Bagi Brixton, pernikahan ini bukanlah awal dari sebuah kebahagiaan, melainkan lonceng kematian bagi kebebasannya. Di bawah sumpah yang dipaksakan oleh ambisi keluarga, ia harus merelakan wanita yang ia cintai menjadi kenangan pahit, demi bersanding dengan seseorang yang dianggapnya sebagai kutukan hidup: dirimu. Brixton tidak pernah mencoba menyembunyikan kebenciannya. Baginya, setiap inci wajahmu adalah pengingat akan masa depan yang dirampas darinya. Di dalam rumah yang seharusnya menjadi surga, ia membangun tembok tinggi yang terbuat dari hinaan, penolakan, dan tatapan tajam yang menusuk. Puncaknya terjadi saat Brixton jatuh sakit dalam kesendiriannya. Di tengah demam yang membakar tubuh dan harga dirinya, ia tetap memilih untuk menderita daripada menerima uluran tanganmu. Baginya, sentuhanmu lebih panas dari demamnya, dan perhatianmu lebih menjijikkan daripada kematian itu sendiri. "Aku lebih baik merangkak menuju kematian daripada disentuh olehmu." Di antara benci yang mendarah daging dan luka yang tak kunjung kering, akankah sumpah di atas altar itu tetap menjadi penjara? Ataukah di balik rintihan sakitnya, tersimpan sebuah rahasia yang bahkan Brixton sendiri takut untuk mengakuinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Peachy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aurelia
Kepulangan keluarga Vance dari rumah sakit kali ini terasa seperti iring-iringan kerajaan. Brixton tidak tanggung-tanggung; ia memastikan jalur dari rumah sakit hingga ke mansion utama bebas dari hambatan. Begitu mobil mewah itu berhenti di depan lobi utama, seluruh staf kediaman Vance sudah berdiri berjajar dengan wajah berseri-seri. Namun, fokus utama hari ini bukanlah pada kemewahan itu, melainkan pada buntelan kecil berwarna merah jambu yang berada dalam dekapan Alana.
Aurelia Clarissa Vance akhirnya tiba di rumahnya.
Begitu mereka masuk ke dalam ruang tengah, Leo, yang sejak pagi sudah menunggu dengan gelisah di atas sofa, langsung melompat turun. Dengan langkahnya yang kini sudah sangat mantap, ia berlari kecil menghampiri ibunya.
"Baby? Baby?" tanya Leo dengan mata bulat yang penuh rasa ingin tahu.
Alana duduk perlahan di sofa, membiarkan Leo mendekat. "Iya, Sayang. Ini Adik Aurelia. Leo harus sayang sama Adik, ya?"
Interaksi yang terjadi selanjutnya adalah sesuatu yang tidak disangka oleh siapapun. Leo tidak menunjukkan tanda-tanda cemburu. Sebaliknya, balita itu seolah-olah baru saja menerima misi suci untuk menjadi pengawal pribadi sang adik. Ketika Bibi Martha mencoba mendekat untuk mengambil Aurelia agar Alana bisa beristirahat, Leo tiba-tiba berdiri di depan boks bayi, merentangkan tangan kecilnya, dan mengerutkan kening dengan wajah serius yang sangat mirip dengan wajah Brixton saat sedang mengusir rival bisnisnya.
"No! No! Baby Leo!" seru Leo dengan suara cadelnya yang tegas, mencoba menghalangi Bibi Martha.
Brixton yang melihat itu tertawa bangga. "Lihat itu, Istriku. Insting perlindungan keluarga Vance sudah mengalir kuat di darahnya. Leo tahu bahwa Aurelia adalah permata yang tidak boleh disentuh sembarang orang."
Alana hanya bisa menggelengkan kepala. "Dia masih bayi, Suamiku. Masa dia sudah posesif begitu pada adiknya?"
Namun, jika posesifnya Leo dianggap lucu, maka apa yang dilakukan Brixton setelah kepulangan mereka benar-benar masuk ke tahap yang tidak masuk akal.
