NovelToon NovelToon
Crazy Obsession

Crazy Obsession

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Obsesi / Cinta Seiring Waktu / Enemy to Lovers / Pelakor jahat
Popularitas:185
Nilai: 5
Nama Author: Bertepuk12

Afnan tahu dia adalah penjahat, demi mendapatkan Dareen yang menjadi obsesinya sejak lama, Afnan tega menghancurkan kebahagiaan Jeslyn, sahabat sekaligus wanita yang dicintai Dareen.

​Satu jebakan licik darinya, sebuah penghianatan yang membuat Dareen kehilangan dunianya dan mulai menanam kebencian mendalam pada Afnan.

​Namun, Afnan belum puas.

​Melalui skenario malam yang kotor, Afnan akhirnya berhasil menyeret Dareen ke altar pernikahan, ia mendapatkan status, ia mendapatkan raga pria itu, tapi ia tidak pernah mendapatkan jiwanya.

​"Kau telah menghancurkan hidup Jeslyn, dan sekarang kau menghancurkan hidupku, Afnan. Jangan pernah bermimpi untuk dicintai di rumah ini."

​Di tengah dinginnya pengabaian Dareen dan bayang-bayang Jeslyn yang masih bertahta di hati suaminya, Afnan tetap bertahan dengan segala tingkah centil dan nekatnya untuk membuat sang suami bertekuk lutut.

​Akankah cinta yang berawal dari penghianatan ini akan menemukan titik terang?

#KOMEDIROMANSA
#KONFLIKRING

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bertepuk12, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12

Pagi di mansion ini terbentang seperti lukisan abstrak yang dilukis dengan warna menarik. Di luar jendela, sang mentari bersinar cerah, namun di dalam, cahaya itu terasa disaring dan dijinakkan oleh tirai tebal. Pun suara kicauan burung terdengar begitu merdu membentuk simfoni indah.

Lihatlah seorang gadis yang kini berdiri tepat di depan kaca sembari memperhatikan penampilannya yang begitu menawan, sedari tadi ia terus berdecak kagum.

"Oh my Gosh, bagaimana mungkin ada wanita secantik aku di dunia ini?" Afnan bergumam sendiri, tersenyum puas melihat bagaimana pesona dari dalam tubuhnya yang sungguh indah.

Afnan mengenakan Chanel Tweed Sheath Dress berwarna charcoal grey dengan sedikit benang metalik yang halus, dress ini memiliki potongan sheath klasik yang sangat terstruktur dan pas di tubuh, menampilkan siluet profesional yang tajam.

Detail kerah bulat sederhana dan panjang rok mini berada tepat di bawah lutut, memastikan penampilanya masih tetap sopan.

Netra bulat Afnan mengedar, menelisik heels yang akan ia kenakan di walk in closet, hingga ia bisa melihat, Christian Louboutin So Kate Pumps heels setinggi 12 cm. Heels itu tidak hanya menambah ketinggian tubuhnya secara signifikan tetapi juga memberikan sentuhan menarik.

Menatap arloji yang melingkar di pergelangan tangannya, lantas ia melotot, "Sibuk mengagumi diri sendiri membuatku lupa waktu." Afnan meringis, segera bergegas menuju ke bawah.

Suara ketukan antara lantai marmer dan heelsnya terdengar memekik telinga, beberapa pasang mata langsung mencari sumber suara, tak terkecuali Dareen, pria itu tengah duduk di ruang tengah hingga fokusnya pecah.

"Oh hai suamiku? Ingin bekerja? Semangat, aku menunggumu pulang." Afnan menyapa dengan riang, menatap pahatan sempurna dari wajah Dareen, pria itu tengah memakai jas formal, seperti biasa.

Kening Dareen terangkat, "Apa yang kau lakukan pada Nata?" Ia mengalihkan topik pembicaraan, kendatipun ia menunggu Afnan sebab ingin menanyakan sesuatu.

Memutar tubuhnya Afnan mendekat pada Dareen, lantas ia memainkan surai hitamnya, "Kenapa? Apa Kak Dareen ingin protes heum? Lebih baik tidak usah, karena aku tidak akan meminta maaf."

"Kau tidak bisa menyentuh orangku secara sembarangan Afnan!" Dareen berkata tegas,  melayangkan tatapan penuh perhitungan sebab merasa tak terima Nata diperlakukan dengan buruk.

Tertawa kecil, Afnan menyentuh rahang tegas milik sang suami, ia belai perlahan, "Dan aku tidak bisa menoleransi jalang yang menggoda suamiku." Ancamnya tak main.

"Dia tidak menggodaku." Dareen menjawab tegas, membiarkan sang wanita mengelus rahangnya secara sensual tanpa penolakan.

Menganggukan kepala, Afnan mundur beberapa langkah, menelisik penampilan Dareen, "Tidak menggoda? Apa kakak pikir aku orang bodoh? Seorang wanita dan pria berada di dalam kamar yang sama, apa yang mereka lakukan? Bermain ludo? Tarik tambang?"

"Dia mempersiapkan pakaianku untuk kerja, Afnan!" Seru Dareen menjelaskan, ia menatap datar wanita di depannya, tak ingin terpancing emosi, ia duduk, lantas memilih untuk menyesap kopinya.

Bibir Afnan terkatup, kening wanita itu spontan mengerut tajam, ia menundukan setengah badan, menatap sang suami tajam, "Jika Kak Dareen berani membela jalang itu lagi, aku pasti akan membunuhnya."

Siluet sengit Dareen layangkan, pria itu mendorong bahu Afnan ke belakang, mengikis jarak di antara mereka, "Kau berani?" Beonya.

