Nadia merupakan cewek cupu yang sering menjadi korban bullying. Hingga akhirnya ia harus meregang nyawa di toilet sekolah.
Namun tiba-tiba matanya kembali terbuka dengan jiwa yang berbeda.
Aurora merupakan seorang ketua mafia yang terkenal sadis dan kejam. Namun dia harus meregang nyawa ditangan anak buahnya sendiri.
Betapa kagetnya Aurora saat menyadari jika jiwanya telah berpindah pada sosok gadis lemah dan cupu.
Sebuah ingatan masuk kedalam memorinya. Tangannya terkepal begitu melihat penderitaan tubuh yang ia tempati.
Dia berjanji akan membalas semua penderitaan yang dialami oleh pemilik tubuh.
Siapakah sebenarnya Nadia?
Bagaimana Aurora membalas semua perbuatan orang-orang yang sudah membuat Nadia menderita?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Senggrong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dalang penculikan
Nadia pulang seperti biasanya. Kini tujuannya bukan lagi ke rumah orang tuanya. Tetapi yang Nadia tuju saat ini adalah apartemen milik Shaka.
Nadia tidak menyadari jika dia sudah ditunggu oleh beberapa orang. Dia berjalan dengan santai ke halte.
Nadia berencana membeli mobil dalam beberapa hari lagi . Lagi pula uang yang ada dalam rekeningnya cukup untuk membeli mobil baru.
Nadia merasa ada yang mengawasinya. Instingnya sebagai seorang mafia tidak hilang meskipun harus terjebak dalam tubuh Nadia.
Namun Nadia memilih berpura-pura tidak menyadarinya. Selain banyak siswa yang berkeliaran namun dia juga penasaran siapa yang berniat jahat dengannya.
Tak lama kemudian mulutnya dibungkam dari belakang. Kemudian tubuhnya lemas dan penglihatannya kabur.
Orang itu bertindak dengan profesional. Bahkan tidak ada yang menyadari tindakan orang itu.
Kemudian sebuah mobil berhenti disampingnya dengan pintu mobil yang sudah terbuka. Dengan cepat orang itu membopong tubuh Nadia yang sudah tidak sadar ke dalam mobil.
Nadia dibawa ke sebuah gudang yang tidak terpakai. Letaknya tidak jauh dari perusahaan milik Wahyu.
Setelah memasukkan Nadia kedalam salah satu ruangan, si penculik langsung mengunci pintu dari depan.
Nadia di letakkan begitu saja diatas lantai yang kotor. Dia terbangun setelah setengah jam tergeletak disana .
"Shit...dimana ini?" gumam Nadia sambil memeriksa kondisi sekitar.
Di dalam ruangan itu terdapat barang-barang yang sudah tidak terpakai. Banyak debu dan juga sarang laba-laba.
Sebenarnya Nadia bisa saja langsung mendobrak pintu untuk bisa keluar. Namun ia masih penasaran dengan orang yang menculiknya.
Nadia dengan santai duduk bersandar di dinding. Perutnya agak melilit. Maklum...perutnya seharusnya sudah terisi.
Sebenarnya yang menculik Nadia merupakan mafia suruhan Laura. Mereka adalah anak buah yang diberi oleh daddynya.
Mereka juga tidak berasal dari Indonesia. Perawakan mereka tinggi besar seperti bodyguard pada umumnya.
"Dia sudah kami amankan madam!" ucap salah satu penculik.
"Good!"
Laura tersenyum miring mendengar laporan dari anak buahnya. Kini dia akan melenyapkan satu persatu anak Wahyu. Kemudian membuat pria itu bangkrut.
Laura yakin setelah itu Wahyu akan bertekuk lutut dihadapannya. Entah apa yang dirasakan oleh wanita itu. Sepertinya cinta telah berubah menjadi obsesi gila.
Sepulangnya dari kantor, Laura menyempatkan diri untuk bertemu Nadia. Hitung-hitung sebagai salsm terakhir sebelum anak buahnya menghabisi nyawa Nadia.
