"Tapi tahukah kau, bahwa semua itu adalah tipuan Georges semata. Pernikahan mu hanyalah panggung sandiwara agar dia bisa menikmati tubuhmu tanpa perlawanan." ucap Angela dengan nada menghina.
"Kau bukan wanita pertama baginya. Georges sudah banyak berhubungan dengan bayak wanita dan sebagaimana dia lari dariku, dia akan selalu kembali ke dalam pelukanku. Kau tahu kenapa? karena dia milikku."
"Pergi sebelum Georges mempermalukanmu dan hati mu semakin sakit."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon taurus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20. Penganglah bahuku
Pagi-pagi sekali Felicia mengikuti bibi Ruth menuju kepasar dengan dijemput oleh Benito. Perjalanan pagi itu menyenangkan sekali bagi Felicia karena ini pertamakalinya dia keluar dari rumah. Aroma udara yang lembab dan bau tanah basah sisa-sisa dari hujan deras selama dua hari masih terasa keras di hidung. Dengan bercanda mereka menuju pasar yang tidak terlalu besar tetapi sangat bersih. Bibi Ruth membeli berbagai keperluan bumbu dasar, daging dan makanan lain yang tidak dihasilkan oleh kebun di rumah.
Dan yang lebih menyenangkan adalah ketika menikmati sarapan pagi di pasar. Berbagai menu makanan yang menarik mereka sajikan. Kali ini Felicia memilih untuk makan mie ayam. Menikmati mie ayam yang nikmat sekali seporsi besar, beruntung sekali dia tidak perlu membayar karena sepeser uangpun dia tidak punya.
"Nona mau semangkuk lagi?" tanya bibi Ruth ketika melihat Felicia makan dengan lahapnya.
"Tidak bibi, ini sudah cukup," sahut Felicia malu-malu.
"Bibi Ruth kenapa kau tidak menawariku?" tanya Benidito dengan memasang tampang agak cemberut.
"Kau sudah makan banyak. Lihat nasi mu sudah seperti gunung berapi, belum lagi berapa banyak pisang goreng yang kau lahap," jawab bibi Ruth dengan menggelengkan kepalanya.
"Aha aku kan masih muda dan masih perlu bertumbuh." Benito menunjukan otot-otot di lengannya dengan bangga.
"Sudah habiskan makanmu segera dan antar kami pulang," ucap bibi Ruth.
"Siap bibi Ruth yang cantik dan baik hati."
"Dasar anak muda jaman sekarang pandai merayu." Meskipun begitu bibi Ruth tersenyum dengan sanjungan dari Benito.
"Bibi pasti sangat cantik ya ketika muda." Felicia mulai bertanya menyambung sanjungan dari Benito.
"Ah, kira-kira begitulah." Ujar bibi Ruth dengan wajah malu-malu.
"Ceritakan padaku bagaimana awal hubungan paman dan bibi?"
"Ah, paman Juan mu itu orang yang sangat pemalu dulunya."
"Benarkah?" ucapku tak percaya.
"Benar. Sekarang saja dia baru berani berkata-kata. Tambah tua tambah ceriwis." Kata bibi Ruth.
"Ah, biar begitu kan bibi makin cinta." Goda Benito sambil mengunyah makanannya.
"Hush! Kamu anak muda pandai bicara. Bapaknya anak-anakku tentu saja harua dicinta dan dirawat."
Hahahahahha mereka tergelak bersama.
"Ayo kita pulang. Kau harus segera kembali ke perkebunan bukan?" kata bibi Ruth kepada Benito yang sudah menghabiskan makanannya dan meminum habis segelas teh manis.
"Ayo bibi. Ayo Felicia." Benito melangkah sambil menenteng keranjang belanjaan.
Perjalanan terasa begitu menyenangkan meskipun dilalui hanya dengan menggunakan pick up. Udara pagi masih terasa segar dan hangat ketika matahari mulai bersinar dengan cerah. Saat ini sudah jam 8.00 pagi tuan muda Georges pasti sudah pergi, ujar Felicia dalam benaknya.
"Bibi Ruth kau harus sering-sering membawa Felicia keluar supaya dia tidak suntuk dan lebih mengenal daerah disekitarnya." ujar Benito dalam perjalanan pulang.
"Tentu saja." sahut bibi Ruth.
"Jangan lupa bibi, seminggu lagi merupakan musim petik daun teh. Felicia minta Lolita mengajakmu. Adalah menyenangkan saat itu." Benito berkata kepada Felicia sehingga membuatnya benar-benar menginginkannya.
"Benarkah? Aku bisa pergi kan bibi?" tanya Felicia bersemangat.
