Setelah pahlawan terhebat berhasil mengalahkan Raja Iblis, dikhianati manusia. Dituduh berbuat kejahatan dan tak ada yang mempercayai semua yang dikatakan.
Alih-alih demi terciptanya kedamaian dunia, pahlawan bernama Rapphael Vistorness pun membiarkan dirinya ditangkap dan dihukum mati. Siapa sangka, dirinya malah mengulang waktu pada saat pertama dipanggil dari dunia lain.
Karena telah kembali, maka tugas pahlawan bukanlah tanggung jawabnya lagi. Bersantai dan berpetualang di dunia ini, saatnya untuk menikmati kehidupan tanpa beban kepahlawanan. Namun ia tak pernah lupa untuk mencari informasi, siapa dalang atas nasib buruknya dimasa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wanto Trisno 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ibukota Kerajaan Baru
Raja, yang telah memerintah kerajaan selama beberapa tahun, memutuskan untuk memindahkan ibukota kerajaan ke Kota Bvakhsin. Kota ini terletak di pusat kerajaan dan memiliki akses yang mudah ke jalur perdagangan utama. Raja berharap bahwa dengan memindahkan ibukota ke Bvakhsin, ia dapat meningkatkan kekuatan dan kekayaan kerajaan.
Apalagi pasca trauma karena kehilangan kota Dunggos. Kota yang dulunya menjadi ibukota kerajaan yang sangat makmur. Karena serangan Pengst yang terjadi besar-besaran, membuatnya hancur. Bahkan tidak bisa ditempati lagi karena sudah tercemar wabah dan penyakit.
Sebelumnya, saat terjadi wabah, tidak ada pilihan lain. Karena takut dirinya terkena penyakit yang diderita oleh para penduduknya. Untungnya daerah kekuasaannya meliputi empat kota besar.
Kota tersebut antara lain ; Kota Dunggos, Kota Swrisdk, Kota Bvakhsin, dan Kota Muwdark.
Di antara keempat kota tersebut, Kota Dunggos yang menjadi pusat pemerintahan. Namun karena terjadinya hal tidak terduga, membuatnya khawatir. Sebelum akhirnya memutuskan untuk memindahkan ibukota, ia pun memanggil para penasihat dan lainnya.
Raja memanggil para menteri dan penasihatnya untuk membahas rencana ini. "Saya telah memutuskan untuk memindahkan ibukota ke Bvakhsin. Kota ini memiliki potensi besar untuk menjadi pusat perdagangan dan kekuasaan."
Para penasihat dan menteri saling menatap, beberapa di antaranya terlihat tidak setuju. "Paduka, apakah ini keputusan yang bijak?" tanya salah satu penasihat. "Kota Bvakhsin belum siap untuk menjadi ibukota."
"Kota ini juga sudah tidak bisa ditinggali lagi. Merevitalisasi kota ini? Ini sangat tidak mungkin. Kota ini sudah mati dan pendeta sialan itu telah mengambil seluruh harta kerajaan."
"Paduka, untuk memindahkan ibukota, kita butuh banyak biaya. Lagipula, kita sudah tidak punya uang lagi. Bukankah seharusnya Paduka Raja memikirkan rakyat di luaran sana?"
"Benar sekali. Alangkah baiknya, kita perbaiki kota ini terlebih dahulu. Kumpulkan orang-orang untuk menguburkan mayat-mayat itu."
Raja menatap penasihat itu dengan mata yang tajam. "Raja ini tidak perlu saran darimu. Saya telah memutuskan semuanya. Siapa rajanya di sini? Aku atau dirimu, hah?"
Dengan itu, Raja memerintahkan bawahannya untuk mulai mempersiapkan pemindahan ibukota ke Bvakhsin. Para penasihat itu meninggalkan ruangan, beberapa di antaranya terlihat tidak puas dengan keputusan Raja.
Tentu saja keputusan itu diambil karena kota Dunggos saat itu tidak bisa ditinggali. Apalagi semua harta kerajaan telah hilang. Dan yang menjadi tersangkanya adalah Pendeta Rantao Musbeskus.
Raja tersenyum, merasa puas dengan keputusannya. "Bvakhsin akan menjadi ibukota yang hebat," katanya kepada dirinya sendiri.
Setelah memberi keputusan tersebut, ia pun memboyong apa saja yang bisa dibawa untuk masuk ke ibukota baru. Dengan menggunakan kereta yang ditarik oleh belasan kuda, raja itu melewati kerumunan warga yang meminta pertolongan.
"Paduka, tolong kami. Tolong sembuhkan kami." Seorang wanita penuh dengan luka bernanah di wajahnya, berharap belas kasihan. Ia tahu yang ada di dalam kereta kuda adalah sang raja.
"Minggir! Kau mengganggu jalan kami." Prajurit kerajaan menendang wanita itu dengan kejam. Ia tidak segan-segan untuk melakukan kekerasan di depan umum.
Hanya karena penyakit yang diderita oleh warga kota Dunggos. Yang seharusnya mereka (pihak kerajaan) sudah mengurus semuanya. Namun malah membiarkan wabah terus menyebar.
