Spion Off "Tuan Muda Amnesia"
Di hari yang seharusnya menjadi momen terindah, kabar buruk menyergap kediaman Alexander. Calon mempelai putra sulung mereka menghilang, tanpa jejak, tanpa pesan.
Namun, upacara tetap disiapkan, tamu tetap berdatangan, akan tetapi kursi di samping Liam Alexander kosong. Liam bersikeras menunggu, meski semua orang mendesaknya untuk menerima kenyataan.
Semakin lama Liam bertahan, semakin jelas bahwa ada sesuatu yang tak beres, dan hilangnya calon istrinya bukanlah kejadian kebetulan
Follow instagram @Tantye untuk informasi seputar novel
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Susanti 31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sama-sama terluka
Tetasan demi tetasan terus berjatuhan mengalir melalui selang kecil putih sampai akhirnya memasuki tubuh melalui sebuah jarum. Pemilik tubuh tidak kunjung bangun meski beberapa jam sudah berlalu usai kecelakaan tidak sengaja menimpa dirinya.
Kelopak mata itu perlahan terbuka saat merasakan seseorang menyentuh keningnya sangat lembut. Sudut bibirnya tertarik membentuk senyuman kecil kala benda kenyal mendarat di sana cukup lama.
"Maaf sudah membuat mas menderita," suara itu sangat lirih dan hampir tidak terdengar.
Liam menggeleng dan menitikkan air matanya. "Bukan kamu yang salah tapi mas. Mas nggak peka tentang kerasahan hatimu."
Dengan cepat tangan Liam bergerak ketika wanita itu hendak menjauhinya. "Jangan pergi Arumi, mas mohon. Sejak kepergianmu, ragaku terus bertahan tapi jiwaku seolah ikut bersamamu. Aku melanjutkan hidup karena tuntutan bukan keinginan."
Tatapan Liam semakin sendu dan setetas air mata mengalir mengenai daun telinganya. Saat memejamkan mata genggaman tangan lemahnya terlepas dan tidak lagi menemukan wanita yang sangat dia rindukan.
"Arumi!" teriak Liam, membuat wanita paruh baya yang tidur di sofa terbangun.
Wanita paruh baya itu menghampiri Liam dengan gurat kekhawatiran. "Mas mimpi buruk?" tanya Liora. "Ada yang sakit mas? Mau minum atau ...."
"Jadi mas cuma mimpi?" Nada itu terdengar kecewa.
"Iya, mungkin efek terlalu lama tidur." Mama Liora mengangguk. "Syukurlah mas baik-baik saja meski tangannya retak ringan," lirihnya.
Lantas Liam melirik tangan kirinya yang ternyata di gips.
Ingatannya pun tertuju pada malam di mana ia berniat membunuh Seaven. Namun, belum sempat ia memastikan pria itu mati atau hidup ia mendapatkan pukulan keras di pundaknya hingga terjatuh berbarengan sebuah balok terjatuh dari ketinggian dan mengenai pergelangan tangannya.
"Mas?" Mama Liora menepuk pundak Liam Pelan.
"Seaven sudah mati?"
"Mas!" bentak mama Liora tanpa sadar. "Cukup, mama nggak mau dengar apapun lagi. Mau itu Seaven atau balas dendam."
"Mama selama ini membiarkan mas melakukan semua hal karena mengira mungkin bisa menjadi obat kehilangan tapi mas malah semakin jauh!" Mata mama Liora berembun.
"Andai saja asisten kamu datang terlambat mungkin ... mungkin ...." Liora tidak kuasa menahan air matanya. Dia tidak bisa membayangkan hidupnya akan seperti apa jika saja Liam terluka parah.
"Sampai di sini saja ya Mas? Sekarang terima semuanya dengan lapang dada dan hidup seperti biasa. Tanpa dendam dan rasa bersalah," bujuk Liora mengecup punggung tangan putranya yang terluka.
Sampai saat ini belum ada yang tahu apa alasan sebenarnya Seaven membunuh Arumi. Semua orang hanya mengira Seaven melenyapkan Arumi karena mencintainya bukan hal lain.
"Maaf," lirih Liam yang membuang buka ke arah lain, tidak kuasa melihat air mata mamanya yang terus berjatuhan. "Tapi mas nggak bisa hidup normal lagi Ma. Ada banyak hal yang membuat mas terluka."
"Mama mengerti, tapi jangan terlalu jauh. Setelah pulang mama mau mas tinggal di rumah bersama papa dan adik-adik mas."
Meski ragu, Liam menganggukkan kepalanya.
....
Digedung yang sama tetapi di ruangan berbeda, suara tangisan terdengar silih berganti karena tidak kuasa melihat tubuh pewaris mereka kini tidak lagi sama seperti dulu. Luka bakar ada di mana-mana dan itu terlihat menyakitkan.
