NovelToon NovelToon
Menikahi Perempuan Gila?

Menikahi Perempuan Gila?

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / CEO / Dijodohkan Orang Tua / Mafia / Nikah Kontrak
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Kyky Pamella

"menikah, atau kamu kami coret dari daftar pewaris?"
"tapi dia gila mah,"
.........
Narendra meradang saat jalinan kasihnya selama bertahun-tahun harus kandas dan berakhir dengan menikah dengan perempuan pilihan orang tuanya.
Reyna, putri konglomerat yang beberapa tahun belakangan di isukan mengidap gangguan jiwa karena gagal menikah adalah perempuan yang menjadi istri Narendra.
tak ada kata indah dalam pernikahan keduanya, Naren yang belum bisa melepas masa lalunya dan Rayna yang ingin membahagiakan keluarga nya di tengah kondisi jiwanya, saling beradu antara menghancurkan atau mempertahankan pernikahan.
apakah Naren akhirnya luluh?
apakah Rayna akhirnya menyerah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kyky Pamella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MPG_22

Seperti biasa, aku selalu terbangun tepat saat azan Subuh berkumandang. Entah sejak kapan tubuhku terbiasa patuh pada panggilan itu. Dengan mata yang masih berat namun hati terasa ringan, aku beranjak dari tempat tidur, menunaikan kewajibanku sebagai seorang hamba.

Pagi ini rasanya berbeda.

Tidurku semalam begitu nyenyak, mungkin karena aku akhirnya menumpahkan semua unek-unek yang selama ini mengendap di dada. Setelah sekian lama, aku bangun dengan perasaan segar, kepala ringan, dan semangat yang jarang sekali singgah.

Selesai salat, aku langsung menuju dapur. Suara kompor menyala, aroma bawang putih dan margarin yang meleleh perlahan memenuhi ruangan. Tanganku bergerak lincah, seperti menemukan kembali ritmenya. Nasi goreng ayam sosis aku siapkan dengan penuh niat, sementara sandwich daging sapi kupanggang rapi di sisi lain.

Aku bahkan sempat tersenyum sendiri. Sudah lama rasanya aku tidak memasak dengan hati setenang ini.

“Pagi, Mas.”

Sapaku otomatis saat melihat Narendra keluar dari kamar. Ia sudah rapi dan....tampan. Kemeja hijau army membalut tubuh atletisnya dengan sempurna, membuat warna kulitnya terlihat semakin tegas. Jam tangan mahal melingkar di pergelangan tangan kirinya, sederhana namun jelas bukan kelas biasa.

“Wangi banget bau masakannya.”

Ia berjalan ke arah meja makan sambil sibuk menyimpulkan dasinya, suaranya terdengar datar namun tidak sedingin biasanya.

Aku menoleh sebentar, memperhatikannya dari ujung kepala hingga kaki.

Selama lebih dari sebulan kami menikah, baru pagi ini kami terlihat seperti pasangan suami istri pada umumnya. Biasanya, setelah selesai bersiap, Narendra akan langsung pergi dari rumah. tanpa sarapan, tanpa obrolan.

Aku hanya menjadi bayangan di bangunan megah ini. Keberadaanku sekadar formalitas, tak lebih dari status yang tertera di atas kertas. Ia hanya berbicara seperlunya. Salam ketika masuk dan keluar rumah, selebihnya sunyi. tapi pagi ini, berbeda.

“Aku nggak tahu, kamu biasa sarapan pakai apa, nasi atau roti,” ujarku sambil menata piring, “jadi aku masakin dua-duanya. Ini ada nasi goreng ayam sosis sama sandwich daging sapi. Mas mau yang mana?” aku menyajikan semua masakan ku di atas meja

“Yang ini aja.” Naren menunjuk mangkuk yang berisi nasi goreng dengan tatapan lapar

Dadaku bergetar halus. Sepele, tapi rasanya seperti menang lotre kecil di pagi hari.

Saat ia duduk, mataku tanpa sengaja tertumbuk pada cincin yang melingkar di jari manis tangan kanannya. Cincin pernikahan kami. Napasaku sempat tertahan sepersekian detik. untuk pertama kalinya, Naren memakai cincin itu padahal kita sedang tidak menemui orang tua atau keluarga

Aku buru-buru menunduk, mengatur ekspresi, menata hati. Aku tidak mau terlihat terlalu berharap, terlalu berbunga-bunga. Meski saat ini batinku sudah jungkir balik meneriakkan namanya, aku harus tetap terlihat biasa. No. gengsi ku tak boleh longsor

Dengan senyum tipis, aku mengambilkan nasi goreng dan menyajikannya di hadapannya.

namun suasana hangat itu kembali pecah saat bel pintu berbunyi.

“Siapa yang bertamu pagi-pagi begini?” tanya Narendra sambil meraih sendok.

“Biar aku yang buka pintunya. Mas lanjut makan aja.”

Aku melangkah ke pintu utama. Menekan tombol di sisi kanan, dan—

Klik.

