AKU baru saja pulang dari medan perang dengan membawa kekalahan pihak musuh di genggaman tangan mendadak dikejutkan oleh kemunculan seorang anak perempuan kecil berumur lima tahun dari dalam karung goni milik salah satu perompak yang menghalangi jalan. Rasa terkejutku bukan karena sosoknya yang tiba-tiba muncul melainkan perkataan anak itu yang memanggilku Ayah padahal aku tidak pernah berhubungan dengan wanita manapun. Apakah ini salah satu trik konyol musuhku? Sebab anak itu sangat mirip denganku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bwutami | studibivalvia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 21: find the right answer [END]
“PAPA?”
Langkah kakiku terhenti. Aku segera berbalik dan mendapati seorang anak perempuan kecil yang memakai pakaian lusuh dan robek-robek memperhatikan dengan sorot mata yang tidak biasa. Penampilannya kumal dan kotor. Seluruh wajah, tangan, dan kakinya penuh goresan dan luka. Dia berdebu sedangkan rambut kuningnya tetap bersinar di tengah keadaan tubuhnya yang tidak baik-baik saja: terlihat malnutrisi dan kesakitan. Namun, dari semua penampilan fisik yang dia punya, rambut kuning dan netra biru cerah itu paling mencuri atensiku karena penampilan seperti itu sangat jarang ditemui.
“Papa?”
Aku nyaris tergelak mendapati seorang anak perempuan yang entah berasal dari mana memanggilku Ayah di tengah pertempuran dan lautan mayat manusia. Daripada mendatangiku dengan mempertaruhkan nyawanya, harusnya dia bersembunyi saja seolah eksistensinya tidak ada agar dia aman. Pun kalau seandainya dia muncul karena lapar, sangat jarang prajurit dan ksatria mau membagi makanannya terlebih pada kondisi perang seperti ini.
Lalu pedang yang berada di sarung lantas kutarik dan mengarahkan ujung mata pedang ke lehernya. Rupa yang dia miliki benar-benar membuat darahku berdesir. “Apa dia berasal dari pihak musuh?” Aku bertanya pada Duke of Astello yang berdiri di sampingku.
“Sepertinya bukan, Yang Mulia. Dia mungkin hanya tersesat.”
Aku menyeringai lebar. “Kalau begitu, tidak ada alasan untuk tidak membunuhnya.”
Ketika aku mengayunkan bilah pedang dengan gerakan cepat, aku merasa mendengar sesuatu yang membuatku selama beberapa detik kebingungan. Meski samar, itu adalah kalimat terakhir dari anak perempuan itu sebelum dia berubah menjadi mayat.
“Aku sayang Papa.”
***
“Apa kau datang kembali untuk membuatku mengakuimu sebagai anak atau kau datang untuk balas dendam karena sudah membunuhmu?”
Acara jalan-jalan kami terhenti. Menjentikkan jari dan keberadaanku dengannya lantas menjadi tak terlihat dari luar sehingga apa yang akan aku bicarakan dengan anak itu tidak akan terdengar. Di dalam dinding pembatas antara dunia nyata dan domain sihir di mana aku bisa mengontrol segalanya sesuka hati, tangannya yang memegang celanaku terlepas secara alami. Netra biru cerahnya menatapku bingung, tetapi tidak ada ketakutan yang terpancar di sana meski situasinya mendadak berubah menjadi tidak menguntungkan.
“Apa yang Papa maksud?” Akhirnya dia mengeluarkan suara setelah mengamati apa yang terjadi. “Papa tidak pelnah membunuhku.”
“Aku ingat pernah membunuhmu.” Dia kebingungan sementara aku kembali melanjutkan, “Apa kau ingat? Seharusnya ini adalah pertemuan kedua kita karena aku sudah satu kali membunuhmu di masa lalu.”
Aku menatapnya tepat di manik mata, tetapi tidak bisa memperkirakan apa yang sedang dia pikirkan sekarang. Perkataanku barusan memang sulit dipercaya, tetapi itulah yang kuyakini: bahwa ini adalah kehidupan keduanya dan aku yakin dia pun juga meyakini hal yang sama.
“Papa tidak pelnah membunuhku.”
Kekuatan kegelapan menjadi aktif seiring dengan penolakannya. Menengadahkan tangan ke atas, pedang naga keluar dari kabut dan seketika itu juga aku mengarahkan ujung mata pedang ke arahnya dan mengajukan pertanyaan untuk terakhir kali. “Sebenarnya siapa dirimu, huh? Jangan bilang kalau kau punya kekuatan untuk bangkit dari kematian setelah kubunuh?!” Aku mendecak sebal. “Kalau begitu, tak masalah bila aku membunuhmu untuk membuktikan hipotesisku, kan? Aku juga memiliki umur yang panjang.”
