siapa sangka tiga janda dari latar belakang berbeda seorang Bella damayanti 28(mantan polwan) ,Siska Paramita 30(mantan koki) , dan Maya Adinda 29(mantan guru TK) tanpa sengaja membentuk tim detektif amatir. Mereka awalnya hanya ingin menyelidiki siapa yang sering mencuri jemuran di lingkungan apartemen mereka.
Namun, penyelidikan itu malah membawa mereka ke jaringan mafia kelas teri yang dipimpin oleh seorang bos yang takut dengan istrinya. Dengan senjata sutil, semprotan merica, dan omelan maut, ketiga wanita ini membuktikan bahwa status janda bukanlah halangan untuk menjadi pahlawan (yang sangat berisik).
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Arsila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Draft
Langit Los Angeles tampak seperti kanvas ungu yang dipulas dengan kilauan lampu kota saat jet pribadi agensi, yang disamarkan sebagai jet milik rumah produksi film "Janda Pictures", mulai menurunkan ketinggian menuju Bandara Van Nuys. Di dalam kabin yang mewah, Maya Adinda sedang dalam kondisi antara histeris dan euforia. Ia tidak berhenti membolak-balik majalah Vogue edisi Amerika, membandingkan riasannya dengan para model di sana.
"Bel, Siska! Liat! Itu papan tanda HOLLYWOOD yang asli! Aku nggak percaya kita di sini bukan buat audisi jadi Bond Girl, tapi buat misi spionase. Tapi jujur ya, kalau ada produser yang nawarin peran, aku nggak bakal nolak. Apalagi kalau lawan mainnya sekelas aktor peraih Oscar," Maya menempelkan wajahnya ke jendela pesawat, hampir saja meninggalkan bekas lipstik matte merah mudanya di kaca.
Bella Damayanti sedang sibuk merakit kembali payung titaniumnya yang sempat lecet saat pertempuran di Paris. Ia tidak melirik sedikit pun ke luar jendela. Wajahnya sedingin es Islandia. "May, fokus. Kita ke sini karena Hollywood sedang dalam bahaya besar. Bukan bahaya serangan alien seperti di film-film mereka, tapi bahaya pencucian otak massal lewat industri fasyen tingkat tinggi."
Siska Paramita sedang duduk di meja bar kecil di sudut jet, sedang memilah-milah koleksi bumbunya yang kini ia simpan dalam botol-botol kaca berlabel "Serum Organik Eksklusif". "Bella bener, May. Laporan dari intelijen bilang bahwa hampir seluruh aktris papan atas yang akan hadir di malam penghargaan terbesar besok malam sudah dikirimi gaun 'hadiah' dari desainer misterius berinisial Q.V. Gaun-gaun itu bukan cuma baju biasa. Ada teknologi yang menjahit helai-helai syaraf digital ke dalam kainnya."
"Betul," Bella menimpali sambil membentangkan tablet di meja tengah. "Itu adalah The Deep Fake Silk. Benang-benang itu mengandung mikrosensor bioreseptor yang bisa menyatu dengan sistem syaraf pemakainya lewat pori-pori kulit saat mereka mulai berkeringat di bawah lampu sorot. Begitu gaun itu terpasang sempurna, pemakainya bisa dikendalikan lewat sinyal frekuensi radio. Singkatnya, mereka jadi zombi cantik yang bergerak sesuai perintah naskah digital milik sindikat."
Maya bergidik ngeri. "Maksudmu... gaun-gaun indah itu bisa jadi pengendali pikiran? Itu penghinaan buat dunia fasyen! Pakaian itu seharusnya bikin kita merasa bebas dan cantik, bukan jadi robot pesuruh!"
"Itulah kenapa kita di sini, May," ujar Siska sambil mengasah sutil titaniumnya dengan batu asah kecil. "Buat mastiin kalau di karpet merah besok, nggak ada yang jadi zombi. Kecuali kalau itu emang bagian dari naskah film horor mereka sendiri."
Malam penganugerahan tiba. Jalanan di depan Hotel Beverly Hilton ditutup total. Ribuan penggemar dan ratusan fotografer memenuhi barisan pagar pembatas. Kilatan lampu kamera (flash) menyambar-nyambar seperti badai petir yang tak kunjung usai. Ketegangan menggantung di udara, sebanding dengan aroma parfum mahal yang menyesakkan.
