Pernikahan yang bahagia selalu menjadi dambaan bagi setiap wanita didunia ini, namun terkadang takdir tidak berjalan sesuai apa yang kita harapkan.
Begitupun dengan apa yang dialami Alyssa, wanita cantik berusia 26 tahun itu harus menerima kenyataan pahit. Bahwa pernikahan yang selalu ia jaga hancur oleh penghianatan sang suami.
Rasa kecewa dan sakit yang ia rasakan membuat ia trauma dan berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak menjadi duri dalam rumah tangga orang lain. ia menutup dirinya rapat rapat namun semua itu tidak lantas mengubah prasangka buruk orang orang karena statusnya sebagai seorang janda.
Namun bagaimana jadinya jika takdir memintanya untuk menjadi istri kedua... akankah ia menolaknya mengingat janjinya. atau ia akan menerimanya karena keadaan yang begitu memaksa dirinya...
lalu sanggupkah ia menjalani kehidupannya.
penasaran intip kisahnya disini jangan lupa berikan kritik dan saran yang membangun...
terimakasih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yulia puspitaningrum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10. penolakan yang menyakitkan.
Alyssa berdiri terpaku di depan pagar besi tinggi yang menjulang angkuh. Rumah itu seperti benteng dingin, asing, dan tak bersahabat.
Di sanalah ayahnya tinggal sekarang. Ayah yang dulu pernah menggendongnya saat demam, yang dulu menimang dan mengusap rambutnya sebelum tidur… namun kini terasa lebih jauh daripada orang asing.
Angin sore berembus pelan, menggoyangkan ujung jilbabnya.
Telapak tangannya basah, keringat dingin menetes di sela-sela jemari. Ia mengusapnya ke rok, tapi tetap saja gemetar.
“Aku harus kuat… demi Ibu,” bisiknya lirih.
Belum sempat ia melangkah, seorang satpam paruh baya menghampiri.
“Ada yang bisa saya bantu, Mbak?”
Suara itu membuat Alyssa tersentak.
Ia menegakkan tubuh, memaksakan senyum canggung dibibirnya yang indah.
“Maaf, Pak… apakah Pak Bima Hartono ada di rumah?”
“Ada. Ada keperluan apa?”
Alyssa terdiam. Lidahnya kelu, mengucapkan kata ayah terasa seperti menelan bongkahan batu besar.
“Tolong sampaikan… putrinya, Alyssa, ingin bertemu.” kening satpam dihadapannya berkerut dalam ia merasa tidak asing dengan nama tersebut.
Ia mencoba untuk mengingat ingatnya sampai akhirnya mata satpam itu membesar.
“Mbak Alyssa?”
Ia mengangguk pelan.
“Ya Allah… maafkan saya. Bagaimana kabar Bu Manda?”
Nama itu menampar jantung Alyssa. Dadanya sesak, napasnya tercekat.
“Ibu… sedang sakit, Pak.”
Wajah satpam itu meredup, merasa bersalah karena sudah mengingatkan Alyssa akan kondisi ibunya.
“Astaghfirullah. Saya doakan semoga beliau lekas sembuh. Bu Manda wanita baik saya saksinya.”
Alyssa hanya mampu mengangguk, menyembunyikan air mata yang nyaris tumpah di pipinya.
“Tunggu sebentar ya mbak, biar saya sampaikan kedatangan mbak ke Bapak .” ucap satpam tersebut berlalu pergi dari hadapannya.
Ia menunggu di balik pagar, sendirian dengan pikirannya sendiri. Setiap detik terasa seperti satu jam.
Bayangan ibunya yang terbaring lemah, dengan wajah pucat dan senyum dipaksakan, terus menghantuinya, ia harus segera mendapatkan uang itu.
"Tapi bagaimana kalau Ayah menolakku? Bagaimana kalau semua usahaku ini sia-sia?" Batin Alyssa dengan keraguan yang mulai timbul dihatinya.
Tak lama kemudian, satpam itu kembali. Senyum terukir diwajahnya tanda jika ia membawa kabar baik untuk Alyssa.
“Silakan masuk, Mbak."
"Terimakasih pak." Ucap Alyssa sebelum berlalu meninggalkan satpam itu.
Langkah Alyssa menyusuri halaman terasa begitu kecil di tengah kemewahan yang berlebihan.
Hawa dingin langsung menyambutnya ketika ia menginjakkan kakinya memasuki ruang tamu bukan karena AC, tapi karena tatapan ayahnya yang begitu tajam hingga menusuk jantungnya.
Bima duduk di sofa, kaki disilangkan, secangkir kopi hangat mengepul di tangannya.
“Untuk apa kamu datang ke sini?” ucapnya tanpa basa-basi.
Alyssa menelan ludah.
Apa ia harus mengatakannya sekarang, itukah yang ingin ayahnya dengar setelah lama mereka berpisah.
“Alyssa… merindukan Ayah. Bagaimana kabar Ayah, apa ayah baik baik saja hidup tanpa Alyssa?”
Hening bima terdiam, hal itu semakin membuat Alyssa merasa canggung sesekali ia melirik wajah ayahnya namun wajah itu masih terlihat datar dan tidak menunjukkan ekspresi sama sekali.
“Katakan saja kamu ada keperluan apa. Jangan bertele-tele.”
Hatinya terasa diremas, ia pikir ayahnya akan mengatakan jika ia juga merindukannya dan langsung memeluknya selayaknya seorang ayah pada umumnya namun ternyata itu hanya harapannya saja.
Jangankan memeluk menghampirinya saja ayahnya terlihat enggan.
