Suara deru mesin mobil yang asing memecah keheningan sore di Desa Sukamaju. Aluna, yang sedang memilah daun teh di teras rumah panggungnya, mendongak. Tangannya yang halus—meski terbiasa bekerja di ladang—berhenti bergerak. Sebuah mobil sewaan berhenti tepat di depan pagar bambu rumahnya.
Dari dalam mobil, turunlah seorang wanita paruh baya dengan pakaian yang tampak mentereng untuk ukuran orang desa. Kalung emas tebal melingkar di lehernya, dan kacamat hitam bertengger di hidungnya.
"Bik Sumi?" gumam Aluna, hampir tidak mengenali bibinya sendiri yang sudah lima tahun merantau di Jakarta.
Bik Sumi berjalan melenggang masuk ke halaman, disambut hangat oleh ibu Aluna yang langsung keluar dari dapur. Setelah melepas rindu dan berbasa-basi sejenak di ruang tamu yang sederhana, tatapan Bik Sumi langsung tertuju pada Aluna. Wanita itu memperhatikan keponakannya dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan mata berbinar.
Di usianya yang menginjak 25 tahun, Aluna tumbuh menjadi gadis ya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perintah Di Pagi Hari
Hembusan angin pagi yang masuk dari pintu terbuka membuat tirai-tirai sutra di ruang tengah bergoyang pelan. Aluna menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan seluruh keberaniannya sebelum melangkah masuk kembali ke dalam rumah. Ia tahu, begitu gerbang luar ditutup oleh penjaga, benteng pertahanannya telah resmi runtuh.
Saat Aluna melangkah melewati batas pintu dan berbelok menuju koridor dapur, langkah kakinya mendadak terkunci. Tepat di depannya, Arsen sedang berjalan turun dari arah tangga. Mereka berpapasan tepat di tengah-tengah ruang keluarga yang luas dan sunyi.
Aluna refleks menundukkan kepalanya, meremas ujung celemek cokelatnya dengan gugup. Ia berusaha menggeser tubuhnya ke sisi kanan, memberi jalan yang luas untuk sang majikan muda agar bisa lewat tanpa hambatan.
"P-Permisi, Den Arsen. Saya mau kembali ke dapur untuk merapikan sisa sarapan," ucap Aluna dengan suara pelan, berusaha menjaga nada suaranya tetap seprofesional mungkin.
Namun, alih-alih berjalan terus, langkah kaki Arsen yang terbalut sandal rumah premium itu justru berhenti tepat di hadapan Aluna. Jarak di antara mereka kini begitu dekat, hingga Aluna bisa mencium aroma parfum maskulin khas Arsen yang segar namun pekat, bercampur dengan aroma sabun mandi yang baru saja digunakannya.
"Kenapa terburu-buru, Aluna?" tanya Arsen, suara baritonnya yang berat terdengar sangat santai namun sarat akan penekanan.
Arsen sengaja melangkah maju satu tapak, membuat Aluna yang ketakutan terpaksa mundur selangkah hingga punggungnya menyentuh pilar marmer besar yang kokoh di tengah ruangan. Pria itu menopang satu tangannya di pilar, tepat di atas bahu Aluna, mengurung pergerakan gadis itu untuk kedua kalinya.
"D-Den... tolong, jangan seperti ini. Tugas saya—"
"Tugasmu sekarang adalah melayaniku, Aluna. Hanya aku," potong Arsen dengan nada rendah yang mutlak. Mata elangnya menatap lurus ke dalam manik mata Aluna yang bergetar. Sebuah senyuman tipis, hampir tak terlihat, terukir di sudut bibir Arsen saat melihat rona merah yang kembali terbit di pipi pelayan pribadinya itu. "Papa dan Mama sudah pergi. Bik Sumi juga tidak ada. Jadi, tidak ada gunanya kamu bersembunyi lagi dariku."
Mendengar suara bariton Arsen yang begitu mengintimidasi, Aluna buru-buru memutar otaknya untuk mencari alasan agar bisa lolos dari kurungan pria itu. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga rasanya mau melompat keluar dari rongga dada.
"B-baik, Den. Saya akan buatkan sarapan sekarang," ucap Aluna cepat dengan nada bicara yang sengaja dibuat seformal mungkin, berharap Arsen akan melepaskannya demi urusan perut.
Arsen tidak langsung menjauh. Ia menatap wajah Aluna beberapa detik lebih lama, menikmati kilau kepanikan di mata jernih gadis itu sebelum akhirnya menurunkan tangannya dari pilar marmer.
"Antarkan sarapan saya ke kamar," ucap Arsen memberi perintah dengan nada datar yang mutlak, tak menerima penolakan.
Setelah mengatakan hal itu, Arsen membalikkan tubuhnya dengan santai. Langkah kakinya yang tegap terdengar beritme menaiki anak tangga jati satu per satu, menuju ke lantai dua tempat kamar pribadinya berada.
Aluna mengembuskan napas panjang yang sedari tadi ditahannya begitu bayangan tubuh tegap Arsen menghilang di belokan lantai atas. Kedua pundaknya melorot lemas. Perintah untuk mengantarkan makanan ke kamar adalah hal yang paling ingin ia hindari saat ini, mengingat apa yang terjadi di kamar itu beberapa hari yang lalu.
Namun, ia tidak punya pilihan. Dengan perasaan campur aduk antara cemas dan pasrah, Aluna melangkah cepat menuju dapur untuk menyiapkan menu sarapan terbaik bagi majikan tunggalnya selama seminggu ke depan.