Leticha gadis 22 tahun harus terjebak dalam pernikahan yang dijodohkan oleh ayahnya demi menyelamatkan perusahaan. Seharusnya saudaranya yang dijodohkan, tetapi karena menurut sang ayah Leticha membutuhkan seorang pemimpin dalam keluarga, membuat sang ayah memilih untuk menjodohkannya.
Leticha berusaha dengan semampunya untuk membatalkan perjodohan dengan pria berusia 36 tahun. Pria agamis dengan segala ilmu pengetahuan, tetapi usahanya tidak berhasil yang akhirnya membuatnya menikah dengan pria tersebut.
Tidak sampai di sana, Leticha masih terus mencari cara agar bisa berpisah dari tingkah lakunya agar tidak disukai, tetapi suaminya memiliki hati dan sifat yang benar-benar sabar.
Jangan lupa terus ikuti cerita saya.
Terimakasih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16 Merawat
Rakash duduk di samping Letisha, memastikan sekali lagi bagaimana kondisi istrinya dan ternyata benar sedang sakit.
Tok-tok-tok.
Rakash menoleh kearah pintu.
"Pak! Apa saya perlu membawakan sarapan Nona Letisha ke dalam kamar?" tanya Bibi.
"Tidak perlu, Letisha tidak enak badan," jawab Rakash.
"Ya, ampun, apa saya harus memanggil Dokter?" tanyanya terdengar begitu khawatir.
"Boleh, kamu telepon saja dokter Indra," ucap Rakash.
"Baik pak," jawab Bibi kemudian kembali menutup pintu kamar tersebut untuk menghubungi Dokter keluarga Rakash.
Rakash memperbaiki selimut istrinya itu dan juga mengecilkan volume AC agar tidak terlalu dingin di dalam kamar tersebut.
Tidak lama akhirnya Dokter datang dan memeriksa kondisi Letisha dan sementara Rakash tetap berdiri di sana memperhatikan bagaimana istrinya.
"Istri tuan tampaknya sedang kelelahan, cuaca belakangan ini memang tidak baik dan tubuh Nona Letisha juga tampak sensitif," udak Dokter.
"Tolong berikan yang terbaik untuknya," ucap Rakash.
"Kondisinya akan membaik setelah meminum obat, tetapi harus makan terlebih dahulu sebelum meminum obat," ucap Dokter.
"Apapun itu tolong lakukan yang terbaik," ucap Rakash.
Dokter tersebut menganggukkan kepala dan kembali memeriksa Letisha. Setelah memeriksa Letisha. Rakash tidak lupa mengantarkannya sampai kedepan rumah.
"Terima kasih Dokter sudah datang tepat waktu dan memeriksa istri saya," ucap Rakash.
"Sama-sama, silakan obatnya diminum setelah makan, saya permisi dulu!" ucap Dokter tersebut membuat Rakash menganggukan kepala.
Rakash menutup pintu dan berhadapan dengan Bibi.
"Hmmmm, Pak, mengenai kemarin yang saya katakan. Bibi harus pulang kampung, tetapi bagaimana ini jika Nona Letisha saat ini sedang sakit," ucap Bibi.
"Tidak apa-apa, Bibi tetap pulang kampung karena sebelumnya saya sudah menjanjikan untuk memberi izin, saya bisa mengurus Letisha," ucap Rakash ternyata tidak mempersulit art-nya itu.
"Baik Pak! Hmmmm apa perlu sebelum pergi apa saya harus menyiapkan makanan untuk Nona Letisha atau apapun itu?" tanya Bibi merasa tidak enak jika harus pergi begitu saja.
"Tidak perlu. Bibi pergilah dan nanti takutnya terlambat," ucap Rakash.
"Baiklah, Pak!" ucap Bibi menundukkan kepala dan kemudian langsung pergi.
Sementara Rakash menuju dapur, karena istrinya sedang sakit dan tidak mungkin memberikan makanan berat kepada istrinya. Rakash tidak jadi ke kantor memilih untuk membuatkan bubur.
Dari menghidupkan kompor meletakan panci di atas kompor dan mengambil bahan-bahan yang ada di dalam kulkas. Rakash benar-benar menyiapkan sarapan untuk istrinya dengan sangat baik dan penuh kelembutan.
Terlihat saat mengerjakan sesuatu tampak buru-buru, sampai akhirnya Rakash sudah selesai menyiapkan bubur tersebut meletakkan di dalam mangkuk kecil dan berada di atas nampan bersama dengan air putih.
Kemudian Rakash kembali menuju kamar Letisha. Posisi Letisha masih sama seperti dia tinggalkan terlihat berbaring dengan selimut yang sudah berantakan.
Rakash berjalan dan duduk di pinggir ranjang meletakkan tampan yang dia bawa diatas nakas.
"Letisha!"
"Letisha bangun!"
"Letisha!"
"Hmmmm!" Letisha meraung dengan mata yang masih tetap terpejam.
"Kamu bangun dulu!"
"Kamu harus makan," ucap Rakash.
"Aku sedang sakit dan jangan membangunkanku," ucap Letisha terdengar begitu sangat manja.
"Justru itu kamu harus bangun dan minum obat, agar kondisi kamu jauh lebih baik. Ayo cepat!" bujuk Rakash dengan sangat lembut.
