Damian adalah seorang pria muda tampan pewaris perusahaan besar yang kaya raya. Suatu hari dalam perjalanan bisnisnya dia memberi tumpangan pada seorang pengantin wanita yang kabur dihari pernikahannya.
Kesalahfahamanpun terjadi, keluarga besar, teman dan koleganya mengira Damian sudah melangsungkan pernikahan.
Karena jadwal yang padat, Damian terpaksa membawa pengantin wanita itu dalam perjalanan bisnisnya keliling Eropa.
Bagaimana kisah selanjutnya? Siapakah wanita itu? Kenapa dia kabur dihari pernikahannya?
Apakah akhirnya mereka akan saling jatuh cinta?
Follow IG@rr_maesa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RR Maesa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CH-21 Pelukan yang Hangat
Hanna tiduran di sofanya, masih dengan mengotak atik handphonenya melihat lihat rumah ditepi pantai. Sekian lama tidak mendengar suara wanita itu mengoceh, membuat Damian penasaran. Dia yang duduk bersandar di tempat tidur, memiringkan tubuhnya menengok apa yang sedang dikerjakan wanita itu. Ternyata memainkan handphonenya. Tapi kenapa Hanna tidak juga bicara? Apa dia benar-benar marah dengan permintaannya untuk mengganti cincin itu?
“Ehm! Ehm!” Damian berdehem. Tidak ada reaksi apapun.
“Ehm! Ehm!” Masih tidak ada reaksi juga. Membuatnya tidak sabar.
“Kau kenapa dari tadi diam saja? Kau sakit gigi?” tanya Damian. Hanna tidak menjawab.
“Hei, kau kenapa?” tanya Damian.
“Aku sedang marah padamu!” teriak Hanna, akhirnya bicara. Membuat Damian tersenyum dalam hati. Itu lebih baik, fikirnya. Wanita itu tidak mengoceh, kamar ini seperti kuburan saja.
“Kenapa kau marah padaku? Apa salahku?” tanya Damian.
Hanna menoleh pada Damian tapi masih dengan berbaring di sofa.
“Kalau aku mengganti cincin mahalmu itu, uangku akan berkurang. Harga rumah ini 30 M dikurangi harga cincinmu, sisanya tinggal beberapa milyar saja. Aku harus membeli tanah, kebun juga untuk investasi,” ucap Hanna.
“Katamu rumahnya 20M ko jadi naik lagi 30M?” tanya Damian.
“Ini rumahnya beda lagi, rumahnya lebih unik dan sangat cantik,” jawab Hanna.
“Benarkah? Coba aku lihat,” tanya Damian.
Hanna bangun dari tidurnya menghampiri Damian dan memperlihatkan gambar rumah itu di ponselnya.
Damian mengambil Hp Hanna, dan melihatnya.
“Kurang bagus,” ucapnya.
“Apa maksudmu kurang bagus? Ini harganya 30M!” seru Hanna.
“Ada yang lain tidak? Coba aku cari di handphoneku saja. Mencari rumah sudah berhari-hari tidak jadi jadi juga,” gerutu Damian.
Hanna mengambil Handphonenya, kembali ke sofanya dan berbaring.
“Jangan tidur! Kau punya pekerjaan malam ini!” teriak Damian.
“Iya,” jawab Hanna.
Damian mencari-cari rumah di tepi pantai, ternyata banyak rumah rumah bagus yang ditemukannya.
“Sini! Sini!” panggil Damian.
“Apa?” tanya Hanna.
“Kau lihat ini, rumahnya sangat bagus dan artistis,” jawab Damian.
Hanna kembali bangun dari tidurnya.
“Duduk disini!” ucap Damian sambil menepuk kasur disampingnya.
“Kau mau apa?” tanya Hanna.
“Menyuruhmu duduk! Apa lagi?” gerutu Damian. Hanna mendelik curiga.
“Ayo duduk, kau lihat rumahnya,” kata Damian lagi, tangannya kembali menepuk kasur disebelahnya. Tapi kepalanya menunduk melihat handphone. Hanna masih diam.
“Kau kenapa? Bukankah setiap malam kau tidur denganku? Ayo duduk!” tanya Damian, mulai kesal, menatap wanita itu.
Akhirnya Hanna menurut, naik ke tempat tidur, duduk disebelah Damian.
