Dr. Doni, seorang dokter bedah modern dari tahun 2020-an, terbangun dalam tubuh anak yatim piatu berusia 15 tahun bernama Doni Wira di masa kolonial Belanda tahun 1908. Dengan pengetahuan medis 100+ tahun lebih maju, ia berjuang menyelamatkan nyawa di tengah keterbatasan absolut, tanpa alat modern, tanpa obat, tanpa sistem kesehatan sambil menghadapi konflik berlapis: takhayul lokal, kekuasaan kolonial, dan keterbatasan moral sebagai manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mardonii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21. HUTANG DARAH YANG TAK TERBAYAR
..."Ada hutang yang tidak bisa dibayar dengan emas, hanya dengan kesetiaan seumur hidup."...
...---•---...
Nyonya Kasim langsung berlari, kakinya tersandung kursi tapi ia tidak peduli. Ia berlutut di samping ranjang, tangannya gemetar saat menyentuh wajah anaknya.
"Arif! Anakku! Kau sadar!"
Air matanya jatuh, membasahi pipi, tapi kali ini bukan air mata ketakutan. Ini lega. Syukur. Kebahagiaan yang hampir menyakitkan.
Arif menatap ibunya dengan mata yang masih sayu, masih bingung, tapi sadar. Bibirnya bergerak, mencoba bicara tapi suaranya terlalu lemah.
"Ibu... haus..."
Kata-kata sederhana itu membuat Nyonya Kasim menangis lebih keras. Ia peluk kepala anaknya dengan lembut, takut-takut, seolah anak itu akan pecah jika dipeluk terlalu erat.
Doni berdiri perlahan, kakinya hampir mati rasa setelah duduk berjam-jam. Ia pegang bahu Nyonya Kasim dengan lembut.
"Ia butuh istirahat," katanya dengan suara serak karena jarang digunakan seharian. "Dan terus minum ramuan. Tiga kali sehari selama seminggu penuh. Pagi setelah bangun, siang setelah makan, malam sebelum tidur. Jangan lewatkan satu kali pun."
Nyonya Kasim mengangguk, matanya fokus, tidak ingin melewatkan satu kata pun.
"Makanan harus lembut dan mudah dicerna. Bubur dengan kaldu ayam. Telur rebus. Sayur yang direbus lama sampai empuk. Tidak ada yang keras atau pedas."
Anggukan lagi, lebih mantap.
"Tidak boleh terkena hujan. Tidak boleh kelelahan. Jika demam naik lagi, kompres segera dan panggil aku."
"Aku mengerti." Suaranya pelan tapi mantap. "Terima kasih. Terima kasih..."
Kata-kata itu terus diulang, seperti doa.
Tuan Kasim melangkah maju. Ia berdiri di depan Doni, tubuhnya tegak tapi tangannya gemetar. Untuk beberapa saat, ia hanya menatap, tidak bersuara. Mencoba menemukan kata-kata yang tepat untuk sesuatu yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Lalu, dengan gerakan tiba-tiba, ia berlutut.
Seorang pedagang kaya, yang biasa dilayani dan dihormati, berlutut di hadapan pemuda kampung. Lututnya menyentuh lantai kayu dengan bunyi tumpul.
"Dari hari ini, nyawaku dan nyawa keluargaku ada di tanganmu."
Matanya menatap langsung ke mata Doni, tidak berkedip. Sorot matanya intens, penuh dengan sesuatu yang lebih berat dari hutang biasa.
"Apa pun yang kau butuhkan, aku akan berikan. Kau meminta bulan, aku akan cari cara meraihnya untukmu."
Doni merasa tidak nyaman dengan sikap itu. Ia tidak menyelamatkan Arif untuk mendapat kekuasaan atau pengaruh. Tapi ia paham, di dunia ini, hutang nyawa bukan sekadar ucapan. Ini ikatan serius, yang bisa bertahan seumur hidup dan diwariskan turun-temurun.
"Bangun, Tuan Kasim," katanya pelan tapi tegas. "Aku tidak menyelamatkan anakmu agar kau berhutang padaku. Aku melakukannya karena ia membutuhkan bantuan. Hanya itu."
Tapi Tuan Kasim tidak bergerak. Kepalanya tertunduk, pundaknya naik turun.
"Kau orang baik, Doni. Terlalu baik untuk dunia yang keras ini." Ia angkat kepala, menatap dengan pandangan yang berat. "Tapi percayalah, dunia tidak akan membiarkanmu terus berbuat baik tanpa perlindungan. Aku tahu itu. Aku sudah lama hidup di dunia pedagang, di mana orang saling makan demi keuntungan. Kau butuh seseorang yang bisa melindungimu dari orang-orang seperti itu."
Kata-kata itu mengendap di pikiran Doni seperti batu yang jatuh ke dasar sumur.
Tuan Kasim tidak salah. Kebaikan saja tidak cukup di dunia yang penuh dengan kepentingan bersilangan.
"Aku terima niat baikmu," kata Doni akhirnya, suaranya lebih lembut. "Tapi untuk sekarang, yang aku butuhkan hanya kau jaga anakmu baik-baik. Beri dia makanan bergizi. Jangan biarkan ia kelelahan. Itu sudah lebih dari cukup."
