NovelToon NovelToon
Suami Karismatik Milik CEO Cantik

Suami Karismatik Milik CEO Cantik

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Dijodohkan Orang Tua / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat
Popularitas:6.8k
Nilai: 5
Nama Author: Lonafx

Tamara Hadinata adalah perempuan tegas yang terbiasa memegang kendali. Memiliki gaya hidup yang dipenuhi ambisi dan emosi, membuatnya tak pernah serius memikirkan pernikahan.

Ia sibuk bekerja, sesekali terlibat hubungan sementara tanpa komitmen nyata. Sampai keputusan papanya, mengubah segalanya.

Khawatir dengan gaya hidup dan masa depan Tamara, sang Papa menjodohkannya dengan Arvin Wicaksono—Pria karismatik, intelektual, dan dianggap mampu menjadi penyeimbang hidup putrinya.

Namun bagi Tamara, pertemuan mereka adalah benturan dua dunia dan karakter yang tak seharusnya saling bersinggungan.

____
Bagaimana pernikahan mereka bisa terjadi?
Lalu, apa jadinya jika dua orang yang nyaris bertolak belakang, disatukan dalam ikatan pernikahan?
Di tengah kesibukan dan perbedaan, bisakah keduanya hidup berdampingan meski memulai hubungan tanpa cinta?

kuyyy ikuti kisahnya ya~

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lonafx, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21 Ciuman Tanggung

Suasana kamar malam itu mendadak lebih sunyi. Namun, tidak pada detak jantung dua orang yang baru kehilangan jarak dalam satu deru napas.

Tamara memejamkan mata. Bibirnya masih menempel pada bibir Arvin, gerakannya setengah mendominasi dengan lembut, pelan, dan terlalu jujur.

Hingga beberapa detik, Tamara menarik kembali tangannya. Wajahnya mundur, dan menunduk sejenak.

Sementara Arvin masih terdiam, jelas terkejut, tapi juga tidak merasa canggung.

Hingga Tamara mendongak. "Aku pikir itu... "

Kalimatnya tertahan, jelas terdengar canggung, setelah sadar apa yang ia lakukan barusan.

Arvin menatapnya lembut. "Ungkapan terima kasih, diterima," katanya, setengah bercanda.

Tamara tersenyum kikuk, lalu sedikit memalingkan wajah, hanya untuk menutupi pipinya yang memerah.

Ingin rasanya, ia sembunyi dalam selimut detik itu juga.

"Tamara... " Arvin memanggil namanya pelan.

Ia menoleh. "Ya?" sahutnya, tapi langsung kaget ketika mendapati tatapan Arvin.

Sorot mata suaminya itu mendadak berbeda dari biasanya, lebih dalam, seolah sedang menimbang-nimbang sesuatu yang selama ini tidak biasa ia izinkan keluar.

Wajahnya tidak lagi sekadar tenang, melainkan ada sesuatu disana: lebih hangat, juga lebih serius, yang bahkan jarang ia perlihatkan.

"Kamu sadar kan? Kalau itu... bukan hal kecil," suaranya rendah.

Tamara ingin menjawab, tapi belum sempat ia berucap, Arvin sudah mendekat tepat di depan wajahnya.

Laki-laki itu tidak tergesa, juga tidak terlihat ragu.

"Kalau yang tadi dibilang pancingan... maka itu berhasil," ujarnya pelan.

Tamara menelan ludah, mulutnya mendadak kaku.

Tangan Arvin terangkat, menyentuh rahang Tamara dengan hati-hati, seolah memastikan istrinya tidak akan merasa keberatan.

"Sekarang giliranku," bisiknya.

Ia menunduk, sedikit memiringkan wajah, lalu menyentuh bibir Tamara dengan bibirnya.

Bukan ciuman singkat seperti yang Tamara berikan tadi.

Arvin melakukannya lebih lama, lebih dalam, tetap terkontrol oleh keputusan yang lahir dari kesadarannya.

Tamara sempat membeku di detik pertama. Namun, perlahan tubuhnya melembut.

Ia memejamkan mata, membiarkan dirinya tenggelam menerima sentuhan itu.

Arvin menyesap bibirnya pelan, melumat lebih dalam dengan gerakan lebih dominan, seolah tak memberikan ruang untuknya terlepas.

Sementara Tamara mulai mengikuti ritme. Ia tidak lagi hanya menerima, tapi membalas. Namun, balasan yang ia berikan, lebih lama dari yang ia perkirakan.

