Romeo bukanlah tokoh dalam dongeng klasik yang jatuh cinta pada pandangan pertama. Ia hanyalah seorang pemuda biasa, anak tunggal yang hidup tenang dalam rutinitasnya. Namun, hidupnya mendadak berubah ketika sang nenek—satu-satunya keluarga yang ia miliki—mengatur sebuah perjodohan untuknya. Romeo menolak secara halus, tetapi tak mampu membantah keinginan nenek yang sangat ia hormati.
Tanpa ia sadari, gadis yang dijodohkan dengannya ternyata bukan orang asing. Ia adalah Tina—sahabat masa SMP yang dulu selalu ada di sisinya, yang bahkan pernah menyelamatkannya dari tenggelam di kolam renang sekolah. Namun waktu telah memisahkan mereka. Kini, keduanya telah tumbuh dewasa, dan pertemuan kembali ini bukan atas kehendak mereka, melainkan takdir yang disulam oleh tangan tua sang nenek.
Tapi, Romeo merasa ada yang berubah. Tina yang kini berdiri di hadapannya bukan lagi sahabat kecilnya. Dan yang lebih membingungkan, perasaannya pun mulai berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ryuuka20, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21. Baikan
Udara malam yang segar menyapa wajah Tina saat ia keluar kamar. Ia mengusap pipinya yang masih sedikit dingin dari air cucian wajah, lalu menghela napas pelan—rasa berat yang selama ini menekan dadanya mulai sedikit surut.
Di teras, lampu gantung kecil menerangi sudut tempat Romeo sudah duduk. Meja kayu kecil di depannya sudah disiapkan, teko besi dengan uap tipis yang mengambang, dua cangkir kaca, dan piring bundar berisi kue kering berwarna keemasan yang tampak renyah.
Tina mendekat dan duduk di kursi rotan sebelahnya, menyelipkan tangan di bawah paha untuk menghangatkannya. Ia menghirup aroma teh chamomile yang khas dan menenangkan, lalu mengambil sepotong kue dengan jari-jari yang masih sedikit gemetar.
"Enak ya kue ini." Suaranya lembut, disertai senyuman kecil saat gigitan pertama membuat renyah di mulutnya. Ia angkat pandangan ke Romeo, matanya sedikit mengkilat di bawah cahaya lampu. "Kapan lo belinya?"
Romeo mengangkat cangkir tehnya ke bibir, menyedot secangkir kecil sebelum menurunkannya kembali ke meja. Uap teh sedikit menghangatkan wajahnya yang tadinya tampak pucat.
"Gue belinya tadi pagi, pas gue mampir di bakery sebelah kantor." Ia menunjuk arah jalan raya dengan kepala, lalu menatap Tina dengan tatapan yang lebih hangat.
"Lo suka banget sama kue itu waktu kita dateng dulu, jadi kepikiran buat beli. Biar kita bisa duduk santai kayak gini—bukan cuma bicara masalah serius aja, tapi juga cerita-cerita yang ringan."
Tina mengangguk perlahan, senyumnya makin lebar dan membuat lekukan manis di sudut matanya. Ia mengambil lagi sepotong kue, kali ini menyeduhnya sebentar di dalam cairan teh sebelum memakannya.
"Ya udah, cerita dong soal kerjaan lo." Ia menoleh ke arah Romeo, ekspresinya jadi lebih serius tapi tetap hangat.
"Lo sering pulang larut akhir-akhir ini, bahkan kadang gue sudah tidur Lo baru datang. Kayaknya sibuk banget ya?"
Romeo menarik napas panjang, bahunya sedikit mengendur saat ia menurunkannya. Ia memutar cangkir teh di atas meja dengan jari-jari, melihat permukaan cairan yang bergelombang pelan.
"Ya, kerjaan lagi numpuk parah." Suaranya terdengar sedikit lelah tapi jujur.
"Deadline proyeknya tinggal beberapa hari lagi, dan ada beberapa bagian yang harus diperbaiki dari awal." Ia menggeleng perlahan, lalu menatap jauh ke arah kebun di belakang rumah.
