NovelToon NovelToon
Tasbih Retak Sang Istri Politisi

Tasbih Retak Sang Istri Politisi

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Ibu Mertua Kejam / Anak Yatim Piatu / Action / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Murni
Popularitas:11.8k
Nilai: 5
Nama Author: Tiga Alif

Nayara, gadis panti yang dianggap debu, terjebak di High Tower sebagai istri politisi Arkananta. Di sana, ia dihina habis-habisan oleh para elit. Namun, sebuah rahasia batin mengikat mereka: Luka Berbagi. Setiap kali Nayara tersakiti, Arkan merasakan perih yang sama di nadinya. Di tengah gempuran santet dan intrik takhta Empire Group, sanggupkah mereka bertahan saat tasbih di tangan Nayara mulai retak dan jam perak Arkan berhenti berdetak?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21: Kunjungan Panti

Aspal mulus Astinapura perlahan berganti menjadi jalanan berbatu yang memaksa mobil hitam itu berguncang hebat. Di dalam kabin, kesunyian terasa begitu pekat, hanya dipecahkan oleh suara napas Arkananta yang terdengar berat dan manual. Ia duduk dengan punggung kaku, membiarkan tubuhnya menyerap setiap getaran dari ban mobil yang menghantam lubang, seolah rasa sakit fisik itu mampu mengalihkan perih tumpul di tulang rusuknya akibat sanksi politik yang baru saja diterimanya.

Nayara duduk di sampingnya, jemarinya meremas butiran tasbih kayu yang permukaannya kini terasa kasar karena retakan-retakan baru. Ia menatap keluar jendela, ke arah kegelapan hutan yang mulai menyelimuti sisi jalan.

"Terdeteksi degradasi infrastruktur jalan, Arkan. Apakah Bayu memiliki pemetaan jalur alternatif guna menghindari blokade perbatasan?" bisik Nayara, suaranya parau namun stabil.

Arkan tidak membuka mata. Rahangnya mengunci rapat. "Bayu telah memetakan koordinat jalur tikus melalui sektor perkebunan. Dewan Partai memiliki otoritas membekukan logistik di metropolis, namun mereka tidak memiliki kendali atas arah angin yang membawa kita kembali ke akar," jawab Arkan sembari mengatur napasnya yang mulai terasa sesak—sebuah resonansi Shared Scar yang mulai aktif saat ia merasakan kecemasan Nayara meningkat.

"Namun terkait cadangan finansial privat Anda... apakah valuasinya memadai untuk alokasi kebutuhan panti periode ini? Ibu Fatimah memberikan laporan bahwa stok logistik di gudang mencapai ambang batas minimum sejak intersepsi truk bantuan tempo hari," Nayara menoleh, menatap wajah suaminya yang pucat di bawah temaram lampu dasbor.

"Analisis kecukupan dana adalah otoritas saya. Tugas Anda hanya satu, Nayara. Pertahankan postur tegak saat melakukan kontak fisik dengan tanah panti. Jangan biarkan anak-anak melihat adanya retakan pada integritas wajah Anda."

Mobil mendadak berhenti dengan sentakan keras. Di depan mereka, cahaya lampu jauh mobil menabrak barisan kayu besar yang melintang di tengah jalan. Beberapa pria dengan penutup wajah berdiri di sana, memegang batang kayu dan senter yang cahayanya menyilaukan.

"Lapor Tuan Muda, terdapat anomali blokade. Terdeteksi pergerakan unit Erlangga telah mengantisipasi koordinat rute ini," lapor Bayu dari kursi kemudi. Tangannya mencengkeram kemudi hingga buku jarinya memutih.

Arkan membuka mata. Kilatan dingin memancar dari pupilnya, sebuah manifestasi dari prinsip tulang besi yang tidak mengenal kata mundur. Ia membuka pintu mobil sebelum Bayu sempat melarang.

"Tetap dalam posisi di dalam kabin, Nayara. Lakukan penguncian pintu otomatis," perintah Arkan singkat.

"Arkan, batalkan prosedur keluar! Mereka menunjukkan indikasi agresi," Nayara mencoba menahan lengan Arkan, namun suaminya sudah melangkah keluar ke tengah debu jalanan yang beterbangan.

Arkan berdiri di depan sorot lampu mobilnya sendiri. Bayangannya memanjang, tampak raksasa di atas tanah berbatu. Ia melepaskan jas hitamnya yang terasa mencekik, menyampirkannya di lengan kiri, sementara tangan kanannya menggulung lengan kemeja putihnya dengan gerakan yang tenang namun mematikan.