Begitu pintu terbuka, sosok di depanku langsung merangsek masuk tanpa basa-basi.

“Pagi, sayaaang…” suara itu memekik centil

Ajeng.

Ia berdiri dengan setelan serba hitam—atasan, celana, bahkan tasnya. Rambutnya dikuncir kuda ketat, riasan wajahnya tebal, terlalu tebal, seperti terinspirasi dari pantat panci gosong yang gagal dicuci.

“Kamu ngapain ke sini?” suara Narendra terdengar dari meja makan, keterkejutan terlihat jelas di wajahnya

“Nganterin ini." Ajeng mengangkat kantong kresek berisi kotak styrofoam, lalu melenggang masuk seperti rumah sendiri.

“Aku sengaja bangun subuh, tahu. Buat beli bubur ayam favorit kamu.” Tanpa permisi, ia menggeser piring nasi goreng di depan Narendra dan menggantinya dengan bubur ayam bawaannya.

“Aku nggak mau kamu makan masakan dia,” katanya ringan sambil meraih piring nasi goreng itu.

“Ntar kamu dijampi-jampi lagi.” lanjutnya tanpa tau malu

“Mau kamu bawa ke mana?” tanya Narendra dengan cepat

“Buang lah.” selorohnya tanpa dosa. Namun tangan Ajeng langsung dicegah oleh Narendra.

“Jeng, apaan sih? Aku sering bilang kan, jangan suka mubazir makanan.” Nada suaranya tegas namun tetap terdengar melembut.

“Lagian, udah berapa kali aku bilang jangan ke sini. Kalau sampai ada yang lihat gimana? Atau tiba-tiba keluarga aku datang gimana?” suara itu terdengar sangat hati-hati, seolah-olah jika sampai Ajeng tersinggung, maka dunia akan berhenti berputar. aku hanya berdecih muak.

“Kan aku bisa sembunyi di kamar kamu,” jawab Ajeng ringan, seolah itu solusi paling masuk akal. tangannya dengan ringan bergelayut di leher Naren

“Please ya,” lanjut Narendra hati-hati, “keluar dari sini.”

“Kamu ngusir aku?” suara Ajeng meninggi.

“Bukan gitu. Aku cuma bilang di sini nggak aman. Tolong ngerti.”

Aku melangkah mendekat, menarik piring nasi goreng dari tangan Ajeng.

“Udah, Mas. Sini nasi gorengnya. Mas makan aja bubur ayamnya. Ini udah setengah delapan, nanti Mas telat ngantor.” sela ku agar adegan memuakan ini cepat berlalu

“Na—” panggil Narendra.

Aku tak menoleh. Membawa piring itu kembali ke dapur.

“Ayo makan, Yang,” titah Ajeng manja. Nada suaranya sukses membuatku ingin melempar ulekan ke arahnya

“Oke,” jawab Narendra akhirnya. “Tapi kamu keluar dulu, ya. Kalau kamu tetap di sini, aku susah nelan makannya.” bujuk Naren dengan suara tak kalah manja

Ajeng mendengus, lalu mendekat ke telinganya.

“Nanti kalau kita udah beli penthouse-nya, kamu wajib sarapan, makan siang, sama makan malam di penthouse aku.”

sepertinya, jalang itu sengaja mengeraskan suaranya, supaya aku dengar.

“Kamu tunggu di lobby. aku selesaikan sarapan dulu, setelah itu aku langsung turun.” bujuk Naren memohon . akhirnya Ajeng menurut. ia pergi dengan langkah angkuh sambil melirik ke arahku, seolah menegaskan bahwa dia masih juaranya.

Tak lama kemudian, Narendra menyusulku ke dapur.

“Na, nasi gorengnya mana? Aku belum selesai makan tadi.”

“Kamu makan bubur ayamnya aja,” jawabku sambil mencuci piring. “Jangan sering-sering makan masakan aku. kamu gak takut aku kasih jampi-jampi yang bisa bikin kamu jatuh cinta sama aku?" cicitku begitu saja

“Ke meja makan dulu yuk,” katanya sambil mematikan keran air. padahal tanganku masih sibuk membilas piring di bawahnya

“Kamu juga belum sarapan, kan? Sekalian aku mau ngobrol.” lanjut nya. nada suaranya sama lembut nya dengan saat berbicara dengan Ajeng tadi.

“Nanti aja, Mas." Aku tetap tak menoleh. “Sekarang kamu sarapan dulu aja. Kasihan dia udah nungguin.” lanjut ku

Tenang, Rayna. Api hanya bisa padam oleh air, bukan bensin. aku berusaha menenangkan diriku sendiri

“Nanti bakal ada petugas dealer yang ke sini, nganterin mobil kamu.” ucapnya tiba-tiba.

Kemudian, tangannya kembali bergerak menyodorkan sebuah kartu hitam mengilap. “Ini kamu bawa. Bebas pakai buat belanja apa aja. Tagihannya langsung ke rekening pribadiku.”

