Daniel merupakan seorang agen rahasia yang sedang menjalani misinya untuk mencari para pengkhianat negara termasuk keturunan mereka. Dalam menjalankan misinya, tanpa sengaja ia menolong seorang gadis bercadar yang sedang dihadang oleh para penjahat saat gadis itu hendak pulang ke rumahnya. Tanpa Daniel ketahui jika gadis bercadar itu adalah targetnya yang selama ini ia cari. Apakah Daniel tega membunuh gadis itu demi misinya ataukah ia harus mengkhianati agen nya sendiri demi cintanya? ikuti cerita mereka penuh dengan misteri dan setiap adegannya sangat menegangkan...!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sindya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21. Jadi Gunjingan
Daniel sudah mulai tenang setelah mendapatkan pengamanan ekstra dari tuan Roy. Namun tidak dengan Alea. Gadis cantik bercadar ini mengalihkan pikirannya pada pekerjaannya. Setelah tiga hari istirahat di rumah, ia memilih berangkat di perusahaan.
Kini ia sibuk memeriksa laporan keuangan begitu serius. Jika ia tidak mengenakan cadar, wajah Alea terlihat sangat pucat. Untung lah kain hitam itu bisa menutupi penampakan tanda-tanda kehamilannya. Ketukan pintu terdengar dari luar. Alea berdehem yang langsung dibuka perlahan oleh OB.
"Maaf ibu Alea. Ini ada oleh-oleh dari salah satu teman untukmu", ucap OB itu.
"Terimakasih. Kemarilah...!" pinta Alea. OB yang bernama Syifa itu meletakkan bungkusan di depan Alea. Aroma yang menyengat dari makanan itu membuat perut Alea terasa mual.
"Apa yang kamu bawa Syifa? kenapa bau sekali?" omel Alea.
"Ini gudek ibu. Ini masih fresh", ucap Syifa heran.
"Buat kamu saja. Perutku lagi g enak", Alea segera masuk ke kamar mandi lalu muntah lagi. Syifa keluar dari ruangan itu sambil mengendus bungkusan yang dibawanya.
"Mana mungkin basi. Mbak Lala nggak mungkin kasih makanan basi", gerutu Syifa terlihat oleh karyawan lain.
"Hai Syifa, ada apa? kenapa wajahmu ketekuk seperti itu?" tanya karyawan lain.
"Mbak Alea aneh. Masa makanan enak dibilang bau?" sahut Syifa bingung.
Melati yang sudah memiliki dua balita tidak heran dengan gejala itu. Ia langsung celoteh tanpa sadar." Seperti orang hamil saja? itu kan ciri-ciri wanita yang sedang ngidam di three semester awal?" celetuk Melati.
Karyawan lain langsung bereaksi dengan berbagai asumsi dan celaan." Yang benar Mel..? Mana mungkin Alea hamil kalau belum menikah?"
"Mungkin saja nikah sirih dengan suami orang?" timpal yang lainnya.
"Kalau benar nikah? kalau kumpul kebo doang bagaimana? kita aja sampai saat ini tidak tahu dia tinggal di mana", oceh yang lainnya.
"Apa jangan-jangan dihamili oleh tuan Daniel? si pembunuh itu?" ucapan-ucapan pedas dari karyawan terus bergulir hingga mereka tidak sadar pak Bramantio sudah ada di belakang mereka.
"Begitukah kelakuan kalian kalau sudah menyangkut aib orang lain? apakah kalian tumbuh besar sedewasa ini tanpa dosa?" hardik pak Bramantio.
Semuanya tertunduk saling sikut menyikut satu sama lain untuk melempar kesalahan diantara mereka." Apakah diantara kalian itu tidak punya aib? sehingga aib orang diumbar bebas tanpa takut dosa", omel pak Bramantio makin murka pada bawahannya itu.
"Maafkan kami pak....! kami hanya....-" yang lain ingin membela diri yang langsung ditatap pak Bramantio penuh intimidasi.
"Andai saja kalian tahu siapa Alea? mungkin karir kalian akan berakhir hari ini. Jaga lisan kalian atau saya sendiri yang akan memecat kalian. Jangan ulangi gosip apapun walaupun itu adalah benar. Ghibah dan fitnah, dosanya sama beratnya. Tidak ada ampun untuk hal yang satu ini", ancam pak Bramantio lalu meninggalkan karyawannya yang masih ketakutan karena mulut bocor mereka.
Belum saja mereka bergerak menuju kursi kerja mereka masing-masing, Alea keluar dari ruang kerjanya dengan langkah perlahan. Wajahnya sedikitpun tidak mengarah ke bawahannya. Ia berjalan lurus menuju lift prioritas untuk staf utama.
