"Aku butuh istri untuk mendapatkan warisan Kakek, dan kamu butuh uang untuk pengobatan ibumu. Adil, kan?" — Aksara Danendra.
Bagi Aylin, pernikahan ini hanyalah transaksi pahit. Ia rela membuang harga dirinya dan menjadi 'Istri Bayaran' demi pengobatan sang ibu. Ia berjanji tidak akan melibatkan hati, apalagi pada pria dingin dan penuh rahasia seperti Aksara. Bagi Aylin, semua lelaki sama saja brengsek.
Namun, bagaimana jika di atas kertas kontrak yang dingin itu, benih cinta justru tumbuh secara perlahan? Dan bagaimana jika saat cinta itu mulai mekar, Aylin menyadari bahwa dirinya hanyalah tameng untuk rahasia gelap suaminya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nopani Dwi Ari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.9 Hari H Pernikahan
Dua minggu berlalu. Persiapan pernikahan sudah rampung-undangan disebar, daftar tamu dikonfirmasi, dan gedung resepsi telah didekorasi begitu mewah. Arkha Hotel berdiri megah sebagai lokasi pesta pernikahan Aksara dan Aylin.
Selama dua minggu itu pula, Aylin tidak bertemu Aksara. Hanya Jo, asisten setia Aksara, yang datang untuk mengurus segala sesuatunya. Aylin dan Rosalind bahkan sudah pindah dari rumah susun mereka ke sebuah apartemen mewah.
Aylin tertegun ketika Jo menyerahkan dokumen kepemilikan unit tersebut.
"Ini terlalu berlebihan, Asisten Jo..." lirih Aylin waktu itu, tak percaya namanya tertulis jelas sebagai pemilik.
"Ini tidak berlebihan, Aylin. Aku mau Mama Rosalind mendapatkan tempat tinggal yang layak," jawab Aksara melalui panggilan video, suaranya lembut namun tegas.
Aylin hanya bisa mengangguk dan tersenyum tulus. "Baiklah... terima kasih sekali lagi, Asisten Jo."
Lamunannya buyar saat Olivia menepuk pundaknya. Malam itu, Oliv, Anisa, dan keluarga kecilnya menginap di apartemen tersebut untuk menemani Aylin menjelang hari besarnya.
"Kenapa melamun? Apa yang kamu pikirkan, Lin?" tanya Olivia.
Aylin menghela napas pelan. "Entahlah. Aku... merasa ragu akan pernikahan ini, Via. Kamu tahu sendiri kalau aku... aku trauma soal pernikahan." Tatapannya menerawang jauh ke luar jendela, menembus gelapnya langit malam.
"Tapi aku nggak bisa mundur lagi," lanjutnya lirih.
Olivia duduk di sebelahnya. "Soal trauma mu itu, sebaiknya kamu bilang ke Aksara, Lin. Biar dia bantu kamu, atau bawa kamu ke psikolog."
"Enggak. Memang aku gila apa?" omel Aylin defensif.
"Ih, kamu ini. Yang ke psikolog itu bukannya orang gila. Itu orang yang mau sembuh," balas Olivia sebal.
Aylin menghela napas lelah. Olivia berdiri, merapikan rambutnya.
"Sudahlah. Ayo tidur, sudah malam. Besok MUA datang buat rias kamu," katanya sebelum masuk ke kamar.
Mereka tidur di kamar utama Aylin-kamar yang akan menjadi kamar Aksara setelah pernikahan nanti. Olivia tertidur pulas. Namun Aylin... pikirannya terus berkecamuk. Dalam tidurnya dia gelisah.
*
*
"Engga... sakit... jangan!"
Tangis itu tidak menggoyahkan lelaki tersebut. Ia terus melakukannya.
"Engga... sakit... Mama..." jerit gadis kecil tersebut.
"Mati kamu."
"Ahhhhh-!"
*
*
"Aylin! Bangun! Kamu kenapa? Aylin!"
Teriakan panik Olivia membuat Aylin tersentak bangun. Napasnya terengah. Keringat dingin membasahi pelipisnya. Olivia memeluk bahunya, menemukan air mata mengalir di pipi Aylin.
"Mimpi buruk lagi?" Olivia mengusap pipi Aylin perlahan. "Tenang, Aylin. Semua akan baik-baik saja."
Aylin menepis lembut, memaksakan diri tersenyum. "Aku baik-baik saja... jangan khawatir."
Ia melirik jam dinding, pukul tiga dini hari.
"Lebih baik aku mandi dulu," ujarnya sebelum bangkit dan menuju kamar mandi.
Di sana, ia menatap pantulan wajahnya di cermin-wajah yang menurutnya membawa nasib buruk itu.
Ia membuka kran. Air dingin mengalir. Aylin membasuh wajahnya berulang-ulang, seolah ingin menghapus jejak mimpi buruk yang selalu kembali menghantuinya.
Setelah selesai mandi, Aylin berjalan ke arah dapur, tempat Ibunya dan Anisa sudah sibuk menyiapkan sarapan.
“Mama, Mbak Nisa. Kalian bangun pagi sekali,” ujar Aylin sambil duduk di meja makan dan meneguk segelas air putih hangat.
“Sengaja biar nggak repot,” balas Anisa. “Kok kamu udah bangun? Masih jam setengah empat lho.”
“Gugup, jadi nggak bisa tidur,” kekeh Aylin. Anisa hanya menggeleng kecil.
