NovelToon NovelToon
Penguasa Di Balik Bayangan

Penguasa Di Balik Bayangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Harem / Action / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Cardannak23

Darius Evandra Adhitama adalah putra tertua Keluarga Adhitama yang hidup susah bersama ibunya. Di usia 18 tahun, ibunya meninggal dan ia dicampakkan kekasihnya.

Darius lalu masuk militer, bangkit menjadi "Dewa Perang" legendaris dalam 6 tahun, hingga menguasai bisnis global, lalu menjadi pembunuh bayaran paling ditakuti.

Saat pulang untuk hidup tenang, keluarga Adhitama memaksanya kembali tanpa tahu identitas aslinya.

Darius lalu mendapati mantan kekasihnya telah dinikahi sang adik tiri, dan dirinya justru dijadikan tumbal pernikahan politik dengan Adelina Atmadja demi menyudahi perseteruan berdarah.

Diremehkan dan terjebak pernikahan paksa, Darius hanya menatap dingin. Mereka tidak tahu bahwa "anak buangan" ini sanggup meratakan kedua keluarga besar tersebut hanya dengan satu jentikan jari.

Saat naga yang tertidur akhirnya membuka mata, seluruh kota akan gemetar di bawah kakinya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cardannak23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29

Seketika itu juga, kehadiran Darius menarik perhatian hampir seluruh pasang mata di lobby utama. Postur tubuhnya yang tegap, ketampanannya, serta sorot matanya yang dingin membuat para staf wanita menahan napas.

"Siapa pria yang berdiri di samping Tuan Surya? Tampan sekali..." bisik seorang staf wanita di meja resepsionis dengan mata yang tidak berkedip.

"Auranya kuat sekali... apakah dia itu eksekutif baru yang didatangkan dari luar negeri?" timpal staf lainnya dengan nada takjub, sembari terus mengamati Darius.

Surya Adhitama berjalan di samping Darius menuju lift khusus. "Hari ini ada rapat dewan direksi, Darius. Ini saat yang tepat untuk mengenalkanmu pada para pemegang saham dan petinggi perusahaan."

Darius tidak memberikan tanggapan, ia hanya menganggukkan kepalanya secara perlahan. Ketenangan di raut wajahnya tetap tak tergoyahkan sedikit pun saat pintu lift perlahan terbuka.

Langkah kaki keduanya bergema halus di atas lantai saat mereka menyusuri interior lift berdinding kaca transparan, yang melaju mulus tanpa suara menuju lantai tertinggi.

TING!

Pintu lift terbuka di lantai paling eksklusif di gedung Adhitama Corporation. Ruang tunggu yang megah menyambut kehadiran mereka, diterangi cahaya lampu kristal gantung yang mewah.

Beberapa petinggi perusahaan yang sedang berbincang di dekat pintu ruang rapat, mendadak menghentikan obrolan mereka begitu melihat Surya Adhitama keluar dari lift.

Namun, perhatian para petinggi perusahaan tersebut segera teralihkan sepenuhnya kepada sosok muda yang berdiri di samping Surya Adhitama.

"Tuan Surya," sapa salah satu petinggi senior berambut ubanan dengan setelan jas mahal. "Siapakah pemuda tampan di sebelah Anda ini?"

Surya Adhitama membusungkan dadanya sedikit, raut wajahnya memancarkan binar kebanggaan. "Perkenalkan, ini adalah putra sulungku yang baru kembali ke Ibukota... Darius Adhitama."

Ucapan Surya Adhitama seketika menciptakan riak kasak-kusuk di antara para direksi dan pemegang saham yang berkumpul di lantai tertinggi tersebut.

Mereka tentu pernah mendengar kabar angin tentang adanya putra sulung Surya dari pernikahan pertama yang dibuang sejak kecil.

Namun, pemuda yang berdiri di hadapan mereka saat ini memancarkan aura kepemimpinan yang begitu kuat, hingga membuat semua asumsi yang terlintas di benak mereka seketika menguap.

Arman Kusnadi, petinggi senior beruban tadi yang menjabat sebagai Wakil Direktur, mengulurkan tangannya. "Ah, jadi ini putra sulung Anda, Tuan Surya. Perawakannya sungguh sangat mengesankan."

Tanpa mengalihkan pandangannya, Darius kemudian menyambut uluran tangan Arman Kusnadi dengan mantap namun dengan raut wajah datar, menciptakan keheningan singkat diantara mereka.

"Darius Adhitama," ucap Darius pendek. Suaranya yang rendah dan berat bergema tenang di ruangan tersebut.

Arman Kusnadi sempat merasakan hawa dingin yang aneh merayap dari telapak tangan Darius, membuatnya refleks menarik kembali tangannya setelah berjabat tangan.

"Mengesankan," ujar Arman Kusnadi, menyembunyikan getaran cemas di balik senyumnya yang canggung. "Jarang sekali melihat anak muda dengan aura sekuat ini."

Darius hanya menyunggingkan senyum tipis, sebuah senyuman yang terkesan dingin dan penuh rahasia. "Terima kasih atas pujiannya, Tuan Arman."

Mata Darius kemudian menyapu deretan jajaran direksi yang hadir di sekitar mereka. Ia sedang membaca setiap gestur, bahasa tubuh, hingga raut wajah dari para petinggi perusahaan tersebut.

"Mari kita masuk ke ruang rapat, Tuan-tuan," panggil Surya Adhitama, mencairkan keheningan yang sempat mencekam. "Waktu rapat sudah tiba."

Surya Adhitama melangkah paling depan,

Darius melangkah tepat di sampingnya dengan tenang. Begitu melintasi pintu, pandangannya menyapu meja rapat yang dikelilingi oleh belasan kursi kulit mewah.