“Nah, bagaimana kalau ini?” tanya Damian, memperlihatkan gambar rumah itu.
“Bagus,” jawab Hanna.
“Ada lagi yang ini,” Damian kembali mengscroll layar hpnya.
“Bagus,” jawab Hanna lagi.
“Yang ini juga,” kembali gambar berubah.
“Semuanya bagus-bagus. Berapa harganya?” tanya Hanna, kepalanya condong ke dekat Damian, melihat harga rumah itu.
“100 Milyar? Mahal amat. Aku kan Cuma punya 40M!” seru Hanna.
“Ya kau menabung yang banyak,” jawab Damian.
“Aku tua juga belum tentu terkumpul 100M. Aku lari dari orangtuaku tanpa uang sepeserpun. Bahkan aku tidak memakai sepatu. Aku kelaparan, aku tidak punya apa-apa,” ucap Hanna.
“Kau bekerja supaya dapat 100M,” jawab Damian dengan enteng.
“Siapa yang akan menggajiku bermilyar milyar, kau bermimpi ya?” ucap Hanna.
“Aku bisa menggajimu 40Milyar!” jawab Damian.
“Itu kan satu tahun, aku tidak mau bekerja lebih lama lagi,” keluh Hanna.
“Kenapa? Bukankah tugasmu enteng cuma memelukku saja?” tanya Damian.
“Aku akan menjomblo terlalu lama, aku akan tua bersamamu. Aku tidak mau!” jawab Hanna.
“Kenapa kau tidak mau tua bersamaku?” tanya Damian, menatap wanita disampingnya itu.
“Kau kan bukan suamiku, buat apa aku tua bersamamu? Aku juga ingin menikah, ingin punya anak, punya rumah yang cantik,” jawab Hanna. Damian terdiam.
“Kau lihat rumah ini lagi. Ini ada isinya juga, coba lihat!” ujar Damian pada Hanna, wanita itu melihat kembali ke hp Damian. Ternyata banyak lagi rumah rumah yang bagus.
“Ini juga bagus. Ini bagus. Ini bagus, ada kolam renangnya diatas rumah, ini juga bagus,” ucap Damian. Tidak ada jawaban dari Hanna.
Damian kembali melihat rumah-rumah, Hanna masih tidak memeberi respon. Malah merasa ada yang berat di bahunya. Diapun menoleh, ternyata Hanna sudah tidur dan bersandar di bahunya. Bukankah dia menggajinya untuk memeluknya saat tidur, kenapa malah dia yang tidur terus? Tidak mau kenal finalti lagi!
Kepala Hanna terayun ayun lalu bruk, jatuh ke pangkuan Damian, dia tidur sangat nyenyak, membuat Damian kaget.
“Kenapa jadi aku yang menunggui dia tidur?” gumam Damian, sambil mengeluarkan tangannya yang tertimpa kepala Hanna, sehingga kepalanya yang miring menjadi bergerak menghadapnya.
Dilihatnya wanita itu. Dia tidur seperti bayi. Dia menjadi tersenyum melihat tingkah wanita ini. Diperhatikannya wajah yang sedang tertidur itu. Sebenarnya dia tidak sejelek apa yang dikatakannya, dia hanya suka menggodanya. Karena Hanna tidak sepesolek wanita lain umumnya yang genit dan berpenampilan berlebihan.
Dia ingat kata-kata Hanna yang tidak mau tua bersamanya. Apa dia tidak semenarik itu bagi wanita itu? Dimana banyak gadis-gadis yang lebih cantik dari Hanna, yang mengejar-ngejarnya, tergila-gila padanya, apakah tidak dengan wanita ini?
Dia kembali berfikir. Siapa sebenarnya wanita ini? Yang dia tahu namanya Hanna, entah benar atau tidak namanya Hanna, rumahnya dimana, pekerjaannya apa, siapa orangtuanya? Dia benar-benar tidak tau identitas wanita ini. Tapi kenapa dia merasa nyaman dipeluk wanita ini.