"Kadang gue fokus sampe lupa waktu—kalau sadar, jam sudah menunjukkan tengah malam, dan badan juga merasa kayak mau roboh aja."
Tina mendengarkan dengan seksama, jari-jari nya pelan memutar gagang cangkir teh saat menyedot secangkir kecil. Udara dingin malam membuat uap teh lebih jelas mengambang di antara mereka.
"Gue ngerti sih, tapi lo juga harus jaga kesehatan. Jangan sampe terlalu sibuk sampe lupa makan, oke?"
"Iya, gue tau." Romeo menjepit bibirnya sebentar, lalu menatap Tina dengan pandangan yang serius dan penuh tekad. "Makanya gue sekarang mau lebih bagi waktu, nggak cuma buat kerja, tapi buat lo juga."
Setelah mendengar itu, ekspresi wajah Tina menjadi lebih lembut. Ia menyusun rambutnya yang tertiup angin ke belakang telinga, lalu mulai bercerita dengan nada yang rileks.
"Di sekolah juga nggak kalah sibuk, lho. Muridnya makin banyak tiap tahun, jadi gue harus ngatur jadwal les dan ujian sampe kepala jadi pusing." Ia sedikit tertawa, mata nya bersinar saat berbicara tentang pekerjaannya.
"Tapi ya, lo tau kan, gue enjoy banget ngajar—pas liat mereka ngerti materi yang dulu sulit, rasanya puas banget."
Mereka berbicara panjang lebar, mulai dari cerita kecil di tempat kerja masing-masing, pengalaman lucu yang terjadi di hari itu, hingga rencana kecil untuk waktu luang mereka. Obrolan mereka mengalir lancar tanpa terasa, hingga akhirnya pembicaraan perlahan bergeser ke awal pernikahan mereka.
Romeo menggeser kursinya sedikit lebih dekat ke meja, matanya melihat jauh ke arah langit yang sudah mulai bersinar bintang.
"Lo inget kan, kita dijodohin bukan karena cinta yang udah ada dari awal." Suaranya pelan, seperti sedang mengingat kenangan lama. "Nenek pengen liat kita bahagia, jadi dia yang ngaturin semuanya." Ia menoleh ke arah Tina, tatapannya penuh dengan rasa cinta yang sudah tumbuh lama. "Menurut lo, kita udah berhasil nggak jaga hubungan ini?"
Tina menyundul bahu Romeo dengan lembut, matanya penuh rasa penasaran sambil mengangkat alisnya sedikit. Ia menaruh cangkir teh di meja dengan suara pelan, lalu menatap Romeo dengan tatapan yang bercampur haru dan ingin tahu.
"Tapi hubungan kita dari jaman SMP itu masih tanpa ikatan cinta?"
Suaranya ringan tapi jelas, disertai senyuman kecil yang membuat lekukan manis di sudut bibirnya. Ia meraih tangan Romeo yang ada di atas meja, menyentuhnya perlahan seolah ingin merasakan jawaban yang mungkin tersembunyi di dalam sentuhan itu.
Tina mengangkat pergelangan tangannya perlahan, biarkan cahaya lampu teras menerangi gelang manik berwarna perak yang masih terpasang rapi di sana. Setiap maniknya berkilau lembut, seolah menyimpan cerita panjang di dalamnya.
"Apa artinya gelang ini, Romeo?" Suaranya lembut tapi penuh dengan makna, matanya menatap gelang sebelum mengalihkan pandangan ke wajah Romeo. "Ini kan Lo sendiri yang bilang kalau ini simbol dari hubungan kita dari belasan tahun yang lalu."
Romeo menelan ludahnya dengan susah payah, telapak tangannya jadi berkeringat meskipun udara malam terasa dingin. Ia ingin menjawab, tapi kata-kata seolah macet di tenggorokannya.
"Hmm... itu... sebenarnya...." Kata-katanya terputus-putus, pandangannya meleset ke arah lain sebelum kembali ke gelang di tangan Tina. Badannya sedikit menggigil karena gugup, dan ia hanya bisa terdiam tanpa bisa melanjutkan kalimatnya.
