NovelToon NovelToon
Cinta Yang Tergadai

Cinta Yang Tergadai

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintamanis / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:477
Nilai: 5
Nama Author: Aksara Senada

Ini tentang Anin yang berusaha menjaga api cinta dalam rumah tangganya agar tetap menyala kala badai datang menggoyahkan–menguji cinta dan keutuhan rumah tangganya dengan Harsa yang telah banyak memberi bahagia. Haruskah ia gadaikan cinta mereka dengan perasaan sesaat?
....
Kamu adalah cinta yang datang layaknya hujan, membasahi saat aku merasa paling gersang. Namun, sayangnya kamu pergi bagai puing yang belum pernah sempat kugenggam.
~Sekala Bumi
....
Aku pernah tersesat diantara persimpangan gelap, kamu hadir menemukanku diantara pekatnya malam yang hampir menelan. Sayangnya diantara ribuan pilihan kau malah meninggalkanku sendirian tanpa pernah kau perjuangkan.

Kini ... aku tak lagi sama. Ragaku telah bertuan, walau pada kenyataannya separuh hatiku masih ingin menggenggammu.
~Anindyaswari

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Senada, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

20. Pulang

Urusan mendesak yang tiba-tiba harus membuat Harsa mau tak mau mengajak Anin pulang. Masalah yang dikabarkan Anggara tak boleh ia abaikan. Jika tidak, sedikit demi sedikit tanah mereka akan habis terjual. Bagi Harsa, Wijaya Adiguna sudah sangat keterlaluan. Semua aset yang seharusnya jadi milik dan diwariskan ke anak-anaknya malah diganggu-gugat. Kepalanya hampir terasa pecah karena masalah ini.

“Maaf ya, gara-gara Papa liburan kita harus terganggu.” Ia menatap istrinya dengan perasaan bersalah. Selalu ada saja masalah tak terduga setiap mereka ingin sedikit menikmati hidup.

Anin menggeleng seraya menampakkan senyum hangat. “Iya, Mas. Gak apa, kita bisa cari waktu lain buat liburan lagi.” Ia lalu mengusap lengan suaminya, berusaha menenangkan. Sambil menggendong Zura yang tidur. Sementara Harsa, laki-laki itu tengah menenteng barang bawaan mereka untuk keluar dan berpamit pada keluarga Gita, Laksmi, juga Nana.

Sambil mengarahkan tangan untuk membuka pintu, Harsa menghembuskan napas berat. Benar kata Anin tadi sore, sudah seharusnya mereka menikmati waktu liburan dengan tenang, tapi ia malah mendapat kabar tak mengenakkan begini. Membuat kepalanya terasa mendidih.

“Kamu aja yang pamitan. Sini Zura sama aku, aku tunggu di bawah,” ujarnya saat tangan masih memutar kunci sebelum meninggalkan kamar dengan benar. Di saat situasi seperti ini ingatannya malah tertuju dan sedikit bersyukur, mengingat setidaknya tadi mereka telah menghabiskan masa untuk bercinta di villa itu. Tidak terlalu sia-sia liburannya. Ah, Harsa mengutuk pikirannya. Ia menoleh menatap Anin sambil menahan senyum.

Anin berdecak, bibirnya mengerucut mendengar perkataan Harsa. Wanita yang sudah berganti baju dan memilih setelan piyama longgar untuk menemani perjalanan pulang mereka malam ini balik menatap Harsa tajam. “Nggak, ya. Aku gak mau pamit sendiri, kamu juga ikut lah. Tau sendiri aku suka kikuk kalau bikin alasan,” lanjutnya yang tak mau kalau harus berpamitan sendiri. Ia tak enak hati harus pamit secepat ini, padahal belum menghabiskan waktu bersama. Bagi Anin Harsa harus ikut membersamai.

“Ayo, kamu yang harus jelasin. Kan, ini masalah keluarga kamu!” Anin menarik baju Harsa, memaksa agar suaminya itu harus ikut. Dia tidak boleh kabur.

Kini balik Harsa yang menampakkan wajah murung. Merasa tak setuju dengan perkataan Anin, tepat pada kalimat ’masalah keluarga kamu!' Ya, bagi Harsa tak seharusnya Anin bilang demikian. Mereka sudah jadi bagian satu sama lain, yang artinya keluarganya maka keluarga Anin juga. Dan begitu pula sebaliknya.

