NovelToon NovelToon
Rebith: Menjadi Istri Protagonis

Rebith: Menjadi Istri Protagonis

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Time Travel / Mafia / Reinkarnasi / Cintapertama
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: raintara

"Tidak perlu kasar padaku! Jika kau memang tidak menyukai pernikahan ini, ceraikan saja aku!"

Kanaya kira, transmigrasi jiwa hanyalah ilusi belaka.

Karangan penulis yang tidak akan pernah menjadi nyata.

Namun siapa sangka, perempuan itu mengalami hal yang dia kira hanyalah ilusi itu?

Terjebak di dalam raga istri sang protagonis pria yang takdirnya dituliskan akan mati bunuh diri, karena frustasi suaminya ingin menceraikannya.

Nama figuran itu.... Kanaya Wilson. Perempuan yang begitu menggilai Kalendra Wijaya, sang protagonis pria.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon raintara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

20. Maaf Untuk Semuanya

Kanaya termenung. Menatap kosong pada jendela yang menampilkan pemandangan taman rumah sakit.

Ternyata...Kanaya Wilson adalah dirinya sendiri.

Dia bukan jiwa yang tersesat, tetapi jiwa yang kembali pada kehidupannya yang pertama. Kehidupan yang memiliki akhir tragis untuknya. Dan sekarang, dia harus mengubah takdir tragis itu. Kanaya tidak ingin kembali mati konyol karena bu-nuh diri.

"Jadi, ini alasan kenapa aku sering merasa sesak saat Kalendra mengutarakan sindirannya. Ini alasan perasaan tak nyaman setiap kali aku menatap netra laki-laki itu."

Derit pintu terdengar, membuat Kanaya yang semula menumpukan pandangannya pada jendela, berganti arah menatap pada sumber suara.

Di sana, laki-laki yang berstatus sebagai suaminya tengah menatapnya...dalam. Ingin rasanya Kanaya menyelami netra itu. Menelusuri teka-teki yang belum bisa dirinya mengerti.

Dalam keheningan, terdengar sepatu Kalendra yang beradu dengan lantai terdengar tegas. Dengan dada yang berdebar liar, dia dekati sang istri yang masih setia dengan kebisuannya. Matanya menatap Kalendra sayu.

Sungguh. Kalendra sangat merindukan perempuan itu. Ingin rasanya dia berlari, merengkuh tubuh lemahnya. Memeluknya erat, meluapkan perasaanya yang selama ini ia coba tahan.

Namun, alih-alih mewujudkan angannya, laki-laki itu memilih untuk tetap menggunakan kewarasannya. Dia tidak mau, jika nantinya Kanaya merasa tak nyaman dan berakhir mengusir dirinya.

"Bagaimana keadaanmu?" tanya Kalendra memecah keheningan saat sudah sampai tepat di samping bangkar istrinya.

Bibir pucat Kanaya menampilkan senyum tipis. "Lebih baik sejak kau datang."

Mungkinkah Kalendra salah mendengar?

Namun, dugaannya itu harus terbantahkan tatkala Kanaya meraih tangannya, menuntunnya agar duduk pada bangkar. Seolah, perempuan itu memang menginginkan kehadiran Kalendra.

"Kau...dari mana?"

Kalendra tersenyum simpul. Satu tangannya balik menggengam punggung tangan sang istri, sedangkan tangan yang lainnya menyingkirkan anak rambut perempuan itu yang menjuntai.

"Ada hal penting yang harus kuurus."

"Lebih penting dariku?"

Sungguh. Kalendra tidak menyangka Kanaya akan bersikap clingy seperti ini. Apakah...ini efek dari bius yang masih tertinggal? Apapun itu, terserah. Karena Kalendra menyukainya. Istrinya tampak menggemaskan saat menunjukkan sisi manjanya.

Tampak natural. Tidak dibuat-buat seperti biasanya.

"Kau lebih penting dari apapun, Kanaya." jawabnya, masih setia mengelus pipi istrinya yang tampak lebih tirus.

"Sungguh?"

"Iya."

"Apa buktinya?"

Bibir Kalendra berkedut gemas. Tak tahan lagi dia condongkan tubuhnya pada Kanaya, lalu mencuri satu kecupan pada bibir sang istri yang seperti sudah memanggilnya sejak dari tadi.

Mata Kanaya membola lucu, membuat Kalendra terkekeh dibuatnya. Dengan gemas, dia cium punggung tangan istrinya berkali-kali.

"Bahkan, jika kau meminta dunia pun, aku akan memberikannya."

Kanaya menahan senyumnya, tetapi itu hanya sesaat. Karena setelahnya, dia menarik tangannya dari genggaman sang suami. Mengalihkan pandangannya pada jendela. Diam-diam, Kalendra merasa kehilangan.

"Jika aku memang sepenting itu, kenapa kau selalu mengataiku sebagai tikus kecil? Kau selalu berkata pedas padaku. Aku sakit hati asal kau tahu." pertanyaan Kanaya terdengar lirih. Ada rasa sesak ketika dia mengutarakan keluh kesahnya.

Tatapan Kalendra meredup. Perasaan bersalah menggerogoti hati ketika dia mengingat perangai buruknya.

"Maaf. Aku hanya...kesal."

"Aku kesal dengan diriku, setelah semua yang kau lakukan di masa lalu, aku...tetap tidak bisa menyingkirkanmu dari hatiku."

"Aku benci pada diriku sendiri yang terlalu lemah kepadamu. Aku merasa ini tidak adil."

Kanaya memejamkan matanya. Perempuan itu tahu, perbuatannya di masa lalu tidak bisa dikatakan benar. Tetapi, bukankah Kalendra juga salah, mendekati seorang gadis yang jelas-jelas memiliki kekasih.