"Subjek mana yang memberikan instruksi untuk melakukan terminasi akses jalan umum ini?" suara Arkan menggelegar di tengah kesunyian hutan, dingin dan tajam.

Seorang pria maju, meludah ke tanah sebelum menjawab. "Kami hanya warga yang tidak ingin kutukan dari kota masuk ke desa kami. Kami tahu siapa wanita di dalam mobil itu. Dia pembawa sial yang membuat panti asuhan itu dihujat di berita!"

Arkan melangkah maju. Satu langkah yang membuat para pria itu mundur secara naluriah. "Kutukan? Anda berbicara soal metafisika saat Anda sendiri sedang memproses upah haram untuk berdiri di posisi ini?"

"Jangan banyak bicara! Pergi atau kami lakukan destruksi pada kendaraan ini!" pria itu mengangkat balok kayunya.

Di dalam mobil, Nayara memejamkan mata. Bibirnya mulai bergerak cepat melantunkan sholawat, menciptakan frekuensi perlindungan batin yang segera merambat ke arah Arkan. Ia merasakan ulu hatinya yang tadi mulas kini mulai menghangat. Melalui jendela, ia melihat Arkan berdiri diam, namun udara di sekitar suaminya seolah bergetar—sebuah tekanan Void Energy yang mampu melumpuhkan mental lawan tanpa satu pun pukulan.

"Bayu, lakukan unloading seluruh unit logistik dari bagasi sekarang juga," ucap Arkan tanpa menoleh.

"Namun Tuan, terdapat hambatan fisik di jalur—"

"Eksekusi. Kita akan melakukan mobilisasi manual jika mereka menolak melakukan pembukaan jalur," potong Arkan. Suaranya tidak tinggi, tapi mengandung otoritas yang membuat para preman itu terdiam kaku.

Bayu keluar dan membuka bagasi. Karung-karung beras dan dus roti manis diturunkan ke tanah. Arkan mendekati pria yang memimpin blokade, menatapnya tepat di mata.

"Lakukan pembersihan jalur kayu ini sekarang, atau Anda akan memproses bagaimana rasanya struktur tulang yang dihancurkan oleh integritas," bisik Arkan tepat di depan wajah pria itu.

Pria itu gemetar. Ia melihat sesuatu yang mengerikan di mata Arkan—sesuatu yang jauh lebih menakutkan daripada ancaman Erlangga. Dengan gerakan kikuk, ia memberi isyarat kepada kawan-kawannya untuk menggeser batang kayu tersebut.

Aroma Kayu Bakar yang Jujur

Mobil perlahan memasuki gerbang panti asuhan yang dinding bata merahnya tampak kusam di bawah cahaya bulan. Begitu roda mobil berhenti, aroma kayu bakar yang terbakar dan wangi melati panti menyambut indra penciuman mereka. Arkan turun, menghirup udara itu dalam-dalam, mencoba membuang sisa racun dari gedung dewan partai yang masih mengendap di paru-parunya.

Nayara keluar dari mobil dengan langkah yang lebih ringan. Ia melihat sesosok wanita tua dengan kerudung lebar berdiri di teras panti, memegang lampu petromaks. Itu Ibu Fatimah.

"Nayara? Arkananta?" suara Ibu Fatimah terdengar bergetar.

"Ibu..." Nayara berlari kecil dan segera memeluk wanita tua itu. Air mata yang sejak tadi ditahannya di hadapan para petinggi partai kini mulai merembes, namun ia segera mengusapnya sesuai pesan Arkan. "Kami melakukan kunjungan singkat, Bu."

"Alhamdulillah. Kami memproses informasi negatif itu di radio tadi sore. Mang Asep sampai harus melakukan penjagaan di perimeter belakang karena terdapat subjek asing yang melakukan observasi," Ibu Fatimah mengusap punggung Nayara sebelum beralih menatap Arkan.

Arkan mendekat, menundukkan kepalanya sedikit sebagai tanda hormat—sesuatu yang tidak pernah ia lakukan pada Nyonya Besar sekalipun. "Mohon maaf atas keterlambatan unit kami, Bu. Terjadi hambatan distribusi logistik dalam perjalanan."

"Prioritas utama adalah keselamatan kalian, Nak Arkan. Silakan masuk, area dapur masih dalam suhu hangat. Mang Asep baru saja melakukan terminasi pada tungku nasi," ajak Ibu Fatimah.

