NovelToon NovelToon
Nafkah 500 Ribu Yang Selalu Diungkit

Nafkah 500 Ribu Yang Selalu Diungkit

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:353
Nilai: 5
Nama Author: Anjay22

Ayu wulandari yang berusia dua puluh empat tahun ,ia sudah menikah dengan Aris seorang meneger disebuah perusahaan ,setiap bulan ia hanya mendapatkan nafkah 500 ribu untuk kebutuhan rumah tangganya dan itupun selalu Diungkit oleh suami dan mertuanya ,bagaimana Ayu berjuang untuk keluarganya ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jalan tak terduga di tengah kebingungan

Angin siang itu terasa begitu kencang saat Kirana melangkah keluar dari gerbang rumah yang selama bertahun-tahun menjadi penjaranya.

Di tangan kanannya, ia menjinjing tas kain besar berisi pakaian seadanya dan surat-surat penting. Di tangan kirinya, ia menggandeng erat Gio yang tampak bingung namun patuh mengikuti langkah ibunya yang terburu-buru.

"Mama, kita mau ke mana? Papa nggak ikut?" tanya Gio dengan suara kecilnya yang serak.

Kirana berhenti sejenak, ia berjongkok menyamakan tingginya dengan sang putra. Ia menghapus sisa keringat di dahi Gio. "Kita mau cari rumah baru, Sayang. Rumah yang lebih tenang. Gio mau kan?"

Bocah itu hanya mengangguk pelan, meski matanya menyiratkan ketakutan. Kirana tahu, bagi anak seusia Gio, dunia adalah ayah dan ibunya. Namun, ia tidak ingin membiarkan dunia Gio dibangun di atas fondasi hinaan dan air mata.

Kirana berjalan menuju pangkalan ojek di ujung jalan. Ia tidak punya tujuan pasti. Pulang ke desa adalah pilihan terakhir, karena ia tidak ingin membebani orang tuanya yang sudah sepuh dengan kabar kegagalan rumah tangganya, setidaknya tidak sekarang, sebelum ia memiliki pegangan hidup sendiri.

"Mbak Kirana? Mau ke mana bawa tas besar begini?" tanya Pak Darman, tukang ojek yang biasa mangkal di sana.

"Ke terminal, Pak," jawab Kirana singkat. Ia tidak ingin berbagi cerita lebih jauh.

"Mbak mau kemana ?" tanya pak Darman dengan membantu mengangkat tas yang dibawa Kirana dan di letakkan di depannya .

Sementara Kirana hanya diam ,didalam hatinya dia sendiri sedang bingung ,arah tujuan selanjutnya .

"Nggak tahu pak ,mungkin akan kekota sebelah ."

"Jadi mbak nggk tahu mau kemana ? apa sebaiknya mbak nggak usah keluar kota ini ,cari tempat kos didekat sini ."

"Nggak pak ,saya harus pergi dari sini ,aku dan mas Aris sudah bercerai ,saya harus memikirkan masa depan saya dan juga anak saya kedepannya pak ." pak Darman hanya mengguk .

"Mbak Kirana ,hati- hati ya ,jangan gampang percaya sama orang ,orang tidak sepenuhnya baik ."

"Iya ,pak terimakasih ."

Selama di atas motor menuju terminal, Kirana menatap jalanan kota yang padat. Ia meraba kantongnya. Di sana ada uang hasil kerjanya sebagai buruh panggul selama dua minggu terakhir—sekitar delapan ratus ribu rupiah. Angka itu jauh lebih besar dari nafkah bulanan yang diberikan Aris, dan yang paling penting: itu adalah uangnya sendiri.

Terminal bus terasa sangat bising dan panas. Kirana duduk di bangku kayu panjang sambil memeluk tasnya. Ia merasa sangat kecil di tengah kerumunan orang yang berlalu-lalang. Selama ini, ia hanya seorang istri yang terkungkung di balik tembok rumah. Dunia luar terasa begitu mengintimidasi.

"Lapar, Ma..." keluh Gio.

Kirana segera mengeluarkan bekal ayam goreng mentega yang ia masak subuh tadi,ayam yang ditolak mentah-mentah oleh Aris.

Ia menyuapi Gio dengan telaten. Melihat anaknya makan dengan lahap, kekuatan Kirana kembali pulih.

"Makan yang banyak, Nak. Ini masakan Mama khusus buat Gio," bisiknya.

Tiba-tiba, ponsel butut di saku dasternya bergetar. Sebuah panggilan masuk dari nomor yang tidak ia kenal. Kirana ragu, namun akhirnya mengangkatnya.

"Halo?"

"Kirana? Ini saya, Pak Baskoro."

