Pernikahan Liana dan Abi hanyalah kesepakatan pahit di atas kertas untuk menyambung keturunan.
Liana terjepit di antara rasa hormat kepada Genata dan status barunya sebagai istri kedua. Namun, seiring berjalannya waktu, batas antara "paman" dan "suami" mulai mengabur. Abi terjebak dalam dilema besar saat ia menyadari bahwa Liana bukan sekadar pelanjut nasab, melainkan pemilik kunci hatinya yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Abi menganggukkan kepalanya dengan sungguh-sungguh, menatap Liana dengan tatapan penuh janji.
Ia tahu bahwa membawa Liana kembali ke rumah lama mereka hanya akan membangkitkan trauma yang bisa membunuh istrinya secara perlahan.
"Mas mengerti, Li. Mas tidak akan membawamu kembali ke rumah itu dan Mas juga tidak akan membawamu ke rumah Mama Prameswari karena Mas ingin kita memulai semuanya dari awal," ucap Abi pelan sambil menggenggam tangan Liana.
"Mas sudah membeli sebuah rumah baru. Rumah yang jauh dari keramaian, tenang, dan tidak ada jejak masa lalu siapa pun di sana. Hanya akan ada kita dan calon anak kita."
Liana terdiam sejenak, mencerna kata-kata Abi. Ada sedikit rasa lega karena ia tidak perlu kembali ke rumah yang penuh kenangan buruk dengan Genata, namun rasa takut akan kedekatan fisik dengan Abi masih menghantuinya.
"Aku mau pindah ke rumah baru itu, Mas," jawab Liana dengan suara yang masih sangat lemah.
"Tapi aku punya satu syarat."
Abi mendekat, menyimak dengan saksama. "Apa syaratnya, Sayang? Apapun akan Mas penuhi."
"Aku ingin kita tidur di kamar terpisah," ujar Liana sambil menatap mata Abi dengan tegas namun penuh luka.
"Jangan paksa aku untuk berada dalam satu ruangan yang sama saat malam. Aku butuh ruang untuk diriku sendiri sampai aku benar-benar merasa nyaman, kalaupun aku bisa nyaman lagi."
Hati Abi terasa seperti tertusuk duri mendengar syarat itu.
Ia ingin sekali memeluk Liana dan tidur menjaganya setiap malam untuk menebus kesalahannya. Namun, ia sadar bahwa ego-nya lah yang menghancurkan Liana, dan sekarang ia harus menekan ego itu sedalam mungkin.
"Baik, Li. Mas setuju," jawab Abi dengan suara serak.
"Mas akan siapkan kamar terbaik untukmu, dan Mas akan tidur di kamar lain. Mas tidak akan masuk ke kamarmu tanpa izin darimu. Mas hanya ingin kamu merasa aman."
Liana tidak tersenyum, namun ia kembali menerima suapan martabak dari Abi.
Bagi Liana, ini adalah sebuah benteng yang ia bangun, sementara bagi Abi, ini adalah awal dari perjalanan panjang untuk mendapatkan kembali hati yang telah ia patahkan berkeping-keping.
Pintu kamar rawat terbuka perlahan, dan Angela langsung berlari kecil menuju ranjang Liana.
Tanpa banyak kata, Angela merengkuh tubuh sahabatnya itu dengan sangat erat, seolah ingin menyalurkan seluruh kekuatan yang ia miliki ke dalam tubuh Liana yang masih ringkih.
"Li. Syukurlah kamu sudah mau makan," bisik Angela dengan suara parau menahan tangis.
"Jangan pernah pikirkan untuk pergi lagi, ya? Aku butuh kamu. Kita semua butuh kamu."
Liana tidak membalas pelukan itu dengan tenaga yang sama, namun ia menyandarkan kepalanya di bahu Angela.
Air matanya kembali menetes, tapi kali ini terasa sedikit lebih ringan karena kehadiran sahabat yang selalu ada untuknya.
Sementara itu, Mama Prameswari berdiri di ambang pintu, menatap pemandangan itu dengan perasaan campur aduk.
Ia kemudian menoleh ke arah Abi yang berdiri tak jauh darinya.
Tatapan Mama Prameswari kini tidak lagi meledak-ledak seperti saat di lorong rumah sakit, melainkan penuh dengan penekanan dan otoritas seorang ibu.
"Abi," panggil Mama Prameswari dengan suara rendah namun dalam.
Abi segera menghampiri dan menunduk hormat.
"Iya, Ma."
"Kamu sudah berjanji untuk menjauhkan wanita itu, dan kamu sudah menjanjikan rumah baru yang tenang untuk Liana. Aku memegang kata-katamu, Abi," ucap Mama Prameswari sambil menatap tajam ke dalam mata menantunya.