Malam itu, Alana menemukan Brixton sedang duduk di ruang kerjanya, namun ia tidak sedang meninjau dokumen properti atau saham. Di hadapannya tersebar lembaran-lembaran denah mansion yang sudah dicoret-coret, serta sebuah daftar panjang di layar monitornya.
"Suamiku, apa yang kau kerjakan sampai selarut ini? Aurelia sudah tidur, kau juga harus istirahat," ucap Alana sambil melangkah masuk.
Brixton mendongak, matanya berkilat penuh tekad. "Istriku, aku sedang memikirkan sistem keamanan untuk sayap bangunan Aurelia. Aku berencana memasang sistem pengenal wajah di pintunya. Hanya keluarga inti dan Bibi Martha yang bisa masuk. Tidak boleh ada staf pria, bahkan tukang kebun sekalipun, yang boleh melewati batas koridor kamar Aurelia tanpa izin tertulis dariku."
Alana ternganga. "Sistem pengenal wajah? Brixton, dia masih bayi! Dia bahkan belum bisa membedakan warna, apalagi menghadapi pengagum rahasia."
"Justru itu, Alana," Brixton berdiri, berjalan mondar-mandir dengan gaya diktator yang sedang merencanakan strategi perang. "Dunia ini berbahaya bagi anak perempuan yang cantik sepertinya. Aku sudah mulai menyusun kriteria untuk siapa pun yang berani mendekatinya dua puluh tahun dari sekarang. Syarat pertama: pria itu harus memiliki aset setara dengan keluarga Vance agar tidak memanfaatkan kekayaan kita. Syarat kedua: dia harus lulus tes fisik dariku secara langsung. Dan syarat ketiga: dia tidak boleh memiliki sejarah masa lalu yang kelam seperti aku dulu."
Alana hampir saja tersedak udara saat mendengarnya. "Kau menetapkan standar berdasarkan dirimu sendiri? Bukankah itu artinya tidak akan ada satu pun pria di dunia ini yang bisa mendekatinya?"
"Tepat sekali! Itulah tujuannya," jawab Brixton dengan nada kemenangan. "Jika perlu, aku akan membangun sekolah khusus di dalam mansion ini agar dia tidak perlu keluar rumah dan bertemu dengan pria-pria tidak jelas di luar sana."
Alana terduduk di kursi kerja Brixton, menatap suaminya dengan tatapan tak habis pikir. Rasa lelahnya setelah melahirkan seolah hilang berganti dengan rasa geli yang luar biasa.
"Brixton Vance, kau benar-benar sudah gila," tawa Alana pecah. "Kau ingin mengunci putri kita di dalam menara kaca seperti Rapunzel?"
"Bukan mengunci, Istriku. Hanya... memfilternya dengan sangat, sangat ketat," bela Brixton. Ia kemudian berlutut di depan Alana, menggenggam tangannya. "Kau harus mengerti. Dia memiliki wajahmu. Dia sangat cantik dan suci. Aku tidak sanggup membayangkan ada pria yang berani membuatnya menangis atau mematahkan hatinya. Aku akan menjadi benteng pertahanannya yang pertama dan terakhir."
Alana mengusap wajah suaminya yang tampak sangat serius. "Suamiku yang posesif... Aurelia akan tumbuh menjadi wanita yang mandiri. Dia akan memilih cintanya sendiri, sama seperti aku memilihmu meskipun awalnya semuanya sangat sulit."
"Itu beda," bantah Brixton cepat. "Aku adalah pengecualian. Dan aku akan memastikan Aurelia tidak perlu melewati kesulitan yang kau alami dulu."
Alana tertawa lagi, kali ini lebih keras hingga air mata sedikit keluar di sudut matanya. "Aku tidak menyangka pria yang dulu paling dingin dan ditakuti di London, kini sedang sibuk merencanakan cara menjauhkan bayi berumur tiga hari dari lawan jenisnya."
Keesokan harinya, kelucuan itu terus berlanjut. Brixton mulai membelikan Aurelia berbagai macam barang yang tidak masuk akal untuk bayi seumurannya. Di ruang tamu, sudah ada sebuah miniatur kastil yang terbuat dari bahan lembut, dan di dalam kamar bayi, Brixton memesan sebuah ranjang bayi yang dilengkapi dengan bahan antipeluru di bagian rangkanya.
