Riko Permana, demi gadis yang dicintainya, rela meninggalkan cita-cita menjadi seorang polisi. Melepas beasiswa yang diberikan negara. Ia mundur, sengaja mengalah. Sengaja membiarkan nilainya menjadi buruk demi memuluskan jalan calon kakak iparnya.
Profesor pembimbing kecewa dan ia merasa bersalah. Hanya satu yg membuat ia bahagia: bisa menikah dengan wanita yang sangat dicintainya.
Akan tetapi, apa yang terjadi kemudian? Dirumah mertua ia diperlakukan layaknya budak, dihina dan dipermalukan. Istri yang dicintai tidak membela malah ikut merendahkan.
Puncaknya adalah ketika ia mengetahui bahwa sang istri berselingkuh secara terang-terangan di hadapannya.
Pria yang menertawakan kebodohannya sendiri. Istri yang selama satu tahun pernikahan tidak mau disentuh, kenapa dia tidak sadar sama sekali?
"Cukup sudah! Seluruh cintaku sudah habis. Aku akan tunjukkan pada semua, aku bukan orang yang bisa mereka hina begitu saja. Mereka yang telah menghinaku, akan bertekuk lutut di hadapanku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30. Penyamaran Sang Bodyguard
Riko keluar dari kamar ibunya setelah memastikan wanita itu tidur dengan nyenyak. Riko kembali ke ruang kerjanya. Tugas baru sebagai pengawal Anya Tanuwijaya menuntut persiapan yang matang. Ia harus mengetahui segala hal tentang gadis itu, mulai dari kebiasaan, teman-teman, hingga potensi ancaman yang mungkin mengintai.
Di depan layar komputernya, Riko membuka database Sentinel dan mencari informasi tentang Anya Tanuwijaya. Dalam hitungan detik, profil lengkap gadis itu terpampang di hadapannya.
"Anya Tanuwijaya," gumam Riko, membaca informasi yang tertera di layar. "Usia 19 tahun, mahasiswa semester 4 jurusan Desain Komunikasi Visual di Universitas Pelita Harapan."
Riko mengerutkan keningnya. Universitas Pelita Harapan, salah satu universitas swasta terbaik di Indonesia, memang menjadi pilihan favorit para konglomerat untuk menyekolahkan anak-anak mereka. Jurusan Desain Komunikasi Visual juga tampaknya cocok dengan kepribadian Anya yang kreatif dan artistik.
Di layar, terpampang foto Anya. Riko mengamati wajah gadis itu dengan seksama. Anya memiliki wajah yang cantik dan anggun, dengan mata bulat yang berbinar dan senyum manis yang menawan. Penampilannya juga modis dan stylish, sesuai dengan tren anak muda zaman sekarang.
"Cantik," gumam Riko tanpa sadar. Ia segera menggelengkan kepalanya, berusaha mengusir pikiran yang tidak penting. Ia harus fokus pada tugasnya, bukan pada penampilan fisik Anya.
Riko kembali membaca informasi tentang Anya. Ia menemukan daftar teman-temannya, aktivitasnya di kampus, dan hobinya. Anya ternyata aktif dalam berbagai kegiatan organisasi mahasiswa dan memiliki banyak teman. Gadis itu juga suka menggambar, bermain musik, dan menonton film.
Semakin banyak informasi yang ia dapatkan, semakin bingung pula Riko. Bagaimana cara ia melindungi Anya tanpa menampakkan identitasnya sebagai pengawal? Profesor Rahmat dengan jelas mengatakan bahwa ia tidak boleh terlihat mencolok agar tidak menarik perhatian.
"Melindungi tapi tidak boleh terlihat sebagai pengawal? Lalu aku harus menyamar? Sebagai apa, sedangkan aku harus selalu berada di dekatnya?" gumam Riko seraya menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
“Baiklah, baiklah. Ayo kita lihat identitas apa yang disiapkan oleh Profesor Rahmat untukku!”
Dengan rasa penasaran, Riko mencari berkas tentang identitas samarannya. Ia menemukan sebuah amplop coklat tebal yang berisi dokumen-dokumen penting. Ia membuka amplop itu dan mulai membaca isinya.
Matanya terbelalak saat membaca identitas samarannya. "Mahasiswa... teman sebangku Anya Tanuwijaya?" gumamnya benar-benar terkejut.
Riko tidak percaya dengan apa yang baru saja ia baca. Menjadi teman sebangku Anya? Itu artinya dirinya harus menyamar sebagai seorang mahasiswa?
“Yang benar saja? Usiaku saat ini hampir 30 tahun, hanya kurang 2 bulan saja, dan aku harus duduk di bangku kuliah bersama dengan para mahasiswa berumur 19 tahun? Oh, my God!" gumam Riko sambil menggelengkan kepalanya berkali-kali. "Ini seperti sebuah lelucon."
Riko kembali membaca dokumen itu dengan lebih teliti. "Riko Permana, mahasiswa dengan status Bidikmisi (bantuan biaya pendidikan bagi mahasiswa berprestasi dari keluarga kurang mampu), kuliahnya tertunda karena tidak memiliki biaya. Ia berasal dari keluarga sederhana dan memiliki semangat belajar yang tinggi.
"Bidikmisi?" gumam Riko. "Jadi, aku harus berpura-pura menjadi mahasiswa miskin yang kuliahnya tertunda karena tidak punya uang?" tanya Riko dalam hati. padahal di masa lalu, meskipun Ia hanya hidup berdua dengan ibunya, ia lulus kuliah dengan nilai terbaik. Ibunya tak pernah putus asa mencarikan biaya untuk dirinya, dan dirinya juga bekerja paruh waktu untuk meringankan beban ibunya.
