Ada yang bilang cinta itu buta, apakah salah jika jatuh cinta dengan seorang makhluk gaib. Walaupun mereka tahu tidak akan bersatu, tapi mereka berusaha untuk menyatukan cinta mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Its Zahra CHAN Gacha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 21
"Kamu kenapa murung Bi?" tanya Rain
"Shinta, sudah tiga hari dia sakit, kakinya lumpuh dan tidak bisa jalan. Padahal orang tuanya sudah membawanya ke dokter, tapi katanya tidak apa-apa. Bahkan setiap kali ia dibawa ke rumah sakit untuk diperiksa lebih lanjut dan di Rontgen tiba-tiba ia langsung sehat dan bisa berjalan. Tapi setelah sampai rumah ia akan kembali kesakitan dan tidak bisa berjalan. Dia selalu teriak-teriak dan mencoba untuk bunuh diri," kenang Abi sedih
"Apa dia sudah mencoba berobat pada dukun atau Ustadz?" tanya Rain
"Sudah, tapi mereka semuanya menyerah dan Shinta masih saja lumpuh," jawab Abi
"Sepertinya mahluk yang menyakiti Shinta sangat kuat dan diperlukan orang yang kuat juga untuk menyembuhkannya, bagaimana kalau kita ajak Tania menjenguk Shinta hari ini. Bukankah ayah Tania itu dukun tersohor di negeri ini aku yakin dia pasti bisa menyembuhkannya," ujar Rain
"Kau benar Rain, tidak ada salahnya kita mencoba, lagian aku memang berencana untuk menjenguknya setelah pulang sekolah,"
"Woiii, serius sekali kalian, lagi ngobrolin apa sih?" tanya Leon mendekati keduanya.
Abi langsung meradang ketika melihat Leon mendekati mereka. Ia sangat kesal karena menganggap bahwa Leonlah penyebab Shinta sakit. Ia langsung melesatkan tinjunya kearah sahabatnya itu.
*Buuugghh!!
"Lo kesurupan Bi, kenapa Lo tiba-tiba mukul gue!" ucap Leon naik pitam
"Gue benci sama Lo, gara-gara lo Shinta sakit. Lo benar-benar jahat Le, bahkan lo sama tidak menjenguknya, kamu memang kejam!"
"Apa, Shinta sakit?, sakit apa?" tanya Leo penasaran
"Dia mendadak lumpuh setelah lo putusin. Habis manis sepah dibuang, Lo bahkan gak mau tahu gimana keadaannya setelah Lo putusin kan. Bahkan dia sakit aja Lo gak tahu, cih, apa memang itu sikapmu yang sebenarnya Leo. Apa kau tidak bisa memperlakukannya sebagai sahabat, toh Shinta sudah berteman dengan Lo sejak TK, kenapa sedikitpun kau tidak peduli dengannya. Padahal dia sangat peduli denganmu," jawab Abi mencoba meredam emosinya.
"Sungguh aku tidak tahu Bu, seandainya saja aku tahu aku akan menjenguknya. Tentu saja aku masih peduli dengan Shinta, aku tidak sejahat yang kau bayangkan. Lagian Shinta juga yang menjauhiku sejak kita putus. Dia bahkan sudah memblokir nomorku, dan di semua aku medsosnya aku juga sudah di blok sama dia. Lo juga beberapa hari ini mendiami aku, wajar saja jika aku tidak tahu kabar Shinta!" sahut Leon jengkel
"Sudahlah, kalian tidak perlu bertengkar hanya karena masalah ini. Mending lebih baik kita segera menjenguk Shinta, lagian sebentar lagi kan bel pulang, so kita siap-siap guys jadi setelah bel berbunyi kita langsung go ke rumah Shinta. Setuju gak?" tanya Rain
"Setuju!!" jawab Abi dan Leon
"Btw si Tania kemana, tumben dari jam istirahat dia belom kelihatan batang hidungnya?" tanya Abi
"Dia sedang berlatih menggambar teknik bersama Pak Ari untuk persiapan lomba," jawab Rain
"Oh, tapi ngomong-ngomong akhir-akhir ini aku lihat Lo sama Tania semakin dekat, apa kalian pacaran?" tanya Abi
"Hmmm, jangan salah sangka, aku dan Tania tidak ada hubungan apa-apa. Lagipula kita sudah berjanji kan tidak akan berpacaran dengan sahabat sendiri," jawab Rain
"Tapi.... apa kau mencintai anak itu?" tanya Leon penasaran
"Tidak, bukankah tadi aku sudah bilang jika aku dan Tania tidak ada hubungan apa-apa. Tania itu mengingatkan aku dengan almarhum adikku yang meninggal delapan tahun lalu," ungkap Rain
"Maksud kamu kembaran kamu?" tanya Abi
"Iya, wajahnya sangat mirip dengan Tania." jawab Rain
"Tapi adikmu kan laki-laki, sedangkan Tania perempuan. Lagian aku juga heran kenapa kembaran kamu itu tidak mirip dengan kamu," ujar Abi
"Kamu benar, kata dokter kami ini kembar tapi tidak identik," jawab Rain
*Kriiing...kriiing...kriiing!!
"Yeaahhh!!!" semua siswa berteriak bahagia ketika mendengar suara bel pulang berdering.
"Kalian tunggu saja di parkiran, aku akan menjemput Tania dulu," ucap Rain
"Ok,"
Abi dan Leon segera keluar dari kelasnya, sedangkan Rain membawa tas Tania menuju ke ruang praktek.
