Jaka Utama adalah seorang "Antagonis" profesional. Tugasnya sederhana: menjadi tunangan jahat yang menyebalkan, dipermalukan oleh sang pahlawan, lalu mati secara tragis agar cerita berakhir bahagia. Namun, di reinkarnasinya yang ke-99, sebuah kesalahan fatal terjadi. Kalimat puitis yang ia ucapkan saat sekarat justru membuat sang Heroine (pahlawan wanita) jatuh hati padanya, membantai sang jagoan utama, dan merusak seluruh alur dunia!
Kini, Jaka terbangun kembali di Joglo miliknya untuk kesempatan ke-100—kesempatan terakhirnya. Kali ini, ia dibekali sebuah sistem baru: Buku Harian Ajaib. Cukup dengan menuliskan keluh kesah dan rencana jahatnya setiap hari, ia akan mendapatkan kekuatan luar biasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wirabumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Di dalam Lembah Sunyi, tepatnya di area hutan batu pasir yang gersang.
Jaka Utama, yang berada dalam kondisi menghilang berkat Ajian Panglimunan, bersembunyi di balik sebuah batu besar yang menjulang. Dia diam-diam mengamati sang protagonis dan siluman di depannya.
“Syukurlah, Langgeng Sakti belum mati.”
Hati Jaka yang tadi was-was akhirnya lega. Dia melihat Langgeng terjebak di dalam sangkar pasir berbentuk lonceng. Wajahnya pucat pasi, ia berlutut dengan satu kaki, pakaiannya compang-camping bersimbah darah dan napasnya tersengal-sengal. Jelas sekali dia terluka parah.
Di luar sangkar pasir itu, berdiri Wisesa. Sosoknya mengerikan: wajah manusia dengan dua tanduk hitam di dahi, tubuh terbungkus pelindung serangga yang keras. Wisesa juga tampak terluka parah; pelindung tubuhnya retak-retak, tanduknya patah sebelah, dan lengan kanannya terkulai.
Pertempuran mereka pasti sangat sengit, namun sepertinya Wisesa-lah yang memenangkan duel ini. Saat ini, si siluman sedang duduk bersila, menyerap energi dari tanah berpasir untuk memulihkan lukanya.
“Sial, area berpasir ini benar-benar wilayah kekuasaan Wisesa. Langgeng Sakti bodoh ini, apa dia dibutakan dendam sampai lupa kalau Siluman Cacing Pasir itu raja pengendali tanah?” Jaka menggerutu.
Meskipun kesal, Jaka harus memastikan plot berjalan sesuai naskah. “Karena Nyai Geni Tirta sedang lemah dan tidak bisa membantu, Langgeng tidak akan bisa menang sendirian. Dia akan mati di dalam sangkar itu. Satu-satunya jalan adalah aku harus membebaskannya.”
“Tapi bagaimana caranya?” Jaka memikirkan senjatanya. “Pil Ledakan Racun!”
Dia akan menyelinap mendekati Wisesa selagi menghilang, lalu menjatuhkan pil itu. Saat Wisesa teracuni, kendali sangkar pasirnya pasti akan lepas. Di saat itulah Langgeng Sakti bisa keluar dan memberikan pukulan terakhir.
“Sempurna!” Jaka menyiapkan Pil Ledakan Racun di dalam perutnya dan merangkak mendekat.
Di dalam sangkar, Langgeng Sakti berteriak parau, “Guru, selamatkan aku!”
“Jangan buang energimu, Bocah. Kalau gurumu mau datang, dia sudah muncul dari tadi,” ejek Wisesa sambil menyeringai memperlihatkan gigi hitamnya yang tajam.
Sebenarnya Wisesa juga takut pada guru Langgeng. Ledakan guntur tadi membuktikan sang guru minimal di tingkat Pemurnian Hampa. Makanya dia tadi pura-pura kabur. Tapi karena si guru tidak muncul-muncul, dia memutuskan untuk menghabisi Langgeng sekarang juga. Namun sebelum membunuh, dia ingin menyiksa korbannya terlebih dulu.
“Kamu pikir bisa membalas dendam padaku? Seratus dua puluh empat nyawa di desamu itu aku yang habisi atas perintahku sendiri. Sekarang, apa yang bisa kamu lakukan padaku?”
Langgeng Sakti hanya bisa menatap dengan mata memerah dan menggertakkan gigi sampai berdarah. Wisesa terkekeh, lalu membentuk segel tangan. Pasir di tanah memadat menjadi puluhan kerucut tajam yang melesat ke arah Langgeng.
Wush wush wush!
“Aaakhhh!” Langgeng menjerit kesakitan saat kerucut pasir itu menusuk tubuhnya.
