NovelToon NovelToon
Monarch: The King Who Refused To Die

Monarch: The King Who Refused To Die

Status: sedang berlangsung
Genre:Kelahiran kembali menjadi kuat / Action / Perperangan / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Sistem / Fantasi
Popularitas:224
Nilai: 5
Nama Author: Sughz

Ia pernah menjadi Monarch—penguasa yang berdiri di puncak segalanya. Namun pengkhianatan merenggut tahtanya, menghancurkan kerajaannya, dan memaksanya mati berulang kali dalam siklus reinkarnasi yang panjang. Selama ratusan kehidupan, ia menunggu. Menunggu para bawahannya yang tersebar, tertidur, atau tersesat di berbagai dunia. Di kehidupan terakhirnya, saat tubuhnya menua dan kematian kembali mendekat, sebuah system akhirnya terbangun—bukan ciptaan dewa, melainkan jelmaan dari salah satu rekan lamanya. Dengan kematian itu, sang raja kembali terlahir, kali ini di dunia yang sama… namun telah berubah drastis dalam beberapa ratus tahun.

Dunia yang ia kenal telah runtuh, kekaisaran bangkit dan jatuh, gereja menguasai kebenaran, dan para dewa mengawasi dari kejauhan. Dengan system yang setia di sisinya dan ingatan dari kehidupan-kehidupan sebelumnya, sang Monarch memulai perjalanannya sekali lagi: membangkitkan bawahan yang tersisa, membangun kekuatan dari bayang-bayang, dan menuntut balas atas pengkhianatan lama yang belum lunas. Ini bukan kisah pahlawan yang diselamatkan takdir—ini adalah kisah seorang raja yang menolak mati sebelum dunia membayar hutangnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sughz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ch.6. The Stench of Decoy

Theo berlari melewati lorong bata tanpa menoleh, banyak prajurit yang melihatnya dengan tatapan bingung.

Saat memasuki kamarnya, Theo mencoba mengatur napasnya lalu menutup mata dan melihat aliran Mana pada tubuhnya. Terlihat aliran mana mengalir di seluruh tubuh Theo, meski hanya kecil tapi sangat stabil.

Theo membuka mata, wajahnya terlihat bingung.

“Lily, apa-apaan ini? bagaimana tubuh manusia bisa mengalirkan Mana seperti ini?” tanya Theo pikirannya penuh dengan kebingungan.

[TING]

“Inilah yang disebut Zero Vessel, tuan.”

“Bukankah tubuh ini tidak bisa di tanggung oleh kekuatan manusia biasa?” ucap Theo masih dalam kebingungan.

[TING]

“Itulah tugas saya, memastikan tubuh itu tidak menghancurkan anda.”

“Kau mengatakan hal yang menyeramkan Lily,” ucap Theo mendengus pelan. “Lalu apa tak apa saat orang tahu tentang tubuh ini? Bukankah dunia akan heboh karena ada tubuh ini ada di dunia kecil ini?”

[TING]

“Untuk saat ini tuan tidak perlu terlalu khawatir, saya bisa menekan kekuatan anda untuk mengelabuhi semua orang sementara waktu.”

[TING]

“Tapi anda harus menjadi kuat untuk melampaui siapapun di dunia ini dengan cepat.”

“Apa maksudmu Lily, apa akan terjadi pada dunia ini sampai kau tergesa-gesa seperti itu?” tanya Theo.

[TING]

“Karena sesuatu akan bangkit.”

“Apa mak..” Theo menghentikan kalimatnya, lalu menarik napas panjang dan menghembuskan perlahan.

“Aku tak akan bertanya lebih jauh, kau juga tak bisa menjawabnya, kan?” ucap Theo dengan tenang.

[TING]

“Itu benar.”

Theo mengangkat kepalanya, melihat langit-langit kamarnya. Tangannya mengepal dengan keras, sorot matanya tajam, dia sudah membulatkan tekadnya.

“Baiklah Lily, kita lakukan seperti masa lalu.” ucap Theo singkat.