Riko menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri.
"Satu-satunya cara untuk selalu berada di dekat Anya memang harus menjadi teman sebangkunya. Dengan begitu aku bisa mengetahui segala hal tentang dirinya," gumam Riko. "Aku bisa mengamati gerak-gerik teman-temannya, dan mendeteksi potensi ancaman yang mungkin datang dari orang terdekat."
Riko menghela napas panjang. Tugas sudah diterima, suka tidak suka, ia harus segera bersiap. Tidak ada waktu untuk mengeluh atau meragukan kemampuan diri. Ia harus profesional dan menjalankan tugas ini sebaik mungkin.
"Oke, Riko. Ayo kita siapkan apa saja yang harus kita-bawa" gumamnya menyemangati diri sendiri.
Setelah menutup laptop dan membereskan berkas-berkas yang baru saja ia pelajari, Riko beranjak dari duduknya dan berjalan menuju lemari besarnya. Ia membuka lemari itu dan menatap deretan pakaian yang tersusun rapi di dalamnya.
"Hm, sebagai mahasiswa, aku tidak mungkin memakai jas atau kemeja mahal. Aku harus mencari pakaian yang lebih kasual dan sederhana," gumamnya sambil berpikir. Kedua tangannya bergerak mencari.
Riko mulai memilah-milah pakaiannya. Ia mengambil beberapa potong kaos polos berwarna gelap, celana jeans yang sudah agak pudar, dan sebuah jaket hoodie berwarna abu-abu.
"Ini sepertinya cukup," gumamnya. "Aku juga butuh tas ransel untuk berpura-pura menjadi anak kuliahan."
Riko mencari tas ranselnya di rak atas lemari. Ia menemukan sebuah tas ransel berwarna hitam yang sudah lama tidak ia gunakan. Riko membersihkan tas itu dari debu dan memasukkannya ke dalam daftar barang yang harus dibawa.
"Pakaian sudah. Sekarang aku tinggal menyiapkan perlengkapan mandi dan peralatan pribadi lainnya," gumamnya. "Dan yang paling penting, kartu identitas palsu dan dokumen penunjang."
Riko mengambil sebuah koper kecil dan mulai memasukkan barang-barang yang ia butuhkan. Ia tidak lupa membawa pistol Glock 19 miliknya dan beberapa magasin peluru. Ia juga membawa pisau lipat kecil dan alat penyadap suara.
"Aku tidak tahu apa yang akan terjadi di kampus nanti," gumamnya. "Lebih baik aku mempersiapkan diri sebaik mungkin."
Setelah selesai mengepak barang-barangnya, Riko memeriksa kembali daftar perlengkapan yang harus ia bawa. Ia memastikan tidak ada yang tertinggal.
"Oke, sepertinya semua sudah siap," gumamnya. "Sekarang, aku harus tidur dan mempersiapkan diri untuk besok."
Riko mematikan lampu dan berbaring di tempat tidurnya, memejamkan mata, “ Oke Riko. anggap saja ini nostalgia,” gumamnya perlahan sebelum terbang ke alam mimpi.
*
Mentari pagi menyambut Riko dengan sinarnya yang hangat. Pria itu melajukan motornya memasuki area parkir Universitas Pelita Harapan setelah sebelumnya meninggalkan mobil mewahnya di apartemen yang telah disiapkan oleh Profesor Rahmat. Kampus itu tampak ramai dengan mahasiswa yang berlalu lalang. Mereka semua tampak muda, energik, dan penuh semangat.
Setelah memarkirkan motornya, Riko menarik napas dalam-dalam dan berjalan menuju gedung rektorat sesuai instruksi Profesor Rahmat untuk menemui rektor universitas, Bapak Dr. Bramantyo, terlebih dahulu. Hanya beliau satu-satunya orang di kampus ini yang tahu identitas aslinya dan misi yang sedang ia emban.
Kaos polos berwarna hitam, celana jeans yang sudah agak pudar, jaket hoodie berwarna abu-abu, tas ransel hitam tergantung di bahu kanannya, tidak membuat kharismanya memudar. Beberapa mahasiswi yang berpapasan dengannya, bahkan menatap tanpa mampu berkedip.
Riko tiba di depan ruangan rektor dan mengetuk pintu dengan sopan.
"Masuk," terdengar suara dari dalam ruangan.
Riko membuka pintu dan masuk ke dalam dan melihat seorang pria paruh baya dengan rambut yang mulai memutih dan kacamata berbingkai emas sedang duduk di belakang meja kerjanya. Pria itu menatap Riko dengan tatapan ramah.
"Selamat pagi, Bapak Dr. Bramantyo," ucap Riko sopan.
"Selamat pagi, Pak Riko," jawab Dr. Bramantyo sambil tersenyum. "Silakan duduk."
Riko duduk di kursi yang ada di depan meja Dr. Bramantyo.
Setelah berbasa-basi sebentar, Dr. Bramantyo mengambil sebuah map dari laci mejanya dan menyerahkannya kepada Riko. "Di dalam map ini ada kartu mahasiswa palsu atas nama Riko Permana, jadwal kuliah yang sama dengan nona Anya, dan surat pengantar ke dekan fakultas Desain Komunikasi Visual."
Riko menerima map itu dan membukanya. Ia memeriksa kartu mahasiswanya dan membaca jadwal kuliahnya. Semuanya tampak meyakinkan dan profesional. Benar-benar sandiwara kelas kakap.
Riko kenapa bodoh sekali ya 🤦