"Jangan pernah melawan dunia, Nak. Semesta ini terlalu besar untukmu yang kecil. Begitu pun nanti jika kau dewasa. Semesta dan isinya terlalu besar untuk kamu lawan. Lebih baik menghindar dan mengalah demi keselamatanmu." Pesan mendiang Kakek selalu terngiang, bahkan telah tertanam dalam benak Naina.
Meski ia sempat mencintai orang yang salah, yang selalu memenjarakannya di sangkar emas, mengekang hidupnya dengan cinta yang dipaksakan, Naina tak dapat melawan penguasa tersebut. Naina terlalu lemah di hadapan Ryan, suaminya. Dapatkah cinta mereka bersatu kembali setelah beberapa kali badai besar menerjang bahtera mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yun Alghff, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Naina terdiam seorang diri di sofa, menatap lurus ke arah tv besar yang tidak menyala. Pikirannya kacau entah kemana arahnya. Naina tidak ingin sendirian lagi, tapi jika ia bertahan harus ada yang di korbankan.
Naina sadar diri, ia tak secantik wanita yang Ryan cintai, ia tak memiliki pendidikan tinggi, juga bukan dari keluarga terpandang. Naina hanyalah gadis desa, yatim piatu dan tidak memiliki harta.
Benar-benar tak sebanding dengan Ryan, bahkan wanita yang Ryan cintai. Bahkan Naina bertanya-tanya, dimanakah orang tua Ryan? Kenapa sampai saat ini Ryan tak mempertemukan dirinya dengan orang tua Ryan. Apakah Ryan malu mengakui status Naina yang gadis miskin yatim piatu?
Sepenting itukah status sosial di mata orang-orang kota? Setidak layak itukah Naina bahagia? Tak terasa air mata menetes di kedua pipinya.
Berjam-jam Naina hanya duduk merenung di sofa ruang keluarga. Saat ada waktu untuk berbicara dengan Ryan, malah Ryan sedang asik melakukan video call dengan seorang wanita.
Ryan duduk di balkon, dan menikmati angin malam seraya melakukan panggilan bersama Maeta, pujaan hati Ryan.
Ryan seolah sengaja melakukan itu agar Naina tahu. Atau Ryan memang tak menganggap Naina ada di sana? Diam-diam Naina mendengar percakapan mereka. Betapa sakitnya Naina saat Ryan berucap mesra dan ramah pada wanita di sebrang sana.
"Yan, aku tidak jadi pulang minggu ini. Aku di pilih oleh Profesor untuk mengikuti event desain fashion. Menurut beliau karyaku layak untuk di pamerkan."
"Wah, selamat, ya! Aku ikut senang mendengarnya." Seru Ryan dengan menarik seutas senyum manis pada layar ponselnya.
Naina yang menguping dan mengintip merasa hatinya terbakar api, panas dan gelisah. Perbincangan mereka sangat akrab dan mesra. Hal yang tak pernah ia dapatkan dari Ryan seumur hidupnya. Dulu pun Ryan hanya berkata lembut jika menginginkan sesuatu. Tak pernah ada ungkapan cinta dan kasih sayang yang Ryan lontarkan. Hanya ucapan janji manis yang tidak bisa ditunaikan.
"Lalu kapan kamu akan pulang?" Tanya Ryan pada akhir.
"Entahlah. Jika aku lolos, aku akan menandatangani kontrak dengan salah satu perusahaan ternama di sini. Kemungkinan kontrak akan berlangsung selama 2 tahun."
Terlihat jelas raut wajah kecewa di muka Ryan. Seperti kehilangan harapan untuk bersama. Padahal Ryan telah memiliki Naina tapi ia malah mengabaikannya. Hati Naina semakin sakit. Ia ingin memaki dan menampar Ryan. Tapi hal itu Naina urungkan. Ia tak ingin di usir dan luntang-lantung tak tentu arah.
Naina tak ingin sendirian lagi. Naina ingin tetap tinggal di rumah yang nyaman. Naina tetap ingin menikmati makanan enak. Naina tetap ingin bersama Nayla, menikmati hari dengan bahagia tanpa pusing memikirkan uang.
Apakah Naina egois? Apakah Naina bodoh? Ia hanya tak ingin berpisah dengan orang yang ia cintai. Cinta? Iya, Naina amat sangat mencintai Ryan dan Nayla. Cinta itulah yang membuat Naina menjadi bodoh dan membiarkan harga dirinya di injak-injak.
Naina terdiam mematung, tak menyadari bahwa Ryan telah selesai bercakap-cakap dengan wanita cantik itu. Ryan menatap Naina sinis dan berlalu pergi meninggalkan Naina.
Ryan duduk di sofa dengan menyalakan sebatang tembakau yang telah di bungkus rapi.
"Naina," seru Ryan dengan asap rokok yang mengapung.
"Mari kita bercerai." Lanjutnya tanpa menatap ke arah Naina.
Naina terkulai lemas. Ia tak sanggup dengan apa yang ia dengar. Naina tak ingin di buang lagi. Naina takut dengan dunia luar yang baru ia pijak. Naina yang bodoh itu merangkak dan meminta ampun pada Ryan.