“Keluarga kamu, keluarga kamu?!” ulang Harsa dengan raut wajah kesal saat Anin sudah menariknya untuk melangkah menuju kamar Nana lebih dulu yang berada satu lantai dengan kamar Laksmi di atas.

“Itu keluarga kamu juga kali, mertua kamu loh itu yang bikin masalah. Papa aku, yang artinya bagian dari keluarga kamu juga.” Harsa berucap tak habis pikir. Ya, demikianlah, terkadang mereka mempermasalahkan hal-hal kecil seperti itu. Kalau kata netizen saat melihat suatu postingan aneh, ’duh, banyak banget yang harus dibahas.' Dan begitulah kira-kira Harsa menanggapi ucapan Anin kini.

Anin berdesah pelan. Ia tahu ia salah ucap, dan Harsa malah mempermasalahkannya. Ia pun hanya memutar mata jengah sambil terus melangkah menyusuri tangga menuju lantai tiga.

“Gimana sih? Kok bisa-bisanya ngomong gitu?” Harsa masih lanjut mempertanyakan. Ia masih tak habis pikir dengan jawaban Anin. Baginya yang ada dalam situasi sensitif, itu sangat tak pantas terdengar di telinganya dan ia terlanjur badmood karenanya.

“Ya, aku gak bermaksud gitu juga, mas.” Anin mengaku salah. Ia paham masalah yang disampaikan Angga membuat suaminya jadi lebih sensitif. Harsa butuh dukungan dan ia malah mengatakan hal yang tidak seharusnya.

“Maksud aku tuh biar kamu ikut ngejelasin situasinya gimana. Takutnya nanti aku salah ngomong lagi, nanti kamu gak suka.” Anin lanjut memperjelas. Ia tahu Harsa bukan tipe yang terlalu terbuka pada orang lain, apalagi hal ini cukup sensitif. Ia tak mau salah bicara. Sedangkan ia sendiri tipe yang akan kikuk sendiri saat orang lain bertanya lebih jauh, ia pun tak suka karena merasa kebingungan harus menjawab apa.

Harsa mengangguk paham. Ia tahu istrinya hanya mencoba bertindak hati-hati. Terlebih mereka kadang kala memperdebatkan apa yang boleh dan tak boleh diceritakan pada orang lain. Kadang yang bagi Anin wajar diceritakan, justru baginya tidak. Begitu pula sebaliknya. Hal itu jelas membuat Anin jadi lebih hati-hati, apalagi mereka belum sempat mendiskusikan.

Kini Harsa jadi lebih agak tenang setelah memahami maksud sang istri. “Tapi kalau mereka nanya-nanya kayak penyidik aku juga sebenarnya males. Kayak yang harusnya mereka tuh mikir ada hal yang boleh dan gak harusnya di kulik. Ada batasan privasi yang harusnya gak dipertanyakan.”

Anin manggut-manggut, memang ada benarnya. Tapi sebagian orang kadang tak mengerti dan mempertanyakan semua yang ingin diketahui.

“Ya, nanti jawab aja gitu, mas.” Anin yang tak tahu harus bilang apa hanya memberi saran singkat yang membuat Harsa menyerngit.

“Kita ke kamar Nana dulu, ya.” Anin lanjut menyampaikan tujuan saat mereka sudah hampir menginjakkan kaki di lantai tiga.

Dan Harsa masih menatap heran, siap berkata, “serius kamu suruh aku jawab kayak begitu?” tanyanya tak habis pikir. Anin memang agak kadang-kadang, kalau buntu suka memberi saran aneh. Serius? Ia harus se blak-blakan itu jika mereka nanti bertanya kepo? Harsa bertanya-tanya.

Anin berdecak, tangannya melambai menepis angin. Bukan hanya ia yang kadang-kadang. Pak Jaksa ini ternyata juga agak bego dan terkadang kikuk kebingungan menghadapi manusia lain.

“Ya, nggak gitu juga kali, mas.” sergah Anin cepat.

