NovelToon NovelToon
JANDA-JANDA UNDERCOVER

JANDA-JANDA UNDERCOVER

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ayu Arsila

siapa sangka tiga janda dari latar belakang berbeda seorang Bella damayanti 28(mantan polwan) ,Siska Paramita 30(mantan koki) , dan Maya Adinda 29(mantan guru TK) tanpa sengaja membentuk tim detektif amatir. Mereka awalnya hanya ingin menyelidiki siapa yang sering mencuri jemuran di lingkungan apartemen mereka.

​Namun, penyelidikan itu malah membawa mereka ke jaringan mafia kelas teri yang dipimpin oleh seorang bos yang takut dengan istrinya. Dengan senjata sutil, semprotan merica, dan omelan maut, ketiga wanita ini membuktikan bahwa status janda bukanlah halangan untuk menjadi pahlawan (yang sangat berisik).

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Arsila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kedatangan Bude Narsih

​Empat belas bulan telah berlalu sejak mereka pertama kali berkumpul di Apartemen Puri Kencana. Musim hujan di Jakarta kembali menyapa, namun kali ini kehangatan di lantai tiga terasa lebih nyata. Raka dan Bella kini sudah tidak lagi canggung saat bergandengan tangan di depan umum meskipun Bella tetap akan memberikan tatapan maut jika ada yang berani menggoda. Siska telah membuka restoran fisik pertamanya, dan Maya baru saja meluncurkan lini kosmetik yang ramah bagi para "pejuang daster".

​Namun, keamanan sebuah benteng sering kali tidak ditembus oleh tentara bersenjata, melainkan oleh ketukan pintu dari masa lalu yang tidak terduga.

​Pagi itu, sebuah taksi kuning berhenti di depan lobi. Keluar dari dalamnya seorang wanita paruh baya dengan sanggul rapi, kebaya encim yang sangat kaku, dan tatapan mata yang bisa membuat nyali preman pasar menciut. Ia membawa koper rotan besar dan sebuah bungkusan yang baunya sangat familiar bagi Maya.

​"RAKA! BELLAAAAA! TOLONGIN AKUUUU!"

​Suara lengkingan Maya kali ini bukan karena serangan The Ghost, melainkan karena kepanikan murni. Ia berlari masuk ke unit 301, wajahnya pucat pasi melampaui efek masker mutiaranya.

​"Ada apa lagi, May? Musuh baru? Robot laba-laba?" tanya Bella sambil dengan tenang membersihkan laras senapan angin modifikasinya di meja makan.

​"Lebih parah dari robot! Lebih kejam dari Nyonya Besar! BUDE NARSIH DATANG!"

​Belum sempat Bella bertanya siapa itu Bude Narsih, pintu unit 301 sudah terbuka lebar tanpa diketuk. Wanita berkebaya itu berdiri di ambang pintu, matanya memindai ruangan dengan ketajaman yang membuat Raka yang baru keluar dari dapur langsung memasang kuda-kuda insting.

​"Jadi... ini tempat tinggalmu, Maya? Berantakan sekali. Dan siapa pria ini? Kenapa dia memakai kaos kutang di depan wanita?" Suara Bude Narsih datar, namun memiliki otoritas yang tidak bisa dibantah.

​Maya merapat ke dinding. "Bude... kok nggak bilang mau ke Jakarta?"

​"Bude mau lihat sendiri kenapa keponakan Bude lebih milih jadi 'Janda Heboh' di internet daripada pulang ke desa buat urus empang lele," Bude Narsih meletakkan koper rotannya dengan bunyi GUBRAK yang berat terlalu berat untuk koper berisi baju biasa.

​Raka mendekat, matanya menatap tajam ke arah koper itu. "Bude, perkenalkan, saya Raka. Tetangga sekaligus... rekan kerja Maya."

​Bude Narsih menatap Raka dari atas ke bawah. "Rekan kerja? Kamu kelihatan seperti pelatih tinju yang kurang gizi. Dan kamu, Bella," Bude beralih ke Bella yang masih memegang senapan. "Senjata itu jahitannya kurang rapi. Kalibrasi pegasnya terlalu kencang k \= 450 , N/m, harusnya 420 , N/m kalau mau tembakan yang stabil."

​Hening. Bella, Raka, dan Siska saling pandang. Hanya ada satu jenis orang yang bisa menghitung konstanta pegas hanya dengan sekali lihat.

​Makan siang kali ini terasa sangat canggung. Bude Narsih bersikeras memasak opor ayam untuk mereka semua. Namun, Siska menyadari sesuatu yang aneh saat membantu di dapur.

​"Bude, cara Bude memotong ayam... itu teknik Disarticulation yang dipakai ahli bedah lapangan, ya?" tanya Siska sambil memperhatikan betapa bersihnya potongan sendi ayam tersebut.