Mimpi buruknya hilang saat memeluknya.Padahal mimpi buruk itu selalu menghantui tidurnya dari sejak dia kecil. Mimpi kejadian dia ditinggal ibunya yang pergi dari rumah setelah bertengkar dengan ayahnya yang kini sudah meninggal. Ayahnya ternyata memiliki wanita lain yang sekarang menjadi ibu tirinya. Ibu tirinya yang membesarkannya selama ini. Ibu tirinya memang selalu berusaha baik padanya, tapi dia membencinya karena ibu tirinya yang menyebabkan ibunya pergi selamanya dari rumah ini.
Damian menghela nafas panjang. Selama ini dia masih mencari keberadaan ibunya itu yang menghilang tanpa kabar. Ke rumah kakek neneknya, ke kerabat-kerabatnya, ke teman-teman ibunya, sama sekali tidak ada kabar. Tapi dia tetap tidak menyerah untuk mencari ibunya. Mungkin selama ibunya tidak ditemukan, mungkin mimpi buruknya tidak akan pernah hilang. Hingga bertemu wanita ini yang memeluknya saat mengigau, memberinya rasa nyaman dan menghentikan mimpi buruknya, meskipun mimpi itu masih selalu muncul disaat tidurnya. Benar-benar mimpi buruk yang membuat psikisnya lelah. Dokter, ahli terapi tidak bisa menyembuhkannya padahal sudah berobat bertahun tahun. Inilah yang membuatnya berani membayar mahal Hanna untuk memeluknya. Sebanyak apapun uang yang dia miliki ternyata tidak mampu membuat tidurnya tenang.
Diliriknya kembali wanita yang tidur disampingnya. Wanita ini, entah apa yang dimilki wanita ini yang bisa membuatnya tenang dipelukannya. Bahkan dia benar-benar orang asing baginya. Melepasnya begitu saja sangat tidak diinginkannya. Dia menjadi bergantung pada wanita ini.
Malam itu di London, saat teman-temannya mengajak menemui wanita-wanita Penghibur yang sangat cantik dan tentu harganya sangat mahal. Entah kenapa saat bercumbu dengan wanita itu dia tidak merasakan apa-apa, dia merasa perbedaan yang jauh saat dipeluk wanita penghibur itu dengan dipeluk wanita asing ini, dia lebih nyaman memeluk wanita ini. Itulah kenapa dia pulang kembali ke hotel.
Padahal dari segi body, tentu saja wanita penghibur itu lebih menarik secara mata, tapi tidak dengan perasaannya. Apa dia jatuh cinta pada wanita ini? Bagaimana mungkin dia jatuh cinta? Mereka baru bertemu, bahkan dia tidak peduli dengan identitas wanita ini. Dia hanya membutuhkannya untuk memeluknya saat tidur dan mengigau.
Tidak disadarinya tangannya menyentuh helaian rambut Hanna yang menutupi wajahnya. Tiba-tiba wanita itu bergerak, merubah posisi tubuhnya menjadi miring, membuat Damian terkejut dan menghentikan gerakan tangannya.
Damian meraih bantal disampingnya, ditatanya di dekat tubuh Hanna, meraih kepala wanita itu supaya tidur diatas bantal itu. Juga diselimutinya. Tangannya terhenti saat menyelimuti tubuh itu.
Kenapa dia menjadi perhatian pada wanita ini? Bukankah wanita itu dia bayar untuk bekerja padanya? Meskipun pekerjaan yang tidak masuk akal, memeluknya saat mengigau.
Setelah dirasa Hanna tidur dengan nyaman, Damian kembali melihat handphonenya yang memperlihatkan rumah indah di tepi pantai itu disebuah pulau wisata, dengan harga fantastic 200 M. Dia mengkliknya, memesan rumah itu.
Disimpannya handphonenya, berbaring disamping tubuh wanita itu yang tertidur miring menghadapnya. Diapun mencoba tidur, tapi seperti biasa dia mulai gelisah menjelang tidur. Digesernya tubuhnya mendekati tubuh wanita itu. Biasanya dia mengigau dulu dan Hanna memeluknya dengan tidak sadar, kini dia harus memeluknya lebih dahulu karena wanita itu sudah tidur duluan. Akhirnya dipeluknya tubuh yang selalu dia ledek kurus itu, memeluknya senyaman mungkin, sampai dia tertidur.
***************
Ko author jadi terharu ya…
Jangan lupa like dan komen
Baca juga”My Secretary” season 2( Love Sory in London)