NovelToon NovelToon
Penghianatan Tak Termaafkan

Penghianatan Tak Termaafkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Wanita Karir / Selingkuh / Cinta Terlarang / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Mengubah Takdir
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: Miss Ra

​"Dia mencintaiku untuk sebuah taruhan. Aku menghancurkannya untuk sebuah keadilan."

​Kirana percaya bahwa Arka Mahendra adalah pelabuhan terakhirnya. Di pelukan pria itu, ia merasa aman, hingga sebuah malam di pesta megah mengoyak dunianya. Di balik tawa mahal dan denting gelas sampanye, Kirana mendengar kenyataan pahit, cintanya hanyalah sebuah objek taruhan, dan harga dirinya hanyalah alat untuk memenangkan kontrak bisnis keluarga Mahendra.

​Dikhianati, dipermalukan, dan dibuang hingga ke titik nol tak membuat Kirana menyerah. Ia menghilang, mengubur gadis naif yang penuh cinta, dan terlahir kembali sebagai wanita sedingin es yang haus akan pembalasan.

​Tiga tahun kemudian, ia kembali. Bukan untuk memohon maaf, tapi untuk mengambil setiap keping kekayaan, kehormatan, dan kewarasan pria yang telah menghancurkannya.

Selamat datang di Cerita Kirana, di mana cinta adalah racun dan pengkhianatan adalah senjatanya.

By: Miss Ra

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 5

Matahari pagi menembus celah gorden apartemen Kirana, membawa kehangatan yang terasa berbeda dari biasanya. Kirana terbangun dengan senyum tipis yang jarang terlihat. Sentuhan kening dari Arka semalam masih membekas, menciptakan rasa aman yang asing namun candu. Bagi seorang wanita yang menghabiskan bertahun-tahun membangun benteng besi di sekeliling hatinya, perasaan ini seperti air di padang gurun.

Namun, di belahan kota yang lain, suasana sangat kontras.

Di sebuah penthouse mewah milik Arka, aroma cerutu dan wiski sisa semalam masih tertinggal. Arka berdiri di balkon, hanya mengenakan jubah mandi sutra hitam, menatap pemandangan kota dengan tatapan predator.

Pintu terbuka, dan Dion masuk tanpa mengetuk. Ia membawa sebuah tablet yang menampilkan grafik taruhan mereka.

"Kau benar-benar gila, Arka," ujar Dion sambil menuangkan kopi. "Ayahmu meneleponku pagi ini. Dia bertanya apakah kau benar-benar bisa mendapatkan daftar vendor Kencana Jewelry atau kau hanya sibuk bermain cinta-cintaan."

Arka berbalik, senyumnya dingin. "Katakan pada Ayah, bisnis butuh presisi. Jika aku memaksanya semalam, dia akan lari. Tapi sekarang? Dia merasa aku adalah satu-satunya orang di dunia ini yang memahaminya. Dia sedang berada di tahap 'penyerahan diri secara emosional'. Sebentar lagi, dia sendiri yang akan membukakan brankas itu untukku."

Dion menggelengkan kepala. "Tapi 80 hari, Arka. Taruhan kita tinggal sisa dua bulan lebih sedikit. Kau sudah mengatur strategi 'kebetulan' berikutnya?"

Arka berjalan ke mejanya, mengambil sebuah map biru. "Kirana adalah wanita yang teratur. Dia punya rutinitas. Setiap Sabtu pagi, dia lari pagi di taman kompleks apartemennya. Setiap Selasa sore, dia mengunjungi toko buku tua di Menteng. Dan setiap Jumat malam, dia selalu mengunjungi panti asuhan di pinggiran Jakarta untuk memberikan donasi."

"Panti asuhan?" Dion mengernyit. "Si Ratu Es itu punya sisi lembut?"

"Semua orang punya kelemahan, Dion. Dan panti asuhan itu adalah kelemahannya. Maka, itu akan menjadi panggung sandiwaraku berikutnya."

~

Jumat malam tiba. Jakarta diguyur hujan gerimis, menciptakan suasana melankolis. Kirana baru saja selesai dengan urusan kantor dan langsung memacu mobilnya menuju Panti Asuhan Kasih Bunda. Baginya, tempat ini adalah satu-satunya tempat di mana ia bisa melepas topeng 'Manajer Tangguh' dan menjadi Kirana yang biasa.

Namun, saat mobilnya memasuki halaman panti, ia tertegun. Sebuah mobil mewah yang sangat ia kenali - Bentley hitam milik Arka - sudah terparkir di sana.

"Pak Arka?" gumam Kirana heran.

Ia melangkah masuk ke dalam bangunan panti yang sederhana. Di sana, di ruang tengah yang beralaskan karpet tipis, ia melihat pemandangan yang tak pernah ia bayangkan. Arka Mahendra, pewaris tunggal Mahendra Group, sedang duduk di lantai, dikerumuni oleh anak-anak kecil. Ia tampak sedang membacakan sebuah buku cerita dengan ekspresi yang begitu hangat.