​Bude Narsih hanya tersenyum tipis. "Cuma teknik potong ayam di desa, Nduk. Biar bumbunya meresap sampai ke memori selnya."

​Sementara itu di ruang tamu, Raka diam-diam menggunakan pemindai portabelnya pada koper rotan Bude. Hasilnya mengejutkan llHigh-Density Carbon Fiber dan Acoustic Dampener. Koper itu adalah sebuah alat penyadap statis tingkat tinggi yang dibalut anyaman bambu.

​"Bel," bisik Raka lewat earpiece mikro. "Bude Narsih bukan cuma Bude biasa. Dia adalah Ningsih 'The Needle', legenda intelijen dari era 80-an yang dikabarkan tewas di perbatasan Timor Timur. Dia adalah guru dari Master Tailor."

​Bella tertegun. "Maksud lo... dia adalah 'Ibu' dari seluruh teknologi benang yang kita lawan selama ini?"

​Setelah makan siang, Bude Narsih mengumpulkan mereka di ruang tengah. Ia mengeluarkan sebuah alat rajut kuno dari sakunya. Jarum rajutnya terbuat dari perak murni yang berkilau tajam.

​"Maya, Siska, Bella. Kalian sudah terlalu jauh bermain-main dengan teknologi Master Tailor. Dia itu murid saya yang nakal. Dia membuat kalian jadi target. Sekarang, Bude ke sini buat membawa kalian ke 'Archive' fasilitas rehabilitasi di Jawa Tengah. Kalian harus pensiun."

​"Pensiun?!" Maya berdiri. "Bude, aku baru aja dapet kontrak iklan daster se-Asia Tenggara! Aku nggak mau balik ke desa urus lele!"

​"Ini bukan permintaan, Maya. Ini perintah operasional," suara Bude Narsih berubah menjadi dingin.

​Tiba-tiba, dari sela-sela jarum rajutnya, keluar sehelai benang transparan yang sangat kuat. Benang itu meluncur secepat kilat, melilit kaki meja dan tangan kursi, mengurung mereka dalam sebuah jaring geometris yang sempurna.

​"Teknik Spider Silk Traditional," gumam Raka. "Dia bisa mengendalikan tegangan benang hanya dengan gerakan jari."

​"Raka, kamu bukan bagian dari misi ini. Silakan keluar lewat jendela, atau saya jahit mulutmu," ancam Bude Narsih.

​Pertempuran pecah di dalam unit 301. Bella membuka payung titaniumnya, namun Bude Narsih dengan lincah melemparkan jarum rajutnya yang terikat benang. Jarum itu menusuk sela-sela mekanisme payung Bella, membuatnya macet seketika.

​"Teknologi modern terlalu banyak titik lemah, Bella!" seru Bude Narsih.

​Siska mencoba menyemprotkan gas penetral, namun Bude Narsih menggunakan selembar kain kebaya sebagai perisai yang ternyata sudah dilapisi polimer anti-gas. Dengan satu sentakan, kain itu melilit sutil titanium Siska dan menariknya jatuh.

​"May! Pake daster The Sonic Boom!" teriak Bella.

​Maya menekan tombol di pinggang dasternya. Daster itu memancarkan gelombang suara frekuensi tinggi yang dirancang untuk merusak struktur benang molekuler. Namun, Bude Narsih hanya tertawa.

​"Kalian lupa siapa yang menciptakan algoritma frekuensinya?" Bude Narsih menarik benang utama dari kopernya. Benang itu berwarna emas redup The Ancestral Thread. Benang ini tidak terpengaruh oleh gelombang suara karena memiliki densitas getaran yang sama dengan bumi.

​Raka tidak tinggal diam. Ia meluncur dari balik sofa, menggunakan kabel serat optik dari laptopnya untuk mencoba menjerat tangan Bude Narsih. Duel kecepatan terjadi. Arka dengan gerakan taktis militer, Bude Narsih dengan gerakan gemulai tarian jawa yang mematikan.

​"Cukup!" Bella melepaskan tembakan gas tidur dari jam tangannya, namun Bude Narsih sudah lebih dulu menutup hidungnya dengan syal sutra.

​Di tengah kekacauan, Maya tiba-tiba berdiri di depan Bude Narsih, tanpa senjata, hanya dengan daster kumal yang ia pakai sejak pagi.

​"Bude! Berhenti!" teriak Maya, air mata mengalir di wajahnya. "Kenapa Bude mau bawa kita ke 'Archive'? Kita semua tahu 'Archive' itu tempat di mana agen-agen tua dicuci otaknya biar lupa segalanya! Bude mau aku lupa sama Bella? Lupa sama Siska? Lupa kalau Raka itu... orang baik?!"

