Mencintai bukan berarti sepenuhnya memiliki karena takdir tak pernah kita tahu rencana yang Kuasa. Memiliki bukan berarti sepenuh mencintai karena cinta tulus setia hanya untuk seseorang saja.
Simak Kisah "Perindu Senja."
By : Farit Rittan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ata~Tenareten, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pembakar Semangat
"Elena, apakah orangtua wali murid yang lain telah mendahului kita hingga keadaannya begitu sepi?" tanya Ibu Esi kepadanya karena letak rumah Ibu Elena sangat dekat dengan jalan keluar-masuk kampung mereka.
"Tidak Esi, mungkin mereka berpikir saat ini terlalu awal untuk bergegas ke sekolah."
Mereka berdua hendak menuju ke sekolah untuk mengikuti rapat peserta UN. Keduanya paling awal datang ke sekolah anak mereka mendahului orangtua wali peserta didik lainnya.
Walupun terbilang cukup jauh karena harus melewati dua kampung tak ada sedikitpun rasa lelah untuk menggapai tujuan mereka hanya karena semangat api yang membara demi mendukung anak mereka.
Sesampainya di sekolah, mereka beristirahat sejenak untuk memulihkan stamina tubuh yang terkuras dari perjalanan mereka oleh karena keadaannya masih terlihat sangat sepi. Keduanya tidak langsung bergegas menuju ke aula sekolah melainkan menunggu orangtua wali murid yang lain dan juga arahan dari Pak Alang.
Pak Alang telah lima menit berada disitu mendahului mereka, hanya saja dia berada di dalam ruangan kerjanya. Dia terlihat sangat sibuk menyediakan seluruh berkas yang akan menjadi patokatan utama dalam rapat nantinya.
"Tak terasa Esi, anak kita telah berjalan sejauh ini," pinta Ibu Elena.
Ibu Esi menghela nafas panjang sebelum duduk di depan teras ruang kelas VI, “ Iya, lalu bagaimana dengan anakmu? Apakah kamu telah menentukan kemana arah yang akan didakinya?"
“Belum, itu tergantung keinginannya. Tapi yang kuharap tak jauh dia melangkah dari sini. Nah, bagaimana dengan anakmu?"
Ibu Esi terdiam sesaat sebelum memandangi Ibu Elena dengan penuh kesedihan yang nampak diraut wajahnya. Sedikit rasa haru bercampur penyesalan kini mulai menghantui benaknya.
"Aku telah memutuskan bahwa Mey dan aku akan pergi ketika dia telah menyelesaikan pendidikannya di sini."
"Apa!" Ibu Elena terlihat sedikit kaget dengan keputusan yang diambil sahabatnya.
Kesedihan kini mulai nampak di raut wajahnya mengingat satu-satunya sahabat yang paling mengerti dengan jalan hidupnya akan meninggalkan semua kisah yang telah mereka lalui.
Sedikit rasa sesal muncul dalam benaknya, tetapi dilain sisi dia juga mengerti dengan keputusan yang diambil sahabatnya itu, oleh karena Ibu Esi masih memiliki kedua orangtua yang sudah lanjut usia hidup di tanah sebrang, tanpa ada seorang anakpun yang membantu mengurusi mereka sebab Ibu Esi merupakan anak tunggal.
"Apakah kamu memang benar-benar akan meninggalkan kampung kita?"
Ibu Esi menundukkan kepala dan menghela nafas panjang sebelum menatapnya dengan penuh rasa haru, hingga muncullah satu-demi satu ingatannya dengan Ibu Elena.
"Elena... Apa yang aku katakan ini benar adanya. Disini aku tidak memiliki tanggung jawab yang penuh selain mengurusi Mey, sedangkan kedua orangtuaku...." perkataannya terhenti, sedikit tetesan air matanya merinai membasahi pipinya karena teringat akan kasih dan cinta dari kedua orangtuanya.
Ibu Elena yang sadari tadi berdiri kini mulai duduk di samping kanannya dan mengelus-elus pundaknya, "Janganlah engkau bersedih, Esi. Orangtuamu disana sangat membutuhkan perhatian yang penuh dari kamu," dia kemudian menghela nafas panjang, "Apakah ini telah kamu katakan kepada Mey? Tentunya dia sangat senang dengan keputusanmu, sebab Opa dan Omanya yang bertahun-tahun tak pernah dia pandang raut wajah mereka, kini dia akan mengenali mereka dan juga kedua orangtuamu pastinya sangat gembira ketika melihatmu dan cucu mereka."
Ibu Esi menggelengkan kepala pelan karena dia tahu perasaan Mey terhadap Ayahnya, walaupun telah lama tiada, nampaknya Mey masih tidak bisa menerima kenyataan itu dan sangat sulit juga Mey meninggalkan semua sahabatnya yang dari kecil mereka selalu bersama-sama, dilain sisi Ibu Esi justru ingin menjodohkan Mey dangan Metallo karena melihat tingkah Mey yang sangat terhibur ketika berada di dekatnya, hanya saja tak ada kesempatan untuk membicarakan ini kepada Ibu Elena, hingga terpendam sampai saat ini.