Penyamaran mereka kali ini adalah yang paling menantang. Siska masuk melalui pintu belakang sebagai "Executive Celebrity Chef" yang diundang khusus untuk mengurusi menu after-party. Di dalam tas dapurnya, selain pisau, terdapat sensor pemindai frekuensi yang disamarkan sebagai termometer daging digital.
Maya tampil sebagai "Putri Maya dari Kerajaan Nusantara", seorang sosialita dan kolektor fasyen yang sedang melakukan tur dunia. Ia mengenakan daster maha karya terbaru dari Master Tailor: The Hollywood Siren. Daster ini berbahan payet kristal cair yang bisa berubah warna dan memiliki kemampuan untuk memancarkan gelombang pengacau sinyal (jammer) dalam radius lima meter. Daster itu berkilau menyilaukan, membuat setiap pasang mata terpaku padanya.
"May, jangan terlalu banyak selfie!" bisik Bella lewat earpiece. Bella sendiri menyamar sebagai manajer pribadi Maya, mengenakan setelan tuksedo wanita yang sangat ramping, dengan rambut yang disanggul kencang dan kacamata pemindai termal yang tampak seperti kacamata desainer biasa.
"Duh, Bel, ini momen langka! Kapan lagi aku bisa satu frame sama aktor-aktor ganteng ini?!" Maya membalas sambil terus memberikan senyum terbaiknya ke arah kamera-paparazzi. Namun, di balik senyumnya, matanya tetap waspada. Ia memindai setiap gaun yang lewat di dekatnya. Setiap kali radarnya berbunyi "beep" pelan, ia tahu ada satu lagi korban potensial Deep Fake Silk.
"Sinyal terdeteksi!" suara Siska terdengar lewat radio. "Gue ada di dapur utama. Bel, lo nggak bakal percaya. Semua staf pelayan di sini pake rompi pelayan yang jahitannya berdenyut warna ungu redup. Mereka semua sudah di bawah kendali frekuensi."
Bella menajamkan pandangannya ke arah panggung utama di dalam ballroom. Di sana, duduk seorang pria dengan rambut gondrong yang dikuncir rapi dan kacamata hitam berbingkai tebal. Itulah Quentin Valerino, sutradara jenius yang ternyata adalah agen tingkat tinggi Sindikat Benang Hitam. Di tangannya, ia memegang sebuah tablet kontrol yang tampak seperti papan skenario digital.
"Target terkunci," ujar Bella. "Maya, dekati Quentin. Gunakan pesona 'Guru TK' lo buat narik perhatiannya. Gue bakal nyusup ke ruang kontrol sinyal di atas panggung melalui jalur ventilasi."
Maya melangkah dengan anggun, melewati kerumunan aktor dan aktris yang tampak bergerak sedikit kaku tanda bahwa sinkronisasi syaraf mereka mulai bekerja. Ia mendekati meja Quentin dengan gaya diva yang meyakinkan.
"Oh mon dieu! Monsieur Quentin! Saya penggemar berat film-film Anda! Terutama yang judulnya 'Benang Putus' itu, sangat inspiratif!" Maya bicara dengan aksen yang dibuat-buat, setengah Prancis setengah Jakarta Selatan yang centil.
Quentin menoleh, menatap Maya dari balik kacamata hitamnya. "Siapa kamu? Saya tidak ingat mengundang Putri dari Asia. Pergi, saya sedang melakukan... pengarahan besar."
"Saya Putri Maya. Saya punya koleksi daster yang mungkin bisa membuat film Anda berikutnya menjadi legendaris," Maya mengerlingkan mata, sambil diam-diam menekan tombol di ikat pinggangnya untuk mulai mengacaukan sinyal di meja tersebut.
Di saat yang sama, Siska sedang menghadapi masalah di dapur. Sepuluh orang pelayan yang sudah dikendalikan pikiran mulai bergerak mengepungnya. Mereka tidak bicara, hanya memegang nampan perak yang ujungnya tajam seperti cakram pemotong.
"Oke, kalian mau main kasar di dapur bintang lima?" Siska menarik sutil titaniumnya dari balik celemek. "Gue peringatin ya, sutil ini udah pernah ngalahin mafia di Amazon dan menara Paris. Kalian cuma pelayan hotel yang butuh istirahat!"
