- Berawal dari benci -
Akhh!
"Lo, kalau jalan pakai mata! "
"Maaf, kak "
"Ck, cewek gendut kaya lo mending pergi deh dari sini! "
" Baik ka! "
"Gendut amat sih! "
- berakhir di pelaminan -
"Apa nikah sama dia?, what! "
" Dewa bangun! "
" Akh, mama dewa ngga bisa nikah sama dia! "
" Harus bisa! "
- love 100 kg -
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bidadari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 18 Rasa cinta
"Lo kenapa ngga, balik tadi? " Tanya irsyad bunga menghela napas mendengarnya. " Gue emang ngga mau balik!. Sengaja gue di halte, eh tau-taunya ketemu lo! "Ungkap bunga
Membuat, irsyad menatap menyalang ke arah gadis tersebut kedua maniknya berusaha mencerna setiap perkataan. Bunga " Terus, sekarang lo ngga mau pulang? "Tanya irsyad membuat bunga menghela napas. " Terserah, bang irsyad bawa aku. Kemana aja! Ke rumah abang juga ngga apa-apa! " Sahut bunga membuat Irsyad tersenyum jahil. "Kalau ke KUA? " Goda irsyad membuat bunga.terkekeh geli,
"Memangnya, abang irsyad mau nikah muda?. Aku masih 16 tahun loh abang 18 usia kita hanya berpaut. 3 tahun sangat aneh! " Ucap bunga sembari terkekeh geli, namun tidak dengan irsyad ia memandang bunga yang sedang tertawa. Ia sangat suka tawa gadis tersebut, membuat dirinya seperti terbang ke langit ketujuh. Jantungnya berdetak tidak karuan darahnya berdesir telapak tangannya, menjadi dingin seketika.
"Lalu, kamu mau nikah saat usia mu berapa tahun? " Tanya irsyad tetiba, menghentikan tawa gadis tersebut. Bunga menatap irsyad kedua manik mereka, bertemu membuat irsyad mengerjap cepat pelupuk matanya. Bunga meremas jemarinya. Matanya berbalut luka,
Hatinya tersayat, bila harus mengatakan pernikahan. Bayang-bayang pernikahan kedua orangtuanya menjadi, sumber ketakutan nya. Ia sangat takut bila kelak ia akan, seperti kedua orangtua nya yang tiada henti. Bertengkar hanya karena satu yaitu dirinya, soal masalah hak asuh. Papa nya ingin dirinya bersama nya sedangkan mamanya pun, bahu bunga menjuntai kebawah.
Bayangan, itu selalu saja menghantuinya ia sangat takut untuk menaruh perasaan ke laki-laki. Dan takut rasanya mengikat hatinya pada seorang pria, bunga sangat trauma dengan lelaki yang seperti mengungkapkan perasaan nya. Menurut nya kata-kata lelaki itu bagaikan gula yang manis. Namun menyakitkan!
"Dek! " Suara lembut itu, bagaikan angin di pendengaran bunga. Ia menggeleng kan kepala nya, ia menarik napas untuk menguatkan dirinya. " Abang, nanti mau lanjut dimana? Bulan ini. Abang lulus? "Tanya bunga dengan senyuman tersungging di wajah cantiknya. Irsyad hanya terdiam terhanyak dengan perkataan bunga, ia mengulas senyuman hangat, " Sama kaya dewa, Di UPH! "
Bunga mangut-mangut dan tersenyum, "oh.. Kalian disana bagus deh!, semoga aku bisa masuk disana juga nantinya. " Ujar bunga penuh harap. Samar-samar irsyad menghela napas panjang, ia menatap begitu lama wajah cantik tersebut. "Makanya, kamu belajar yang serius!. Biar nanti kamu bisa masuk di Universitas sama aku dan teman-teman lainnya!, " Cetus irsyad membuat bunga tersenyum. Mendengar nya entah kenapa pembawaan lelaki tersebut selalu membuatnya tenang,
Mobil terhenti tepat, membuat aura segera menoleh ke arah jendela mobil. Ia berkerut dahi melihat ke luar jendela, lalu aura segera menoleh ke dewa yang sedang membuka seat belt milik nya. "Kenapa, lo liat-liat? " Tanya dewa dengan suara ketus,
Membuat aura, berkerut dahi menatap dewa. Yang menatapnya dengan tatapan dingin, "kenapa kita, kesini? Lo tau kan ka. Gue mau pulang!, nanti mama nyariin! " Ujar aura dengan suara penuh tuntutan. Dewa menyunggingkan smirk mematikannya, kedua matanya mengunci setiap pergerakan sang wanita. 𝗚𝗹𝗲𝗸! Mungkin aura akan, mati muda karena melihat, Lelaki yang di samping ternyata cukup menggoda iman sekali.
Lelaki itu sepertinya mampu, membuat dirinya kejang-kejang. Tidak ayal semua siswi di sekolahnya akan kayang ketika melihat cowok tampannya, namun dimatanya, kaka kelasnya hanya sosok yang menyebalkan namun entah kenapa dewa berubah wujud layaknya dewa yang selalu. Ia lihat di Televisi
" Ini, mobil gue!. Gue juga yang nyetir jadi urusan gue antar lo pulang atau ngga!, itu urusan gue! " Cetus dewa menghilangkan keheningan di kabin. Mobil tersebut aura mendelik mendengarnya, "ka, lo sadar ngga sih kalau lo. Yang bilang mau antar gue pulang tapi sekarang? " Sahut Aura tidak tinggal diam membuat dewa terkekeh, " Diam!, dan turun! Karena gue paling benci cewek cerewet! " Dewa turun dari mobil membuat aura menghela napas panjang, ia pun turun dari mobil itu juga.