Mereka melangkah masuk ke dapur panti. Ruangan itu sederhana, dengan lantai semen yang bersih dan langit-langit yang menghitam. Arkan duduk di atas kursi kayu panjang, melepaskan sepatu kulitnya yang penuh debu. Ia merasakan uap nasi yang mengepul dari dandang besar meresap ke dalam kulitnya, memberikan kenyamanan yang tidak pernah diberikan oleh sprei sutra di High Tower.

"Lakukan konsumsi terlebih dahulu. Hanya tersedia nasi putih dan sambal bawang. Namun ini adalah stok beras terakhir yang tidak terkontaminasi aroma minyak tanah," ucap Ibu Fatimah sembari menyendukkan nasi ke piring porselen retak.

Arkan menyuap nasi itu. Lidahnya yang tadi terasa pahit seperti logam berkarat kini merasakan manisnya kejujuran. "Ini adalah asupan terbaik yang saya proses dalam periode minggu ini, Bu."

"Jangan melakukan distorsi fakta, Arkananta. Anda terbiasa dengan standar konsumsi di restoran mewah," canda Ibu Fatimah, meski matanya menunjukkan kekhawatiran yang mendalam.

"Sektor mewah hanya melakukan penjualan citra, Bu. Di koordinat ini, saya memproses martabat," jawab Arkan tenang. Namun, saat ia hendak menyuap lagi, ia merasakan sentakan tajam di ulu hatinya. Ia melirik Nayara yang sedang membantu Ibu Fatimah di dekat tungku.

Nayara tampak terdiam, tangannya yang memegang centong kayu mendadak kaku. Ia merasakan sesuatu yang busuk sedang mendekat—bukan bau sampah, tapi bau kemenyan yang sangat tipis yang hanya bisa dideteksi oleh indra batinnya.

"Ibu, apakah terdapat riwayat kunjungan subjek lain sebelum kehadiran kami?" tanya Nayara dengan mata yang mulai berpendar samar.

"Nihil, Ara. Hanya terdapat kurir yang melakukan pengantaran dokumen tadi sore, namun subjek segera melakukan keberangkatan," jawab Ibu Fatimah.

Arkan meletakkan piringnya. Ia berdiri, rahangnya kembali mengunci. Resonansi Shared Scar-nya memberitahu bahwa Nayara sedang mendeteksi ancaman metafisika. "Bayu, lakukan inspeksi perimeter bangunan. Mang Asep, lakukan mobilisasi anak-anak ke kompartemen terdalam dan lakukan penguncian pintu akses."

"Terjadi anomali, Arkan?" tanya Nayara, mendekati suaminya.

"Aroma ini... memiliki kemiripan dengan spektrum di hutan jati semalam," bisik Nayara sembari meremas tasbihnya.

Tiba-tiba, suara kepakan sayap burung gagak terdengar riuh di atas atap seng panti. Suasana hangat di dapur itu mendadak berubah menjadi dingin yang menusuk, seolah ada es yang merambat dari lantai semen ke kaki mereka. Arkan menarik Nayara ke belakang punggungnya, sementara matanya menatap tajam ke arah kegelapan di luar jendela dapur.

"Mereka menolak memberikan jeda istirahat bahkan di koordinat ini," geram Arkan, tangannya mengepal hingga pembuluh darah halus di buku jarinya tampak memerah.

Gema Sholawat di Tengah Badai

Lampu petromaks di atas meja makan bergoyang pelan, menciptakan bayangan raksasa yang menari-nari di dinding bata merah. Arkananta segera bangkit, mengabaikan nyeri tumpul di tulang rusuknya yang kini berdenyut seirama dengan kepakan sayap di atas seng. Ia melangkah ke tengah ruangan, menutup ventilasi kayu dengan gerakan cepat.

"Nayara, pertahankan posisi di samping Ibu Fatimah," perintah Arkan, suaranya kini sekeras logam yang ditempa. "Bayu! Ambil instrumen cahaya dan inspeksi tangki air di sektor belakang. Cegah infiltrasi material apa pun ke saluran utama."

"Arkan, ini bukan agresi fisik konvensional," bisik Nayara sembari meremas tasbih kayunya hingga buku jarinya memutih. "Terdeteksi sensasi jarum es yang mencoba melakukan penetrasi pori-pori. Ini adalah hawa yang identik dengan sabotase gaun azure di High Tower."

Arkan mengeraskan rahangnya. Ia bisa merasakan napas manualnya semakin berat, seolah udara di dapur itu mendadak kehilangan oksigen. Ia menoleh ke arah Ibu Fatimah yang kini memeluk Mina dan beberapa anak panti lainnya yang terbangun karena suara bising.