Pertarungan pecah di antara tumpukan piring porselen mahal. Siska bergerak dengan kelincahan seorang koki top-tier. Ia menangkis lemparan nampan dengan sutilnya, menciptakan bunyi dentingan logam yang nyaring. TANG! TING!
"Ambil ini! Saus Wasabi Pedas Mampus!" Siska menyemprotkan cairan hijau dari botol sausnya. Begitu cairan itu mengenai wajah para pelayan, sensasi pedas yang luar biasa membuat syaraf mereka terkejut.
"Hatchi! Hatchi! Aduh! Pedas!" Para pelayan itu mulai bersin-bersin dan sadar dari pengaruh hipnotis karena sistem syaraf mereka mengalami overload sensorik dari rasa pedas yang ekstrem. Sinyal Deep Fake terputus akibat reaksi biologis yang mendadak itu.
Di ruang utama, Quentin menyadari ada gangguan sinyal pada tabletnya. Ia melihat ke arah jam tangannya yang berkedip merah. "Kamu... kamu bukan putri. Kamu adalah salah satu dari janda-janda pengganggu yang menghancurkan rencana Fiona!"
Quentin berdiri dan menekan sebuah tombol di bawah mejanya. Tiba-tiba, lampu ballroom padam, digantikan oleh lampu sorot ungu yang menyeramkan. Seluruh artis yang mengenakan gaun Deep Fake berdiri serentak, menoleh ke arah Maya dengan pandangan kosong dan sinkron.
"Serang dia," perintah Quentin dingin.
Ratusan selebriti Hollywood mulai bergerak mengepung Maya seperti adegan di film zombi, tapi dengan busana senilai jutaan dollar.
"BEL! TOLONG! AKU DIKEPUNG PEMENANG OSCAR DAN NOMINASI EMMY!" teriak Maya panik. Ia mulai melemparkan mutiara asapnya untuk menciptakan penghalang.
Bella meluncur dari langit-langit menggunakan tali pengait dari payungnya, mendarat tepat di antara Maya dan kerumunan. Ia membuka payung titaniumnya yang kini memancarkan gelombang kejut elektromagnetik terkendali. BOOM! Gelombang itu membuat para artis terpental mundur dengan lembut ke kursi masing-masing, memutus sinyal kontrol mereka secara total melalui denut nadi elektromagnetik.
"Selesaiin urusan lo sama kontrol pusat, Bel! Biar Quentin gue yang urus!" seru Siska yang tiba-tiba muncul dari pintu dapur dengan gaya heroik, masih memegang sutil yang berlumuran saus hijau.
Quentin tidak menyerah. Ia menarik sebuah tongkat konduktor yang ternyata adalah pedang laser tipis yang mematikan. "Kalian tidak mengerti keindahan dari kepatuhan! Dengan teknologi ini, dunia akan menjadi panggung sandiwara yang sempurna di bawah kendali Benang Hitam!"
Siska maju menantang Quentin. Terjadilah duel yang benar-benar konyol namun mematikan: Pedang Laser vs Sutil Titanium. Siska menggunakan teknik "Oseng Balik", memutar sutilnya untuk mengalihkan arah sabetan laser Quentin.
ZAP! ZING!
"Teknik lo bagus, Quentin, tapi masakan lo hambar dan nggak punya jiwa!" Siska menghantam pergelangan tangan Quentin, membuat pedang lasernya terlempar jauh ke dalam vas bunga besar.
Di sisi lain, Maya berhadapan dengan Digital Tailor, asisten Quentin yang ternyata adalah seorang wanita robot dengan gaun yang terbuat dari ribuan kabel serat optik yang hidup. Kabel-kabel itu menjulur seperti tentakel, mencoba melilit Maya.
"Aduh! Jangan deket-deket! Gaun aku ini sewa, eh maksudku beli mahal!" Maya berlari zig-zag di antara meja-meja. Ia teringat fitur "Super Glossy" di dasternya. Ia menekan tombol di pergelangan tangannya. Daster Maya tiba-tiba mengeluarkan lapisan pelicin berbahan silikon cair yang sangat licin.
Kabel-kabel Digital Tailor yang mencoba melilit Maya justru terpeleset di permukaan daster dan malah saling melilit satu sama lain hingga wanita robot itu terjerat jaringnya sendiri. "Makan tuh benang kusut! Lain kali belajar menjahit yang bener!" teriak Maya sambil menyemprotkan hairspray pemadat ke arah robot itu.
