Rangga adalah pria sederhana yang hidup serba kekurangan, namun memiliki cinta yang tulus dan impian besar untuk membahagiakan kekasihnya. Selama bertahun-tahun, ia bertahan dengan pekerjaan kasar dan penghasilan pas-pasan, percaya bahwa cinta mereka cukup untuk melawan kerasnya hidup. Namun semuanya runtuh ketika ibu kekasihnya memutuskan menjodohkan sang putri dengan pria kaya demi masa depan yang dianggap lebih layak.
"maafin aku ya kak, aku ngga bisa lawan ibuku"
Rangga hanya bisa menatap kepergian sang kekasih yang mulai menjauh dari matanya yang mulai berembun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 23
Melihat suasana yang mulai tidak memihak padanya, Rangga langsung melancarkan aksi wilayah kekuasaan. Begitu Nenek Tari muncul membawa baki kerupuk, Rangga segera berdiri dan mengambil alih baki tersebut dengan sangat cekatan.
"Sini, Nek, biar Rangga yang bantu. Nenek duduk saja, biar Rangga yang beresin. Kasihan Nenek kalau kecapekan, kan sekarang sudah ada Rangga yang bakal sering-sering jagain kedai ini," ucap Rangga dengan suara yang sengaja dikeraskan agar Adrian mendengar.
Nenek Tari hanya tersenyum simpul, mengerti betul tabiat Rangga yang sedang merasa tersaingi. "Eh, ada Nak Adrian juga toh? Sudah lama nggak kelihatan."
Adrian berdiri dengan sopan, menunjukkan pembawaannya yang tenang dan dewasa. "Iya, Nek. Kemarin saya sempat dinas ke luar kota sebentar. Apa kabar, Nek? Sehat?"
"Alhamdulillah, sehat Nak," jawab Nenek Tari hangat.
Setelah menyapa Nenek, Adrian menoleh ke arah Rangga yang masih berdiri memegang baki kerupuk dengan wajah yang ditekuk. Adrian mengulurkan tangan dengan ramah.
"Halo, saya Adrian."
Rangga hanya melirik sekilas ke arah tangan Adrian tanpa ada niat untuk membalas jabatan tangan itu. Ia justru sibuk mengatur letak kaleng kerupuk di atas meja, berpura-pura sangat sibuk seolah Adrian adalah makhluk kasat mata.
"Oh," jawab Rangga singkat dan tak acuh, lalu ia kembali duduk dan menyesap kopinya dengan gaya yang dibuat-buat tenang, meski hatinya panas.
Ayu yang melihat kelakuan Rangga langsung merasa malu. Ia mengantarkan nasi kuning pesanan Adrian dengan gerakan yang lebih lembut dari biasanya, seolah ingin menebus ketidaksopanan Rangga.
"Maaf ya, Mas Adrian. Biasa, pelanggan lama ini memang agak kurang minum air putih pagi-pagi, jadi agak kurang fokus," sindir Ayu pedas sambil melirik tajam ke arah Rangga.
Rangga tetap bergeming, malah menyandarkan punggungnya di kursi kayu dan menatap ke arah jalanan dengan ekspresi datar.
"Ayu, nasi goreng saya mana? Lama banget. Ingat ya, pelanggan pertama itu prioritas."
Adrian yang merasakan ketegangan itu hanya tersenyum tipis, tetap tenang menyantap sarapannya seolah tidak terpengaruh oleh sikap sinis pria di depannya.
Setelah menghabiskan nasi kuningnya dengan tenang tanpa terpengaruh oleh tatapan tajam di sebelahnya, Adrian berdiri dan merapikan kemejanya. Ia meletakkan uang di meja kasir sambil tersenyum ramah pada Ayu.
"Terima kasih sarapannya, Ayu. Enak seperti biasanya," ucap Adrian lembut. Ia lalu menoleh ke arah Nenek Tari,
"Nenek, saya pamit dulu ya. Mari."
Adrian kembali menoleh ke arah Rangga, memberikan anggukan sopan meski tahu tidak akan dibalas.
"Mari, Mas," ucapnya singkat sebelum akhirnya melangkah keluar menuju motornya dan pergi dari kedai.
Begitu deru motor Adrian menjauh, suasana kedai mendadak sunyi. Ayu menghela napas panjang, lalu beralih menatap Rangga yang masih duduk anteng sambil menyilangkan kaki, seolah kursi kayu itu adalah singgasana pribadinya. Padahal, piring nasi gorengnya sudah licin bersih.
"Mas... Mas Adrian sudah pergi, tuh. Mas nggak mau ikut pergi juga?" tanya Ayu sambil mulai membereskan piring bekas Adrian.
Rangga tidak bergeming. Ia justru merogoh saku, mengambil ponsel, dan pura-pura sibuk memeriksa pesan singkat.
"Kenapa buru-buru sih, Yu? Saya kan pelanggan, masa diusir. Lagian kopi saya masih ada sedikit," jawabnya santai.
Ayu berkacak pinggang di depan meja Rangga. "Mas, ini sudah jam berapa? Memangnya nggak ke bengkel? Bos besar bolos lagi hari ini?"
Rangga mendongak, menatap Ayu dengan tatapan yang sulit diartikan. "Bengkel ada yang jaga, aman. Saya lagi mau memantau 'aset' saya di sini."
"Aset apa? Jangan mulai deh," sahut Ayu jengkel.
"Aset masa depan," celetuk Rangga tanpa malu-malu, yang langsung dihadiahi lemparan serbet bersih oleh Ayu ke wajahnya. Rangga menangkap serbet itu sambil tertawa.
"Galak banget sih. Saya cuma mau memastikan kalau si polo klimis tadi nggak balik lagi buat minta nomor WhatsApp kamu."
"Namanya Adrian, Mas! Dan dia itu sopan, nggak kayak Mas yang dari tadi mukanya ditekuk kayak cucian belum disetrika," gerutu Ayu sambil beranjak ke belakang untuk mencuci piring.
Rangga akhirnya berdiri, tapi bukannya menuju parkiran, ia malah berjalan mengikuti Ayu ke arah tempat cuci piring.
"Sopan tapi kalau nggak satset buat apa, Yu? Yang penting itu yang berani minta restu ke Nenek pagi-pagi, bukan yang cuma senyum-senyum sok manis."