NovelToon NovelToon
Melodi Yang Tidak Tersentuh

Melodi Yang Tidak Tersentuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Diam-Diam Cinta / Kisah cinta masa kecil / Cinta pada Pandangan Pertama / Cintapertama / Cinta Murni
Popularitas:510
Nilai: 5
Nama Author: Yumine Yupina

Airi tidak pernah benar-benar percaya pada cinta. Bukan karena ia tak ingin, tapi karena cinta pertamanya justru meninggalkan luka yang tak pernah sembuh. Kini, di bangku kuliah, hidupnya hanya berputar pada musik, rutinitas, dan tembok yang ia bangun sendiri agar tak ada lagi yang bisa menyentuh hatinya.

Namun segalanya berubah ketika musik mempertemukannya dengan dunia yang berisik, penuh nada, dan tiga laki-laki dengan caranya masing-masing memasuki hidup Airi. Bersama band, tawa, konflik, dan malam-malam panjang di balik panggung, Airi mulai mempertanyakan satu hal: apakah melodi yang ia ciptakan mampu menyembuhkan luka yang selama ini ia sembunyikan?

Di antara cinta yang datang perlahan, masa lalu yang terus menghantui, dan perasaan yang tak pernah ia pahami sepenuhnya, Airi harus memilih—bertahan dalam sunyi yang aman, atau berani menyentuh nada yang bisa saja kembali melukainya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yumine Yupina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 20 — Bisikan di Antara Riuh

Festival Halloween akhirnya datang.

Sejak pagi, kampus berubah wajah. Lampu-lampu oranye dan ungu digantung di sepanjang koridor, kostum aneh lalu-lalang tanpa rasa canggung, dan aroma makanan bercampur gula serta minyak goreng mengambang di udara. Tawa terdengar dari berbagai arah, bercampur musik dari panggung utama yang sudah mulai hidup bahkan sebelum siang benar-benar matang.

Silent Echo tampil tepat setelah tengah hari.

Dua lagu.

Tidak lebih, tidak kurang.

Hinami berdiri di sisi panggung dengan clipboard di tangan, memeriksa waktu, memastikan transisi berjalan rapi. Beberapa dosen sempat bertanya, kenapa band yang sama mendapat dua slot di hari yang sama. Hinami menjawab dengan tenang, bahwa mereka yang mengatur alurnya, dan Silent Echo dibutuhkan untuk pembukaan dan penutupan.

Tidak ada penolakan.

Takahashi Shun juga tidak menentang.

Ia berdiri beberapa langkah dari Hinami, menyimak, lalu hanya mengangguk seolah semua itu sudah ia perkirakan.

Penampilan siang berjalan lancar.

Airi menyanyi dengan fokus yang hampir terasa dingin. Suaranya stabil, bersih, dan tepat sasaran. Ia tidak mencari mata siapa pun di kerumunan. Tidak Ren. Tidak Haruto. Tidak Yukito. Ia hanya menyelesaikan bagiannya, satu nada ke nada lain, lalu turun dari panggung dengan napas teratur.

Tepuk tangan menggema.

Dan untuk beberapa menit, semuanya terasa normal.

Setelah penampilan siang, band dibebaskan sementara. Waktu masih panjang sebelum penutupan malam. Airi berjalan sendiri, menyusuri deretan stand makanan. Ia membeli minuman dingin, lalu berhenti di dekat stand takoyaki, memperhatikan asap yang naik perlahan.

Ia lengah.

Dan Takahashi melihatnya.

Dari kejauhan, ia tidak langsung mendekat. Ia mengamati. Cara Airi berdiri sedikit membungkuk. Cara matanya kehilangan fokus sesaat. Cara bahunya turun ketika hiruk-pikuk terlalu ramai.

Ia menunggu momen yang tepat.

“Airi.”

Suara itu lembut. Tidak mengejutkan. Tidak tiba-tiba.

Airi menoleh.

Sensei itu berdiri di sampingnya, jaraknya sopan, ekspresinya tenang. Tidak ada senyum yang berlebihan. Tidak ada nada yang memaksa.

“Kamu tampil bagus tadi,” katanya. “Lebih dewasa.”

Airi mengangguk kecil. “Terima kasih, Sensei.”

“Kamu kelihatan lelah,” lanjut Takahashi. “Festival memang melelahkan buat orang yang sensitif seperti kamu.”

Kalimat itu terasa… tepat. Terlalu tepat.

Airi menelan ludah. “Sedikit.”

Takahashi tertawa kecil. Bukan tawa keras, melainkan hembusan napas yang terdengar hangat. “Dari dulu kamu memang begitu. Perasa.”

Airi terdiam.

“Perasaanmu selalu jujur,” lanjutnya. “Itu bukan kelemahan. Sayangnya, orang-orang di sekitarmu sering tidak paham.”

Airi menatap gelas minumannya. Tangannya sedikit mengencang.

“Aku lihat teman-teman cowokmu,” kata Takahashi, nada suaranya tetap datar. “Mereka peduli. Tapi kadang kepedulian bisa berubah jadi tekanan. Mereka khawatir berlebihan. Itu bisa bikin kamu bingung.”

Airi mengangkat wajahnya perlahan.

“Kamu jadi ragu sama perasaanmu sendiri,” lanjutnya pelan. “Padahal yang kamu butuhkan hanya ketenangan.”

Ia berhenti sejenak.

“Aku selalu ingin melindungimu, Airi. Dulu, sekarang, tidak berubah.”

Dada Airi terasa berdenyut.