“Ah, kamu juga ada-ada aja,” ujar Anin tak habis pikir, “maksudku tuh jawab sekenanya aja, gak harus detail juga. Masa gitu aja gak tahu, sih?!” lanjutnya jengah. Mereka masih saja memperdebatkan hal yang tak terlalu penting. Terlihat seperti anak-anak yang deg-degan, kebingungan menjawab soal cerdas-cermat. Juga persis seperti mahasiswa yang deg-degan menjelang ujian sidang skripsi.

“Kamu kan, Jaksa. Pasti tahu lah, paham dan ahli kalau soal tanya dan ditanyai. Harusnya pinter kamu tuh kalau soal itu.”

Kini Harsa yang balas memutar mata. “Ya, beda lah, Nin. Jaksa mah punya aturan, kali, kalau mau nanya atau ngejawab. Sesuai kode etik. Gak kayak orang-orang yang nanya pas lagi kepo, mana ada kode etiknya.”

“Asalkan apa yang ingin diketahui terjawab mah diterabas semua.”

Yang mana jawaban itu malah membuat Anin terkekeh. “Haha, iya deh, Mas. Nanti jawab asal aja kalau ada yang agak kepo. Sesekali bohong buat jawab pertanyaan yang gak seharusnya kayaknya gak apa-apa deh.” Rasanya lucu karena mereka malah berpikir sejauh ini hanya karena takut ditanyai terlalu jauh. Keduanya terlihat memiliki sikap yang mirip kalau sudah seperti ini.

Harsa pun ikut terkekeh menyadari betapa over thinkingnya mereka hanya karena takut ada yang bertanya terlalu jauh. Dengan sebelah tangan yang tak sibuk menarik koper, Harsa menarik istrinya untuk didekap singkat. Tangannya tergerak mengusap kening hingga puncak kepala Anin. Merasa terhibur setelah sedikit mengobrol dengan istrinya itu. Ia juga agak gemas pada sosok yang tengah menggendong Zura ini.

“Kamu capek, gak gendong Zura? Mau tukeran?” tanyanya di sela tangan yang masih mendekap istrinya dari belakang. Sebenarnya Harsa agak kasihan melihat Anin menggendong Zura yang bobotnya agak berat, tapi lebih tak tega lagi kalau harus menyuruhnya menyeret koper beserta tas bawaan mereka. Jadi, setidaknya ia sudah membuat Anin melakukan hal yang menurutnya paling ringan, yaitu menggendong anaknya sendiri.

Anin menggeleng. Bibirnya mengulas senyum menyadari kepekaan Harsa. Tapi tentu tak akan ia lakukan, daripada menggendong Zura, tentu menyeret koper turun tangga lebih melelahkan.

Eh, tapi harusnya tadi koper dan barang bawaan yang lain tak mereka seret-seret begini. Harusnya taruh di bawah dulu, kan, biar lebih enteng? Ah, Anin baru menyadari sekarang. Ia lalu menoleh pada suaminya. “Harusnya tadi barang-barang ini taruh ke lantai bawah dulu, jadi gak harus di bawa-bawa gini!” serunya kala ilham itu baru hinggap di kepalanya sekarang.

Hars yang paham pun hanya terkekeh samar menyadari kebodohan mereka. “Ya, mau gimana? Udah terlanjur gini!” katanya seraya cengengesan, tangan jahilnya malah menarik Anin hingga mentok ke tubuhnya. Ia jadi gemas sendiri karena menyadari apa yang mereka lakukan. “Kamu sih, gak bilang dari tadi.”

“Ya, aku juga baru inget kali, Mas.”

“Udah, ah. Diem! Mau panggil Nana dulu,” suruh Anin yang masih nyengir seraya menyingkirkan tangan Harsa yang masih setia melingkar di lehernya. Lalu mulai mengetuk pintu kamar Nana.

Tok, tok, tok...

“Na? Udah tidur, ya?”

“Nana?!”

Tak butuh waktu, lama. Diketukan ketiga, akhirnya Nana keluar.

