Aisya harus menelan pil pahit, dua tahun pernikahan, ia belum dikaruniai keturunan. Hal ini membuat mertuanya murka dan memaksa suaminya menjatuhkan talak.
Dianggap mandul dan tak berguna, Aisya dicampakkan tanpa belas kasihan, meninggalkan luka yang menganga di hatinya.
Saat sedang mencoba menyembuhkan diri dari pengkhianatan, Aisya dipertemukan dengan Kaisar.
Penampilan Kaisar jauh dari kata rapi, rambut gondrong, jaket kulit lusuh, dan tatapan liar. Mirip preman jalanan yang tampak awur-awuran.
Sejak pandangan pertama, Kaisar jatuh cinta pada Aisya. Ia terpesona dan bertekad ingin menjadikan Aisya miliknya, memberikan semua yang gagal diberikan mantan suaminya.
Tapi, mampukah Kaisar meluluhkan hati Aisya yang sudah terlanjur hancur dan tertutup rapat? Atau apakah status dan cintanya yang tulus akan ditolak mentah-mentah oleh trauma masa lalu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Kaisar duduk di sofa, berhadapan dengan Aisya yang masih tampak terguncang.
Sementara itu Dhani datang terburu-buru sambil membawa kotak obat. Dhani, yang merasa bertanggung jawab karena dialah yang mengatur posisi pelayan tambahan, segera berlutut di depan Aisya.
Dhani meraih tangan Aisya yang terluka akibat pecahan gelas tadi.
"Mari, Nona Aisya, biar saya bersihkan lukanya. Takutnya ada sisa kaca yang—"
Belum sempat jemari Dhani menyentuh kain kasa, sebuah tatapan tajam yang sedingin es menusuk tepat ke arah matanya.
Kaisar menatap Dhani dengan rahang mengeras, tangannya sudah terulur lebih dulu untuk mengambil alih kotak obat tersebut.
Dhani tersentak. Ia segera beringsut mundur, mengangkat kedua tangannya sebagai tanda menyerah.
"Baik, Bos. Silakan... saya akan menunggu di luar," katanya dengan gugup.
Sambil melangkah keluar, Dhani menggerutu dalam hati, "Luar biasa. Dia benar-benar posesif sekali. Padahal dia masih istri orang, tapi Bos menatapku seolah-olah aku akan mencuri miliknya yang paling berharga."
Setelah pintu tertutup rapat, Kaisar menghela napas panjang. Ia menarik kursi kecil agar bisa duduk lebih dekat dengan Aisya.
Dengan gerakan yang sangat hati-hati, seolah takut menyentuh sayap kupu-kupu yang rapuh, ia meraih tangan wanita itu.
"Biarkan saya yang melakukannya, Aisya. Kamu tidak akan bisa membalut tanganmu sendiri dengan benar," ucap Kaisar lembut.
Aisya tidak menjawab. Ia membiarkan Kaisar membersihkan luka di jarinya. Pikiran Aisya sedang tidak ada di sana. Fokusnya sudah hancur lebur sejak melihat Hendra di ballroom tadi.
Bayangan demi bayangan terus berputar di kepalanya, Hendra yang tersenyum memuja pada Rima, Hendra yang tidak melepaskan gandengan tangan wanita itu, dan yang paling menyakitkan adalah saat Hendra bilang tak mengenalnya.
Dua kata itu terasa lebih tajam daripada pecahan gelas yang melukai jarinya.
Hendra, suaminya yang selama ini ia banggakan. Suami yang ia doakan di setiap sujudnya agar selalu diberi kemudahan dalam mencari nafkah. Suami yang ia puja sebagai pelindung, ternyata justru menjadi orang pertama yang menghinanya di depan umum sebagai pelayan rendahan.
Seketika, setetes air mata jatuh. Bening, panas, dan jatuh tepat di atas kain kasa yang sedang dipegang Kaisar. Kemudian, setetes lagi menyusul, berubah menjadi isakan kecil yang tertahan.
Kaisar membeku ditempat. Ia menatap tetesan air mata itu dengan dada yang berdenyut perih. Ia mempererat pegangannya pada tangan Aisya, bukan untuk menyakiti, melainkan untuk memberikan kekuatan.