"Ibu, jangan lakukan aktivasi rasa takut. Selama saya berada di koordinat ini, tidak ada satu pun bayangan dari Astinapura yang diizinkan menginjakkan kaki di lantai panti ini," ucap Arkan sembari menatap tajam ke arah pintu dapur yang mulai berderit.

Tiba-tiba, suara benturan keras menghantam pintu depan. Mang Asep berteriak dari ruang tengah, "Tuan Arkan! Subjek massa kembali! Mereka membawa obor dan melakukan narasi kutukan!"

Arkan tidak menunggu lama. Ia menyambar sapu tangan kusam dari meja—instrumen jangkar Terra—dan melangkah menuju pintu depan. Nayara tidak membiarkannya pergi sendiri; ia mengikuti tepat di belakang Arkan, bibirnya tak henti melantunkan sholawat dengan frekuensi yang semakin tinggi.

Di halaman panti, puluhan pria yang tadi memblokade jalan kini berdiri dengan obor yang menyala. Namun, ada yang aneh. Mata mereka tampak kosong, dan gerakan mereka kaku seperti boneka yang digerakkan benang tak terlihat. Di antara kerumunan itu, aroma kemenyan yang terdeteksi Nayara tadi menguat menjadi bau anyir yang memuakkan.

"Ekstradisi gadis itu! Panti ini harus menjalani prosedur pembersihan!" teriak salah satu dari mereka, namun suaranya terdengar seperti gema yang terdistorsi.

Arkan berdiri di anak tangga teratas teras panti. Ia melepaskan kancing kerah kemejanya, membiarkan energi sumsum tulang besinya memancar keluar. "Kalian melakukan narasi pembersihan? Kalian yang membawa agresi api ke rumah anak yatim adalah residu yang sebenarnya!"

"Arkan, lakukan observasi pada dahan pohon jati tersebut," bisik Nayara sembari menunjuk bayangan gelap yang jongkok di posisi tertinggi.

Nayara menggunakan penglihatan batinnya. Di sana, ia melihat sesosok figur jangkung dengan jubah hitam yang memegang dupa—utusan Kyai Hitam. Figur itu sedang mengarahkan energi gelap untuk memanipulasi emosi warga desa yang sudah terhasut hoax media.

"Mereka menggunakan Soul Grafting intensitas rendah untuk memobilisasi warga," desis Nayara. "Arkan, jika Anda melakukan respon fisik, Anda akan terjebak dalam skenario Erlangga sebagai politisi yang melakukan kekerasan pada rakyat."

Arkan terhenti. Dilema martabat menghantamnya. Jika ia pasif, panti ini terbakar. Jika ia menyerang, karier politiknya tamat di tangan kamera tersembunyi.

"Aktifkan opsi ketiga," gumam Arkan. Ia menoleh pada Nayara. "Nayara, kuatkan frekuensi sholawat Anda. Bayu, nyalakan seluruh lampu sorot kendaraan ke arah pohon jati tersebut, bukan ke arah warga!"

Cahaya lampu LED putih yang sangat terang mendadak membelah kegelapan, menghantam figur berjubah di atas pohon. Sosok itu terpekik, menutupi mata yang tidak toleran terhadap cahaya fisik yang dikombinasikan dengan frekuensi spiritual sholawat Nayara. Di saat yang sama, Arkan melompat turun dari teras, bukan untuk memukul warga, melainkan untuk merebut obor dari tangan pemimpin massa dan memadamkannya di tanah basah dengan kaki telanjangnya.

"Lakukan observasi ke arah pohon itu! Subjek mana yang sebenarnya kalian ikuti?" teriak Arkan sembari menunjuk ke arah figur yang mulai melakukan desersi karena tak tahan dengan tekanan aura Iron Bone Marrow.

Warga desa tersentak. Pengaruh hipnotis tipis itu mengalami disolusi saat sumbernya melarikan diri. Mereka menatap obor-obor di tangan mereka dengan bingung, lalu menatap Arkananta yang berdiri dengan kaki kotor oleh tanah namun dengan tatapan yang sangat berwibawa.

"Tuan... kami... kami hanya menerima informasi bahwa kehadiran gadis itu menjadi pemicu kegagalan panen kami," ucap pria yang tadi memimpin blokade, kini suaranya kembali manusiawi.

"Kegagalan panen Anda adalah variabel hama, bukan akibat dari individu yang menghabiskan hidupnya mendoakan desa ini," Arkan mendekat, meletakkan tangannya di pundak pria itu. "Kembalilah ke kediaman masing-masing. Informasikan pada pihak yang membayar Anda, bahwa Arkananta tidak akan pernah melakukan pengkhianatan terhadap tanah Terra."