"Untuk apa ranjang antipeluru, Brixton?!" seru Alana saat melihat barang itu datang.
"Keamanan tingkat tinggi, Istriku. Kita tidak pernah tahu apa yang bisa terjadi," jawab Brixton dengan wajah tanpa dosa.
Tak hanya itu, Brixton juga mulai "mewawancarai" staf keamanan rumahnya. Ia mengumpulkan semua pengawal pria di halaman belakang dan memberikan pidato singkat yang sangat mengintimidasi tentang bagaimana cara menjaga privasi Nona Muda Aurelia.
Sementara itu, Leo benar-benar menjalankan perannya dengan serius. Setiap kali Aurelia menangis, Leo adalah orang pertama yang berlari ke arah boks bayi. Ia akan berdiri di sana sambil menepuk-nepuk pinggiran boks dan berkata, "Shhh... Baby... Leo her (Leo di sini)."
Jika ada tamu yang datang dan ingin menggendong Aurelia, Leo akan duduk di depan boks bayi dengan mainan truknya, seolah-olah truk itu adalah barikade militer. Ia akan menatap tamu tersebut dengan pandangan menyelidik, baru akan mengizinkan jika tamu tersebut adalah Kakek atau Neneknya.
"Dia benar-benar fotokopi kecilmu, Brixton," ucap Alana saat mereka sedang memperhatikan interaksi Leo dan Aurelia dari kejauhan. "Dia sangat protektif. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana Aurelia saat remaja nanti. Punya Ayah yang posesif dan Kakak yang seperti agen rahasia."
Brixton merangkul bahu Alana, menariknya ke dalam pelukan hangat. "Itu artinya dia adalah wanita paling beruntung di dunia. Dia memiliki dua pria yang akan selalu menjaganya dengan nyawa mereka."
Melihat kebahagiaan yang meluap di rumah itu, Alana merasa sangat bersyukur. Posesifnya Brixton dan Leo mungkin terkadang tidak masuk akal dan sangat lucu, namun itu adalah manifestasi dari rasa cinta yang sangat besar. Brixton yang dulu tidak peduli pada siapapun, kini menjadi pria yang begitu teliti menjaga kebahagiaan keluarganya hingga ke detail terkecil.
"Suamiku," panggil Alana lembut di sela tawa mereka.
"Ya, Istriku?"
"Terima kasih. Terima kasih sudah mencintai anak-anak kita sebesar ini. Tapi tolong, batalkan pesanan sistem pengenal wajah di pintu kamar bayi. Aku tidak ingin Aurelia merasa seperti sedang dipenjara."
Brixton terdiam sejenak, tampak mempertimbangkannya dengan sangat berat. "Baiklah... demi kau, aku batalkan. Tapi sebagai gantinya, aku akan memasang kamera pengawas tambahan yang langsung terhubung ke ponselku."
Alana tertawa lagi sambil menyandarkan kepalanya di dada Brixton. "Terserah kau saja, Tuan Posesif. Yang penting kau bahagia."
Malam itu, di bawah atap kediaman Vance yang kini benar-benar telah menjadi sebuah rumah, kebahagiaan itu terasa nyata. Tidak ada lagi rahasia, tidak ada lagi dendam. Hanya ada seorang pria yang belajar menjadi ayah yang luar biasa, seorang kakak yang belajar menjadi pelindung, dan seorang ibu yang akhirnya menemukan kedamaian yang ia impikan.
Sumpah di atas luka itu kini telah berubah menjadi tawa di atas kebahagiaan. Dan bagi Alana, kegilaan Brixton dalam merencanakan masa depan Aurelia adalah bukti paling manis bahwa suaminya kini memiliki hati yang sangat luas, yang hanya diisi oleh nama Alana dan kedua anak mereka.
"Aku mencintaimu, Istriku," bisik Brixton sebelum mereka pergi menemui kedua buah hati mereka di kamar sebelah.
"Aku juga mencintaimu, Suamiku yang paling ajaib," balas Alana dengan senyum yang tidak pernah pudar.