Apalagi, Kalendra berani memintanya menjadi kekasih.

Kanaya hanya ingin menjaga perasaan Pram waktu itu, meskipun, pada akhirnya kekasihnya itu mengkhianatinya.

"Aku juga minta maaf. Maaf untuk semua yang terjadi di masa lalu." Kanaya memberanikan diri kembali menatap netra gelap Kalendra.

"Aku tahu, perbuatanku sangat salah. Aku telah mempermalukanmu di depan umum. Aku telah...menghancurkan harga dirimu."

Mata Kanaya memburam. Tidak seharusnya dia membahas masalah ini sedangkan kondisinya baru saja stabil. Tetapi, Kanaya tidak bisa untuk menahan diri. Semuanya harus jelas. Tentang pernikahannya, tentang hubungannya dengan Kalendra.

"Lalu...setelah semua yang terjadi di masa lalu, dengan tidak tahu malunya, aku datang menemuimu, meminta bantuanmu untuk perusahaan ayahku yang coleps waktu itu."

Samar, tubuh Kalendra menegang. Perasaan tak aman datang, saat Kanaya kembali membahas masa-masa awal di mana perempuan itu terpaksa menikah dengannya.

Laki-laki itu mendekatkan diri. Ia raih wajah sang istri. Menangkupnya hingga netra mereka saling menatap.

"Dengar, aku tidak peduli lagi dengan masa lalu. Mulai detik ini dan seterusnya, aku hanya ingin bersamamu. Membangun awal yang baru."

Mungkin, sudah cukup main-mainnya. Kalendra tidak mau kehilangan sesuatu yang susah payah ia dapatkan. Saat Kanaya sendiri yang menyerahkan diri dan memohon kepadanya, itu sudah cukup membuat Kalendra puas.

Dan--- Kalendra tidak mau, semua itu akan hancur pada suatu hari nanti karena terbongkarnya rahasia yang selama ini dijaganya. Juga mimpi sialan yang akhir-akhir ini mengganggu pikirannya, Kalendra tidak mau bunga tidur itu menjadi kenyataan.

Kalendra harus menjaga miliknya. Sampai kapanpun, Kanaya hanya miliknya. Tidak ada yang bisa memisahkan bahkan jika itu adalah kematian.

Kalendra gila, ya dia akui itu. Dan penyebabnya adalah perempuan yang saat ini ada di hadapannya. Gadis kecil yang memberikan plester untuknya. Gadis kecil yang memberikan perhatiannya, di saat orangtua Kalendra sendiri tidak peduli kepada anaknya.

"Kau--- kau sudah memaafkanku?" suara Kanaya terdengar serak.

"Sudah kubilang, aku tidak peduli dengan masa lalu."

"Kau--- perasaanmu padaku, apa itu masih sama seperti dulu?"

Sejenak, Kalendra bungkam. Netranya menyorot dalam.

"Tidak."

Bagai tersengat listrik, tubuh Kanaya menegang.

Menggenggam tangan Kanaya, Kalendra arahkan tangan mungil itu agar menyentuh dadanya yang berdetak liar.

"Perasaanku sudah tidak seperti dulu lagi, karena semakin hari, rasa itu semakin besar, semakin dalam, semakin liar, hingga aku bingung bagaimana cara mengendalikannya."

"Hingga aku memanfaatkan segala cara untuk bisa memilikimu. Karena, aku tidak akan pernah rela, jika kau bersama orang lain, Kanaya."

"Rasanya aku ingin membu-nuh semua laki-laki yang berani mendekatimu. Menghancurkan mereka berkeping-keping, sampai mereka tidak berani untuk sekedar berbagi udara yang sama denganmu."

Bibir Kanaya melengkung ke bawah. Mengingat sikap buruknya pada Kalendra di masa lalu, Kanaya merasa tidak pantas mendapatkan cinta sebesar itu dari Kalendra.

Seharusnya Kalendra hancurkan saja perusahaan ayahnya sekalian, membuat Kanaya menderita tanpa harus melibatkan sebuah pernikahan.

Sembari menahan tangis, Kanaya masuk ke dalam pelukan Kalendra, mendekap tubuh tegap itu erat.

Tangan Kalendra terangkat. Membalas pelukan istrinya tak kalah erat. Menumpukan dagunya pada bahu kecil itu. Sesekali, dia kecup leher Kanaya yang tertutup oleh rambut.

Kemudian, mata gelapnya menatap dinding dengan kabut obsesi yang sangat pekat. Semakin mempererat rengkuhannya, Kalendra bersumpah, dia tidak akan melepaskan Kanaya.

"Kau milikku kan Kanaya?" bisik Kalendra rendah. Penuh ancaman. Sarat akan peringatan. Sebuah klaim yang tidak membutuhkan bantahan.

Sayangnya...Kanaya tidak menyadarinya. Perempuan itu tidak paham, mungkin saja kebebasannya akan terenggut.

"Ya, aku milikmu. Aku milikmu, Kalendra."

.

.

he fell first and harder.

1
Resti Rahmayani
kenapa harus berbohong, padahal untuk memulai sesuatu harus jujur walaupun sakit dan lagi pula suaminya tau walaupun hasil nguping sih ..
Ahrarara17
Lagi kak, up lagi
wwww
novel se seru ini ko sepi bgt sih 🤔 padahal bagus loh guys 👍🏻 semangat buat author nya 🫶🏻
raintara06: terhura bgt bacanya 🤧🤧tengkyu yaa🩵
total 1 replies
Ahrarara17
Ceritanya keren
Ahrarara17
Yuk, kak. Lanjut yuk, ceritanya. Ditunggu upnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!