"Lalu, sang pangeran pun berkata, bahwa harta yang paling berharga bukanlah emas, melainkan kebaikan hati," suara Arka terdengar lembut, jauh dari nada otoritas yang biasa ia gunakan.

Kirana terpaku di ambang pintu. Jantungnya berdesir. Melihat pria yang ia anggap sombong kini bersenda gurau dengan anak-anak yatim piatu, meruntuhkan sisa-sisa tembok pertahanannya.

Arka mendongak, seolah baru menyadari keberadaan Kirana. Ia tampak terkejut. "Kirana? Sedang apa kau di sini?"

"Saya... saya rutin ke sini setiap Jumat malam," jawab Kirana canggung, melangkah mendekat. "Harusnya saya yang bertanya, kenapa Anda di sini?"

Arka berdiri, menepuk-nepuk celananya. Ia tersenyum malu-malu, sebuah ekspresi yang telah ia latih di depan cermin selama berjam-jam. "Aku... aku tidak ingin orang tahu. Mahendra Group punya reputasi yang keras, tapi aku punya janji pribadi pada almarhum ibuku untuk selalu membantu tempat ini. Aku sering ke sini diam-diam untuk memberikan donasi dan membacakan cerita."

Ibu panti, seorang wanita tua bernama Bu Lastri, menghampiri mereka. "Ah, Nak Kirana! Nak Arka ini sungguh dermawan. Dia baru saja mendonasikan perpustakaan kecil untuk anak-anak. Kalian berdua rupanya saling kenal?"

Kirana menatap Arka dengan tatapan yang kini penuh dengan kekaguman dan rasa bersalah karena sempat berprasangka buruk. "Iya, Bu. Kami rekan bisnis."

"Dunia ini sempit sekali, ya," ujar Arka, menatap Kirana dalam. "Ternyata kita punya tempat perlindungan yang sama."

Malam itu, setelah anak-anak tidur, Arka dan Kirana duduk di teras panti, menyesap teh hangat di tengah udara malam yang sejuk.

"Kenapa Anda tidak pernah bercerita soal ini?" tanya Kirana.

Arka menunduk, memainkan gelas tehnya. "Kebaikan bukan untuk dipamerkan, Kirana. Di dunia bisnis, jika orang tahu kau punya sisi lembut, mereka akan menganggapmu lemah. Ayahku... dia tidak akan suka jika tahu aku menghabiskan waktu di sini."

Kirana merasa ada ikatan batin yang semakin kuat. Ia merasa mereka memiliki nasib yang sama, dua orang yang harus bersikap keras di luar demi bertahan hidup, namun memiliki hati yang sensitif di dalam.

"Aku mengerti," ucap Kirana pelan. "Aku juga sering merasa harus memakai topeng setiap kali melangkah masuk ke kantor."

Arka meletakkan tangannya di atas tangan Kirana. Kali ini, Kirana tidak hanya membiarkannya, tapi ia membalas genggaman itu.

"Mungkin," bisik Arka, "kita tidak perlu memakai topeng saat kita sedang berdua."

Keesokan harinya, strategi 'kebetulan' Arka berlanjut.

Kirana sedang berada di toko buku tua di Menteng, mencari referensi desain klasik. Saat ia sedang menjangkau sebuah buku di rak tinggi, sebuah tangan membantunya mengambilkan buku tersebut.

"Buku yang bagus. Desain Renaisans selalu punya cara untuk memukau," suara itu sangat akrab.

Kirana berbalik dan tertawa kecil. "Arka? Jangan bilang ini kebetulan lagi."

Arka terkekeh, mengangkat bahu dengan gaya yang sangat santai. "Aku sering ke sini mencari inspirasi arsitektur. Sepertinya selera kita benar-benar selaras, Kirana. Mungkin ini yang dinamakan takdir?"

Sepanjang akhir pekan itu, Arka seolah-olah ada di mana-mana. Di taman tempat Kirana lari pagi, di kafe tempat Kirana biasa membeli kopi, bahkan saat Kirana sedang terjebak macet, mobil Arka berada tepat di sampingnya, memberinya lambaian tangan yang hangat.

Semua itu tampak sangat alami bagi Kirana. Ia merasa seolah-olah semesta sedang berusaha menyatukan mereka. Ia tidak tahu bahwa setiap 'kebetulan' itu adalah hasil dari tim intelijen pribadi Arka yang memantau GPS ponselnya dan jadwal asistennya.

~~

Minggu malam, Arka mengundang Kirana ke sebuah makan malam pribadi di apartemennya. Bukan restoran mewah, tapi Arka memasak sendiri untuknya.

"Aku tidak tahu kau bisa memasak," ujar Kirana, menatap hidangan pasta yang tersaji cantik.

"Hanya hobi saat sedang stres," jawab Arka, menuangkan anggur ke gelas Kirana.

