Jovan adalah pewaris mafia paling berbahaya di kota. Luka tembak dan pengkhianatan memaksanya melarikan diri ke sebuah desa terpencil, tempat seorang gadis sederhana bernama Mika menyelamatkan nyawanya.
Dengan identitas palsu sebagai petani buah, Jovan hidup di dunia yang tak pernah ia kenal—tenang, jujur, dan penuh kehangatan.
Di sanalah ia jatuh cinta pada Mika, tanpa ia sadari bahwa cintanya adalah ancaman.
Karena saat masa lalu mengejarnya, Mika bukan hanya gadis desa…dia adalah sandera paling berharga di dunia mafia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah yuni rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak ke Pasar
Pagi datang dengan suara kompor menyala dengan bunyi klik kecil dari korek gas dan dengung api biru yang stabil.
Mika berdiri di dapur, mengaduk air di panci, sesekali meniup uap panas yang naik ke wajahnya.
Hari ini ia tidak ke pasar.
Itu keputusan yang masih terasa aneh di dadanya. Bukan karena takut, lebih karena ia tidak terbiasa tinggal diam ketika hari sudah dimulai.
Jovan duduk di kursi dekat meja, meminum kopi hitam. Ia tidak bersandar. Tidak juga terlihat tegang. Tapi Mika tahu, pria itu sedang bekerja di kepalanya. Bahunya masih terasa berat, seperti ada beban yang tidak terlihat.
Ia bisa berjalan normal, tapi setiap kali lengan itu bergerak terlalu jauh, rasa ngilu mengingatkannya bahwa tubuhnya belum selesai sembuh.
Mika menyiapkan sarapan di atas meja makan, gerakannya pelan seperti ingin menjaga sesuatu agar tidak jatuh. Nasi hangat, telur dadar tipis, dan sayur bening sederhana. Ia menaruh satu porsi piring di depan Jovan.
Jovan duduk tanpa bicara. Bahunya masih kaku, tapi ia memaksakan posisi tegak. Matanya lebih banyak mengarah ke jendela daripada ke makanan.
Mika memperhatikan itu.
“Kau tidak lapar?” tanyanya.
Jovan menoleh, sejenak saja. “Lapar.”
“Tapi?”
Jovan tidak langsung menjawab. Ia mengambil sendok, mengetuk pelan ujung piring, seperti kebiasaan orang yang berpikir terlalu banyak.
Keheningan turun sebentar. Bukan canggung, lebih seperti ruang yang dipenuhi hal-hal yang belum mereka berani sebutkan.
Pak Raka keluar dari kamar belakang, langkah pincangnya terdengar jelas di lantai. Ia duduk tanpa banyak suara, menuang kopi ke cangkirnya.
“Desa sedang bicara,” katanya singkat.
Mika menegang. “Tentang aku?”
Pak Raka mengangkat bahu. “Tentang lapak kosong. Tentang orang kota. Tentang hal-hal yang mereka takutkan tapi tidak mereka mengerti.”
Jovan menatap meja makan. Tangannya mengepal sebentar, lalu dilepaskan. “Aku tidak ingin ini menyentuh hidup kalian,” katanya pelan.
Mika mengangkat wajahnya cepat. “Tapi itu sudah terjadi.”
Kalimat itu keluar lebih jujur daripada yang ia rencanakan.
Jovan menatapnya. Lama. Dalam tatapannya ada sesuatu yang berat, bukan ancaman, bukan dingin, tapi kesadaran bahwa keberadaannya membawa bayangan.
Mika menelan ludah, lalu suaranya melembut.
“Aku tidak marah,” katanya. “Aku hanya… tidak suka merasa seperti harus memilih.”
Jovan mengerutkan dahi. “Memilih apa?”
Mika menunduk sebentar, jemarinya meremas ujung kain taplak. “Memilih antara hidup biasa… atau hidup yang mulai dihitung orang lain.”
Pak Raka menghela napas pelan, seperti orang tua yang sudah tahu dunia tidak pernah sesederhana pasar dan kebun.
“Tidak ada yang memilih datangnya masalah,” katanya. “Yang dipilih hanya cara berdiri saat masalah itu mengetuk.”
Jovan menatap Pak Raka. “Dan cara Anda berdiri?”
Pak Raka menyesap kopinya. “Tetap makan. Tetap bekerja. Tetap terlihat normal.”
Ia menatap Mika. “Karena orang yang ingin menekan, paling suka melihat kita berhenti.”
Mika mengangguk pelan.
Jovan menatap piringnya, lalu akhirnya mulai makan. Gerakannya lambat, tapi itu sudah cukup seperti keputusan kecil.
Mika duduk di seberangnya, memperhatikan cara pria itu menahan nyeri tanpa suara.
Untuk pertama kalinya, ia sadar jika Jovan bukan hanya orang asing yang terluka. Ia adalah seseorang yang terbiasa sendirian. Dan sekarang… ia duduk di meja mereka.
Di luar rumah, suara motor lewat sekali, pelan, seperti kebetulan yang terlalu rapi.
Jovan tidak menoleh.
Tapi Mika melihat bagaimana rahangnya mengeras.
Tidak ada yang mencurigakan.
Itu yang mencurigakan.