Tina mengangguk pelan, matanya menatap permukaan teh yang sudah mulai mendingin. "Iya, gue inget. Gue rasa kita udah jalanin sebaik mungkin. Tapi ya, perjodohan ini bukan cuma soal nenek. Gue mau kita juga beneran bangun hubungan ini dari hati, bukan cuma pura-pura di depan nenek."
Romeo tersenyum getir, jari-jarinya menggaruk bagian belakang lehernya seolah mengingat sesuatu yang lama terpendam. "Lo masih inget syarat-syarat yang dulu kita bikin?"
Tina tertawa kecil, suara riangnya terdengar lembut di malam yang sepi. "Iya, gue inget kok. Gue masih simpen jawaban gue di dalam buku catatan lama, lo juga kan?"
Romeo mengangguk perlahan, pandangannya kembali ke arah Tina dengan ekspresi yang lebih hangat. "Iya, gue inget semua. Dan gue rasa, kita berdua udah sama-sama belajar banyak dari perjodohan ini. Gue cuma pengen pastiin kalau kita bisa jalanin ini lebih dari sekedar syarat."
Tina menatap Romeo dalam-dalam, matanya bersinar di bawah cahaya lampu dengan kilauan yang penuh keyakinan. "Iya, gue juga pengen gitu. Kita jalanin ini bukan cuma karena nenek, tapi karena kita mau."
...****************...
Mereka berdua saling tersenyum, merasa lebih dekat dan lebih memahami satu sama lain. Di bawah langit malam yang tenang, mereka memutuskan untuk terus berusaha menjaga hubungan ini, bukan lagi karena perjodohan, tapi karena keinginan mereka sendiri.
Di tengah percakapan mereka, Romeo berdiri dan berjalan menuju lemari di ruang tamu. Dia mengambil selembar kertas yang sudah lama dilipat rapi. Kertas itu terlihat usang, dengan tulisan tangan yang sedikit pudar. Romeo kembali duduk di sebelah Tina di teras, memperlihatkan kertas itu padanya sambil tertawa getir.
"Lo inget ini, Tin?" Romeo bertanya sambil menunjukkan kertas yang dulu ia tulis. Matanya menyiratkan campuran antara nostalgia dan sedikit rasa bersalah.
Tina mengambil kertas itu dengan hati-hati, membacanya kembali dengan pelan-pelan.
1. Kita cuma di jodohin
2. Gue bukan Romeo yang ada di film-film
3. Layani gue seperti pada layaknya suami
4. Gue gak punya harta kekayaan, yang gue punya cuma nenek dan rumah ini
5. Gue cuma karyawan biasa, jadi gaji gue gak seberapa
6. Kita akan tinggal di rumah ini, gue gak punya rumah lagi selain ini
Tina menutup mata sejenak, pipinya sedikit memerah karena rasa malu yang melonjak. Ia menekuk badan ke depan, mencoba menyembunyikan wajahnya sebelum kembali mengambil kertas dari tangan Romeo. Jari-jarinya sedikit gemetar saat meraih sudut kertas usang itu.
"Udahlah, gak penting kok..." Suaranya terdengar pelan dan sedikit tertekan. Tanpa berlama-lama, ia menarik kedua ujung kertas dengan cepat—suara rip yang jelas memecah keheningan malam. Potongan kertas kecil mulai bertebaran di atas meja kayu sebelum sebagian jatuh ke lantai teras.
Romeo terdiam, bahunya sedikit bergoyang seolah terkena hembusan angin yang kuat. Hatinya tergetar, membuat napasnya jadi sedikit terengah-engah. "Gue nggak nyangka lo bakal robekin semua."
Tina tersenyum samar saat Romeo selesai berbicara, kemudian membuka tas jinjing yang selalu ia bawa kemana-mana. Dari dalamnya, ia mengeluarkan selembar kertas yang sudah terlipat rapi—mirip dengan kertas yang baru saja Romeo tunjukkan padanya.
"Gue juga pernah nulis sesuatu, jawabannya waktu lo kasih syarat-syarat itu dulu," kata Tina pelan, sambil mengulurkan tangan untuk menyerahkan kertas itu ke tangan Romeo.
smngt kakak....