NovelToon NovelToon
Suami Idiot

Suami Idiot

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah
Popularitas:22
Nilai: 5
Nama Author: cilicilian

Hidup yang sangat berkecukupan membuat seorang Anya Febiola Anggara sangat terlena dengan kemewahan yang ia miliki.

Sampai suatu hari keadaan berbalik sangat drastis, membuat kedua orang tua Anya terpaksa menjodohkan anak mereka kepada rekan bisnis yang akan membantu membangkitkan kembali keadaannya yang saat itu tengah terpuruk.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cilicilian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Misterius

"Siapa sebenarnya wanita itu?" gumam Anya sambil memperhatikan kepergian mereka dengan tatapan penuh tanya. Ia masih bersembunyi di balik pohon besar, berusaha mencerna apa yang baru saja dilihatnya.

Anya menatap kepergian mereka dengan penuh curiga. "Apa yang sebenarnya direncanakan oleh Galen dan Tante Rini? Dan siapa wanita misterius itu? Apa semua ini ada hubungannya dengan Arga? Apa Tante Rini dan Galen merencanakan sesuatu yang jahat untuk Arga? Atau... untukku juga?" pikir Anya dengan berbagai pertanyaan yang berkecamuk di benaknya.

"Seandainya mereka benar-benar merencanakan sesuatu yang buruk untuk Arga atau bahkan untuk diriku sendiri, apa yang harus kulakukan?" bisik Anya pada dirinya sendiri dengan nada cemas dan putus asa.

Anya dengan ragu keluar dari tempat persembunyiannya. Ia berjalan gontai menuju kantin rumah sakit sambil terus memikirkan segala kemungkinan yang bisa terjadi.

Haruskah ia jujur pada Pramudya tentang apa yang baru saja dilihatnya? Tapi mungkinkah Pramudya akan percaya padanya begitu saja, mengingat hubungannya dengan Rini yang begitu dekat?

Entahlah. Untuk saat ini, yang Anya perlukan hanyalah mengisi perutnya yang sudah keroncongan sebelum memikirkan cara untuk menghadapi masalah yang ada di depannya.

Saat Anya sedang menikmati makanannya di kantin, tiba-tiba saja sosok yang paling ingin ia hindari saat ini duduk di hadapannya. Sontak, selera makannya pun langsung hilang.

"Kalau makan itu jangan sambil melamun, nanti nggak bisa nikmatin makanannya," ucap Galen sambil tersenyum menggoda Anya.

Anya menatap Galen dengan tatapan tajam dan menusuk. "Bisakah kau pergi dari sini sekarang?" ucap Anya dengan nada dingin dan menusuk.

Galen tersenyum manis, mencoba memikat Anya dengan pesonanya. Namun, senyum itu justru membuat Anya merasa jijik. "Jangan suka marah-marah, nanti kecantikanmu hilang lho," goda Galen dengan nada mengejek.

Anya mendengus kesal. "Keberadaanmu di sini saja sudah merusak selera makanku. Lebih baik kau pergi dari sini sekarang juga!" ucapnya dengan nada dingin dan ketus.

Galen terkekeh geli melihat Anya yang selalu memasang wajah masam padanya. "Kamu kalau lagi marah-marah gini justru kelihatan lebih menarik dan lucu," ujarnya sambil menatap Anya dengan tatapan penuh minat.

"Jaga mulutmu yang menjijikkan itu! Kau sama sekali tidak pantas berbicara seperti itu pada istri orang!" ucap Anya dengan nada marah dan penuh peringatan.

Galen mencibir dengan tatapan meremehkan. "Suamimu itu kan sakit jiwa, Anya. Apa kamu yakin mau terus bersamanya sampai akhir hayatmu bersama suami idiot seperti dia? Aku tahu betul, jauh di dalam lubuk hatimu, kamu tidak mencintainya, kan?"

Anya tersenyum sinis, menunjukkan rasa jijiknya pada Galen. "Perasaan hatiku bukan urusanmu! Kau cuma orang asing yang tidak punya hak untuk ikut campur dalam kehidupanku dan Arga," ujarnya dengan nada dingin dan menusuk.

Setelah mengucapkan kata-kata itu, Anya segera beranjak pergi meninggalkan Galen yang tengah menatap kepergiannya dengan senyum licik. "Arga, apa yang menjadi milikmu, akan selalu menjadi milikku," gumam Galen dengan nada posesif sambil menatap kepergian Anya.

