"Jangan pernah melawan dunia, Nak. Semesta ini terlalu besar untukmu yang kecil. Begitu pun nanti jika kau dewasa. Semesta dan isinya terlalu besar untuk kamu lawan. Lebih baik menghindar dan mengalah demi keselamatanmu." Pesan mendiang Kakek selalu terngiang, bahkan telah tertanam dalam benak Naina.
Meski ia sempat mencintai orang yang salah, yang selalu memenjarakannya di sangkar emas, mengekang hidupnya dengan cinta yang dipaksakan, Naina tak dapat melawan penguasa tersebut. Naina terlalu lemah di hadapan Ryan, suaminya. Dapatkah cinta mereka bersatu kembali setelah beberapa kali badai besar menerjang bahtera mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yun Alghff, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Kebetulan hari ini minggu, harusnya Ryan tak berangkat ke kantor. Naina bangun sedikit terlambat di bandingkan hari-hari biasanya. Naina berjalan dan mulai membersihkan tempat tinggalnya.
Naina memungut sampah sisa semalam, dan mencuci piring. Setelah beberapa puluh menit berakhir. Naina merasa penasaran apakah Ryan sudah bangun atau belum.
Naina mengintip dari celah pintu yang tak tertutup rapat. Siapa sangka pemilik kamar itu tak ada di tempat. Di ranjang terbaring gadis kecil yang manis. Naina masuk lebih dalam lagi, dan memeriksa suara di sekitar kamar mandi. Ternyata memang tak ada Ryan di sana.
Naina menghela nafas. Pagi-pagi ini Ryan kemana, ya? Apakah Ryan pergi untuk bertemu wanita pujaan hatinya? Hati Naina kembali tak tenang. Naina berjalan keluar dan menutup pintu kamar itu tidak rapat seperti semula.
Tiba-tiba suara pintu apartment berbunyi, Naina berlari menghampiri sumber suara. Ternyata Ryan. Wajahnya di penuhi keringat. Setelan kaus dan celana pendek serta sepatu sport, Naina yakin kalau Ryan habis lari pagi.
"Apa anda tadi berolahraga?" Tanya Naina basa-basi.
"Apa setelan seperti ini terlihat sedang pergi mengantor?" Ryan menjawab dengan berbalik tanya.
Ryan berlalu meninggalkan Naina setelah ia membuka sepatunya. Naina yang melihat sepatu itu berserakan kembali merapikan pada tempatnya.
"Aku haus, buatkan aku kopi." Titah Ryan yang berlalu pergi menuju balkon.
"Kopi hitam atau ㅡ"
"Kopi hitam." Ryan langsung menjawab sebelum Naina menyelesaikan ucapannya.
"Baik."
Sementara Naina menyiapkan kopi untuk suaminya, Ryan tengah asik bertukar pesan dengan kekasihnya.
Ryan benar-benar hanya memanfaatkan Naina layaknya pembantu. Toh, Maeta mengundur kepulangannya. Hal tersebut dapat di gunakan untuk Ryan bersenang-senang sesaat bersama Naina.
Ryan juga sedang memikirkan nasib Nayla. Ryan tak ingin berpisah dengan putrinya. Namun apakah nanti Maeta dapat menerima Nayla seperti anaknya sendiri.
"Ini kopinya, Pak." Naina meletakan kopi itu di meja bundar.
Ryan tak acuh, ia hanya menatap Naina sesaat dan tak berkata apapun.
"Ada lagi yang bisa saya bantu, Pak?"
Masih tak ada jawaban dari Ryan, Naina tak ingin membuat masalah yang pada akhirnya membuat dirinya di buang dan di pisahkan dengan Nayla.
"Kalau begitu aku kebelakang dulu. Jika butuh apa-apa, teriak saja."
Saat Naina melangkah meninggalkan Ryan, tiba-tiba Ryan bersuara, "tunggu."
Mata mereka saling beradu pandang. Tatapan Ryan tajam namun hatinya berdebar. Ryan tak bisa memungkiri bahwa ia selalu lemah bila menatap wajah Naina secara dekat.
"Ah,, kakiku pegal. Tolong pijitin." Ucap Ryan sedikit kaku.
"Baik, Pak."
Naina berjongkok dan mulai memijat pergelangan kaki kanan Ryan. Di balik ponselnya, Ryan diam-diam mengamati Naina yang selalu berusaha menjadi istri yang baik. Tanpa mengeluh, tanpa berdebat.
Hati Ryan memang labil, layaknya angin yang terbawa kesana kemari tak tentu arah. Terkadang Ryan tak ingin melepaskan Naina, namun lain sisi, Ryan tak ingin berpisah dengan Maeta.
Antara serakah dan bajingan terkesan sama saja. Jika di pikir-pikir, pesona Naina tak kalah cantiknya dengan Maeta. Hanya saja Maeta berpendidikan dan dari keluarga terpandang. Sedangkan Naina terkesan seperti budak cinta yang bodoh dan tak punya harga diri.
"Auuu... Pelan-pelan." Bentak Ryan membuat Naina tersentak.
"Maaf, Pak."
"Sudahlah," Ryan berdiri dan berlalu meninggalkan Naina.
"Sabar Naina, semua akan indah pada waktunya. Setiap perjalanan membutuhkan proses." Gumam Naina menyemangati dirinya sendiri.
Minggu itu Ryan habiskan waktu dengan bermain bersama putri semata wayangnya. Begitupun Nayla yang seolah terdoktrin oleh Ryan agar tak memperdulikan Ibunya.