Letisha menggelengkan kepala dengan wajah cemberutnya tidak ingin membuka mata, jika sakit dia akan menjadi jauh lebih manja.
"Hey bangunlah!"
"Isssss!" Letisha meski sakit tetapi tetap saja kesal dan dengan terpaksa membuka matanya.
"Aku sedang sakit, seharusnya tidak mengganggu tidurku," ucap Letisha.
"Saya tidak bermaksud untuk mengganggu tidur kamu, aku hanya ingin kamu bangun agar kamu makan dan setelah itu minum obat, aku jamin kondisi kamu akan baik-baik saja," ucap Rakash.
Wajahnya tampak begitu cemberut dengan rambutnya yang berantakan. Rakash menghela nafas dan mengambil bubur tersebut, menyendokkan sedikit dan meniupnya terlebih dahulu dan kemudian menyodorkan tepat di depan mulut Letisha.
Letisha bertingkah dengan menutup mulutnya rapat-rapat dan menggelengkan kepala, benar-benar tidak ingin memakannya walau hanya sedikit saja.
"Letisha!" tegur Rakash.
"Aku sudah mengatakan tidak ingin makan!" ucapnya.
Rakash tidak perlu berbicara hanya gerak alisnya yang memberi kode membuat Letisha membuka mulut dengan terpaksa dan begitu bubur tersebut masuk ke dalam mulutnya tidak terlihat dia mengunyahnya dan justru menahannya di dalam mulutnya dengan pipinya mengembang.
"Jangan disimpan di dalam mulut, harus di telan!" ucap Rakash.
Letisha tetap saja keras kepala. Tetapi karena bujukan Rakash dan akhirnya dia mengunyah makanan tersebut membuat Rakash jauh lebih lega.
"Tidak enak," ucap Letisha dengan jujur masih sempat-sempatnya protes dengan masakan suaminya.
"Biasanya masakan Bibi sangat enak dan kenapa ini terasanya pait sekali?" tanyanya.
"Bukan Bibi yang memasaknya dan melainkan saya," jawab Rakash.
"Pantas saja tidak enak, kamu masaknya pasti secara asal-asalan, ingin membunuhku!" ucapnya dengan manja dan wajahnya terlihat semakin menggemaskan.
"Kamu sedang sakit dan lidah kamu sedang bermasalah. Jadi wajar saja tidak enak," ucap Rakash.
"Itu hanya alasan kamu saja dan bilang saja sedang mencari pembelaan," sahut Letisha
"Jangan banyak bicara dan buka mulut lagi!" Rakash menyendokan suapan kedua membuat Letisha menolaknya.
"Kamu yang beralasan mengatakan bubur ini tidak enak dan padahal kamu tidak ingin makan," ucap Rakash sudah bisa menebak jalan pikiran istrinya itu.
"Issss!" Letisha mau tidak mau kembali membuka mulutnya.
Sampai beberapa suapan dan benar saja Letisha menolak dengan mendorong mangkok tersebut pelan dan kepala geleng-geleng.
"Aku sudah kenyang dan jangan memaksaku lagi!" ucapnya.
"Baiklah!" Rakash kali ini menuruti permintaan istrinya dan mungkin karena sudah cukup banyak makan. Rakash kemudian mengambil air putih dan memberikan kepada istrinya.
"Sekarang waktunya minum obat!" ucap Rakash.
Letisha kembali menutup mulutnya rapat-rapat dengan kepala digelengkan. Letisha merasa obat adalah musuhnya dan tidak ingin sampai menyentuh lidahnya.
"Jika tidak meminum obatnya dan kamu tidak akan sembuh," ucap Rakash sudah memegang kedua pil butir tersebut.
Letisha memalingkan wajahnya benar-benar tidak ingin meminum obat tersebut.
"Hey!"
"Apa kamu mau sakit terus? kamu tidak akan bisa ke rumah teman atau melakukan hal apapun yang kamu inginkan," ucap Rakash.
"Pait!" ucapnya sudah mengetahui bagaimana rasa obat tersebut sehingga tidak tertarik untuk meminumnya.
"Mana ada obat yang manis dan justru itu kamu harus meminumnya agar cepat sembuh," ucap Rakash.
Letisha tetap saja menolak. Rakash tiba-tiba saja berdiri dan keluar dari kamar tersebut membuat Letisha kebingungan dengan dahi mengkerut.
"Mau ke mana dia? Apa dia menyerah merawatku?" tanya Letisha.
Sibuk dalam pikirannya dan suaminya itu kembali dengan membawa buah pisang.
"Aku sudah memasukkan ke dalam pisang ini obat kamu. Jadi kamu bisa memakan pisangnya dan akan ikut dengan obatnya agar rasa pahitnya tidak terasa," ucap Rakash ternyata memiliki ide yang banyak agar istrinya itu meminum obat.
"Aku seperti anak kecil aja minum obat harus dengan trik seperti ini," ucap Letisha.
"Jika kamu orang dewasa maka sejak tadi kamu sudah meminum obatnya. Ayo cepat lakukan!" ucap Rakash memberikan pisang tanpa bekerja pada istrinya.
Letisha lagi-lagi harus terpaksa menuruti Rakash dan mengambil pisang itu dari tangan suaminya, tetap saja terlihat begitu ragu dan hanya menggigit bagian ujungnya untuk memastikan.
Bersambung....