Di sisi lain, Anya terus mengutuk Galen dalam hati dengan berbagai umpatan. "Gara-gara manusia menjijikkan itu, nafsu makanku langsung hilang! Padahal tadi lagi enak-enaknya makan," gerutunya dengan nada jengkel sambil berjalan dengan langkah lebar.

Anya merasa sangat kesal dengan kejadian di kantin tadi. Perutnya masih lapar, tapi nafsu makannya sudah hilang entah kemana gara-gara Galen.

"Anya, kenapa aku ditinggal sendirian?" ucap Galen tiba-tiba sambil mencengkeram lengan Anya dengan erat.

Sontak, Anya menghentikan langkahnya dan menarik tangannya dengan kasar dari cengkeraman Galen. "Jaga kelakuanmu, Galen! Kalau kau terus menggangguku seperti ini, akan kulaporkan semua ini pada Ayah!" ancam Anya dengan nada geram sambil menunjuk wajah Galen dengan jari telunjuknya.

Galen justru meraih jari telunjuk Anya dan mengelusnya dengan lembut, mencoba merayunya. "Jangan marah-marah terus, Anya sayang. Aku kan selalu baik dan perhatian padamu, nggak seperti Arga yang bodoh itu," ujarnya dengan nada manis.

Anya merasa jijik dan merinding saat tangannya bersentuhan dengan Galen. Ia langsung menarik tangannya dengan kasar dan menatap Galen dengan tatapan penuh amarah dan kebencian. "Mulutmu itu memang sampah! Kau tidak pantas menghina Arga dengan kata-kata kotor seperti itu!" hardik Anya dengan suara lantang.

Galen tersenyum tipis, namun sorot matanya menyimpan sesuatu yang sulit ditebak. "Baiklah, aku menyerah untuk saat ini. Jadi, kamu mau pergi kemana? Biar aku yang menemani," ucapnya dengan nada merayu.

Anya tidak menjawab, hanya terus berjalan menjauh tanpa mempedulikan Galen. Namun, Galen tetap saja membuntutinya dari belakang, membuat Anya merasa risih.

"Entah apa yang sedang kau rencanakan, Galen," gumam Anya sangat lirih, berusaha menekan rasa khawatirnya.

Akhirnya, Anya tiba di depan ruangan Arga. Ia segera membuka pintu dan pemandangan pertama yang menyambutnya adalah Arga yang sedang menangis tersedu-sedu.

Melihat Arga menangis, Anya menghela napas panjang. Galen yang berada di belakangnya membisikkan sesuatu yang membuat Anya semakin muak. "Lihatlah suamimu itu, suami idiot yang hanya akan terus menyusahkanmu," bisiknya tepat di telinga Anya.

Anya tidak mempedulikan ucapan Galen. Ia langsung menghampiri Arga yang tengah ditenangkan oleh ayahnya.

"Sudah, Nak. Itu, lihat, Anya sudah datang menemuimu," ucap Pramudya dengan lembut sambil menunjuk ke arah Anya. Arga pun mendongak dan menatap Anya dengan tatapan datar, lalu melirik Galen yang berdiri di belakang Anya dengan tatapan tidak suka.

"Ayah, sebenarnya apa yang terjadi dengan Arga? Kenapa dia menangis?" tanya Anya dengan nada cemas.

"Dari tadi Arga terus merengek dan memanggil-manggil namamu. Ayah sudah mencoba menghubungimu berkali-kali, tapi ternyata ponselmu tertinggal di sini, di atas meja nakas," jelas Pramudya dengan nada prihatin.

"Maaf, Ayah. Tadi di kantin sangat ramai, jadi aku agak lama di sana," ucap Anya dengan nada menyesal, berusaha menyembunyikan kebenaran tentang apa yang telah ia lihat dan alami dengan Galen. Ia yakin, Pramudya tidak akan mempercayainya begitu saja, mengingat betapa dekatnya hubungan mereka.

"Sudah, Arga sayang. Kan ada istrimu di sini, sekarang kamu nggak perlu khawatir lagi," ucap Rini tiba-tiba, membuat suasana hati Anya semakin muram dan tidak nyaman.

Anya tidak tahu dari mana Rini muncul, karena sejak ia memasuki ruangan Arga, Rini tidak terlihat di mana pun.

Anya memutuskan untuk duduk di samping Arga, mencoba menenangkan suaminya. "Maaf ya, Arga. Tadi di kantin penuh banget, jadi aku agak lama," ucap Anya dengan nada lembut dan penuh penyesalan.

Untuk saat ini, ia memilih untuk menahan emosinya dan mengesampingkan egonya, karena di ruangan itu ada dua orang yang sangat ia benci, serta mertuanya yang sangat ia hormati.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!