Yang lain kembali mencibir." Lihatlah tingkahnya...! datang dan pergi sesuka hati seakan perusahaan ini miliknya. Kenapa tuan Bramantio begitu memanjakannya? heran deh?" komentar salah satu karyawan.
"Hmm....! apakah kalian tadi tidak dengar pak Bramantio ngomong apa? jika kalian tahu siapa sebenarnya Alea mungkin karir kalian akan berakhir hari ini juga? apa jangan-jangan Alea adalah istri sirihnya tuan Bramantio sendiri?" ucap yang lain.
"Hmm..! bisa jadi seperti itu. Wah....berarti tuan Alea adalah istri pemilik perusahaan ini. Wah bisa gawat karir kita", ucap yang lain bergidik ngeri.
"Tapi bagaimana dengan istrinya tuan Bramantio? bukankah nanti bakal ada perang besar jika ketahuan suaminya selingkuh dengan Alea?" tanya yang lainnya.
"Biarkan saja seperti ini. Bila perlu kita ngadu ke istrinya pak Bramantio atas perselingkuhan mereka", ucap Sita sinis.
"Heh.....! apakah kalian ingin dipecat semuanya?" bentak pak satpam.
Para wanita beda usia itu kembali diam dan langsung berkutat dengan komputer mereka masing-masing.
Alea tiba di apartemennya sambil mengelus perutnya. Entah mengapa ia sangat merindukan suaminya.
"Sayang. Apakah kamu merindukan daddymu? mommy juga sayang. Tapi masalahnya daddymu jahat sama mommy", ucap Alea kembali menangis.
Saat Alea bicara buruk tentang Daniel, perutnya kembali mual. Janinnya seakan protes pada ibunya agar berhenti berpikir buruk tentang ayahnya. Alea segera memuntahkan lagi isi perutnya hingga membuatnya terasa sangat lemah. Sementara adik kembarnya masih berada di sekolah saat ini.
Apa yang dirasakan Alea juga dirasakan oleh Daniel. Ia merasa tidak tenang dan terus saja mengaduk makanannya. Tuan Roy memperhatikan sikap putranya itu.
"Apakah makanannya tidak enak Daniel?" tanya tuan Roy.
"Maaf tuan. Aku lagi tidak selera makan. Rasanya perutku mual setiap kali mencium bau makanan", sahut Daniel.
Tuan Roy ingat dengan dirinya yang sama persis seperti Daniel saat ini. Ketika istrinya hamil Daniel, dia juga ikutan ngidam.
"Apakah kamu sering meniduri wanita Daniel?" tanya tuan Roy tanpa sungkan karena itu sudah biasa dinegaranya.
Daniel yang hendak minum air harus menghentikan gelas di udara. Matanya langsung membulat karena ingat dengan Alea.
"Apakah Alea hamil?" batin Daniel antara senang dan sedih sekaligus.
"Hei...! apakah itu benar?" tanya tuan Roy sekali lagi. Daniel mengangguk dengan mata merah menahan kesedihannya saat ini.
"Apakah hubungan kalian sedang buruk?" tebak tuan Roy.
"Iya tuan. Semua itu karena salah ku. Aku sudah berusaha meminta maaf padanya sampai berulang kali namun sikapnya terlalu keras kepala", tutur Daniel.
"Kalau lagi marah biarkan saja seperti itu. Jika ia sangat mencintaimu, rindunya akan membawamu kembali padanya. Biasanya wanita seperti itu. Ia mengusirmu tapi batinnya berharap kamu jangan pergi darinya. Begitulah sifat wanita. Kita sebagai pria harus tahan banting jika mencintai wanita yang terlalu idealis", ucap tuan Roy.
"Apakah aku harus menengok nya tuan?" tanya Daniel hati-hati.
"Untuk saat ini jangan dulu karena satu pekan lagi aku akan dilantik. Kamu harus tetap disisiku", ucap tuan Roy dan Daniel paham posisi mereka saat ini.
"Baik tuan. Kalau begitu saya permisi ke kamar dulu", ucap Daniel hendak menghubungi Alea.
"Silahkan Daniel...! tanyakan pada calon istrimu itu apakah dia benar hamil anakmu saat ini?" pinta tuan Roy yang langsung diangguki Daniel.
Tidak lama kemudian Peter menghampiri tuan Roy dan memberikan amplop pada tuan Roy.
"Apakah ini hasil tes DNA kami Peter?" tanya tuan Roy.
"Benar tuan. Silahkan diperiksa sendiri. Semua laporan masih dalam segel", ucap Peter.
Tuan Roy segera membuka amplop itu dengan penuh debaran. Ia berharap dugaannya pada Daniel adalah benar putra kandungnya.
Usai