Ini adalah pertama kalinya Kaisar melihat seorang wanita menangis sedalam ini selain ibunya, dan kenyataan bahwa air mata ini tumpah karena ulah pria lain membuat amarahnya meledak-ledak di dadanya.
"Menangislah, Aisya," bisik Kaisar lirih. "Jangan ditahan lagi."
Kata-kata itu seperti mendobrak bendungan yang selama ini menopang kesabaran Aisya. Isakan kecil itu berubah menjadi tangis yang memilukan.
Aisya menutupi wajahnya dengan satu tangan yang bebas, bahunya terguncang hebat. Ia tidak lagi peduli pada rasa malu, tidak peduli bahwa pria di depannya adalah orang terkaya di kota ini.
"Kenapa, Mas...?" suara Aisya pecah, tersedu-sedu. "Apa salahku sampai dia tega memperlakukan aku seperti itu? Aku berusaha menjadi istri yang baik, menelan semua makian ibunya demi dia, bahkan tidak pernah menuntut apa-apa."
Aisya mendongak, matanya yang sembap menatap Kaisar dengan keputusasaan.
"Dua tahun, Mas Kaisar. Dua tahun aku mengabdi. Tapi tadi di depan semua orang, dia bilang dia tidak mengenalku. Dia membentak ku seolah-olah aku adalah sampah di bawah sepatunya. Apakah aku serendah itu di matanya karena aku tidak bisa memberinya keturunan?"
Kaisar terdiam, rahangnya mengeras hingga otot-otot di lehernya menonjol. Ia ingin sekali menemui Hendra dan memukulnya, ingin sekali menghancurkan pria pengecut itu.
Namun, ia tahu Aisya sedang butuh didengar, bukan sekadar dibela.
"Itu tidak benar, Aisya. Dia yang terlalu buta untuk melihat siapa yang ada di sampingnya," ucap Kaisar mencoba untuk menenangkan.
"Hatiku hancur, Mas... sakit sekali." Aisya memukul dadanya sendiri pelan, mencoba meredakan sesak yang seolah mencekik lehernya. "Melihat dia menggandeng wanita lain dengan begitu mesra, sementara aku di sini bekerja jadi pelayan tambahan hanya untuk membantu ekonomi keluarga, dia malah malu mengakui aku sebagai istrinya."
Tangisan Aisya semakin keras, memenuhi ruangan itu. Ia mengeluarkan semua rasa sakit yang selama ini ia pendam sendirian. Setiap tetes air matanya adalah saksi dari kesabaran yang telah mencapai batasnya.
Kaisar tidak tahan lagi. Ia bangkit dari kursinya, berpindah duduk di samping Aisya di sofa, dan dengan ragu namun pasti, ia menarik wanita itu ke dalam pelukannya.
Kaisa membiarkan kepala Aisya bersandar di bahunya, membiarkan kemeja mahalnya basah oleh air mata wanita yang seharusnya dijaga oleh orang lain.
"Menangislah sampai kamu puas, Aisya. Setelah ini, jangan pernah teteskan air mata lagi untuk pria yang tidak menghargaimu," gumam Kaisar sambil mengusap kepala Aisya dengan lembut.
"Aku akan membalas perbuatan suamimu itu dengan cara yang belum pernah dia bayangkan seumur hidupnya!" batin Kaisar.
lanjut thor 💪💪bnykin bab nya🤣🤣
itu si kaisar tau gak y bapaknya gundik bawahannya jg... 🤔
Hendra jg dipecat biarin dia melihat aisyah bahagia...
jadikan aisyah sekertaris mu biar Hendra dilema
pas sdh tau kebenarannya tth aisyah mau balik jg gk bs karena karir taruhannya sebab aisyah sdh dijaga oleh big boss nya🤣🤣🤣
kau tau bulan aisyah yh seperti sampah tapi kau seperti binatang jd bersyukurlah kau aisyah lepas sr binatang karena hanya binatang lah yg bersenggama tampa menikah dan tanpa mandi junub mengucapkan talak🤣
bersyukur lah kepada Allah krn mata mu dibuka selebarnya dan Allah sayang padamu bahwa kamu tidak di biarkan tidur dengan binatang yg berupa manusia🤣🤣
lebih baik buat Hendra seyakin yakinnya untuk menceraikan mu... percaya aja sma Allah kebenaran itu pasti ada jalannya untuk membuka siapa yg jahat