Napasnya mulai berubah, tanpa sadar tangannya terangkat memeluk tengkuk suaminya.

Sedangkan tangan Arvin mulai bergeser. Telapak tangannya meraih pinggang Tamara, meraba beberapa bagian sensitif di balik piyama tipis itu, sampai—

"Hhaahh... " Satu desahan keluar dari mulut Tamara, tanpa bisa ia tahan.

Di antara deru napas yang tak lagi teratur, Arvin tiba-tiba melepaskan tautan bibirnya.

Tamara membuka mata, agak terkejut. Getaran halus di tubuhnya yang semula menguasainya, mendadak teredam.

"Kenapa berhenti?" tanyanya spontan, nyaris terdengar protes.

Arvin melepaskan tubuh Tamara dari dekapannya, gerakannya pelan agar tidak terkesan seperti penolakan.

Ia menatap istrinya lama, bukan ragu, tapi hanya penuh pertimbangan.

Raut wajahnya tampak merasa bersalah, menyadari dirinya yang telah kelepasan sampai membangkitkan gairah Tamara.

Satu sisi ia tidak ingin egois, meski naluri kelakiannya juga menuntut untuk segera dipuaskan.

Bagaimanapun juga, ia adalah laki-laki normal yang memiliki hasrat alamiah, apalagi terhadap perempuan yang jelas sudah sah menjadi miliknya.

Akan tetapi di saat bersamaan, akal sehat justru terus menuntunnya untuk segera berhenti.

"Tamara... " suara Arvin rendah, terdengar hati-hati. "Kalau boleh jujur, aku memang ingin melanjutkannya... "

Ia terdiam sejenak, menyentuh rambut di sisi wajah istrinya.

" ...tapi hari ini, kamu baru keluar dari rumah sakit. Kepala kamu masih terluka. Kamu pasti lelah, dan masih perlu istirahat yang cukup."

Tamara masih mendengarkan, napasnya mulai teratur.

Tangan Arvin berpindah, mengusap pipinya dengan lembut. "Aku nggak mau, hanya karena keinginan sesaat membuatku lupa menjaga kamu."

Ia menjeda kalimatnya beberapa detik. "Kalau aku lanjutin sekarang, takutnya ini bukan karena kamu benar-benar siap... "

Tamara menatapnya dengan alis berkerut. "Maksud kamu, aku cuma kebawa suasana? Terus, akan menyesalinya nanti?"

Arvin menggeleng pelan. "Enggak gitu," jawabnya, tetap tenang.

Tangannya turun mengusap bahu istrinya. "Aku hanya ingin kamu merasa aman, bukan tergesa."

Sudut bibirnya terangkat tipis. "Kita masih punya banyak waktu, untuk benar-benar siap melangkah lebih jauh... Kita coba pelan-pelan aja, ya."

Tamara merapikan sedikit rambutnya. Ia tidak mengiyakan, juga tidak menyanggah.

"Kamu tuh emang nyebelin ya." Hanya itu yang keluar dari mulutnya.

Arvin menatapnya, diam dua detik.

"Aku minta maaf," ucapnya.

Nada bicaranya terdengar lebih ringan. "Lain kali, aku nggak akan berhenti. Kecuali kamu yang minta."

Tamara menahan senyum, pipinya mendadak panas.

"Kamu tuh ya!" Ia menyeletuk sambil memukul pelan bahu Arvin.

"Bisa-bisanya bikin aku kesel, tapi juga bikin aku nggak bisa bener-bener marah," sungutnya, tapi lebih terdengar seperti omelan halus.

Satu detik setelahnya, senyumnya juga pecah.

Suaranya langsung melembut. "Ya udah kalau gitu, aku mau istirahat deh."

Arvin mengangguk, senyumnya tampak lega.

Sebelum benar-benar menjauh, ia mengecup singkat kening Tamara, tepat di dekat plester kecil di dahinya.

Tamara membalas senyumnya sebentar, lalu merebahkan diri dengan nyaman.

Ia baru terpikirkan, Arvin ada benarnya. Tubuh dan pikirannya memang masih lelah akibat insiden tadi siang.

Malam ini, bukan karena kehilangan momen berdua yang membuatnya akhirnya terdiam. Tapi, ia sadar bahwa Arvin bahkan lebih memahaminya daripada dirinya sendiri.

...

Keesokan harinya.

Pagi datang membawa ketenangan seperti biasa, tapi ada sesuatu yang terasa berbeda.