Brak!
Nadia terbangun sangking kagetnya. Dia melihat Laura masuk kedalam ruangan itu diikuti dua anak buahnya.
Baik Nadia asli maupun Aurora yang kini menempati tubuh Nadia sama-sama mengetahui tentang Laura. Namun keduanya mengetahuinya dengan identitas yang berbeda.
Jika Nadia mengenal Laura sebagai sekretaris ayahnya, maka Aurora mengetahui Laura sebagai adik tiri papanya.
"Halo Nadia. Pasti kamu kenal tante kan," ucap Laura sambil mendekatinya.
"Tante tidak menyangka jika penampilan kamu bisa secantik ini. Padahal biasanya seperti upik abu," lanjut Laura dengan sinis.
Nadia tidak menyahut. Dia masih mencerna apa yang sebenarnya terjadi.
Melihat tidak ada tanggapan dari Nadia, Laura kembali melanjutkan ucapannya.
"Apa kamu tahu sayang...penampilan kamu ini mengingatkan tante pada putri angkat kakak tante."
Deg!
Pandangan Nadia menajam. Detak jantungnya mulai tidak beraturan. Namun dia masih mencoba untuk diam.
"Kamu tahu Nadia...gadis itu telah tewas dengan mengenaskan. Apa kamu tidak ingin mengetahui siapa gadis itu?"
"..."
"Ha ha ha ha ha karena tante sedang baik hati, maka tante akan memberitahukannya padamu. Dia adalah Aurora...adik kandungmu!"
Deg!
"Apa maksudmu?"
Deg.... Deg.... Deg
"Aurora merupakan saudara kembar kamu Nadia!"
"Kamu..."
Suara Nadia tercekat. Sekarang dia tahu kenapa wajah Nadia bisa sama dengannya. Ternyata mereka memang saudara kembar.
"Terkejut ya...bingung...kasihan. Tapi tenang saja. Setelah ini Tante juga akan mengirim kamu untuk menemui saudara kembar kamu dan ibumu."
"Biadab!"
"Ha ha _"
Plak!
Plak!
Bruk!
Nadia sudah tidak bisa mengontrol emosinya. Dia memberi dua tamparan serta menendang Laura hingga terpental ke belakang.
Otomatis kedua anak buahnya langsung menyerang Nadia bersama-sama. Nadia melawan mereka tanpa rasa takut sedikitpun.
Kondisi laura saat ini sedang tak sadarkan diri. Tendangan yang Nadia berikan tadi tepat diorgan tubuh yang penting.
Nadia dapat mengalahkan dua anak buah laura dengan mudah. Kemudian ia mengumpulkan ketiga orang itu menjadi satu.
Sebelum keluar dari ruangan, Nadia memberikan totokan di pusat saraf mereka. Sehingga ketiga orang tidak akan mampu bangun bahkan untuk sekedar berdiri.
Lalu dia mengunci gudang tersebut. Kini Nadia harus memikirkan cara agar bisa menyekap ketiganya ketempat yang lebih aman.
Tiba-tiba pikirannya tertuju pada Arshaka. Dia yakin jika bosnya itu bisa membantu.
Lalu dia teringat dengan ponsel dan juga juga barang-barang miliknya. Ternyata ada di dekat pintu.
Untungnya semua barangnya masih lengkap. Sekarang dia harus segera bertemu dengan Arshaka.
Nadia memandang tubuhnya dengan seksama. Baju yang tadinya masih bersih dan licin kini sudah berubah menjadi kusut dan kotor.
Dengan penampilan seperti ini bagaimana bisa ia bertemu dengan Arshaka. Jadi dia memutuskan untuk menghubunginya.
"Halo..."
"..."
"Apa mas sedang sibuk saat ini?"
"..."
"Kalau begitu bisakah mas datang sekarang?!
"... "
" Oke. Akan aku kirim lokasinya. "
"... "
" Terimakasih mas... "