Renjana menikah bukan karena jatuh cinta, melainkan karena percaya bahwa bakti dan komitmen cukup untuk membangun rumah tangga.
Favian adalah lelaki yang tenang, penuh perhatian, dan nyaris tanpa cela. Ia memperlakukan Renjana dengan baik—terlalu baik untuk sebuah pernikahan yang lahir tanpa cinta.
Namun perlahan, Renjana menyadari satu hal yang mengusik: ada ruang dalam hidup suaminya yang tak pernah bisa ia masuki. Sebuah sunyi yang selalu ia bagi dengan kenangan.
Di antara peran sebagai istri dan harapan akan dicintai apa adanya, Renjana dihadapkan pada kenyataan paling pahit dalam pernikahan—bahwa dicintai dengan syarat lebih menyakitkan daripada tidak dicintai sama sekali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Flowyynn_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21. Ceraikan Saja
Pintu IGD terbuka. Seorang dokter keluar dengan sorot mata yang sulit diterka. Renjana yang sedari tadi menunggu sontak berdiri dan melangkah cepat, nyaris menerjang sang dokter saking tak kuasa menahan kecemasannya.
“Ba—bagaimana kondisi suami saya, Dok?” tanyanya terbata. Matanya nyalang, dipenuhi desakan tak sabar.
Dokter itu menatap Renjana sekilas, kemudian mengalihkan pandangannya pada Ningrum, Ajigar, dan Devita. Desah napas panjangnya menguar sebelum senyum simpul terukir di wajah yang tampak lelah.
“Pasien mengalami syok anafilaktik akibat alergi yang diderita cukup parah, hingga membuat tekanan darahnya menurun drastis,” papar sang dokter dengan suara tenang dan terukur.
“Kami sudah melakukan pertolongan pertama dengan menyuntikkan adrenalin,” imbuhnya. “Saat ini kondisi pasien mulai stabil. Kami akan memindahkan pasien ke ruang rawat biasa dan tetap memantau keadaannya.”
Ia berhenti sejenak, memastikan kalimat berikutnya tertangkap jelas.
“Mohon diperhatikan untuk menghentikan total konsumsi makanan pemicu alergi agar kejadian seperti ini tidak terulang. Jika terlambat sedikit saja, syok anafilaktik bisa berakibat fatal. Permisi.”
Dokter itu berlalu, meninggalkan mereka dalam keheningan yang ganjil. Lega memang mengendap di dada masing-masing, tetapi tidak sepenuhnya bagi Renjana. Kekhawatirannya tak juga sirna sebelum melihat sendiri keadaan suaminya di dalam sana.
Baru saja kakinya melangkah hendak memasuki ruangan steril itu, tubuhnya sudah di dorong kasar dari samping oleh Ningrum. Mata wanita paruh baya itu berkilat sinis.
“Aku nggak akan membiarkan perempuan sepertimu melihat keponakanku!” hardiknya penuh kebencian.
Renjana membusungkan dada, menahan didihan amarah lantaran melihat tingkah bibi mertuanya itu.
“Saya istrinya, Bibi,” desisnya dingin.
“Benar,” sahut Ningrum seraya menyeringai angkuh. “Tapi kamu juga yang membuat Favian celaka. Kamu itu istri yang hanya membawa malapetaka bagi keponakanku.”
“Mbak Ningrum!”
Suara berat Ajigar menggema, menyentak indra pendengaran mereka. Rahangnya mengencang, mati-matian meredam emosi agar tak pecah di ruang publik.
“Dia menantuku. Dia juga istri putraku. Mbak Ningrum tidak perlu ikut campur dalam urusan rumah tangga mereka dan keluargaku,” tekan Ajigar menohok.
Ningrum mendecih tak suka. Tanpa menoleh lagi, ia melengos masuk ke ruangan tempat Favian dirawat.
Devita yang sedari tadi diam akhirnya bergerak. Ia menarik Renjana ke dalam pelukan hangatnya—perempuan yang semata-mata berdiri menahan gejolak antara bersikap kurang ajar atau tetap menjaga sopan santunnya itu.
“Maafkan Bibimu, Nak,” tuturnya lembut, tangannya mengusap tenang punggung menantunya yang sedikit gemetar.
Napas Renjana tersengal. Pelukan itu terasa akrab, hangat seperti pelukan yang pernah ia kenal dulu. Ada ruang kosong dalam dirinya yang seketika terisi.
“Saya salah apa? Kenapa beliau begitu tidak menyukai saya, Ibu?” bisik Renjana dengan suara bergetar. Kepalanya terkulai di pundak Devita, menahan isak yang nyaris pecah.
Pelukan itu ia balas erat, seakan kehangatan itu akan terlepas jika ia mengendurkan sedikit saja.
“Maafkan keluarga saya, ya, Renjana,” bisik Devita getir. “Seharusnya kamu diterima dengan baik seperti angan-angan Ratna dulu.”
“Hanya karena keributan di pelaminan waktu itu, sosokmu jadi buruk di mata Mbak Ningrum.”
Mata Renjana lantas terpejam rapat. Ingatan hari pernikahannya kembali melintas bagai mimpi buruk yang tak ingin dikenang. Raevano. Jika saja pria itu tidak datang, mungkin luka dan stigma itu tak akan menjeratnya sedalam ini.
Namun, apa gunanya kini menyalahkan bahkan menyesali?
Semesta mempunyai seribu cara yang tidak mudah ditebak oleh tiap insan di dunia. Dan Renjana adalah salah satunya. Ia percaya bahwa kebaktian akan membangun komitmen yang utuh. Ironisnya, justru pergolakan batinnya terus dihajar habis-habisan—menelan pahitnya penolakan dari orang yang seharusnya disebut keluarga.