“Eh, Anin ... Mas Harsa juga?! Ada apa?” tanya Nanan dengan kening mengkerut, heran. Headset tampak terkalung di lehernya. Mata gadis itu menyorot bingung melihat keluarga kecil yang berdiri di depan kamarnya. Ada apa nih? Tanyanya dalam hati dan tepat saat matanya tertuju pada koper dan tas Anin yang tersampir di bahu Harsa, Nana langsung terbelalak.

“Loh, kok kalian bawa koper? Mau pulang?” tanyanya heran.

Anin mengangguk, “Iya nih, Na. Mendadak, Papa Zura tiba-tiba ada urusan mendesak.”

Selagi Anin menyampaikan dengan wajah tak enak hati, Harsa hanya ikut manggut-manggut mengiyakan jawaban istrinya.

“Yah, gak asyik dong.” Nana tampak mendesah kecewa. Meski begitu ia kembali berkata, “tapi ya, mau gimana. Namanya juga tiba-tiba ada urusan, kan, ya?”

Kini kedua pasutri itu mengangguk serempak. Setuju dengan pemikiran simple Nana.

“Ya udah, aku ikut pulang juga deh.” Gadis itu kembali berucap setelah sempat terdiam sejenak

Dan setelahnya, Harsa dan Anin lanjut pamit ke member liburan yang lain. Karena menghadapi Nana tidaklah sulit, ia tak banyak tanya dan lebih memilih ikut pulang walau sudah Anin bilang agat dia kebih baik tinggal saja, toh bisa pulang dengan Laksmi atau Gita. Namun, nyatanya Nana lebih memilih ikut Anin. Katanya kalau pergi dengan Anin, maka pulang juga harus sama-sama.

“Tunggu bentar, ya, aku packing dulu.”

“Iya, packing aja. Kita mau ke mbak Laksmi dulu, abis itu ke mbak Gita. Kamu tunggu di bawah aja.” Anin memberitahu.

“Oh, oke oke. Nanti aku tunggu di bawah!” ujar Nana setelah memberi tanda setuju lewat jari telunjuk dan ibu jari yang dibuat melingkar. Lalu pintunya pun tertutup bersamaan dengan Harsa dan Anin lanjut ke lantai tiga.

“Emang ada urusan mendesak apa? Kok mendadak banget?” tanya Laksmi tampak penasaran setelah Anin selesai menjelaskan. Membuat ia langsung saling tatap dengan suaminya.

Tatapan yang mengandung makna ’kan? Apa yang dicemaskan bener kejadian?'

“Iya, mbak. Papa Zura tiba-tiba ada urusan mendesak. Harus balik sekarang.”

“Kerjaan?” tanya Laksmi penasaran. Wanita behijab bergo itu berdiri depan pintu. Dari dalam tampak suaminya melangkah ke luar untuk menghampiri, ingin nimbrung.

Anin menggeleng, bersiap untuk menjawab lagi. “Bukan, urusan keluarga.”

“Oh, gitu ya.“ Laksmi beroh ria. Suaminya sudah berdiri tepat di sisinya. Menyapa Harsa dengan ramah. “Mau, pulang ya, mas Harsa?” tanyanya ikut basa-basi. Yang mana langsung Harsa jawab anggukan.

“Iya, nih, Pak. Maaf, karena besok jadi gak bisa ikut tracking.” Harsa ikut berbasa-basi, tak enak hati karena rencana besok tak bisa terealisasi.

Suami Laksmi manggut-manggut, ia tampak pengertian. “Gak apa, namanya juga mendadak. Yang artinya tiba-tiba.”

Harsa mengangguk setuju atas pengertian Bapak dua anak ini.

“Berarti mau langsung ke Semarang nih, kalian?” taoi istrinya malah lanjut, ia tampak sangat penasaran.

 Membuat energi Harsa dan Anin seketika seperti terkuras habis. Mereka bukan tipe yang terlalu ingin tahu saat mendapat info dan bukan juga tipe yang suka menanyakan sesuatu yang dianggap tak perlu. Jika orang tak berbicara secara langsung, artinya itu tak perlu ia pertanyakan dan itulah prinsip yang kedua pasutri itu anut. Sehingga rasanya sangat melelahkan saat orang lain malah bersikap terlalu ingin tahu kepentingan mereka.