"Apa belum selesai latihannya?" tanya Rain duduk di samping Tania.
"Sudah, emangnya kenapa?" tanya Tania
"Kau harus ikut kami menjenguk Shinta," jawab Rain
"Sepertinya aku gak bisa, karena hari ini aku harus mengantar ayahku berobat ke rumah sakit,"
"Kau bisa menunda pengobatan ayah kamu bukan, aku minta tolong kali ini kau ikut dengan kamu sebentar. Shinta temanku sedang sakit keras, dan aku rasa sakitnya ini bukan sakit biasa seperti orang sakit pada umumnya. Dia sakit karena kena guna-guna atau mungkin karena mahluk gaib. Karena setiap kali ia diajak berobat ke rumah sakit atau dokter maka ia tiba-tiba sembuh, dan ia akan kembali kesakitan jika sudah sampai rumahnya." papar Rain
"Apa dia sudah berobat ke dukun atau Ustadz?" tanya Tania
"Sudah, tapi belum ada yang berhasil mengobatinya," jawab Rain
"Tunggu sebentar," Tania segera mengambil ponselnya dan menghubungi Hesti
"Halo ka, bisa minta tolong gak?" tanya Tania
"Kenapa dek?" jawab Hesti
"Tolong antar ayah check up ke dokter, maaf hari ini aku tidak bisa mengantarnya karena masih harus berlatih untuk persiapan lomba,"
"Ok, "
"Thanks Kaka," jawab Tania sumringah
"Sama-sama," Hesti kemudian menutup telponnya dan bergegas menuju ke rumah Pamannya.
Setibanya di rumah Kuncoro Hesti langsung bergegas masuk kedalam rumah.
"Assalamualaikum!" seru gadis itu
"Waalaikum salam," sahut seorang pemuda menyambutnya dengan senyum menawan
"Kamu, kenapa ada disini?" tanya Hesti canggung
"Memangnya aku tidak boleh menjenguk guruku yang sedang sakit," jawab Rangga
"Apa Guru??" gadis itu mengernyitkan alisnya mendengar jawaban Rangga
"Kenalkan aku Rangga murid terganteng Aki Kuncoro," ucap Rangga mengulurkan tangannya membuat Hesti langsung menatapnya sinis
"Kepedean banget jadi orang," jawabnya meninggalkan Rangga
"Aiish, dia kabur. Pasti dia terpesona melihat wajahku untuk kali kedua dan gak tahan melihat ketampanan gue," ucap Rangga tersenyum simpul
"Sebenarnya Paman sakit apa?" tanya Hesti
"Kemarin aku dan Subur bertemu di sebuah kafe dan sempat beradu kekuatan. Tapi sayangnya ia semakin sakti dan ia berusaha menyerangku dengan ajian saktinya, beruntung lukaku tidak terlalu parah karena ada yang menolongku kemarin," jawab Kuncoro
"Jadi untuk apa Paman pergi ke rumah sakit, lebih baik aku akan mencari penawarnya untuk mengobati luka dalam Paman," Hesti segera mengotak-atik laptopnya dan mencari obat untuk pamannya
"Kau ini sebenarnya dukun apa ahli komputer sih, masa mengobati sesuatu dengan laptop," cibir Rangga
"Karena gue ini dukun milenial yang memanfaatkan teknologi, bukan dukun jadul yang menggunakan dupa dan sesaji untuk menyembuhkan pasienya," jawab Hesti membuat Rangga bungkam seribu bahasa.
Anj*r !!, kata-katanya halus tapi menusuk sekali. Berarti gue belum masuk kategori dukun milenial dong karena masih pakai sesaji dan dupa,
Rangga hanya diam memperhatikan Hesti yang berusaha menganalisa luka Kuncoro dengan laptopnya.
Sementara itu Tania yang sudah tiba di rumah Shinta langsung diajak masuk menemui gadis itu di kamarnya.
Ia menatap iba kepada seorang gadis yang menangis tersedu-sedu memegangi kakinya.
Tania mendekatinya dan mengusap lembut kakinya.
Wajah Sinta mengingatkan peristiwa di SMK PERTIWI empat hari sebelumnya.
Ia teringat ketika Susi si Sundel bolong berusaha mencekik gadis itu.
"Dia menyukai anak manusia dan ingin menjadikannya sebagai istrinya," jawab Susi sedih
Kau yang sudah merebut Garin dariku, aku akan membunuhmu!!.
Kata-kata Susi masih terngiang di telinganya.
"Jadi kau rupanya cewek yang disukai oleh Gondoruwo gebetan Susi," ucap Tania tersenyum simpul
"Apa maksudmu?" tanya Shinta bingung
"Apa kau sedang merasa sedih atau sakit hati?" tanya Tania
"Iya, aku sedih dan patah hati karena diputusin oleh kekasihku yang sangat aku cintai," jawab Shinta mengusap air matanya
"Baiklah, sepertinya aku akan datang lagi ke sini untuk mengobati mu nanti malam," ucap Tania
"Kenapa harus nanti malam, kenapa tidak sekarang saja. Aku sudah tidak kuat menahan sakit yang begitu menyiksaku, dan rasanya aku ingin mati," jawab Shinta memohon
Tania hanya tersenyum menatap gadis itu dan kemudian pergi meninggalkannya.