American Express. Black card.

Demi saus tartar—aku ingin terbang menembus plafon. bukan karena kartunya, tapi karena makna kartu sakti tersebut.

“Gak usah, Mas,” kataku berusaha tenang. “Aku masih punya mobil, dan aku juga ada uang.”

“Aku tahu kamu mampu,” katanya lembut. “Tapi aku juga mampu menunaikan kewajiban aku sebagai kepala keluarga.”

Ia meraih tanganku, meletakkan kartu itu di telapakku.

“Ya udah,” gumamku. “Lanjutin makanannya. Aku mau lanjut cuci piring.” aku berusaha tetap tenang, padahal lututku sudah lemas mendapatkan perlakuan seperti itu

Tak lama, suara bel pintu kembali berbunyi.

“Assalamu’alaikum.” Ardi menyembul dari luar

“Wa’alaikum salam,” jawab ku dan Naren bersamaan.

“Selamat pagi, Pak, Bu.”

“Pagi, Ar,” sahutku dari dapur.

“Maaf, Pak. Saya kira Bapak sudah siap.” ucap Ardi begitu melihat Naren masih duduk di meja makan

“Gak apa-apa. Kamu udah sarapan, Ar?” tanyaku mendahului jawaban Naren

“Ehm… biasanya di kantor, Bu.”

“Kebetulan, Ini buat kamu.”

Aku menyerahkan tas kecil berisi kotak bekal dengan nasi goreng di dalamnya

“Bu… buat saya bu?” Ardi menatap ragu, bergantian melihatku dan Narendra.

“Iya. Tadi saya masak banyak. Mubazir kalau nggak dimakan.”

Narendra hanya duduk menunduk, sambil mengaduk buburnya kasar.

“Gak apa-apa, Pak?” tanya Ardi takut

“Terima aja, Ar,” jawab Narendra datar. “Nggak baik nolak rezeki.”

“Hari ini saya berangkat sendiri aja.” lanjut Naren

“Baik, Pak. Tapi hari ini ada meeting dengan PT Indraja Sejahtera.”

“Reschedule.” jawab Naren tanpa pikir panjang

Tapi pak, kita sudah menunda pertemuan ini dua kali" Ardi terlihat panik

"Gak usah bantah bisa gak, apa perlu saya yang turun langsung buat reschedule meeting nya" ucap Naren sedikit berbisik tapi masih bisa ku dengar walau samar

"Ti...tidak pak, akan saya atur ulang jadwalnya. Kalau begitu saya pamit brangkat dulu pak"

pasrah Ardi, kemudian berpamitan untuk berangkat terlebih dahulu.

“Kamu kenapa malah ngasih nasi gorengnya ke Ardi?”

Narendra menatapku sinis. “Aku aja nggak kamu bolehin lanjut makan.”

“Kamu lupa, apa kata madu ku tadi?” balasku santai. “Masakan aku haram buat kamu. karena di dalamnya udah aku kasih mantra pengasihan yang bisa bikin kamu klepek-klepek sama aku, ” lanjut ku mendramatisir

“ berarti Kalau dimakan Ardi, dia dong yang jatuh cinta sama kamu.” jawab Naren di luar prediksi MBG

“Bagus dong,” jawabku seketika.

"siapa yang gak mau punya pasangan kayak Ardi. udah ganteng, lemah lembut, penuh pengertian, soal status sosial mah gampang lah. tinggal aku pindahin perusahaan aku atas nama dia jadideh dia CEO dan takdirku akan tetap jadi istri CEO. menyenangkan bukan?" Aku menatap Naren sambil tersenyum lebar

“Terserah.” jawabnya singkat, kemudian lekas menyambar macbook dan kunci mobilnya.

Aku menatap black card di tanganku, menciuminya sambil bergumam riang.

“Oh, jadi begini rasanya dinafkahi,” kekehku pelan. begitu pintu utama kembali tertutup

1
Wina Yuliani
eng ing eng di gantung nih kita, kayak jemuran yg gk kering kering
plisss dong kk author tambah 1 lagi
Nurhartiningsih
woilahhh ..knp rayna??
lovina
kirain cwenya hebat taunya luluh jg bego...pasaran ceritanya..kirain beda..bkn hasil dari otak author haisl baca2 novel lain🤣, dan ini semua para author lakukan..
PanggilsajaKanjengRatu: coba baca punya aku kak, Siapa tau gak pasaran🤭 judulnya “Cinta Yang Tergadai ” ada juga soal cinta virtual yang berhasil ke pelaminan “Akara Rindu dalam Penantian”
total 1 replies
Nurhartiningsih
baru awal baca udah nyesek
Wina Yuliani
seru.... ceritanya ringan tp bikin gereget, penasaran, ada sedih tp ada manis manisnya juga, gaskeun lah pokonya mah 👍👍👍👍
Wina Yuliani
rayna yg di kasih kartu aku yg ikut kelepek2 😁😁😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!