“Papa–” “Kuperingatkan sekali lagi bahwa ini akan lebih sakit dari sebelumnya. Pedang yang kau lihat sekarang adalah pedang naga. Harusnya kau sedikit bersyukur karena kau mengeluarkan pedang ini untukmu. Itu adalah sebuah kehormatan sebelum menuju ke alam baka.”
Meski kematian telah berada di depanmata, dia tetap tidak menangis. Netra biru cerah itu tidak berubah dan tetap memandangku dengan ketulusan yang sama. Itu membuatku muak karena dia membuat ekspresi yang tidak pernah kubuat dengan wajah yang mirip denganku. Ketika aku mengarahkan pedang naga untuk membunuhnya, sampai di akhir hayat dia sungguh menguji kesabaranku dengan kata-kata asing yang kuharap tidak lagi kudengar.
“El sayang Papa.”
***
Aku terbangun dengan keringat di sekujur tubuh dan napas yang tidak beraturan. Kepalaku selama beberapa menit terasa sakit. Bukan seperti sakit kepala karena kegelapan, tetapi ini lebih mirip dengan rasa pusing yang hanya sementara. Tidak hanya itu, dadaku juga berdebar-debar. Rasanya sakit dan sesak seolah ditinju secara terus-menerus. Bersamaan dengan itu, kalimat-kalimat yang ada di mimpiku terlintas kembali secara acak dan membuat telingaku berdengung.
Lalu, di menit selanjutnya, semuanya menghilang. Aku sudah bisa menggerakkan tubuh sesuka hati dan sakit yang kurasakan sirna begitu saja. Namun, meski semuanya telah kembali normal, aku masih merasakan sakit di dada. Bukan sakit fisik, melainkan sakit hati yang teramat sakit, seperti telah kehilangan sesuatu yang berharga di hidupku.
***
Keadaan Hamon mulai tidak terbentuk ketika aku berkunjung. Hari ini adalah hari terakhir dia tidak diberi makan dan minum. Namun, siksaan tetap berlanjut. Aku cukup takjub dengan kekuatan fisik dan mentalnya yang sampai hari ini masih kuat karena bertahan satu menit saja pasti sangat sulit ketika berada di ruang pendisiplinan.
“Yang Mulia ….”
Dia memberi salam ketika melihatku masuk. Menarik dan memosisikan kursi tidak jauh darinya, aku duduk sembari menyilangkan kaki. Tanpa menatap wajah Hamon, aku menceritakan keputusan apa yang telah kuambil terhadap Elora. Namun, melihat reaksi yang dia berikan, aku sedikit kecewa karena sempat mengira bahwa emosi akan memenuhi seluruh jiwanya. Sebaliknya, dia hanya terdiam dengan kepala yang tertunduk. Namun, aku tahu bahwa sekarang ini dia sedang sangat marah.
“Anda tahu mengapa Anda terus melakukan skenario merepotkan meski Anda sangat membenci hal-hal tersebut?”
Aku mengangkat wajah dan menatap Hamon yang juga sedang memandangku, menunggu dia menyelesaikan kalimat.
“Yang Mulia menginginkan kehidupan yang tenang dan tentram, jadi Anda membenci sesuatu yang merepotkan. Namun, saat Putri hadir, Anda bahkan rela membentuk tim khusus hanya untuk mencari identitas aslinya. Meski Anda bisa memanipulasi pikiran, membunuh, atau mengusirnya, Anda tidak melakukannya dan menempuh jalan yang sangat merepotkan hanya untuk mempertahankan Putri di sisi Anda. Padahal, kalau Anda membencinya, Anda bisa langsung membunuhnya, tetapi itu tidak Anda lakukan kepada Putri karena Anda pasti masih menginginkannya untuk terus hidup.”
Rahangku mengeras mendengar penjelasan Hamon yang seperti tepat sasaran melukai harga diriku.
“Anda memperlakukan Putri dengan berbeda meski dia penyebab sakit kepala Yang Mulia. Anda tetap memperlakukannya sebaik dan selembut yang Anda bisa, bahkan memberikan semua hal terbaik bagi PUtri, termasuk waktu dan perhatian yang tidak Anda berikan pada siapapun kecuali pada pekerjaan dan tanggung jawab. Anda memberikan kepedulian yang sangat mewah hanya pada sang Putri. Sehingga, bila Yang Mulia memutuskan memberi racun pada Putri, saya tetap mempercayai Anda …” katanya dengan senyum tipis di bibir yang pecah.
Tepat setelah Hamon menyelesaikan kalimat, aku sertamerta beranjak dari sana tanpa sepatah kata. Dadaku rasanya berkecamuk mendengar apa yang disampaikan Hamon. Sebab, semua yang dia katakan adalah sebuah kebenaran yang tidak ingin kuakui.[]
ya ampun.... elora
detil sekali penjelasannya
butuh siraman cinta agar lebih melunak