.

.

Enam bulan berlalu dengan cepat, Theo melakukan semua pelatihaan yang semakin keras dari Edric setelah masuk di tingkatan Acolyte. Sebenarnya Theo sudah bisa naik ke tingkat selanjutnya, tapi dia harus menahan diri karena tak ingin ada perhatian yang tak perlu.

‘Hei Lily, sampai kapan aku harus menahan? Pelatihan ini sudah membosankan untukku.’ ucap Theo dalam pikiranya, tangannya mengayunkan pedang kayu.

Dan Edric memperhatikannya di pinggir lapangan latihan.

[TING]

“Karena tubuh anda sudah lebih kuat daripada enam bulan lalu, saya rasa anda bisa melakukannya sekarang.”

Senyum Theo melebar, lalu dia melirik Edric.

‘Apa harus di hadapannya?’

[TING]

“Saya sarankan anda berpindah tempat dulu.”

Senyum Theo menghilang, dia sadar masih harus mengayunkan pedang kayu itu seharian.

‘301.. 302.. 303... Sial!!!’ gumam Theo merasa kesal.

.

Theo berjalan masuk ke dalam kamarnya, meregangkan bahu-bahunya, wajahnya tampak kelelahan.

“Ah, bukankah Edric terlalu keras belakangan ini,” ucap Theo, merasakan badan yang nyeri.

Theo merebahkan dirinya di kasur, mengatur napas, matanya terpejam sebentar lalu ia bangkit dan duduk di lantai. Mencoba mengatur napasnya lagi.

“Baiklah Lily, aku siap,” ucap Theo tenang.

[TING]

“Baik tuan, tapi saya akan memperingatkan bahwa ini akan sangat... BAU.”

Mendengar itu Theo hanya mengangguk, lalu memejamkan matanya.

Lonjakan mana masuk ke dalam tubuh Theo, wajahnya yang tenang berubah tegang, napasnya tersendat. Bukan karena sakit, tapi ada sesuatu yang memaksa keluar dari tubuh Theo.

Ada rasa mual singkat. Panas. Lalu dingin.

Dari pori-porinya keluar cairan hitam pekat, berbau besi bercampur tanah basah. Lalu dari mulutnya, Theo memutahkan hal yang sama, seperti semua kotoran di dalam tubuh Theo di keluarkan secar paksa. Wajahnya pucat menahan sakit.

Setelah beberapa saat, tubuh Theo mulai kembali normal. Napasnya mulai teratur, tapi Theo merasa perih pada seluruh tubuhnya.

Theo membuka mata perlahan, tubuhnya masih sedikit gemetar, darah keluar tipis di sudut bibirnya.

Tak ada ledakan energi seperti terakhir kali, tak ada lonjakan kekuatan yang berarti.

Tapi kini, jalur Mana pada tubuh Theo lebih besar dan Mananya mengalir deras ke seluruh tubuh.

[TING]

“Selamat tuan, anda sudah berada di tingkatan Adept.”

Theo masih mengatur napasnya, matanya berat untuk tetap terjaga.

“Sialan... kau...”

Bruk!

Theo ambruk sebelum menyelesaikan kalimatnya.

.

.

.

Eirene berjalan ke dalam ruangan, dan di dalam ruangan terlihat Elowen sedang melihat bunga dalam vas.

“Salam ibu,” ucap Eirene, memberi salam dengan Elowen.

Elowen yang melihat itu hanya tersenyum lembut, lalu melangkah pelan mendekati Eirene dan memeluknya.

“Kamu tidak perlu bersifat kaku saat hanya ada kita berdua, apa kamu tak merindukan ibu?” ujar Elowen, lalu melepas pelukannya.

Eirene tersenyum, sekarang dia terlihat sesuai dengan usianya.

Elowen melirik buku yang di bawa Eirene. “Bukankah kamu sudah membaca buku itu tiga kali?” tanya Elowen.

“Sebenarnya empat,” ucap Eirene cepat.

Elowen tertawa kecil melihat itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!