Massa perlahan membubarkan diri. Suasana kembali sunyi, menyisakan bau tanah basah dan sisa asap obor yang padam. Arkan berbalik menatap Nayara yang berdiri di teras dengan napas terengah.

Kesunyian yang Menyembuhkan

Beberapa saat kemudian, dapur panti kembali menjadi zona proteksi. Ibu Fatimah mengeluarkan nampan berisi roti manis yang dibawa Bayu tadi. Aroma gandum dan gula memberikan rasa aman yang nyata di tengah sisa-sisa ketegangan metafisika.

"Lakukan konsumsi, Ara. Kondisi Anda sangat pucat," Ibu Fatimah menyodorkan potongan roti ke tangan Nayara.

Nayara menerimanya, merasai tekstur empuk roti itu dengan ujung jarinya. "Terima kasih, Bu. Rasanya... sudah lama saya tidak memproses ketenangan seperti ini, meskipun dalam durasi singkat."

Arkan duduk di sudut, membasuh kakinya yang kotor dengan air sumur yang diambil Mang Asep. Ia tidak mengeluh saat rasa dingin air itu menyentuh luka lamanya yang kembali terbuka. Baginya, rasa sakit ini adalah verifikasi bahwa ia masih memiliki kemanusiaan yang nyata, bukan sekadar proyeksi citra Astinapura.

"Bayu, pastikan seluruh logistik masuk ke gudang bawah tanah. Alokasikan ekstra untuk unit keluarga Mang Asep," ucap Arkan sembari mengeringkan kakinya dengan handuk kusam.

"Eksekusi selesai, Tuan Muda. Saya juga telah melakukan penempatan dana tunai di lemari Ibu Fatimah untuk cadangan operasional periode bulan depan," lapor Bayu pelan.

Nayara mendekati Arkan, duduk di sampingnya di atas kursi kayu panjang. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Arkan yang masih terasa tegang namun hangat. "Anda benar, Arkan. Aroma kayu bakar ini... benar-benar menetralisir residu racun dari gedung partai tadi pagi."

Arkan menggenggam tangan Nayara, merasakan butiran tasbih yang menyelip di antara jemari mereka. "Dewan Partai dapat mencabut akses saya, Ibu dapat menyita aset saya. Namun selama panti ini tetap memiliki aroma dapur yang jujur, mereka tidak akan pernah memenangkan pertempuran ini."

Nayara memejamkan mata, menghirup aroma sabun murah dan uap nasi yang menyelimuti ruangan. Di luar, fajar mulai menyingsing, menyinari retakan-retakan pada dinding panti yang tetap berdiri kokoh. Arkananta menatap ke arah jendela, rahangnya melunak untuk pertama kalinya sejak mereka meninggalkan High Tower.

Malam itu, di sebuah sudut wilayah yang dilupakan dunia, seorang Komandan sedang melakukan pemulihan jiwa di pangkuan kejujuran. Mereka sadar badai dengan intensitas lebih besar akan tiba saat kembali ke metropolis, namun untuk saat ini, kehangatan panti adalah satu-satunya realitas yang mereka perlukan untuk mempertahankan Eksistensi.

1
Kartika Candrabuwana
iya. makasih ya.
prameswari azka salsabil
bagus arkan
prameswari azka salsabil
mantap betul
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya.
total 1 replies
prameswari azka salsabil
kasihan mereka
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya.
total 1 replies
prameswari azka salsabil
waduh pengacau lagi
prameswari azka salsabil
sabar nay
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya.
total 1 replies
prameswari azka salsabil
joss arkan
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya.
total 1 replies
prameswari azka salsabil
mantap arkan
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya.
total 1 replies
prameswari azka salsabil
tegar nayara
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya.
total 1 replies
prameswari azka salsabil
miga baik baik saja
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya.
total 1 replies
Kartika Candrabuwana
pasangan yang luar biasa
Kartika Candrabuwana
iya betul arkan
Kartika Candrabuwana
tetao semangat arkan
Kartika Candrabuwana
bagys nayara
Kartika Candrabuwana
semangat arkan
Kartika Candrabuwana
yetap beraholawat nayara
Kartika Candrabuwana
lasangan yang luar biasa
Kartika Candrabuwana
wah ada pahar ghaib
Kartika Candrabuwana
semoga arkan dan nayara baik baik saja
Kartika Candrabuwana
jangan lupa bersholawat nayara
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!