"Apa yang tidak berani aku lakukan? Semut kecil yang menganggu suamiku, berarti dia siap mati." Afnan menjawab santai, mengabaikan tatapan Dareen yang semakin menanam seolah siap melubangi isi kepalanya.

Menghela nafas, Dareen tak ingin tiba-tiba mencekik atau memukul Afnan, ia tidak ingin melakukan kekerasan, pun mengingat ia pernah menganggap wanita itu sebagai adiknya.

"Kau terlalu posesif Afnan!" Dareen mengerang, menahan rasa emosi yang ingin rasanya meluap begitu aja, menghancurkan apapun yang berada di dekatnya.

Sayangnya Afnan hanya tertawa, "Karena Kak Dareen milikku, dan aku tidak mengizinkan siapapun untuk menganggu priaku."

"Aku bukan priamu! Kau tidak bisa mengklaim secara tiba-tiba seperti ini, c'mon! Apapun yang aku lakukan itu bukan urusanmu, aku bermain sex dengan siapapun itu juga bukan urusanmu!" Ujar Dareen tegas.

Senyuman setan terbit di antara bibir Afnan, "Aku benar-benar akan membunuh jalang itu!"

"Bunuh," Dareen menjawab cepat, pria itu menatap Afnan sejenak sebelum akhirnya menjatuhkan tatapan pada dokumennya, "Kau bisa melakukan apa yang kau inginkan."

Netra Afnan berkedip cepat, wanita itu menatap Dareen heran, ia lantas duduk di samping tubuh sang suami, "Boleh?" Ujarnya memastikan.

Tanpa menoleh, Dareen menjawab, "Aku tidak memperbolehkan pun kau akan tetap nekat." Jawabnya tanpa intonasi, hanya datar.

"Sungguh?" Afnan kembali bertanya, tanpa tau diri, ia malah memunculkan wajahnya tepat di atas dokumen yang Dareen genggam, membuat pria itu terperanjat kaget.

Reflek Dareen hampir ingin menampar Afnan sebab wajah mereka begitu berdekatan, "Afnan, mundur!" Titahnya tak ingin dibantah.

Namun sayang sekali Afnan seolah tuli, wanita itu malah diam tetap pada posisinya, membuat mau tak mau Dareen menaruh jari telunjuk tepat di tengah dahi Afnan, mendorong perlahan.

"Wajahmu membuat hariku menjadi lebih buruk," Dareen berkata pelan, pria itu memilih untuk berdiri dari duduknya, "Aku mengizinkanmu membunuh Nata, bukan berarti aku membebaskanmu untuk melakukan banyak kejahatan."

"Oh? Kakak tidak marah jika aku membunuh Nata?" Afnan bertanya, tatapan penuh penasaran ia layangkan.

Sekilas senyuman kecil terbit di bibir Dareen, "Tentu tidak, aku mencintai Jeslyn, bukan pelayan itu."

"A-pa!?" Afnan berdiri dari duduknya, menatap Dareen penuh perhitungan, wanita itu lantas menggenggam lengan sang pria, "Kakak mencintai istri pria lain, apa itu pantas!?"

"Afnan, kupikir aku harus menegaskan satu hal padamu," Dareen berdiri santai, memasukan jemarinya pada saku celana, "Hatiku hanya milik Jeslyn, kakak iparmu, dan kau harus mengerti posisimu di sini."

"Apa Kak Dareen akan terus seperti ini? Mencintai istri orang lain sampai mati? Lalu bagaimana dengan masa depan kita?" Afnan menahan nafas, bohong jika hatinya tidak sakit.

Afnan mengerti, dulu karena mengetahui Dareen ingin melamar Jeslyn, ia rela menabrakkan mobilnya ke pembatas jalan agar Louis menuruti keinginannya untuk menikahi Jeslyn, padahal jelas sekali jika wanita itu mencintai Dareen.

Mau tak mau Jeslyn tidak dapat menolak, menjalani pernikahan tanpa cinta, Afnan paham betul itu begitu menyiksa, namun sayangnya ia tidak bisa untuk mengalah.

Afnan tidak bila melihat Dareen bersama wanita lain, sekalipun itu adalah sahabatnya, karena sejak kecil ia sudah diberi doktrin, apapun yang ingin Afnan miliki maka harus terjadi sekalipun mengorbankan banyak hal.

Sampai detik ini, tentu saja Afnan sedikit menyesal, apalagi melihat Dareen yang masih mencintai Jeslyn, ipar sekaligus sahabatnya, namun ia begitu sadar jika posisinya sekarang adalah orang ketiga.

Seharusnya sejak awal Dareen memang bersama Jeslyn, ia yang mengacaukan semuanya, ia menjadi benalu di hubungannya mereka, namun masa lalu bukankah tidak bisa diubah? Afnan berkeyakinan untuk melanjutkan rencananya, menaklukkan Dareen walaupun pria itu terlihat tak mencintainya.

"Kita?" Dareen tertawa sumbang, pria itu berjalan ke depan beberapa langkah, lantas berhenti, "Apa kau bercanda? Di hubungan ini tidak ada kita, kau bersama urusanmu sendiri, dan aku bersama urusanku sendiri, jangan melampaui batas Afnan, atau aku benar-benar akan lebih kejam padamu."

Setelah mengucapkan kalimat itu, Dareen langsung pergi begitu saja, meninggalkan Afnan yang terpaku dalam keheningan sembari menatap punggung kokoh sang suami yang perlahan mulai menghilang.

Terkadang Afnan sempat berpikir, bisakah pria itu ia genggam dengan begitu erat? Bisakah ia dicintai? Bisakah ia merasakan posisi Jeslyn? Yang dicintai dengan begitu hebat oleh pujaan hatinya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!