"Tidak, aku tidak mau bercerai." Tangisnya dalam pelukan kaki Ryan.
Ryan enggan, ia mendorong Naina dengan kasar. Naina bangkit lagi dan menatap Ryan sendu dengan air mata yang berlinang.
"Beri aku satu kesempatan, Pak. Aku akan berubah sesuai keinginan mu. Tolong jangan buang aku. Tolong jangan pisahkan aku dengan Nayla."
Ryan menatap Naina bengis, ia menarik wajah Naina mendekat pada wajahnya. "Apa kau bisa menurut sesuai apa yang aku ucapkan?"
Naina menganggukkan kepalanya. Senyuman sinis terlukis di wajah tegas Ryan. Ryan mendorong Naina kasar.
Ia kembali menghisap rokoknya dan menatap Naina penuh hinaan. "Buka pakaianmu!"
Naina menatap Ryan, hatinya sakit. Apakah Naina harus merelakan harga dirinya di depan lelaki yang berstatus sebagai suaminya?
"Cepat!!" Bentak Ryan tak sabaran.
Tak apa-apa Naina, dia suamimu. Dia berhak atas dirimu. Batin Naina menguatkan dirinya.
Naina perlahan membuka kancing dasternya yang lusuh itu. Perlahan bahunya yang kurus itu terlihat. Naina sempat menghentikan aksinya, namun mata Ryan seolah memberikan isyarat lanjutkan aksimu.
Dengan ragu, Naina mulai menurunkan pakaiannya. Memperlihatkan kedua bahunya yang lurus dengan tulang yang sangat jelas terlihat.
Ryan mematikan puntung rokoknya pada asbak, lalu ia seolah dikuasai Nafsu, ia langsung memeluk Naina dan mencium leher Naina dengan kasar.
Naina hanya bisa terdiam menahan tangis yang mulai pecah. Naina merasa harga dirinya sebagai seorang istri tak bernilai apapun di mata Ryan.
Naina kini menyadari bahwa dirinya hanyalah alat pemuas nafsu suaminya. Tapi memanglah begitu hukum timbal balik antara suami dan istri. Naina harus memberikan pelayanan lebih untuk suaminya.
Ryan tak memedulikan Naina yang mulai merintih. Ia tetap melanjutkan aksinya bermain di atas Naina. Akalnya sudah di kuasai oleh nafsu. Memang, selama berbulan-bulan ini Ryan menahan hasratnya bila bersama Naina. Namun kini pertahanan melemah.
Ryan sudah tak tahan lagi. Ia menggauli istrinya dengan sangat kasar. Naina seperti robot yang hanya bisa mendengarkan segala perintah Ryan. Permainan malam ini, Ryan lah tuannya dan Naina adalah budaknya.
Setelah selesai, Ryan langsung meninggalkan Naina. Ia berjalan tanpa sehelai benang menuju kamarnya. Ryan langsung membersihkan dirinya di kamar mandi pribadinya. Benar-benar tak berperasaan.
Naina terkulai lemas di sofa. Badannya terasa sakit, terutama di bagian bawah miliknya. Terasa ngilu dan perih. Wajar saja, mungkin karena hampir 2 tahun tak pernah di sentuh.
"Tak apa-apa Naina, tak apa-apa. Ini hal biasa bagi suami istri." Naina kembali menguatkan dirinya.
Meski hatinya perih, tapi Naina akan mencoba mempertahankan rumah tangganya. Naina akan membuat Ryan kembali pada pelukannya, dan melupakan wanita yang datang mengganggu bahteranya.
"Benar, aku harus lebih menurut lagi. Agar suamiku tak di ambil orang lain." Gumam Naina.
Naina menyeka air matanya. Bangkit dari tidurnya dan kembali memungut pakaian yang berserakan. Naina berjalan menuju kamar mandi, ia mulai membersihkan dirinya.
Malam itu berlalu begitu saja, membiarkan Naina tertidur dengan tangis yang masih menyelimuti wajahnya yang cantik.
"Aku tak akan melepaskan mu pada wanita manapun. Aku adalah istri sah mu. Aku yang paling berhak atas dirimu."
Naina menatap langit-langit kamarnya. Meyakini dirinya bahwa dirinya lah yang pantas. Meski status dan pendidikannya sangat jauh berbeda dengan wanita yang Ryan cintai tapi Naina berkeyakinan bahwa Ryan dapat ia luluhkan.
"Demi Nayla. Iya, ini semua demi Nayla. Kamu harus kuat Naina. Semua demi anakmu." Kembali Naina bergumam seolah mengucapkan mantra penyemangat untuk dirinya.
"Bertahanlah sebentar lagi, mari kita sama-sama membelokkan hati Pak Ryan kembali ke dermaga asalnya. Kembali membangun cinta pada rumah tangga yang terlah terisi anak kecil." Naina mencoba tersenyum membayangkan hal indah bersama keluarga yang utuh.
Naina tersenyum meski air matanya terus mengalir. Naina mencoba memejamkan matanya. Ia lelah dengan semua sandiwara yang ia lakukan tadi. Naina butuh tenaga yang lebih untuk tetap berpura-pura bahagia dan bertahan hidup di tengah badai dan kerikil tajam yang siap menggores kulitnya secara perlahan.