*****
Setelah usai UN, Metallo menghabiskan hari-harinya menemani Ibunya, hingga terdengar kabar bahwa hari yang di tunggu-tunggu kini tiba didepan mata.
Setelah bermain bersama teman-temennya diapun langsung bergegas kerumahnya dan memberitahukan semuanya.
“Bu, aku ada kabar gembira, nih," pintanya sembari berjalan menghampiri Ibunya yang sadari tadi duduk di ruang tamu membacakan comik kesukaannya.
Melihat kehadiran anaknya, Ibu Elena pun langsung melipatkan comik yang dibacanya itu. dia terlihat sedikit bingung melihat tingkah Metallo yang begitu girang menghampirinya, "Ada Apa, Nak?"
Iapun langsung memberikan penjelasannya kepada Ibunya bahwa besok merupakan hari yang ia tunggu-tunggu sebab sekolah mereka tercinta akan menjadi Almamater yang selalu dikenang dalam skenario hidupnya, “Bu, besok hadir, ya. Menemaniku mendengarkan kelulusan kami."
"Iya, tentu Ibu pasti datang, Nak."
Setelah selesai membicarakan hal tersebut ia langsung bergegas membersikan dirinya dan menanti malam yang kelam tanpa ada di teman oleh siapapun, sebab beberapa temannya memilih berlibur ke rumah Opa ataupun Oma mereka. Sedangkan Mey dan Ibunya langsung meninggalkan kampung tanpa ia ketahui setelah selesai UN.
*****
“Pagi, Bu. Apa kabar?" tanya Festo kepada Ibu Elena.
“Alhamdulilah... Baik, Nak. Nih... Temani Metallo minum kopi, ya," pinta Ibu Elena seraya menyodorkan dua gelas kopi untuk mereka berdua.
“Oh, makasih. Tapi aku telah minun."
Festo ingin menolak tawaranya itu, hanya saja Rifael tak mau mendengarkannya dan memaksa dia, “Weee, minumlah dulu, Fes. Ini Cuma segelas ko."
*****
Setelah selesai ngobrol bersama Festo, Iapun langsung mempersiapkan dirinya, sedangkan Ibu Elena bersama Ibu-ibu yang lain telah pergi mendahului mereka.
“ Wey... Fes, kira-kira aku lulus atau tidak, ya?" tanyanya kepada Festo dengan raut wajah yang sangat cemberut.
“Kamu pasti lulus, yang menjadi bencana sekarang ini... Jantungmu berdetak tak menentu ,kan? Soeolah-olah dunia ini tidak berpihak padamu," sedikit tawa menggelegar ketika tatapannya mengarah pada langit biru.
“Benar Indri, Aku cemas. Harus aku apakan hidup ini jikalau tidak lulus."
“Akupun sama, Metal. Tapi, harus kita hadapai... Tinggal beberapa jam lagi sekolah yang kita cintai akan menjadi sejarah perjuangan kita yang selalu terkenang dalam benak apa bila kita lulus.“
"Yuk... Buruan teman-teman, sidang telah dimulai dan beberapa menit lagi dan pengumunan kelulusan akan di sampaikan," ajakan Indri membuatnya tergesah- gesah berlari.
Setelah beberapa menit kemudian Ibunya terlihat sangat bahagai ketika penyampaiaan kelulusan. Alhamdulilah... Metallo dinobhatkan yang Maha Kuasa menjadi juara tiga di tingkat provinsi meraka oleh karena itu, ia sangat berharap mendapatkan Bapa/Mama *** yang dijanjikan oleh lembaga pendidikannya.
*****
Dua bulan telah berjalan namun tak terdengar sedikit pun tentang program yang di luncurkan tersebut, hingga membuatnya sedikit kecewa. Tetapi dilain sisi ia sangat bahagia karena telah melewati masa-masa sulit tersebut dengan baik.
“ Nak, apa yang hendak kamu pikirkan?"
“ Bu, apakah benar janji manis pemerintah itu palsu?" tanyanya dengan raut wajah yang sangat cemberut
Ibu Elena menundukkan kepala sesaat dan menghela nafas panjang sebelum menatapnya dengan penuh makna, “Janji tak ada yang palsu jikalau di tepati, Nak. Tapi mungkin itu semata-mata di buat agar dapat membakar api semangat orangtua para siswa, hingga melebur dalam pentingnya kegiatan belajar anak di rumah."
Ia hanya diam tertegun mendengarkan Ibunya, sedikit rasa sesal menjanggal dirinya, tetapi dilain sisi dia juga sangat senang karena tugas yang diembankan telah ia lewati walau hanya sandiwara.
mampir juga ya.../Coffee//Coffee/
Dikelilingi kebencian
Thor, itu maksudnya bagaimana ya??