Tamara menemani Arvin sarapan di ruang makan. Ia tidak mengenakan setelan kerja ataupun outfit CEO seperti biasa, tapi hanya dress rumahan polos yang tetap terlihat elegan.

Rambutnya terurai sederhana, wajahnya tanpa riasan tebal, dengan plester kecil masih menempel di dahinya.

Tidak ada percakapan panjang. Hanya saja, suasana ruangan itu tidak dingin seperti hari-hari lalu, tapi juga tidak ada keheningan yang canggung.

Sampai Arvin pamitan hendak berangkat kerja, Tamara ikut mengantarnya.

Udara pagi itu masih tipis, jalanan komplek masih sepi. Pasangan suami istri berjalan pelan, sambil sesekali mengobrol ringan.

Sementara itu dari arah dalam rumah, Yuli dan Yanto terlihat pura-pura membersihkan dinding kaca, tapi jelas curi-curi pandang.

Keduanya setengah takjub, sekaligus kaget dengan pemandangan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Sampai langkah Arvin tiba di depan mobil, Tamara mendekat dan sedikit merapikan kerah kemejanya.

Pasangan itu saling lempar senyum, hingga Tamara mencium mesra pipi sang suami.

Yuli terperangah, lalu menurunkan lap dari kaca. "Bang, itu beneran Nyonya Besar kita kan?" katanya, sambil menyenggol lengan sang kakak.

Yanto menoleh singkat. "Lah, terus siapa lagi, Dek?"

"Itu loh, Bang... Biasanya, nggak pernah pamer kemesraan bareng Pak Arvin. Habis sarapan, sering nyelonong keluar sendiri. Kadang juga nggak pamitan. Tapi sekarang..."

Yanto meletakkan kain lap yang sebenarnya tidak digunakan. "Hmm iya sih... Ibu Tamara juga, hari ini kelihatan lebih kalem dari biasanya."

Yuli mendekat, keduanya persis seperti tukang gosip yang sedang kebingungan.

"Eh, Bang. Ibu Tamara kan kemaren habis kecelakaan, kepala beliau kepentok sampai luka. Masa gara-gara itu, jadi tiba-tiba berubah gitu ya sikapnya? Aneh nggak, sih?"

Yanto mengangkat bahu singkat. "Berarti hal-hal baik mungkin baru aja terjadi pada mereka."

Keduanya sama-sama bingung, karena terbiasa menyaksikan hubungan majikan mereka itu yang hampir selalu terkesan dingin.

Yuli kembali berbisik, "Atau mungkin Nyonya Besar lupa ingatan, Bang?"

Laki-laki itu mengerutkan dahi. "Kalau lupa ingatan, nggak mungkin beliau masih ingat sama kita, Dek."

Sementara itu, Tamara baru kembali ke dalam rumah setelah mobil Arvin sudah meninggalkan halaman.

Senyum kecil di bibirnya perlahan lenyap, bahunya kembali tegap. Nyaris kembali ke setelan awal.

Jemarinya memainkan layar ponsel, lalu menempelkan di daun telinga. Full mode CEO yang sedang kerja dari rumah.

Sesekali mendengarkan seseorang bicara di telepon, lalu bersuara tegas memberi arahan, meski kali ini tidak ada kalimat omelan.

Di sisi lain, kedua asisten rumah tangga itu masih berdiri di tempat.

"Tuh kan, Ibu Tamara itu baik-baik aja," ujar Yanto.

Yuli yang turut menyaksikan, mengangguk setuju.

"Yuli...! " panggil Tamara dengan suara nyaring, saat melihat dua orang itu dari kejauhan.

Si pemilik nama langsung terkesiap, refleks menegakkan tubuh. "Iya, Bu!" sahutnya.

Tamara berjalan mendekat. Keduanya langsung menunduk hormat.

"Tolong bikinin saya salad buah, pakai toping keju parut yang banyak. Antar ke atas ya," pinta Tamara. Suaranya tidak meninggi, tapi tegas seperti biasa.

Yuli mengangguk paham. "Baik, Bu."

Tatapan Tamara berpindah. "Yanto... "

Laki-laki itu berdiri tegap, sikap siap menerima perintah.

"Itu pohon kamboja di taman belakang, saya lihat tadi daunnya mulai rontok. Nanti dirapikan ya," ujar Tamara.

Yanto juga memberi anggukan. "Siap, Bu. Laksanakan."

Tamara langsung berjalan menuju tangga. Sedangkan kedua kakak beradik itu langsung melipir menuju area kerja masing-masing.