Rosalind, yang bertumpu pada tongkat bantu, menyerahkan sepiring nasi goreng sederhana.
“Makanlah, nanti kamu lapar.”
“Terima kasih, Mama. Harusnya nggak usah repot, Mama juga baru sembuh,” gumam Aylin, tapi Rosalind hanya tersenyum samar dan kembali ke depan kompor.
Aylin mulai menyuapkan nasi gorengnya. Waktu berjalan sangat cepat, dan ketika ia melirik jam dinding, jarumnya sudah menunjukkan pukul 04.00. Sebentar lagi, MUA akan datang.
Benar saja—ketukan lembut terdengar di pintu. MUA yang ditugaskan sudah tiba dan langsung membawa perlengkapannya ke kamar Aylin, tempat Olivia—yang baru bangun—sudah siap menemani sahabatnya itu.
*
*
MUA membuka koper besar berisi kuas dan peralatan rias, membuat kamar Aylin terasa seperti ruang backstage sebuah fashion show. Lampu ring light dinyalakan, menciptakan semburat lembut di dinding.
“Mbak, boleh duduk di sini ya,” ujar MUA itu ramah. Suaranya lembut, seperti sengaja diturunkan agar calon pengantin tidak semakin gugup.
Aylin duduk perlahan, tangannya menggenggam ujung jubah mandinya. Olivia berdiri di belakang, memijat bahu Aylin perlahan berusaha menenangkan.
“Tarik napas dulu, Lin,” bisik Olivia.
Aylin menghela napas panjang, namun degup jantungnya tetap cepat.
MUA itu mulai mengoleskan skincare pada wajah Aylin.
“Kulitnya bagus sekali, halus. Nanti hasilnya pasti cantik ya,” ujar sang MUA sambil tersenyum kecil.
Proses rias berjalan perlahan.
Kuas menyapu kelopak mata dengan warna lembut, diberi sedikit shimmer agar terlihat hidup di bawah cahaya gedung nanti. MUA memoles foundation tipis, menutupi kantung mata Aylin yang muncul karena kurang tidur.
Sesekali, MUA menunduk memperhatikan detail, lalu mengangguk puas.
“Mbak, matanya boleh lihat ke bawah… bagus.”
Olivia duduk di samping, memperhatikan perubahan wajah sahabatnya.
“Lin, kamu cantik banget. Aksara pasti nanti jatuh cinta.” Goda Olivia, memang perempuan yang tak pernah make-up, akan terlihat pangling saat menikah.
Aylin hanya menghela napas dan pipinya memerah, beruntung tersamarkan oleh perona pipi.
“Apaan sih.”
Olivia tertawa dan kembali fokus merekam Aylin, agar menjadi kenang-kenangan kelak.
Aylin tak membalas. Ada getaran kecil di dadanya—antara takut, ragu, dan berharap.
MUA melanjutkan ke bagian rambut. Ia menata rambut Aylin dengan gaya updo elegan agar cocok dengan veil pemberkatan. Jepit-jepit kecil berkilauan masuk satu per satu, membentuk rangkaian rapi.
Waktu bergerak cepat tanpa Aylin sadari.
Saat MUA meminta Aylin membuka mata untuk pemasangan bulu mata, Aylin menatap pantulan dirinya di cermin. Perlahan, ia tidak melihat gadis yang selalu merasa kotor, tomboy dan penuh luka.
Yang ia lihat adalah calon pengantin.
Anggun.
Utuh.
Dan… pantas dicintai.
“Habis ini tinggal pakai gaunnya ya, Mbak Aylin,” ujar sang MUA.
Aylin mengangguk kecil. “Terima kasih.”
Olivia merangkul bahu Aylin.
“Ini hari kamu, Lin. Jangan biarkan siapa pun—bahkan masa lalu—merusaknya.”
Aylin mengatupkan bibir, berusaha menahan haru.
Di luar, langit masih samar gelap.
Jam menunjukkan pukul 06.00.
Waktunya bersiap menuju lokasi pemberkatan.
Keluarga Aksara sendiri sudah tiba di tempat pemberkatan, yang tak jauh dari hotel. Terlihat Kirana datang ke gereja, dan melihat semua persiapan yang akan di laksanakan jam sembilan.
"Semua sudah siap, Nyonya." Lapor salah satu panitia.
"Baik, terima kasih. Pasti kan anak-anak yang akan mengiringi pengantin siap dengan kelopak bunga mawar merah, lalu cincin pernikahan harus di serahkan oleh anak kecil ya!" ujar Kirana, itu permintaan Kakek Harsa karena melihat anak-anak memakai gaun sangat menggemaskan.
"Siap, Nyonya. Semuanya aman pengantin wanita dan keluarganya sudah dalam perjalanan," ujar panitia tersebut.
Kirana pun mengangguk, lalu menatap ke dalam dan pergi menuju hotel untuk melihat Aksara.
Bersambung ...
ko' bisa masukkkk....
Aksara wwoooiii., selamatkan istri'muuuuuu....
Aay : hhuuuuaaaaaaa
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
ngaku Kamu bedeb4hhhhh.....
dasar laki² bedeb4hhhhh...
astagaaaaaaaa......
hhuuaaaaaaaaaa.....
Otorrrrrrr tegaaaaa......
terlalu banyak beban berat d'berikan...
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Ayah durjana'mu akan runtuh., Paman psikopet'mu ini akan d'penjara....
Emil : Nona., Jumi !!!! N o n a
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