Tuan Kasim akhirnya berdiri. Ia usap matanya yang berair dengan punggung tangan, lalu mengangguk mantap. "Baik. Tapi ingat perkataanku tadi. Apa pun yang kau butuhkan suatu hari nanti, datang padaku."
Doni hanya tersenyum lelah. Senyum tipis yang lebih merupakan respons sopan daripada persetujuan.
...---•---...
Pagi hari tiba dengan cahaya lembut yang merembes lewat celah jendela.
Burung-burung mulai berkicau. Ayam berkokok di kejauhan. Dunia bangun dari tidurnya, tidak tahu bahwa semalam seseorang baru saja merebut nyawa dari tangan kematian.
Arif sudah bisa minum ramuan sendiri tanpa disuapi. Tangannya masih gemetar saat memegang mangkuk, tapi ia bisa. Wajahnya masih pucat, mata cekung, tapi matanya sudah jernih. Ada cahaya di sana, cahaya yang semalam hampir padam sepenuhnya.
Ia bahkan sempat tersenyum lemah saat ibunya membelai rambutnya, jari-jarinya menyisir dengan lembut seperti takut anaknya akan pecah.
Doni berdiri, melempar tas ke bahu. Karyo sudah menunggu di pintu, mata masih setengah terpejam tapi tubuhnya siap bergerak.
Ketika Doni dan Karyo akan naik gerobak pulang, Tuan Kasim datang membawa kantong kain berat. Kain itu berkualitas bagus, warnanya merah tua dengan benang emas di tepinya.
"Ini bayarannya," katanya, menaruh kantong itu di tangan Doni. "Tidak usah ditolak. Ini bukan soal uang. Ini soal menghargai nyawa anakku."
Doni membuka kantong itu. Di dalamnya ada uang perak dan tembaga, ditumpuk rapi. Jumlahnya jauh lebih banyak daripada yang pernah ia terima. Cukup untuk hidup setahun tanpa bekerja, mungkin lebih.
Tapi yang membuat matanya berbinar bukan uang itu.
Di bagian bawah, terbungkus kain putih bersih, ada sesuatu yang lain.
Sebungkus kulit pohon kering berwarna coklat kemerahan. Aromanya khas, sedikit pahit dengan sentuhan tanah basah.
"Kulit kina," kata Tuan Kasim sebelum Doni bertanya. "Aku suruh orangku cari ke kota pelabuhan sejak kemarin sore. Tadi pagi baru sampai. Terlambat untuk Arif, tapi mungkin berguna untuk pasien lain."
Doni menatap kulit kina itu seperti menatap harta karun. Ini lebih berharga daripada emas di dunia ini. Dengan ini, ia bisa menyelamatkan lebih banyak pasien malaria. Ia bisa membuat persediaan obat yang tidak bisa dibeli dengan uang di kampung mana pun.
Kina. Akhirnya.
"Terima kasih," katanya, suaranya tulus dan dalam. "Terima kasih banyak."
Tuan Kasim menepuk bahu Doni, tangannya berat dan hangat. "Kita berhutang nyawa padamu. Jangan lupakan itu."
...---•---...
Gerobak bergerak meninggalkan rumah Tuan Kasim, roda-rodanya berderit pelan di jalan tanah. Karyo duduk di samping Doni, menatap kantong uang dengan mata lebar seperti piring.
"Kau kaya sekarang," katanya setengah bercanda, senyum kecil di sudut bibirnya.
Doni menggeleng sambil menatap langit yang mulai cerah. "Uang ini bukan untuk aku. Ini untuk klinik. Untuk obat-obatan. Untuk orang yang tidak punya apa-apa."
Karyo tersenyum lebih lebar. "Aku tahu kau akan bilang begitu."
Mereka kembali ke kampung saat matahari sudah naik cukup tinggi, cahayanya hangat tapi belum menyengat. Embun di rerumputan mulai menguap, menciptakan kabut tipis di permukaan tanah.
Warga yang melihat menyapa dengan hormat. Beberapa membungkuk. Beberapa tersenyum lebar. Berita penyelamatan anak Tuan Kasim sudah tersebar seperti api di musim kemarau.
"Doni si Tabib Ajaib berhasil lagi!"
"Bahkan penyakit yang biasa membunuh bisa ia kalahkan!"
"Dewa penyembuh turun ke kampung kita!"
Tapi Doni tidak merasa seperti pahlawan. Tidak merasa seperti dewa atau keajaiban.
Mereka berdua tahu apa artinya hari ini.
Ini bukan hanya tentang menyelamatkan satu anak.
Ini tentang membangun sesuatu yang lebih besar. Sesuatu yang akan bertahan lebih lama dari mereka berdua.
Dan itu baru saja dimulai.
...---•---...
...BERSAMBUNG...
jadi sebenarnya tokoh yang pindah raga itu harusnya sudah meninggal ya?
lalu kemana jiwa atau roh dari si pemilik tubuh yang dia masuki karena kayanya hampir ga dijelasin di setiap cerita tema kaya gini kaya suatu misteri 🤔
kalau roh pemilik asli balik gimana sama nasib tokoh utama
anyway tulisannya rapih kak, dan sedikit masuk akal buatku waktu dia dapat kenangan dari si pemilik tubuh asli 👍