“Perasaanku ke kamu tidak pernah kotor,” kata Takahashi lembut. “Itu murni. Seperti guru yang ingin muridnya baik-baik saja.”

Ada bagian dari Airi yang ingin menolak. Tapi ada bagian lain yang lelah, yang ingin percaya bahwa mungkin… mungkin selama ini ia salah memahami.

“Aku nggak bermaksud bikin kamu takut,” lanjut Takahashi. “Kalau kamu merasa bimbang, itu karena kamu terlalu lama dikelilingi kekhawatiran orang lain.”

Ia menatap Airi, lurus, tanpa senyum.

“Aku bisa jadi tempat tenang itu.”

Airi tidak menjawab.

Namun ketika Takahashi melangkah pergi, meninggalkannya di tengah keramaian, kata-katanya tertinggal seperti gema yang sulit dibungkam.

Jam menunjukkan pukul empat sore.

Masih ada waktu sebelum penampilan penutupan, tapi Airi memilih menjauh dari keramaian. Ia duduk sendiri di studio kecil belakang kampus, tempat mereka biasa latihan tambahan. Lampu ruangan redup. Hanya ada suara kipas tua dan detak jam dinding.

Kata-kata Takahashi berputar di kepalanya.

Perasaanmu selalu jujur.

Aku ingin melindungimu.

Aku bisa jadi tempat tenang itu.

Mungkin… mungkin ia terlalu keras pada dirinya sendiri.

Mungkin traumanya tidak seburuk itu.

Mungkin semua ini hanya salah paham yang membesar.

Pintu studio terbuka pelan.

Yukito berdiri di ambang pintu. Ia melihat siluet Airi duduk sendiri, bahunya sedikit turun, rambutnya menutupi sebagian wajah.

“Airi?” panggilnya.

Airi menoleh. “Yukito…”

Ia masuk dan menutup pintu perlahan. Duduk di bangku seberang, menjaga jarak. Ia langsung tahu ada sesuatu yang tidak beres.

“Kamu kenapa?” tanyanya.

Airi ragu. Lalu berkata pelan, “Sensei tadi siang… ngobrol sama aku.”

Yukito menegang. “Apa yang dia bilang?”

Airi menceritakan semuanya. Tanpa menambah, tanpa mengurangi. Tentang kata-kata yang lembut. Tentang tawaran ketenangan. Tentang bagaimana hatinya terasa goyah.

Yukito terdiam.

Wajahnya biasanya tenang. Kali ini tidak.

“Airi,” katanya akhirnya, suaranya lebih serius dari biasanya. “Itu bisa aja manipulasi.”

Airi menggeleng. “Tapi… cara bicaranya nggak maksa.”

“Itu justru bahayanya,” balas Yukito cepat, lalu menarik napas, menenangkan dirinya. “Manipulasi yang halus itu nggak kelihatan kayak ancaman.”

Airi menunduk. “Aku cuma… capek takut.”

Yukito menatapnya lama. Lalu bertanya pelan, seolah ragu mengucapkannya.

“Airi… apakah kamu masih suka sama dia?”

Airi tidak menjawab.

Ia mengalihkan pandangan.

Dan itu sudah cukup.

Yukito terkejut. Dadanya terasa sesak. Tapi ia tidak mundur.

“Airi,” katanya, suaranya sedikit bergetar. “Lihat aku.”

Airi menoleh.

“Aku di sini,” lanjut Yukito. “Aku tahu posisiku nggak menguntungkan. Aku nggak seberani Ren. Aku nggak se-terang Haruto. Aku juga bukan figur yang kamu kagumi.”

Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan jujur yang hampir menyakitkan.

“Tapi aku selalu melihatmu.”

Airi terdiam.

“Maaf sebelumnya,” kata Yukito pelan. “Tapi aku menyukaimu. Dari awal kita ketemu di perpustakaan.”

Mata Airi membesar.

Jantungnya berdetak keras.

Di detik yang sama, pintu studio terbuka kasar.

“APA?!”

Suara itu datang bersamaan.

Ren dan Haruto berdiri di ambang pintu, wajah mereka sama-sama terkejut.

Yukito menoleh cepat. “Eh—”

Haruto melangkah maju. “Lo serius, yuki?”

Ren hanya menatap Airi, lalu Yukito, rahangnya mengeras.

Ruangan mendadak penuh.

Bukan oleh teriakan. Tapi oleh perasaan yang selama ini tidak diucapkan.

Airi duduk di tengah semuanya, napasnya pendek, pikirannya berantakan.

Halloween belum dimulai.

Tapi sesuatu sudah berubah.

Dan tidak ada yang bisa berpura-pura tidak mendengarnya lagi.

Ruangan itu terasa mengecil.

Bukan karena dindingnya bergerak, tapi karena udara di dalamnya menjadi terlalu padat untuk ditelan sekaligus.

Airi masih duduk di kursi, kedua tangannya tergenggam di depan dada, seolah ia sedang mencoba menahan sesuatu agar tidak jatuh berantakan. Detak jantungnya tidak teratur. Terlalu cepat, lalu tiba-tiba melambat, lalu kembali berlari tanpa aba-aba. Ia tidak yakin apa yang membuatnya paling panik.

1
Esti 523
suemangad nulis ka
mentari anggita
iihh hati aku ikut panas dan sesak. Amarah Ren kerasa nyata, tapi lebih sakit lagi waktu dia harus berhenti demi Airi dan orang tuanya. 😭
Huang Haing
Semangat kak, penulisan nya bagus banget! 👍💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!