Sebelum berpisah di penghujung koridor rumah, keduanya sempat bikin obrolan tambahan.

"Ini sih bukan lupa ingatan, Bang. Ibu Tamara sama sekali nggak berubah. Cuma nambah fitur aja," kata Yuli, menahan senyum.

"Fitur apa?" tanya kakaknya.

"Fitur mode bucin kalau lagi sama Pak Arvin." Tawa Yuli akhirnya pecah.

Lalu buru-buru membekap mulutnya sendiri, takut terdengar.

Beberapa saat kemudian...

Yuli sudah membawakan semangkuk salad buah. Ia naik ke lantai dua dengan langkah santai, seperti biasanya saat menjalankan tugas.

Tangannya mengetuk pelan pintu kamar yang sedikit terbuka. "Bu, ini saladnya."

Tidak ada jawaban.

Hingga Yuli mendorong pintu sedikit, dan tepat di saat itu—

"AARRGGH!!!!" suara Tamara menggelegar.

Yuli terlonjak kaget, refleks menjerit balik. "ASTAGHFIRULLAH!!"

Jantungnya nyaris melompat. Tangannya gemetar, sampai mangkuk salad nyaris jatuh.

Ia berdiri mematung di ambang pintu, dengan mata terbelalak.

"Ibu kenapa?" tanyanya panik.

BERSAMBUNG...

Kira-kira apa yang terjadi ya genkss? 😂

1
🥀⃟ ⃟ThallaAyleena⃟ ⃟🥀
iyaa.. keterlaluan banget.. kalau Arvin itu cowok gak sabaran, udah dtinggalin kamu🙄
Lonafx: marahin aja kak😂😝
total 1 replies
🥀⃟ ⃟ThallaAyleena⃟ ⃟🥀
wahh keren nih dua sohibnya.. pandai menasihati meski dgn cara ngomel dan menghakimi wkwk tp biasnaya manjur, karna mereka orang terdekatnya
Lonafx: cuma mereka yg berani mengomeli ceo galak😂
total 1 replies
🥀⃟ ⃟ThallaAyleena⃟ ⃟🥀
iya bener.. jangan sampai nyesel loh
🥀⃟ ⃟ThallaAyleena⃟ ⃟🥀
ya ampunn.. Arvin jadi cowok sabar banget...
🥀⃟ ⃟ThallaAyleena⃟ ⃟🥀
dia terbiasa keras sama dirinya sendiri.. gak heran tumbuh jadi perempuan dominan yg suka mengontrol,
Lonafx: menempa wehh, typo😫
total 2 replies
🥀⃟ ⃟ThallaAyleena⃟ ⃟🥀
lahh, Papa sakit serius ternyata, pantes pengen banget putrinya cepet nikah
🥀⃟ ⃟ThallaAyleena⃟ ⃟🥀
kira2 Arvin bakal ilfeel gak ya🤣
🥀⃟ ⃟ThallaAyleena⃟ ⃟🥀
Tata lagi ngedrama, apa pasang skin menggatal/Sly/ tapi sama suami sendiri juga sih gapapa😄
🥀⃟ ⃟ThallaAyleena⃟ ⃟🥀
definisi senggol di bales senggol/Facepalm//Facepalm/
Cahaya Tulip
penasaran bakal ada besok🤭

arvin godaanmu sampai ke hatiku🤣
Cahaya Tulip
kucing kali takut aer🤣
Cahaya Tulip
emang iya tata.. 🤣
Cahaya Tulip
kurang bahan nggak tuh? apanya yang ditutupin? 🤣
Cahaya Tulip
wah, ada apa besok? 😗
Cahaya Tulip
wah.. ada apa ini? 😗
Muna Junaidi
Sesuai dengan undangan mareee kita berhalu ria mumpung lagi sendirian🤣🤣🤣mas tolong anaknya dibawa dulu dolanan istri tercintamu mau main sama othor🤭🤭
Lonafx: wahhh siap kakak😝🥰 terima kasih 🙏
total 1 replies
Cahaya Tulip
🥺 kalimat yang diharapkan semua perempuan setelah menikah.. rasa aman tempat pulang perlindungan
. yg lagi mahal sekarang🥺
Cahaya Tulip
Papa Rudi.. sekrang jadi sendirian ya🥺
Cahaya Tulip
untung badai nya tata lagi mode off😂
🧣𝗢𝗞𝗜𝗥𝗔 𝗔𝗗𝗜𝗧𝗢𝗠𝗔🧣
wkwk fiturnya nambah habis kepalanya kebentur😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!