Hati rakyat teriris pilu, siapa yang menyangka, akan ditinggalkan begitu saja. Mayat-mayat pasca perang masih teronggok di luar kota. Tidak ada yang berani mengambil atau mengurus karena banyaknya Lumon yang berkeliaran.
Lumon-lumon itu sekarang menjauh karena adanya penyihir kerajaan yang siap siaga. Serta banyaknya prajurit yang mengawal di depan. Lagipula ada sosok yang dianggap pahlawan oleh semua orang.
Namun pahlawan itu justru mengikuti langkah raja untuk melarikan diri dari kota Dunggos. Bahkan yang seharusnya menyelamatkan dunia, justru gila akan kemewahan duniawi. Tidak peduli pada orang yang seharusnya ditolongnya.
Melewati gerbang kota yang dipenuhi mayat yang tidak diurus. Namun karena berada di dalam kereta kuda, membuatnya merasa aman. Pasukannya juga telah mengenakan pakaian khusus untuk melindungi diri dari wabah. Bahkan pasukan penyihir dikerahkan dalam perjalanan, hanya demi membersihkan udara yang dilewati.
Dalam waktu dua hari, akhirnya mereka tiba di kota Bvakhsin. Apalagi kota itu tidak kalah dengan kota Dunggos sebelum terjadi perang. Sehingga membuatnya yakin, dapat membangkitkan kerajaan kembali.
"Hahaha! Akhirnya tiba juga di kota ini. Ini adalah awal dari kehidupan baru. Gara-gara pendeta sialan itu, membuatku harus susah payah seperti ini."
Konflik antara dirinya dan Pendeta Rantao Musbeskus, membuatnya memutuskan hubungan. Ia juga meragukan identitas pahlawan yang dipanggil oleh pendeta tersebut. Akankah masih bisa dipercaya atau tidak. Namun saat ini masih berada di pihaknya.
Adapun orang-orang yang telah dianggap berkhianat, akan dieksekusi olehnya. Saat memasuki kota Bvakhsin, ia disambut baik oleh semua orang. Bahkan pemimpin kota sangat menantikan kedatangan sang raja.
Setiap kota dari empat bagian Kerajaan Dunggos, memiliki masing-masing pemimpin kota. Mereka juga yang telah membangun kota dengan sebaik mungkin.
Pemimpin kota berada dibawah kepemimpinan sang raja. Ia harus menghormati dan selalu menuruti perintah raja. Dengan demikian, ia baru dianggap pemimpin yang patuh.
"Hormat kami, Paduka Raja. Kami telah menyiapkan tempat untuk Paduka Raja beristirahat. Silahkan masuk ke dalam gedung pemerintahan."
Di gedung pemerintah adalah pusat pemerintahan itu dijalankan. Di mana bisa memutuskan sesuatu dan sekaligus tempat tinggal pemimpin kota. Besarnya gedung tersebut tidak kalah jauh dari istana kerajaan. Hanya perlu dirombak besar-besaran demi menciptakan istana baru.
Suatu ketika saat mengumpulkan ribuan warga, raja berdiri di balkon. Disaksikan oleh semua orang yang hadir karena ingin mendengarkan apa yang akan disampaikan raja tersebut.
"Rakyatku sekalian, saya adalah raja kalian. Saya Bangaas Lubrock, mulai hari ini menyatakan kepindahan ibukota kerajaan. Dan sekarang, kita akan membangun istana besar. Untuk itu, kami akan merevisi peraturan lama menjadi yang terbaru. Ini demi stabilitas dan efisiensi kerja kami sebagai pemangku kebijakan tertinggi ...."
Yang dikatakan oleh Bangaas Lubrock telah direkam oleh alat perekam. Yang nantinya akan diumumkan ke seluruh dunia. Sehingga semua orang akan tahu keputusan yang diumumkan.
Diantara keputusan yang paling penting adalah dengan mengeluarkannya kota Dunggos sebagai bagian dari negaranya. Juga memberikan nama baru untuk negara yang meliputi tiga kota besar.
"Mulai hari ini, kerajaanku resmi berganti nama menjadi 'Kerajaan Lubrock'. Demikianlah apa yang telah saya sampaikan. Untuk peraturan baru, akan segera dirilis dalam waktu dekat."
Dan yang terjadi selanjutnya adalah respon sebagian masyarakat. Mereka ada yang setuju dan ada yang menolak. Namun keputusan raja tidak bisa dibantah. Apalagi dengan ditiadakannya kota Dunggos yang telah menjadi jantung ibukota dan menjadi pusat pemerintahan sebelumnya. Kini justru menjadi tempat yang terburuk.
Penanggulangan bencana tidak bisa dilakukan karena kemalasan dari seluruh orang istana. Atau orang yang memiliki jabatan tinggi.
Setelah memindahkan ibukota ke Bvakhsin, Raja mulai memungut pajak tinggi dari rakyat kota Bvakhsin. Pajak ini digunakan untuk membiayai pembangunan istana mewah yang sedang dibangun di pusat kota. Rakyat tidak senang dengan pajak tinggi ini, tapi mereka tidak berani melawan Raja.
***