Bahkan dokter menyarankan untuk melakukan pencangkokan kulit jika luka bakar tidak kunjung mengering dalam waktu yang telah ditentukan.
"Mama nggak mau tahu pelakunya harus dihukum seberat mungkin. Bahkan penjara seumur hidup nggak akan bisa menebus rasa sakit mama!" ujar wanita paruh baya yang tidak henti-hentinya menangis.
"Siapapun itu!" lanjutnya penuh tekanan.
Hati ibu mana yang tidak sakit melihat penderitaan putranya. Terlebih Seaven sempat siuman dan mengeluhkan sakit yang teramat dalam.
"Hari itu mas Seaven pamit padaku untuk bertemu mas Liam," ujar istri Seaven.
"Papa akan menyuruh orang untuk menyelidikinya," ujar pria paruh baya itu dengan tangan mengepal.
...
Kembali pada ruangan Liam yang ini dihadiri oleh beberapa kerabat dekat silih berganti sampai tiba saatnya Sevia dan asistennya sendiri yang datang.
Bukannya mempertanyakan keadaan, sang asisten malah berlutut di sisi brangkar di mana Liam setengah duduk.
"Maafkan saya Tuan, saya tidak punya pilihan selain memukul pundak anda dengan balok. Karena saya tahu Tuan tidak akan mendengarkan jika dibicarakan baik-baik," ujar sang asisten tanpa berani menatap wajah atasannya.
Ia sudah melakukan hal yang sama di hadapan Tuan dan nyonya besar Alexander sebab mengira retak pergelangan tangan Liam adalah ulahnya. Andai malam itu dia tidak memukul dan membuat tuannya terjatuh, mungkin tidak akan separah ini.
Yang dia tahu atasannya merencanakan pembunuhan pada Seaven, tetapi ia tidak menyangka bahwa Liam akan menyerah juga pada hidupnya. Beruntung seseorang yang mengantarkan bensin dan mengikuti Liam, menghubungi dan mengatakan tuannya tidak kunjung keluar rumah padahal sudah menyalakan api.
"Bu Arumi tidak menginginkan hal seperti ini Tuan, apalagi membalas kematiannya dengan melukai diri sendiri. Bu Arumi hanya ingin tuan tahu bahwa ...."
Sevia berhenti ketika merasa dirinya sudah terlalu jauh berbicara di hadapan Liam. Terlebih menyadari tatapan tajam pria itu menghunus padanya juga sang kekasih yang sedang berlutut.
"Keluarlah, saya ingin sendiri," ucap Liam dari banyaknya penjelasan yang dua manusia itu lontarkan.
Liam melempar tatapannya pada jendela untuk melihat cuaca yang begitu cerah. Setelah ini dia tidak tahu apa tujuan hidupnya lagi. Dulu, dia semangat menempuh pendidikan karena dijanjikan restu oleh ayahnya. Dan beberapa hari lalu dia hidup demi membalas dendam kematian kekasihnya. Lalu sekarang? Liam hidup untuk apa?
"Kakak sudah makan? Aku bawa sesuatu untuk kakak!" seru seorang gadis dengan senyuman di wajahnya.
Liam menoleh dan melirik makanan jadi yang Leona tenteng, tidak lama sudut bibirnya tertarik ke atas membentuk sebuah senyuman. Sekarang dia menemukan tujuan hidupnya. Terlalu larut dengan kehilangan dia sampai melupakan adik perempuannya yang selama ini berusaha mengambil perhatiannya.
Mama Liora memiliki papa Cakra, Leon bisa menjaga dirinya sendiri. Lalu Leona?
"Malah senyum padahal aku tanya sudah makan atau belum," gerutu Leona sembari duduk di sofa.
Melihat hal itu, Liam hendak turun dari ranjang tetapi selang infus malah menghalanginya bergerak terlalu jauh.
"Bantu mas dorong tiangnya," ujar Liam.
"Akhirnya kakak butuh bantuan aku," celetuk Leona, menghampiri kakaknya agar bisa duduk bersama di sofa.
Tepat saat Liam duduk, ponsel Leona berdering dari nomor baru dengan profil tidak asing baginya.
"Siapa?" tanya Liam ketika Leona dengan sigap mengambil ponsel.
"Teman aku." Menjauh untuk menjawab panggilan. Tidak lama Leona kembali lagi dengan senyuman yang sama.
"Jangan terlalu akrab dengan siapapun, baik perempuan sekalipun di jaman sekarang. Kita nggak boleh terlalu percaya dengan seseorang," ujar Liam menatap adiknya.
....
jijik