"Jika sekali saja aku mendengar Liana menangis karena ulahmu atau wanita itu lagi, atau jika kamu melanggar batas yang sudah diminta Liana mengenai kamar terpisah itu. Aku sendiri yang akan menjemputnya dan memastikan kamu tidak akan pernah melihat anak itu lahir."
Abi mengangguk mantap, wajahnya menunjukkan kesungguhan yang mutlak.
"Abi janji, Ma. Nyawa Abi taruhannya. Abi akan menjaga Liana dengan cara yang dia inginkan, bukan dengan cara Abi lagi."
Mama Prameswari menghela napas panjang, mencoba membuang sisa sesak di dadanya.
"Buktikan, Abi. Jangan hanya bicara. Liana sudah memberikanmu satu kesempatan terakhir, meski hatinya sudah hancur. Jangan buat dia menyesal karena tetap memilih hidup."
Di dalam kamar, Liana perlahan melepaskan pelukan Angela.
Ia menatap ke arah Mama dan Abi di ambang pintu.
Meski rumah baru sudah menanti, Liana tahu bahwa perjalanan menyembuhkan trauma ini akan memakan waktu yang sangat lama, dan kamar terpisah itu akan menjadi saksi bisu perjuangannya untuk kembali menemukan dirinya sendiri.
Setelah suasana terasa lebih tenang, Mama Prameswari dan Angela pun bersiap untuk pulang.
Mereka tahu Liana butuh waktu untuk beristirahat dan memulihkan jiwanya sebelum benar-benar pindah ke rumah baru mereka.
Mama Prameswari mencium kening putrinya dengan penuh kasih.
Saat Mama hendak melangkah keluar, Liana menarik pelan ujung baju Mamanya, sebuah gerakan yang mengingatkan Mama pada masa kecil Liana saat sedang merajuk.
"Ma..." panggil Liana lirih.
"Iya, Sayang? Ada apa?" tanya Mama sambil kembali mendekat.
"Besok kalau Mama ke sini lagi. Liana mau makan panada," pinta Liana dengan suara kecil.
Ada binar tipis di matanya saat menyebutkan kue tradisional kesukaannya itu.
Mama Prameswari tersenyum lebar, air mata haru nyaris jatuh lagi.
Baginya, keinginan Liana untuk makan adalah sebuah kemenangan besar.
"Iya, Sayang. Besok Mama buatkan sendiri panada yang paling enak untukmu. Isi ikannya yang banyak, ya? Kamu istirahat yang tenang sekarang."
Angela juga melambai sambil tersenyum menguatkan sebelum akhirnya mereka benar-benar meninggalkan kamar perawatan. Kini, di dalam ruangan itu hanya tersisa Liana dan Abi.
Keheningan kembali menyelimuti kamar. Liana segera memalingkan wajahnya, ia masih belum sanggup menatap Abi terlalu lama.
Ia meringkuk di atas ranjang, mencoba memejamkan mata untuk mencari ketenangan.
Abi mengerti posisinya. Ia tidak mencoba untuk naik ke tempat tidur atau menyentuh Liana.
Dengan perlahan, Abi mengambil bantal dan selimut tipis yang ia bawa di koper tadi.
Ia merebahkan tubuhnya di sofa rumah sakit yang sempit dan agak keras, yang terletak di sudut ruangan.
"Mas tidur di sini ya, Li. Mas tidak akan mengganggumu. Kalau kamu butuh apa-apa di tengah malam, panggil saja Mas," ucap Abi lembut.
Liana tidak menjawab, namun ia tidak juga mengusir Abi.
Di dalam kegelapan kamar yang hanya diterangi lampu tidur remang-remang, Abi menatap punggung istrinya dari sofa.
Meskipun punggungnya terasa sakit karena posisi sofa yang tidak nyaman, Abi merasa jauh lebih tenang berada di sana.
Malam itu menjadi malam pertama bagi mereka dalam suasana yang baru dimana sebuah jarak yang sengaja diciptakan untuk menyembuhkan luka, namun dalam satu atap yang menandai awal dari perjuangan Abi untuk menebus segala dosanya.
Suasana kamar yang sunyi seketika berubah mencekam saat suara isak tangis yang tertahan mulai terdengar dari arah ranjang.
Liana terbangun dengan napas memburu, peluh dingin membasahi keningnya.
Dalam mimpinya tadi, ia kembali merasakan jeratan kain di lehernya, namun yang lebih mengerikan, ia melihat Genata tertawa puas sambil menggendong paksa bayi dari rahimnya yang bersimbah darah.
"Tidak, jangan ambil..." racau Liana di tengah tangisnya.
Ia memeluk perutnya dengan erat, gemetar hebat karena trauma yang menghantam kembali.
Abi yang tidur dengan perasaan waswas di sofa, langsung terjaga begitu mendengar suara tangisan itu.
Ia melihat Liana sedang meringkuk ketakutan, napasnya tersengal-sengal seperti orang yang sedang tercekik.
"Li? Liana!" Abi segera bangkit dan mendekat.