Wisesa tertawa gila melihat Langgeng yang babak belur. “Mungkin aku beritahu satu rahasia lagi. Ada gadis manis bernama Larasati di desamu dulu. Sebelum mati, dia menitipkan pesan terakhir untukmu. Mau tahu?”
Larasati? Hati Langgeng perih. Itu gadis yang selalu memanggilnya “Mas Langgeng”.
“Apa pesan terakhirnya?!” raung Langgeng.
Wisesa mendekati sangkar dan berbisik sinis, menghina kematian gadis itu dengan kata-kata yang sangat merendahkan martabatnya.
BOOM!!!
Tenaga dalam Langgeng meledak karena amarah yang luar biasa. Matanya merah seperti iblis dari neraka. “BINATANG!!!”
Dia mencengkeram sangkar pasir itu dengan tangan kosong sampai kulitnya layu terhisap energi pasir. “Aaakh!” Langgeng jatuh terjengkang.
“Dasar manusia lemah, gampang diprovokasi emosi,” tawa Wisesa membahana.
Jaka Utama yang mengintip di belakang batu mendengus. Banyak omong banget sih penjahat satu ini. Pantesan mati. Sepertinya penulis novel aslinya memang kurang kreatif bikin dialog penjahat.
Jaka mengeluarkan Pil Ledakan Racun. Energi hitam pekat mengepul di telapak tangannya.
“Siapa itu!” Wisesa tiba-tiba waspada dan berbalik. Dia merasakan aura kematian di belakangnya, tapi tidak melihat siapa pun. “Halusinasi?”
Namun sedetik kemudian, sebuah bola hitam sebesar kepalan tangan muncul tiba-tiba di depan wajahnya. Bau kematian yang sangat pekat menusuk hidungnya.
“Apa ini...!”
BOOM!!!
Bola itu meledak. Kabut beracun merah dan hitam menyelimuti Wisesa seketika.
“Aakhhh! Ini... racun Siluman Pohon... dan Racun Air Hitam!!! Aaakhhh!” Wisesa jatuh kejang-kejang. Tubuhnya mulai mengerut dan dagingnya seolah mencair dengan cepat.
Langgeng Sakti yang melihat itu terkejut, tapi sedetik kemudian dia bersorak dalam hati. Pasti Guru! Guru menyelamatkanku!
Seiring jatuhnya Wisesa, sangkar pasir itu hancur. Langgeng melompat keluar dengan sisa tenaganya. “MATI KAMU!!!”
Langgeng mengerahkan Aji Tinju Bisa Dewa Ular. Ular hitam raksasa melilit tangannya dan menghantam punggung Wisesa hingga menembus dada. Tubuh Wisesa yang sudah teracuni pil Jaka kini semakin hancur.
Cuih! Wisesa memuntahkan darah hitam. Dia menyesal tidak langsung kabur tadi. Dengan napas terakhir, dia menggunakan teknik terlarang: Ajian Lepas Raga Pasir.
Kepalanya tiba-tiba berubah menjadi butiran pasir halus dan menyerap masuk ke dalam tanah. “Langgeng Sakti! Aku akan membalasmu suatu hari nanti!!!”
Wisesa berhasil melarikan diri dengan kondisi sekarat, menyisakan tubuhnya yang tanpa kepala di tanah.
“BAJINGAN! AKU BERSUMPAH AKAN MEMBANTAI SELURUH KLANMU!” teriak Langgeng frustrasi.
Di kejauhan, Jaka Utama bersorak kecil. “Hoo! Selesai juga. Sesuai naskah. Wisesa kabur dengan kepala pasirnya. Sekarang plot balas dendam Langgeng bisa berlanjut.”
Jaka melihat Nyai Geni Tirta merangkak keluar dari kawah kawah kawah sedalam 100 meter dengan wajah penuh lumpur dan dendam.
Kabur ah! Jangan sampai ketahuan nenek loli itu, batin Jaka. Dia lari menjauh dari lembah tersebut.
“Sial, lain kali aku tidak mau nonton Langgeng berantem lagi. Ilmu menghilang sistem ini ternyata bisa ditembus indra batin si Nyai.”
Di kawah, Nyai Geni menatap mayat tanpa kepala itu dengan mata emasnya yang tajam. Dia puas Langgeng menang, tapi hatinya membara oleh amarah lain.
Jaka Utama, anak haram itu! Tunggu Musim Berburu ini selesai, akan kupotong kakinya sendiri!
Sementara itu, Jaka yang sudah aman di tepi sungai tiba-tiba bersin. “Hatsyi! Siapa sih yang omongin aku? Apa Naningsih? Ngeri banget kalau dia yang nyariin.”
Jaka duduk di bawah pohon rindang dan mengeluarkan buku hariannya. Dia sudah siap mencaci maki Nyai Geni Tirta di dalam diary-nya untuk melepas kesal.