​Bude Narsih terhenti. Benang emasnya masih melayang di udara, beberapa inci dari leher Raka.

​"Kalian dalam bahaya, Maya," suara Bude Narsih melembut, tapi masih penuh tekanan. "Pemerintah mulai sadar kalau ada 'unit bayangan' di apartemen ini. Master Tailor sudah tidak bisa melindungi kalian. Kalau Bude nggak bawa kalian sekarang, 'Dewan Kepatuhan' yang akan datang. Dan mereka tidak akan membawa opor ayam. Mereka akan membawa misil."

​Bella menurunkan payungnya yang rusak. "Jadi Bude ke sini buat menyelamatkan kita dengan cara menghapus memori kita?"

​"Itu lebih baik daripada mati sebagai 'aset yang gagal'," jawab Bude Narsih.

​"Gimana kalau ada jalan ketiga?" tanya Raka sambil berdiri perlahan. "Gimana kalau kita tunjukkan ke 'Dewan Kepatuhan' bahwa kita bukan aset yang gagal, tapi unit yang tidak bisa dikalahkan? Bude, gabung sama kita. Ajari kita teknik tradisional yang nggak ada di database komputer."

​Bude Narsih menatap Raka lama. Ia melihat tekad di mata pria itu, lalu melihat ke arah keponakannya yang keras kepala.

​"Kalian itu bodoh," desis Bude Narsih, namun ia menarik kembali seluruh benangnya ke dalam jarum rajut. "Kalian memilih jalan tersulit. Melawan sistem itu capek. Butuh banyak tenaga."

​"Kita punya rendang Siska buat tenaga, Bude!" sahut Maya, mencoba tersenyum di balik tangisnya.

​Bude Narsih menghela napas panjang. Ia membuka koper rotannya sepenuhnya. Di dalamnya bukan hanya alat sadap, tapi ada ribuan gulungan benang dari berbagai material langka, dan sebuah peta rahasia menuju markas 'Dewan Kepatuhan' di Jakarta Pusat.

​"Baiklah. Tapi jangan panggil saya Ningsih 'The Needle'. Di apartemen ini, saya cuma Bude Narsih yang sedang liburan," ia menatap Siska. "Dan Siska, opornya kurang garam sedikit. Ayo kita perbaiki di dapur."

​Malam itu, suasana di lantai tiga kembali tenang, namun dengan kehadiran energi baru yang luar biasa kuat. Bude Narsih duduk di balkon, mengajari Bella cara menyimpul benang dengan kekuatan tegangan T \= m(g + a) secara manual, tanpa bantuan komputer.

​Maya sibuk membantu Bude merapikan "koleksi" benangnya, sementara Raka dan Bella mendengarkan cerita-cerita intelijen dari era di mana satelit belum ada, namun rahasia bisa dicuri lewat selembar kain batik.

​"Besok," ujar Bude Narsih sambil menatap gedung-gedung tinggi di kejauhan. "Dewan Kepatuhan akan mengirimkan unit pembersih mereka. Mereka pikir mereka tahu segalanya tentang teknologi modern. Mereka lupa bahwa teknologi tercanggih di dunia ini adalah hati yang tidak bisa diprogram."

​Bella menggenggam tangan Raka. "Kita siap, Bude."

​"Satu hal lagi," Bude Narsih menoleh ke arah Maya. "Daster macan tutulmu itu... motifnya kurang simetris. Besok Bude ajarkan cara membatik daster yang bisa bikin musuh pusing hanya dengan melihat motifnya."

​Maya tertawa lebar. "Siap, Bude! Operasi Daster Batik dimulai!"

​Drama keluarga yang awalnya mengancam akan menghancurkan mereka, justru memberikan senjata terkuat yang pernah ada: benang tradisi yang tak terlihat namun tak terpatahkan. Pertempuran melawan "Dewan Kepatuhan" sudah di depan mata, dan lantai tiga Apartemen Puri Kencana kini memiliki sang legenda di pihak mereka.

1
yumin kwan
ish.... kak author keren bingitz.....
semangat kakak 💪
yumin kwan
ide ceritanya unik, lain daripada yang lain. kocak, sangat menghibur....
Talita Rafifah artanti
bagus ceritanya, menghibur, menarik untuk dibaca
yumin kwan
jadi... bakal tamat nih??!
Ayu Arsila: gak kokk... amann. 🤭
total 1 replies
yumin kwan
baru nemu, langsung marathon....
seru kocak... walau ga masuk akal 🤣🤣🤣
yumin kwan
astaga.... kok bisa kepikiran ide begini.... salut....
yumin kwan
astaga.... seru bgt ini 3 janda.... 😄
yumin kwan
kayaknya kocak ini cerita..... save ah...
Marley
🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!