Tawa Nayla dan Ryan menggema di kamar utama. Membuat sudut hati Naina sakit karena tak pernah di anggap oleh anaknya. Naina bisa menahan rasa sakit di perlakukan buruk oleh Ryan. Tapi rasa cemburu karena perlakuan Nayla membuat hati Naina sakit.
Anak kecil yang sejatinya masih bisa membedakan mana yang baik dan buruk, malah mementingkan egonya bersama Ayahnya. Naina sedikit memaklumi jika Ryan bekerja, saat pulang Nayla ingin bersama Ayahnya.
Namun ini Minggu. Waktunya untuk menghabiskan waktu bersama. Kenyataannya Naina layaknya pembantu yang hanya bertugas membersihkan apartemen milik Ryan.
"Tak apa-apa, sabar sebentar lagi." Kembali Naina mengucapkan mantra yang membuatnya mengalah.
"Selama ini aku tak mengetahui keluarga mu. Apakah aku harus mencarinya sendiri, dan meminta bantuan keluarga mu?" Otak Naina mulai berpikir hal aneh.
Setidaknya seorang keluarga akan memberikan nasihat pada anaknya untuk tak berbuat kurang ajar pada orang lain. Tapi harus memulai dari mana, Naina harus mencari informasi tentang Ryan dimana? Sedangkan ia tak memiliki ponsel untuk mencari informasi apapun.
Mungkin di suatu tempat, di apartemen ini terdapat petunjuk tentang keluarga Ryan. Begitulah pikiran Naina.
Malam pun berlalu, tiba-tiba pintu kamar Naina di ketuk. Tak biasanya ada yang mengetuk pintu kamarnya. Apakah itu Ryan atau Nayla?
"Iya tunggu sebentar." Naina merapihkan dasternya yang sedikit menerawang.
Saat pintu kamar terbuka, ternyata Ryan yang berdiri di tengah pintu. Mata Ryan tertuju pada suatu hal. Buru-buru Naina menutup area sensitifnya.
"Aㅡada perlu apa, Pak?"
"Aku lapar. Buatkan aku sesuatu." Ryan berjalan menuju sofa dan menyalakan tv.
Naina tak banyak bicara, ia pun berjalan menuju dapur. Jarak dapur dan ruang keluarga tak jauh, hanya terhalang meja bar kecil.
"Apa Nay, sudah tidur?" Tanya Naina ingin mengakrabkan diri.
"Ehmmm...."
"Aku belum berbelanja, jadi hanya tersisa mie instan dan beberapa sayuran. Apa Pak Ryan mau makan di luar?"
Ryan menatap Naina kesal, "masak saja seadanya. Kamu mau belanja hari ini, berangkatlah sana."
"Maaf, Pak. Tunggu sebentar."
Hati Naina sakit, tak terasa air matanya menetes. Ia hanya ingin memperbaiki hubungannya dengan suaminya. Benar-benar separah itu hubungan yang di ikuti pihak ketiga.
Naina ingin sekali mengutuk dan melabrak wanita yang menjadi perusak dalam rumah tangganya. Ia hanya ingin mempertahankan bahtera yang dia jaga. Naina tak ingin harta apapun. Naina hanya ingin memiliki teman hidup. Yang mendampinginya disaat senang dan sedih. Tak lebih dari itu.
"Ini Pak." Naina menyerahkan mie instan yang lengkap dengan sayuran dan telur.
Tak ada ucapan terimakasih. Ryan langsung menikmati mie instan itu dengan santai. Naina hanya terdiam duduk menunggu suaminya selesai makan.
"Minum!" Titah Ryan.
"Baik."
Naina pergi membawakan segelas air untuk Ryan. Hampir satu jam Naina menunggu Ryan menyelesaikan makannya. Begitu selesai Naina membawa piring dan gelas kotor itu untuk langsung di cuci.
Kepalang telah bangun, dan tak bisa tidur lagi. Naina membereskan pekerjaan agar nanti pagi tak begitu banyak pekerjaan yang harus ia kerjakan.
Naina mulai mencuci baju, dan menyambung dengan mencuci piring. Ryan yang memperhatikan Naina itu tak bisa berkata apa-apa. Matanya tertuju pada suatu hal yang mengusik pandangannya.
Lelaki normal pasti akan bereaksi melihat gadis cantik yang sengaja menggodanya. Belahan dada yang sengaja terlihat, serta pakaian dalam yang menerawang membuat pikiran Ryan berkeliaran kemana-mana.
Ryan berjalan menuju dapur, dan mulai mendekati Naina. Bak singa yang lapar, Ryan terus menatap sesuatu yang membuatnya tergoda.
"Ada yang bisa saya bantu, Pak?" Naina bertanya dengan fokus pada pekerjaannya.
Ryan tiba-tiba memeluk Naina dari belakang, dan menghirup aroma dari leher Naina.
Tentu saja hal tersebut membuat Naina tersentak. Ia bingung harus bagaimana. Apakah ia harus menolak atau pasrah pada permainan suaminya?
Naina tahu, satu-satunya cara untuk menarik perhatian Ryan hanya dengan sentuhan kulit. Tapi apakah ini bukan merendahkan dirinya sendiri?
"Aah..." Desahan pertama lolos dari mulut Naina membuat Ryan semakin bersemangat.
Malam itu Naina biarkan dirinya di jamah oleh suaminya. Semoga hal tersebut dapat menghancurkan ego Ryan, dan suaminya dapat meninggalkan selingkuhannya.
Malam itu menjadi malam panjang bagi Naina untuk bermain liar bersama suaminya.