“Maaf, Ibu. Kalau saja Mas Vano waktu itu tidak—”
“Bukan salahmu, Renjana,” Ajigar menukas tegas. “Kamu tidak bisa memprediksi keributan yang tak terduga di hari pernikahanmu.”
Wajahnya yang semula mengeras perlahan melunak. Ia meloloskan napas panjang, aura teduh membayang paras paruh bayanya itu—serupa dengan putranya.
“Mbak Ningrum sudah seperti itu sejak dulu. Sejak putra dan suaminya tiada, meninggalkannya selamanya,” ungkapnya pelan. Sebuah fakta yang spontan membuat Renjana menarik diri dari pelukan sang ibu mertua.
“Dan Favian, putraku itu adalah satu-satunya yang dia sayangi layaknya anak sendiri,” sambung Ajigar.
“Tapi itu bukan alasan untuk bisa bersikap semena-mena. Dia Bibinya, benar. Namun aku dan Devita adalah orang taunya. Dan kamu, Jana …,” Ia berhenti sejenak, menatap Renjana dalam, “kamu istrinya. Kamu punya hak yang sama atas hidup Favian sekarang.”
“Lawan dia, jika hakmu sebagai istri direnggut,” pungkas Ajigar mantap. Pria itu lantas berbalik pergi tanpa menunggu jawaban dari sang lawan bicara.
Renjana terpaku. Fakta itu menyisakan sebuah teka-teki di benaknya, sebab masih banyak yang membuatnya bertanya—ada celah apa saja yang tidak pernah ia tahu dalam keluarga yang ia kira sempurna itu?
Ia menoleh ke arah Devita, berharap ada jawaban yang berkelebat di rupa anggunnya itu.
“Ibu tahu kamu sedang bingung dan berusaha mencerna pernyataan suamiku, Renjana,” ujar Devita lembut. “Tapi kamu akan memahami semuanya dari mulut suamimu sendiri.”
...****************...
Kelopak mata Favian berkedut pelan. Cahaya putih itu menyentrong tajam indra penglihatannya, memaksa pupilnya menyempit. Aroma obat-obatan dan disinfektan yang khas menyergap penciumannya, membuat dahinya berkerut tipis.
“Jana ….”
Gumaman serak itu keluar dari bibir pucatnya. Ia mengerjap beberapa kali, berusaha memfokuskan pandangan pada ruangan serba putih yang terasa asing sekaligus hampa.
“Renjana ….”
Nama itu kembali mengudara, seolah sosok tersebut satu-satunya hal yang tertinggal di alam bawah sadarnya.
“Perempuan itu nggak ada di sini, Ian,” cetus Ningrum dingin.
Favian memicingkan mata. Perlahan, ia menoleh ke arah sumber suara, di mana sang bibi duduk tenang di kursi dekat sisi ranjangnya. Wajah wanita itu datar, akan tetapi ada kilatan yang sulit diterjemahkan di netra tuanya.
“Di mana istriku, Bibi?” tanyanya lemah, napasnya masih berat.
Ningrum mengedikkan bahu, seolah pertanyaan itu tak layak diberi perhatian.
“Nggak penting kamu menanyakan dia. Sekarang fokus saja pada kesehatanmu.” Jawaban Ningrum terdengar acuh tak acuh.
Favian menarik napas dalam sebelum mengembuskannya perlahan, mencoba menenangkan detak jantungnya yang mulai berpacu tak tenang.
“Dia istriku, Bibi. Penting bagiku untuk mengetahuinya dia ada di mana.”
“Dia sudah membuatmu celaka, Ian. Kamu hampir saja meregang nyawa karena keteledorannya dalam melayanimu,” begitu si yang lebih tua membalas, suaranya mengeras.
Rahang Favian menegang. “Jangan salahkan dia, Bibi.”
Ningrum mendengus. “Kenapa kamu selalu membelanya? Dia itu perempuan yang sudah mencoreng nama keluarga karena hubungannya dengan mantan kekasihnya di hari pernikahan kalian.”
“Dan sekarang dia membuatmu celaka, Ian. Istri macam apa yang terus-menerus menambah beban pada suaminya?”
Favian mengatupkan bibir. Tubuhnya memang masih lemah, tetapi kesabarannya seperti sedang digerus sedikit demi sedikit.
“Dia tetap istriku, Bibi,” tutur pria itu dengan penekanan yang jelas. “Ketidaktahuannya bukan berarti dia sengaja mencelakaiku.”
“Tapi, Ian—”
“Sudah cukup, Bibi. Dia baru menjadi istriku. Wajar jika masih banyak yang belum dia tahu tentangku, termasuk riwayat alergiku.”
Ia menatap lurus iris tua bibinya, sorotnya tak lagi selemah tubuhnya.
“Dia sudah memperingatkanku. Aku yang terlalu keras kepala. Ini bukan salahnya.”
Favian melanjutkan, suaranya lebih dalam dan menekan. “Jangan buat batin Renjana terguncang oleh perkataan tidak berdasar yang Bibi lontarkan. Aku sudah bersusah payah membuatnya percaya bahwa dia pantas menerima cinta dan menerima dirinya sendiri. Jangan Bibi rusak itu hanya karena Bibi tidak menyukainya.”
Ruangan mendadak terasa lebih sunyi.
Ningrum lantas mencondongkan tubuh, menatapnya sengit namun penuh arti.
“Lebih baik ceraikan saja perempuan itu,” sungutnya. “Aku akan mencarikanmu perempuan lain yang sama persis seperti cinta pertamamu, Favian.”