Bella berhasil mencapai server pusat di balik layar raksasa yang menampilkan logo penghargaan. Ia memasukkan virus "Rendang Membara" yang dikembangkan bersama Master Tailor ke dalam sistem utama Quentin.
"Maya, Siska! Menjauh dari panggung!" perintah Bella lewat frekuensi internal.
BOOOOOOOMM!
Server itu meledak dalam semburan cahaya digital berwarna warni, mengirimkan kembang api digital ke seluruh ruangan. Seluruh sistem Deep Fake hancur seketika. Para artis Hollywood terbangun dengan perasaan bingung, seolah-olah baru saja bangun dari trans yang panjang. Mereka mulai saling pandang, tidak sadar bahwa mereka hampir saja menjadi budak selamanya.
Quentin Valerino dan Digital Tailor berhasil diamankan oleh tim agensi yang masuk lewat jendela kaca di atap. Quentin terus meracau tentang "karya seni yang gagal dan penonton yang tidak apresiatif", sementara Digital Tailor hanya mengeluarkan asap dari kepalanya karena sistemnya mengalami gagal jantung digital.
Fajar mulai menyingsing di atas bukit Hollywood yang ikonik. Ketiga janda kita berdiri di balkon hotel Beverly Hilton, menatap pemandangan kota Los Angeles yang perlahan mulai sibuk. Penyamaran mereka sudah berantakan; daster payet Maya robek di bagian bawah karena tersangkut meja, setelan Bella penuh debu ventilasi, dan Siska beraroma wasabi kuat.
"Jadi... kita beneran nggak dapet tanda tangan satu pun aktor ganteng?" tanya Maya dengan nada kecewa yang sangat dalam, menatap dasternya yang rusak.
"May, lo baru saja menyelamatkan industri perfilman dunia dari kehancuran total. Itu lebih berharga dari tanda tangan di atas kertas," sahut Bella sambil mematikan perangkat komunikasinya dan melepas kacamata taktisnya.
Siska menyandarkan kepalanya di pagar balkon, menghirup udara pagi. "Gue kepikiran satu hal. Quentin tadi sempat bilang kalau markas pusat Benang Hitam yang baru bukan di luar negeri. Tapi di suatu tempat yang sangat dekat dengan kita. Kembali ke Jakarta."
Bella mengangguk serius. "Gue juga liat datanya di server tadi. Mereka punya laboratorium bawah tanah yang lokasinya persis di bawah pasar tekstil terbesar kita. Tempat lo biasa beli stok daster grosiran, May."
Maya melongo. "Apa?! Di bawah kios daster langgananku di Tanah Abang?! Itu artinya mereka selama ini dengerin aku nawar harga jomplang dong?! Berani-beraninya mereka!"
"Sepertinya begitu, May," kata Bella. "Musuh kita yang sebenarnya sudah kembali ke rumah. Mereka menggunakan jalur distribusi fasyen paling sibuk buat menyebarkan produk mereka secara masif ke seluruh pelosok negeri."
Siska mengambil napas dalam-dalam, menatap papan tanda Hollywood di kejauhan. "Oke. Kalau gitu, misi kita di luar negeri selesai. Kita pulang ke Jakarta. Kita beresin sampah-sampah ini di rumah kita sendiri dengan gaya kita sendiri."
"Setuju!" seru Maya kembali semangat, meski wajahnya lelah. "Tapi sebelum pulang, Bel... kartu kredit agensi masih aktif kan? Aku beneran butuh tas baru buat gantiin daster aku yang robek ini. Sekalian oleh-oleh buat ibu-ibu di apartemen biar mereka nggak ngomel kita tinggal terus!"
Bella tertawa, pertama kalinya dalam misi panjang ini. "Boleh, May. Beli yang paling mahal. Anggap saja itu bonus karena lo udah sukses mengalihkan perhatian sutradara gila semalam."
Tiga janda itu berjalan menuju mobil jemputan mereka, meninggalkan kemewahan Hollywood dengan sejuta cerita yang tak akan pernah masuk berita gosip. Mereka bukan lagi sekadar detektif amatir. Mereka adalah The Justice Widows, pelindung dunia dalam balutan daster, yang kini siap pulang untuk menghadapi pertempuran terakhir di tanah kelahiran mereka.
seru kocak... walau ga masuk akal 🤣🤣🤣