Ia ingin sekali memeluk istrinya untuk menenangkan badai di hati Liana, namun ia teringat janjinya untuk tidak menyentuh Liana tanpa izin.
Abi berlutut di samping ranjang, menjaga jarak agar tidak membuat Liana semakin panik.
"Li, ini Mas. Kamu hanya mimpi buruk, Sayang. Tarik napas, Li. Tidak ada siapa-siapa di sini. Kamu aman."
Liana menoleh dengan mata yang memerah penuh ketakutan.
"Mas, Mbak Genata dia ambil bayi ini. Dia bawa kain itu lagi, Mas! Dia mau aku mati!" Liana meraung, air matanya tumpah semakin deras.
Hati Abi hancur berkeping-keping melihat istrinya dalam kondisi seperti ini.
Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat, merutuki dirinya sendiri yang menjadi penyebab trauma sedalam itu.
"Dengar Mas, Li. Lihat mataku," ucap Abi dengan suara yang sangat lembut namun penuh penekanan.
"Genata tidak akan pernah bisa menyentuhmu lagi. Dia sudah pergi jauh. Mas sudah menjagamu di sini. Mas tidak akan membiarkan siapa pun, siapa pun, menyakitimu lagi. Demi Tuhan, Li."
Liana perlahan menatap mata Abi. Dalam keremangan lampu tidur, ia melihat guratan kelelahan dan kesedihan yang sama dalamnya di wajah suaminya.
Meskipun kebencian itu masih ada, namun ketakutan akan mimpinya membuat Liana sedikit melunak.
"Mas, jangan biarkan dia datang," lirih Liana dengan suara yang serak karena tangis.
"Tidak akan, Li. Mas akan duduk di sini, tepat di samping ranjangmu, sampai pagi. Mas tidak akan tidur. Mas akan menjagamu dan bayi kita," jawab Abi.
Ia tetap duduk di lantai, bersandar pada sisi ranjang, membiarkan Liana tahu bahwa ia benar-benar menjadi benteng bagi istrinya malam itu.
Perlahan, isak tangis Liana mereda. Meski masih ada sisa-sisa trauma dalam napasnya, kehadiran Abi yang berjaga di sampingnya memberikan sedikit rasa aman yang sudah lama hilang dari hidupnya.
Melihat Liana akhirnya kembali tenang dan memejamkan mata, Abi tidak berani bergerak sedikit pun.
Ia merasakan tarikan pelan di ujung kemejanya—jemari Liana yang kurus dan pucat menggenggam erat kain bajunya, seolah takut jika ia melepaskannya, kegelapan dalam mimpinya akan datang kembali.
Pandangan Abi mengabur oleh air mata yang menggenang.
Refleks bawah sadar Liana ini menghantam ingatan masa lalu Abi dengan telak.
Dahulu, saat Liana masih berusia tujuh tahun dan Abi baru saja mulai sering berkunjung ke rumah Mama Prameswari.
Liana kecil sering mengalami mimpi buruk tentang monster di bawah tempat tidur.
Setiap kali itu terjadi, ia akan berlari ke kamar tamu tempat Abi menginap atau mencari Abi di ruang tengah.
Liana kecil tidak akan meminta dipeluk, tapi ia akan duduk di samping Abi dan menggenggam ujung bajunya dengan erat, persis seperti yang dilakukannya sekarang.
"Paman Abi, jangan pergi dulu ya? Liana takut mimpinya balik lagi kalau baju Paman dilepas," bisik Liana kecil saat itu dengan mata bulatnya yang mengantuk.
Waktu itu, Abi akan mengusap kepalanya dan berjanji tidak akan ke mana-mana sampai matahari terbit.
Kini, belasan tahun kemudian, polanya masih sama. Liana masih mencari perlindungan pada orang yang sama. Namun, rasa perih di dada Abi semakin tajam karena ia menyadari kenyataan pahit: dulu ia adalah pelindung dari monster dalam mimpi Liana, namun sekarang, dialah monster yang menciptakan mimpi buruk itu dalam hidup nyata Liana.
Abi tetap duduk di lantai dingin rumah sakit, membiarkan punggungnya bersandar pada sisi ranjang.
Ia tidak peduli jika badannya akan sakit besok pagi.
Ia hanya menatap jemari Liana yang masih menggenggam bajunya dengan posesif.
"Mas di sini, Li. Mas tidak akan ke mana-mana," bisik Abi pelan ke arah kegelapan ruangan.
Ia menjaga napasnya agar tetap teratur, takut gerakan sekecil apa pun akan membuat Liana terbangun dan teringat kembali pada luka-luka mereka.
Di tengah sunyinya ruang perawatan, Abi bersumpah dalam hati bahwa rumah baru yang ia beli nanti harus menjadi tempat di mana Liana bisa tidur tanpa perlu menggenggam bajunya karena ketakutan lagi.