“Gak, kok. Balik ke Jakarta dulu, soalnya mau antar Mama Zura dulu, Nana juga ikut pulang.” Harsa pun akhirnya terpaksa turun tangan ikut bersuara.

“Loh, Nana juga ikut pulang?” tanya Laksmi lagi yang agak terkejut saat mendengar Nana malah ikut. “Gak asyik dong, liburannya cuma berdua sama keluarga Gita.”

Anin tertawa kikuk, sejenak ia menoleh pada suaminya lalu menatap lagi ke depan. “Iya, nih. Nana malah mau ikut pulang, padahal tadi udah aku suruh tinggal aja.”

“Ya, gitulah kalau mendadak mbak Anin.” Suami Laksmi dengan wajah bersahaja masih menanggapi dengan bijak. Berbeda dengan istrinya yang malah masih kepo.

“Berarti mau ke Sulawesi Selatan? Di kota Mama kamu itu ya, Harsa?”

Harsa yang wajahnya sudah sangat jelas tak nyaman hanya bisa mengangguk dengan di susul hembusan napas pelan. Dia mulai jengah.

“Udahlah, Ma. Orang lagi buru-buru juga, kamu malah nanya kayak wartawan.”

Beruntung suami Laksmi yang pengertian membantu mereka terlepas dari kekepoan istrinya yang memang sudah tabiatnya begitu. Membuat Harsa dan Anin merasa terbantu.

Laksmi lantas terkekeh kikuk, “hehe. Ya udah, maaf ya. Jadi lama, semoga selamat sampai tujuan. Sampai ketemu di Jakarta lagi, Zura!” ujarnya ceria sambil menatap Zura yang sudah terlelap.

“Aamiin. Makasih ya, mbak.”

“Duh, jadi gak enak gini karena harus pulang duluan.”

“Gak apa, nanti lain kali cari waktu liburan bareng lagi sama yang lain biar makin rame.“

Dan setelah itu, mereka semua pun turun. Berpamitan dengan Gita pun tak perlu lama-lama. Ibu satu anak itu hanya menyayangkan karena mereka tak bisa menghabiskan waktu liburan lebih lama. Suaminya pun ikut ke luar mengantar sampai ke depan villa.

“Hati-hati, ya. Sampai ketemu di rumah, Zu Zu.” Aldo, anak Gita itu ikut mengucapkan hal yang sama, serentak dengan ibunya. anak laki-laki Gita ini memang sangat dekat dengan Zura. Katanya Zura dianggap seperti Malika, seperti adik sendiri.

“Kalau lewat JORR jam segini macetnya parah banget kadang, aktivitas logistik di sekita Sunter tuh suka gak ngotak.” Suami Gita ikut buka suara saat mereka kini sudah berada di depan Villa. Ikut membahas perkiraan rute tercepat yang akan dilalui Harsa, mengingat tetangganya itu harus buru-buru.

Hal yang Harsa suka karena merasa dihargai. Tetangganya satu ini tak banyak tanya, tapi terlihat peduli dan memikirkan perjalanan yang bisa diakses agar dapat cepat sampai. Walau Anin hanya spill sedikit soal ia yang akan melakukan perjalanan jauh, tapi mereka tak banyak tanya dan malah ikut memberi solusi.

“Iya, nih. Rencana mau lewat Cawang aja biar agak cepat, biasanya gak terlalu macet.”

Suami Gita ikut manggut-manggut, dia juga menawarkan diri untuk bantu mengantar koper ke parkiran, tapi Harsa tolak karena tak mau merepotkan.

“Udah, biarin aja dibantuin. Kamu ambil Zura aja, kasian itu Anin udah pegel pasti.” Gita si tetangga paling pengertian pun memberi saran. “Atau bantuin si Nana aja, Pa. Kasian ciwi-ciwi harus angkat berat.” Gita cekikikan saat melihat Nana yang memanyunkan bibir, karena tidak related dengan celetukan Gita.

“Ah, ringan kok ini, mbak.” Nana menaikkan kedua alis. Menunjukkan bahwa dia bukan wanita lemah yang menye-menye. Berikut Anin yang mendukung aksinya.

“Iya, gak usah repot-repot, dekat kok.” Berkata Anin ikut menimpali.

Lalu mereka pun pergi setelah pamit, berdada-dada pada tetangganya itu.