Kirana terperanjat. Jantungnya berdegup kencang. "Pak... Pak Baskoro? Ada apa ya, Pak? Saya minta maaf soal keributan di rumah kemarin..."

"Tidak perlu minta maaf, Kirana. Justru saya yang harus berterima kasih karena kamu sudah menyelamatkan saya dari rekan bisnis yang buruk. Saya menelepon karena istri saya terus memikirkanmu. Kamu di mana sekarang?"

Kirana terdiam sejenak. "Saya di terminal, Pak. Saya memutuskan untuk pergi."

Terdengar helaan napas di seberang telepon. "Kirana, kamu nggak usah pergi jauh ,nanti kamu langsung kerumah saya saja ,nanti aku kirimkan alamatnya ,kebetulan istri saya punya sebuah ruko kecil yang sudah lama tidak terpakai di dekat pasar induk. Ada kamar di bagian atasnya. Jika kamu belum punya tempat tinggal, kamu boleh tinggal di sana sementara. Anggap saja ini balas budi karena sudah jujur kepada saya."

Air mata yang sejak tadi ditahan Kirana akhirnya tumpah juga. Ia tidak menyangka bahwa kejujurannya justru membukakan pintu rezeki dari orang yang sama sekali tidak ia duga.

"Tapi Pak, saya tidak punya uang untuk sewa..."

"Jangan pikirkan sewa sekarang. Fokuslah urus anakmu. Nanti kalau kamu sudah bisa mandiri, kita bicarakan lagi. Istri saya juga sedang butuh orang yang bisa memasak makanan sehat untuk katering kantornya. Saya ingat bau masakanmu tadi sangat harum."

Kirana merasa bersyukur , Allah memberikan jalan untuknya ,jalan yang tidak disangka sangka

----

Kirana segera menuju alamat yang dikirimkan pak baskoro ,kemudian pak baskoro dan istrinya memberikan alamat roko yang nantinya Kirana tempati .

Sore itu, Kirana tiba di ruko yang dimaksud Pak Baskoro. Tempatnya sederhana, tapi bersih. Kamar di lantai atas cukup luas untuknya dan Gio. Ada dapur kecil dan jendela yang menghadap ke jalanan.

Kirana merebahkan tubuhnya di atas kasur lantai yang tipis. Ia menatap langit-langit kamar. Perasaan lega yang luar biasa menjalar di sekujur tubuhnya. Tidak ada lagi bentakan Aris yang akan membangunkannya besok pagi. Tidak ada lagi sindiran pedas ibu mertua yang akan merusak harinya.

Namun, ia tahu ini hanyalah awal. Aris pasti tidak akan diam saja. Ego pria itu pasti terluka karena dipermalukan di depan klien besarnya.

Benar saja, malam itu pesan-pesan singkat mulai membanjiri ponsel Kirana.

Pesan dari Aris:

#"Dasar perempuan kampung nggak tahu diuntung! Kamu sudah bikin proyek saya batal! Kamu pikir kamu bisa hidup tanpa uang saya? Kembali sekarang dan minta maaf di depan Ibu, atau saya pastikan kamu nggak akan pernah lihat Gio lagi!"

Kirana membaca pesan itu dengan tangan gemetar, tapi bukan karena takut. Ia marah. Ia tidak lagi melihat Aris sebagai suami, melainkan sebagai parasit yang mencoba menariknya kembali ke dalam lumpur.

Ia tidak membalas. Ia justru memblokir nomor Aris dan nomor ibu mertuanya.

Kirana bangkit dari tempat tidur, ia membuka tasnya dan mengeluarkan buku tulis kecil kusam yang selalu ia bawa. Ia mencoret halaman lama dan menuliskan sesuatu di halaman baru dengan huruf besar:

#HARI PERTAMA: HARGA DIRIKU KEMBALI.#

Ia menatap Gio yang sudah tertidur pulas. Esok hari, ia akan mulai bekerja. Bukan lagi sebagai buruh panggul diam-diam, tapi sebagai wanita yang mengelola usahanya sendiri. Ia akan membuktikan pada Aris, pada mertuanya, dan pada dunia, bahwa perempuan desa yang "lugu" dan "penurut" ini bisa berdiri lebih tegak daripada mereka yang merasa paling berkelas.

"Tunggu saja, Mas Aris," bisik Kirana pada kegelapan malam. "Kamu akan melihat bagaimana 'sampah' yang kamu buang ini berubah menjadi permata yang tidak akan sanggup kamu beli lagi."

Kirana menutup matanya dengan senyum tipis. Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, ia bisa tidur tanpa rasa takut akan hari esok.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!