Suasana sangat intim. Cahaya lilin berpendar di wajah Kirana, membuatnya tampak sangat cantik. Arka tahu, ini adalah saatnya untuk langkah penentuan.

"Kirana," Arka memulai, suaranya terdengar sangat serius. "Aku tahu kita baru mengenal secara pribadi dalam waktu singkat. Tapi aku merasa seolah-olah sudah mengenalmu seumur hidupku. Aku tidak ingin ini hanya soal bisnis atau proyek Bali."

Kirana menahan napas.

"Aku ingin kau menjadi bagian dari hidupku. Secara nyata," Arka berdiri, berjalan ke arah Kirana, dan berlutut di samping kursinya. Ia mengambil sebuah kotak beludru kecil, bukan berisi cincin, tapi sebuah kalung dengan liontin batu safir kecil yang sangat elegan.

"Ini bukan lamaran, aku tidak ingin menakutimu," Arka tersenyum lembut. "Ini adalah simbol bahwa aku ingin melindungimu. Aku ingin menjadi tempatmu pulang saat dunia luar terasa terlalu kejam."

Air mata menggenang di mata Kirana. Belum pernah ada pria yang bicara seperti ini padanya. Arka tidak meminta sesuatu darinya, Arka menawarkan dirinya untuk menjadi pelindung.

"Arka... aku..."

"Ssst," Arka meletakkan jari telunjuknya di bibir Kirana. "Jangan jawab sekarang. Pakai saja kalung ini. Biarkan aku membuktikan bahwa aku serius."

Arka memasangkan kalung itu di leher Kirana. Tangannya yang dingin bersentuhan dengan kulit leher Kirana, mengirimkan sensasi yang membuat Kirana merasa sepenuhnya milik pria ini.

Malam itu, Kirana menyerahkan hatinya sepenuhnya. Ia merasa telah menemukan pangeran di tengah hutan beton Jakarta.

.

Setelah Kirana pulang, Arka duduk di sofa, menyesap sisa anggurnya. Pintu apartemen terbuka, Dion masuk dengan wajah tidak sabar.

"Bagaimana? Kalungnya diterima?"

Arka mengangkat gelasnya ke arah Dion. "Dia menangis, Dion. Dia menangis karena terharu."

"Wow. Kau benar-benar aktor kelas Oscar," Dion tertawa sinis. "Jadi, kapan kau akan menanyakan soal daftar vendor itu?"

Arka menatap kalender di dinding. "Besok. Besok adalah hari penandatanganan draf final proyek Bali. Dia sedang dalam puncak emosinya. Dia akan memberikan apa pun untuk menunjukkan bahwa dia mempercayaiku sebesar aku mempercayainya."

Arka mematikan lampu apartemennya, menyisakan kegelapan yang hanya diterangi lampu kota. Di balik kegelapan itu, wajah aslinya muncul, seorang pemburu yang sedang menghitung detik-detik sebelum mangsanya benar-benar jatuh ke jurang.

Kirana sedang di rumahnya, memandangi kalung safir itu di depan cermin dengan penuh cinta, tidak menyadari bahwa perhiasan indah di lehernya itu adalah rantai tak kasat mata yang akan menyeretnya menuju kehancuran paling menyakitkan dalam hidupnya.

...----------------...

**Next Episode**.....

1
anju hernawati
bagus jalan ceritanya author lanjut y .....
Miss Ra: siaaappp
total 1 replies
zhelfa_alfira
makin seru
Renjana Senja
nah bener. harus waspada sama barang asing gitu
Renjana Senja
eh. kiriman apa itu kalau boleh tau kawan?
zhelfa_alfira
wah keren²
zhelfa_alfira
lanjut²...
Sunaryati
Okey ku kira walau di penjara Bram tidak tinggal, orang yang serakah hal dunia biasanya sulit menerima kekalahan walau terbukti bersalah
Sunaryati
Menegangkan melebihi cerita mafia
Sunaryati
Semoga Arka selamat
zhelfa_alfira
semangat²
zhelfa_alfira
lanjut sama2 masih punya perasaan tapi ego masih sama² tinggi
zhelfa_alfira
dah selesai yang menegangkan kita tunggu yang manis2 nya lagi.😁🤭
zhelfa_alfira
wow seru nya cerita ini...
zhelfa_alfira
akhirnya keangkuhan arka selesai juga
zhelfa_alfira
bagus akhirnya ketahuan juga padahal reza sudah tau semua kebusukan arka...semangat²
zhelfa_alfira
entah lah bisa² nya masuk lobang yang sama...
zhelfa_alfira
keren² aku suka hancur kan dan hempaskan yang sudah menyakiti
zhelfa_alfira
keren
Miss Ra: /Kiss//Heart/
total 1 replies
zhelfa_alfira
wow keren aku suka karakter kinara tegas...semangat up kk author
zhelfa_alfira: sama² semangat
total 2 replies
zhelfa_alfira
lanjut²
Miss Ra: siaaap...

lanjut besok pagi ya kak..
good night...
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!