“Ibu sedang sakit… harus dioperasi,” ucapnya pelan, nyaris tidak terdengar. Nyali Alyssa menjadi ciut apalagi setelah melihat sikap Bima kepada dirinya.
“Lalu?”
Alyssa menelan ludahnya kasar sebelum akhirnya mengambil nafas untuk memberanikan dirinya mengatakan maksud dari kedatangannya kepada ayahnya itu.
“Biaya rumah sakit tidak sedikit apalagi ibu harus menjalani beberapa tindakan operasi jadi Bisakah Ayah meminjamkan kamu sedikit uang. Alyssa janji akan mengembalikannya meskipun butuh waktu?”
Bima terkekeh kecil, seolah mendengar lelucon murahan.
Belum sempat Alyssa bernapas lega, Lauren datang dan duduk di samping ayahnya, menyilangkan kakinya dengan angkuh seolah olah ia lah yang berkuasa dirumah itu.
Alyssa mengepalkan tangannya ia tidak akan melupakan wajah itu, wajah yang sudah merebut ayahnya dari tangan sang ibu.
“Ada masalah apa?” tanyanya sinis.
“Dia mau pinjam uang,” jawab Bima.
“Berapa?”
“Lima ratus juta…” jawab Alyssa cepat.
Lauren tertawa kecil. “Kamu pikir kami bank?”
“Ibuku sakit…” suara Alyssa nyaris tak terdengar berharap Lauren merasa iba dan ikut membujuk ayahnya.
“Papa tidak punya uang sebanyak itu, kan?”
Lauren menoleh manja. Alyssa merasa jijik melihatnya, ia semakin membenci wanita dihadapannya itu.
Bima mengangguk kecil mengiyakan apa yang istrinya katakan.
Disaat Alyssa ingin membuka mulutnya tiba tiba saja Kayla masuk dan langsung memeluk papanya manja.
“Papa!”
“Ada apa, Sayang?” ucap bima dengan lembut, tangannya terulur mengusap rambut Kayla dengan penuh kasih, sesuatu yang tak pernah lagi Alyssa rasakan semenjak sang ayah meninggalkan dirinya.
Rasa iri tiba tiba saja masuk kedalam hati mempengaruhi emosi dan pikirannya, Alyssa memalingkan wajahnya karena tidak tahan melihat kemesraan ayah dan anak itu.
“Transfer tujuh ratus juta ya, Pa. Aku butuh.”
Mendengar itu Alyssa langsung beralih menatap papanya, ia pikir papanya akan menolak permintaan Kayla seperti saat menolaknya namun tanpa ragu, ayahnya malah mengeluarkan ponselnya dan menunjukkannya kepada Kayla.
"Terimakasih papa, aku menyayangimu." Ucap Kayla mencium pipi ayahnya sebelum akhirnya berlalu pergi meninggalkan tempat itu.
Alyssa menatap pemandangan itu seperti seseorang yang baru saja ditusuk di jantung, nafasnya memburu sementara matanya mulai berkaca kaca.
“Bukankah Papa tidak punya uang?” bisiknya.
“Tidak untukmu,” jawab Lauren tajam.
“Diam!” bentak Alyssa.
Bima berdiri, wajahnya memerah.
“Kurang ajar! Itu ibu tirimu kenapa kamu tidak memiliki sopan santun sama sekali, sebenarnya apa yang sudah ibumu ajarkan ha."
“ jangan bawa bawa ibu, dia tidak tau apa apa tentang ini semua. Jika ayah bertanya apa yang sudah ibu ajarkan maka jawabannya hanya ada satu. Dia mengajarkan hal yang tidak bisa ayah ajarkan dan asal ayah tau Ibu saya hanya satu!” teriak Alyssa dengan air mata berjatuhan.
“Dan dia sedang sekarat saat ini!”
“aku tidak peduli dengan keadaan ibumu, jika kamu membutuhkan uang maka jaga sikapmu." Ketus bima tanpa rasa iba.
“ Lalu apa yang ayah inginkan, apa aku harus berlutut?”
Alyssa tertawa pahit.
“Atau mencium kaki wanita itu?” tunjuk Alyssa kepada Lauren yang saat ini tengah tersenyum dengan penuh kemenangan, ia sangat senang karena bima lebih membelanya dari pada anak kandungnya.
“Ya.”
Satu kata itu menghancurkan segalanya.
Alyssa mengangguk, tersenyum getir, ia kecewa sangat kecewa ia pikir dengan bertemu ayahnya ia akan mendapatkan solusi atas masalahnya namun ternyata tidak.
“Terima kasih, Pak… bukan Ayah. Terima kasih sudah membuktikan bahwa saya dan ibu memang tak pernah ada dihati anda.”
Ia pergi tanpa menoleh, dalam hati Alyssa berjanji jika ia tidak akan pernah menginjakkan kaki ditempat itu lagi jika ia mengingkari janjinya maka ayahnya bisa memotong lidahnya.
...
..
..
Di rumah kecil mereka, Alyssa jatuh bersimpuh di samping ranjang ibunya.
“Maafkan aku, Bu… aku gagal…”
Manda tersenyum lemah, mengusap pipi Alyssa yang basah air mata.
“Kamu sudah melakukan yang terbaik, Nak.”
Alyssa memeluk ibunya erat, seperti takut kehilangan wanita yang sudah membesarkannya saat itu juga.
“Ayo kita ke rumah sakit, Bu. Aku mohon… aku tidak sanggup kehilangan Ibu.”
Tangis Alyssa pecah, memenuhi kamar sempit itu dengan luka yang tak terucap.