“Nana, nanti kalau gak ngerepotin temenin Mamanya Zura nginep, ya.” Harsa mulai buka suara tepat saat mereka sudah ke luar dari area resort dan melaju di jalan malam yang cukup legam.

Anin menoleh menatap Nana yang tampak memberikan kode berbinar riang, senang bisa menemani Anin menginap seperti yang sudah-sudah.

“Aman, yang penting ada oleh-olehnya ya, Mas Harsa.”

“Aman, suruh Anin aja yang beliin makanan. Kan kamu temenin dia.” Harsa menjawab cepat.

Anin hanya mencebik atas jawaban suaminya, yang artinya Harsa tak mau repot-repot bawa oleh-oleh karena ini urusan mendesak yang agak menguras emosi, makanya jawabannya agak nyeleneh begitu.

“Ish, ishh. Pelit!” Nana berkomentar julid. Sudah cukup lama bertetangga dengan Harsa membuat mereka cukup akrab.

Laju mobil terus bertambah. Sesekali Harsa memelankan kecepatan saat Anin mulai menegur. Namun, saat Anin sudah tak sadar, tak lagi mempermasalahkan ia melaju kencang lagi, lalu Anin menegur maka ia otomatis memelankan lagi. Begitu seterusnya. Jadinya Anin kadang harus ngomel-ngomel dulu supaya suamiya menurut.

“Coba ambilin earphone bentar, Nin!” suruh Harsa sambil menunjuk tas hitam yang ada di depan Anin. Ia tampak menoleh sambil terus fokus menatap ke depan. Berencana akan mengabari Anggara.

“Di mana?”

“Di rumah!”

Anin lantas memutar mata malas mendengar jawaban sarkas suaminya. Ia tahu pertanyaannya agak tak berbobot, hanya saja entah mengapa ia tak bisa mencegah pertanyaan itu yang malah keluar begitu saja.

“Ya, di dalam tas lah, bu, ya kali du rumah.” Harsa yang tampak buru-buru ingin memakai earphone itu pun menunjuk bagian tas yang harus Anin cari.

“Ya, tau. Tapi pertanyaannya repleks ke luar gitu.” Nada yang mulia ratu Anin mulai naik tiga oktaf. Membuat Harsa menampakkan wajah memelas, sadar telah salah pilih lawan. Seharusnya tak boleh berlaku demikian pada penguasa terakhir yang di rumah jabatannya lebih tinggi daripada ia.

“Iya, coba yang mulia cari di situ. Tadi hamba menaruhnya di sana yang mulia,” tunjuk Harsa pada bagian kecil di tasnya. Suaranya pun terdengar lembut mengarahkan Anin.

Anin yang melihat Harsa demikian hanya bisa berdesah pelan, tak habis pikir melihat tingkah lelaki ini.

Harsa hanya manggut-manggut sambil menampakkan wajah mengejek pada istrinya itu. Membuat Anin balas dengan lebih mencebik, ia jelas menantang. Tak mau kalah.

“Cepetan, Angga nelepon ini!” dedak Harsa lagi saat nama Angga muncul di layar ponsel yang ia sematkan di stand holder di depannya.

Sementara Nana yang belum tidur, sibuk melihat jalan tol dan kesibukan lalu lintas di malam hari tampak tersenyum sekaligus geleng-geleng kecil melihat interaksi pasangan di depannya.

“Halo, iya?!”

“Udah di tol ini. Pesenin aja, nanti gue ganti pakai duit Bapak lo!” suruh Harsa setelah memakai earphone dan menjawab saat Anggara dari seberang telepon menyatakan ingin segera memesan tiket dan bertanya apakah ia ingin juga.

“Bapak lo Bapak lo. Wijaya Adiguna juga bapak lu kali!”

“Chek in jam 11, berangkat 12.30.” Anggara terdengar mendikte dari seberang telepon. “Lo harus cepat sampai, gue tunggu.”

“Iya.”

1
kalea rizuky
klo harsa selingkuh cerai nin harsa ini g bs move on kayaknya dr mantannnya
kalea rizuky: orang pendiem itu malah yg rawan selingkuh kak /Curse//Curse/
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!