"Tentu saja. Tapi aku rasa kau harus meminta izin kepada tuan muda." ujar bibi Ruth.
"Baiklah."
Mobil pick-up sudah memasuki halaman rumah. Benito membantu membawa belanjaan, sambil berjalan mereka bercanda dan tertawa riang, sesekali Felicia memukul bahu Benito. Mereka tidak menyadari ada sepasang mata dingin tuan muda Georges yang memandang tajam. Dia mendengus kesal, ada expresi wajah yang kecewa memandang keakraban yang terjalin antar Felicia dan Benito.
mereka tampak akrab, tentu saja mereka seumuran dan tampak sepadan.
ujarnya dalam hati sambil menarik nafas panjang.
ada apa dengan diriku ini, kenapa aku harus kecewa melihat keakraban mereka.
Tuan muda Georges menuju ke pintu depan yang telah dibukakan oleh lyla. Dia tidak menghiraukan sapaan dan senyuman dari Lyla. Seraya menuju mobil Ford miliknya, tuan muda Georges masih memandang tajam pada kedua orang tersebut.
"Selamat pagi tuan muda Georges. Anda mau ke perkebunan hari ini?" tanya Benito ketika dia melihat tuan muda sudah masuk kedalam mobil.
Tuan muda Georges hanya mengangguk dan memandang sekilas pada Felicia.
Gadis itu merasa kikuk, dia tidak tahu apa yang harus dia katakan pada tuan muda. Dia hanya tersenyum sambil mengangguk padanya. Tuan muda Georges menghidupkan mesin mobil dan membiarkannya panas sejenak, melalui kaca spion dia memandang punggung Felicia yang membawa kotak berisi bahan makanan. Sejenak dia terdiam ketika dia hendak memasukan gigi mobil, dia melihat gadis itu kembali menuju mobil pick up hendak mengambil belanjaan yang lainnya. Akhirnya tuan muda Georges mengurungkan niatnya.
"Saya pikir anda sudah berangkat tuan." ujar Felicia dengan kikuk.
Tuan muda Georges memandangnya tajam seraya berkata, " kenapa kau tidak senang melihatku?"
"Bu bukan begitu tuan," sahut Felicia dengan gugup.
"Tenang, aku akan berangkat supaya kau bisa merasa lebih bebas," kata tuan muda yang segera memasukan gigi dan hendak menjalankan mobil.
"Felicia, bila tidak ada halangan aku akan ke kota dan mencari informasi tentang orang hilang dari kecelakaan kapal pesiar."
"Iya tuan, terimakasih." Felicia menjawab dengan lemah sambil matanya berkaca-kaca.
sebegitu besarnya kah keinginan anda untuk membiarkanku pergi dengan segera?
Jerit Felicia didalam hati.
Sementara tuan muda Georges memandang mata Felicia yang berkaca-kaca dan bibir tersenyum tipis berpikir berbeda,
Kau begitu terharu hanya dengan janjiku ingin mencari informasi mengenai kecelakaan kapal pesiar. Sebesar itukah keinginanmu untuk meninggalkan tempat ini.
Kedua insan ini hanyut dalam pikiran mereka sendiri yang mengira-ngira. Tuan muda Georges menjalankan mobil dan meninggalkan pagar rumah yang kemudian ditutup oleh satpam.
Felicia terpaku memandang kepergian tuan muda. Baru empat belas hari dia tinggal di rumah tuan muda dan genap dua puluh hari dia terdampar ditempat ini. Dan dalam setiap detiknya, hati Felicia tidak pernah ingin meninggalkan daerah ini. Bagi Felicia tempat baru ini memberikan nafas segar, kehidupan baru dan kesempatan baru. Orang-orang baik yang begitu memperhatikannya. Sesuatu yang membuat dirinya merasa bagian dari mereka.
Arkh! Felicia menjerit tertahan menahan sakit di kepala yang datang tiba-tiba.
Tidak! Aku tidak ingin mengingat apapun yang telah aku lupakan. Tuhan, ijinkan aku untuk bahagia di tempat ini meskipun hanya menjadi seorang pelayan.
"Kau tidak apa-apa Felicia, apakah tuan muda mengatakan sesuatu yang membuatmu sedih?" tanya Benito yang tiba-tiba sudah berada di dekatnya. Felicia menggelengkan kepalanya seraya berkata, "tidak apa-apa Ben." Benito tidak berusaha menyanggah jawaban dari Felicia.
"Biarkan aku membawa box terakhir ini. Berjalanlah didekatku dan kau bisa memegang bahuku agar tidak jatuh." gurau Benito.
Felicia hanya tersenyum dan berjalan disamping Benito
Tapi langsung ambyar ketika relate sama makanan Thor .ini Eropa apa asia?😁