Di ujung meja dekat kursi utama, tampak William sedang duduk dengan tenang. Matanya seketika membelalak lebar saat melihat Darius melangkah masuk ke dalam ruangan.

"Kak Darius!" panggil William dengan suara riang dan hangat, mengabaikan formalitas rapat yang kaku di hadapan para direksi.

William langsung melangkah lebar dan mendekati Darius. Tanpa ragu sedikit pun, ia mengulurkan tangannya dan menjabat tangan Darius erat-erat, bahkan menepuk bahu kakak tirinya itu.

"Kakak akhirnya datang ke kantor!" ucap William dengan senyuman lebar yang tulus.

Darius menatap adik tirinya itu sejenak. Sorot dingin di mata Darius melunak tipis, saat menatap William. Ia lalu membalas genggaman tangan adiknya itu dengan mantap.

"Terima kasih, William," sahut Darius pendek namun tenang, menerima sambutan hangat dari adik tirinya tersebut.

William menyunggingkan senyuman lebar, lalu menarik sebuat kursi di sebelah posisi kursi direktur utama. "Duduklah di sini, Kak. Biar aku yang memandu Kakak selama rapat berlangsung."

Aksi William di hadapan seluruh jajaran direksi itu kembali mencetuskan bisik-bisik kecil di sudut ruangan. Beberapa pemegang saham saling bertukar pandang heran.

Mereka tahu betul betapa dominannya William sebagai calon pewaris yang disiapkan selama ini, namun perlakuan hormat kepada kakak tirinya itu membuat spekulasi baru merebak di benak mereka.

Surya Adhitama melangkah menuju ujung meja utama, mematikan riak bisikan tersebut dengan suara ketukan pulpennya ke atas permukaan kayu jati mahal.

"Harap tenang, Tuan-tuan sekalian," ujar Surya Adhitama dengan tegas. "Sebelum kita memulai rapat hari ini, ada satu hal penting yang akan saya umumkan."

Seluruh jajaran direksi merapikan posisi duduk mereka. Arman Kusnadi menyandarkan punggungnya di kursi kulit, tatapan matanya yang tajam tetap tertuju ke arah Darius.

"Perkenalkan, ini adalah putra sulung saya, Darius Adhitama," lanjut Surya Adhitama seraya mengisyaratkan tangannya ke arah Darius. "Mulai hari ini, dia akan mulai terlibat dalam beberapa proyek Adhitama Corporation."

Mendengar pengumuman tersebut, tepuk tangan bergemuruh pelan di seluruh ruang rapat. Beberapa petinggi senior, terlihat menghargai keputusan sang Direktur Utama.

"Sebuah langkah yang sangat tepat, Tuan Surya," ujar Arman Kusnadi dengan suara berat yang penuh kejujuran. "Perusahaan membutuhkan darah segar di masa-masa penting seperti sekarang ini."

Darius menatap Arman Kusnadi secara mendalam. Ia bisa melihat ketulusan pada sorot mata pria beruban tersebut.

"Terima kasih atas kepedulian Anda, Tuan Arman," sahut Darius pendek namun santun, memberikan rasa hormat yang sepantasnya kepada sesepuh perusahaan.

Arman Kusnadi seketika mengangguk lega, menyunggingkan senyum hangat sebelum merapikan berkas-berkas laporan keuangan yang ada di hadapannya.

Rapat dewan direksi pun dimulai secara resmi. Surya Adhitama membuka sesi dengan memaparkan proyek ekspansi kawasan industri terbaru yang sedang dijalankan oleh perusahaan.

Namun, saat memasuki sesi laporan arus keuangan bulanan, suasana ruang rapat yang tadinya tenang perlahan berubah menjadi agak berat.

Manajer Keuangan mempresentasikan grafik efisiensi aset dan pendapatan yang menunjukkan penurunan bertahap dalam dua kuartal terakhir.

Beberapa petinggi tampak saling bertukar pandang dengan cemas, sementara Surya Adhitama menahan napas seraya memijat pelipisnya yang terasa pening.

"Berdasarkan proyeksi hingga akhir tahun..." terang Manajer Keuangan dengan agak ragu, "Kita membutuhkan suntikan dana segar untuk menutupi tenggat pembayaran obligasi proyek tahap dua, Tuan Surya."

Keheningan menyelimuti ruang rapat. Presentasi grafik finansial dari Manajer Keuangan bagaikan vonis tak kasatmata yang membeberkan jurang kehancuran di hadapan para pemegang saham.

1
Akang
up lagi thor
Glastor Roy
makasih torku update ya
Cardannak: Sama²
total 1 replies
Julia thaleb
Thor.
up nya yg banyak..
jgn satu.
KLO up nya 1 aja seperti makan krupuk seribuan, 1 menit SDH ludes.
Glastor Roy
yg bayak tor up ya
Julia thaleb
Thor..
aku suka.
up terus yg banyak ya
Glastor Roy
yg bayak tor up ya
Glastor Roy
update ya torku yg baik hati
Glastor Roy
yg bayak tor up ya
Glastor Roy
tor update ya
Glastor Roy
yg bayak tor up ya
Glastor Roy
update ya torku yg baik hati
Glastor Roy
yg bayak tor up ya torku
Glastor Roy
torku update ya lgi dong
Glastor Roy
update lgi
Glastor Roy
yg bayak tor up ya
Glastor Roy
makasih torku update ya
Muhamad U Fadillah Udwm
bguss
Muhamad U Fadillah Udwm
lqnjut
Glastor Roy
update ya torku yg baik hati
Glastor Roy
yg bayak tor up ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!