Sekitar setengah jam kemudian, seorang pria lewat membawa karung di pundaknya. Ia berhenti sejenak, melirik ke arah rumah, lalu berjalan lagi tanpa menyapa.
Biasanya orang menyapa.
Jovan mencatatnya. Bukan wajahnya, langkahnya.
Pria itu berjalan seperti orang yang tahu ke mana ia akan pergi. Tidak ragu. Tidak menoleh lagi.
Mika masuk kembali ke rumah, menaruh sapu. “Aku bikin pisang goreng,” katanya. “Masih ada pisang kemarin.”
“Baik.”
Ia menggoreng pelan. Minyak mendesis. Bau manis menyebar. Sesuatu yang sangat biasa. Dan justru itu membuat Mika merasa sedikit lebih tenang.
“Jovan,” katanya tanpa menoleh. “Kalau nanti aku tetap tidak ke pasar beberapa hari… itu akan aneh ya?”
“Sedikit,” jawab Jovan jujur. “Tapi tidak berbahaya.”
“Kau yakin?”
“Selama kau tidak menghilang sekaligus.”
Mika tersenyum kecil. “Aku tidak pandai menghilang.”
Jovan menatap punggungnya. “Justru itu.”
Mika membalikkan badan. “Apa maksudmu?”
Jovan berdiri, mendekat. Tidak terlalu dekat. “Orang yang mencolok bukan yang berisik. Tapi yang tiba-tiba berubah.”
Mika mengangguk pelan. Ia tidak sepenuhnya mengerti, tapi ia percaya pada nada suara itu.
.
Minyak di wajan mulai tenang. Pisang goreng ditiriskan di piring, uapnya naik pelan.
Mika meletakkan piring itu di meja.
Jovan duduk lagi, mengambil satu tanpa komentar. Mengunyah perlahan. Seperti orang yang sedang memaksa dirinya kembali menjadi manusia biasa.
Di luar, suara burung gereja terdengar sebentar, lalu hilang.
Mika menyandarkan pinggulnya ke meja dapur. “Aku biasanya jam segini sudah siap ke pasar,” katanya, lebih ke dirinya sendiri.
Jovan mengangguk kecil. “Aku tahu.”
“Aneh ya,” Mika melanjutkan, “cuma satu hari tidak berangkat… rasanya seperti semua orang langsung sadar.”
Jovan menatap pisang goreng di tangannya. “Desa sadar pada perubahan lebih cepat dari kota.”
Mika menghela napas. Ia mencuci piring yang sebenarnya belum perlu dicuci. Tangannya hanya butuh sesuatu untuk dilakukan.
Beberapa menit berlalu.
Lalu terdengar suara langkah di depan rumah. Bukan langkah berat. Bukan langkah tergesa.
Langkah orang yang pura-pura lewat biasa.
Mika berhenti. Jovan juga berhenti mengunyah.
Langkah itu berhenti sebentar di dekat pagar. Tidak ada salam.
Tidak ada suara memanggil.
Hanya diam yang terlalu disengaja. Lalu langkah itu pergi lagi.
Mika menelan ludah.
“Orang lewat?” tanyanya pelan.
Jovan menjawab tanpa menoleh ke jendela. “Orang memastikan.”
Mika memeluk lengannya sendiri. “Memastikan apa?”
Jovan meletakkan pisang gorengnya. “Memastikan kau benar-benar di rumah.”
Kalimat itu membuat dapur terasa lebih sempit.
Mika memaksa napasnya tetap normal. “Aku cuma libur sehari.”
Jovan mengangguk. “Tapi bagi orang yang mencari jejak… sehari sudah cukup.”
Mika diam. Ia ingin bertanya lebih banyak, tapi ia tahu ada pintu yang tidak bisa dibuka dengan pertanyaan.
Pak Raka muncul dari belakang.
Ia tidak duduk. Hanya berdiri sebentar di dekat pintu. “Kau jangan keluar jauh hari ini, Mika,” katanya.
Mika menatap ayahnya. “Kenapa?”
Pak Raka tidak menjawab langsung. Ia hanya melihat ke halaman, seolah mendengar sesuatu yang tidak terdengar oleh orang lain. “Kita biarkan hari ini lewat,” katanya akhirnya.
Jovan berdiri pelan. Bahunya terasa kaku saat ia mengangkat lengan sedikit. “Aku akan ke kebun sebentar,” ucapnya.
Mika refleks ikut berdiri. “Sekarang?”
“Hanya lihat-lihat. Pastikan tidak ada yang ditinggalkan.”
Pak Raka mengangguk kecil.
Mika ragu, lalu berkata pelan, “Aku ikut sampai teras.”
Jovan menatapnya. Tidak melarang. Tidak juga menyuruh. Mika berjalan bersamanya sampai pintu.
Udara luar hangat, tapi rasanya seperti ada sesuatu menggantung.
Di ujung jalan, seorang ibu lewat membawa sayur.
Biasanya ia akan tersenyum.
Hari ini ia hanya menunduk cepat dan mempercepat langkah.
Mika berdiri di ambang pintu.
Dan untuk pertama kalinya ia sadar…bukan hanya Jovan yang sedang diperhatikan. Tapi rumah ini. Namanya. Hidup mereka yang sederhana. Dan itu membuat dada Mika terasa sesak.
Bukan karena takut. Karena desa mulai berubah pelan.