 'petak umpet' dengan bakatnya itu."
Genevieve tersenyum puas, memenangkan perdebatan malam ini.
"Anak pinter," bisiknya pelan, entah untuk suaminya atau untuk Callen yang sedang tidur di seberang sana.
Malam itu, di dalam rumah megah yang sunyi, sebuah kesepakatan tak tertulis kembali diperbarui: Biarkan sang jenius tidur sebentar lagi, sebelum dunia memaksanya bangun.