NovelToon NovelToon
Gadis Desa Milik Tuan Mafia

Gadis Desa Milik Tuan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Mafia / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Vinna naa

Bagi dunia luar, Justin Devano Ardiansyah adalah perwujudan dari malaikat maut. Sebagai pemimpin tertinggi The Ardiansyah Syndicate, dia adalah pria berdarah dingin yang menguasai dunia bawah tanah ibu kota dengan tangan besi. Hidupnya penuh dengan darah, pengkhianatan, dan kemewahan yang hampa. Namun, sebuah konspirasi besar dan pengkhianatan anak buahnya membuat Justin terdesak, terluka parah, dan terdampar di sebuah desa terpencil yang jauh dari peradaban kota.

Di sanalah ia merangkak ke sebuah gubuk bambu milik Kimberly seorang gadis desa yatim piatu yang hidup sederhana sebagai penjual jamu tradisional keliling.

Kimberly tidak tahu siapa pria bertato naga yang sekarat di dapurnya. Yang dia tahu, pria itu membutuhkan pertolongan. Dengan ketulusan dan keberanian yang murni, Kimberly merawat sang mafia, menjahit lukanya dengan alat seadanya, dan memberikan ketenangan yang belum pernah Justin rasakan sepanjang hidupnya. Mata polos dan ketulusan Kimberly berhasil mencairkan gunun

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vinna naa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10. Kehangatan Sayur Lodeh

Ketegangan yang dilaporkan Marco di perbatasan barat ternyata berhasil diredam oleh anak buah Justin bahkan sebelum para penyusup itu sempat mendekati area mansion.

Bagi Justin, itu hanyalah hari Selasa biasa di dunianya, namun bagi Kimberly, ada hal yang jauh lebih penting untuk diurus daripada sekadar tikus-tikus tanah yang mencari masalah yaitu kesehatan suaminya yang keras kepala.

Pagi itu, suasana di meja makan mansion yang megah terasa agak berbeda, Justin baru saja turun dengan setelan jas hitamnya yang rapi, siap untuk berangkat ke kantor utama.

Namun, langkah kakinya terhenti ketika melihat sebotol cairan berwarna cokelat pekat keunguan sudah bertengger manis di samping cangkir kopi hitamnya.

Kimberly berjalan dari arah dapur, masih mengenakan celemek bermotif bunga-bunga di atas gaun rumahannya yang sederhana.

"Diminum dulu, Mas," ucap Kimberly santai sambil meletakkan sepiring pisang goreng hangat di meja.

Justin tertegun. Alisnya yang tebal bertaut. Matanya mengerjap beberapa kali, menatap botol jamu itu, lalu beralih menatap istrinya.

"Kim... kau memanggilku apa tadi?"

Kimberly menghentikan kegiatannya, wajahnya agak merona merah namun dia berusaha tetap tenang.

"Mas. Di desa, seorang istri memanggil suaminya dengan sebutan Mas kalau sudah resmi. Kemarin kan kita sudah janji di bawah bintang-bintang. Masa aku masih panggil 'Justin' atau 'Tuan'? Kurang sopan."

Di sudut ruangan, Marco yang sedang berjaga mendadak tersedak ludahnya sendiri, pria bertubuh kekar setinggi 185 cm itu buru-buru menutup mulutnya dengan tangan, berusaha mati-matian menahan tawa.

Seorang pemimpin tertinggi mafia paling ditakuti se-ibu kota, dipanggil 'Mas' dengan nada lembut ala gadis desa? Ini adalah sejarah baru di dunia bawah tanah.

Justin berdeham sejenak, mencoba mempertahankan ekspresi dinginnya yang berwibawa, meskipun hatinya sebenarnya sedang bersorak kegirangan karena panggilan manja tersebut.

"Ehem. Baik, aku tidak keberatan," jawab Justin, suaranya dibuat seberat mungkin demi menjaga gengsi di depan Marco.

"Lalu... benda apa ini?" Justin menunjuk botol cairan pekat tadi dengan ujung telunjuknya.

"Itu jamu brotowali dicampur kunyit hitam dan madu hutan. Kemarin aku lihat di laci mejamu banyak sekali obat tidur kimia. Itu tidak baik buat ginjal, Mas. Makanya mulai hari ini, kopi hitammu aku kurangi, dan Mas wajib minum jamu buatan tangan pribadiku ini setiap pagi," jelas Kimberly panjang lebar dengan nada protektif khas seorang istri.

Justin menatap botol itu dengan pandangan horor, dia lebih memilih berhadapan dengan moncong senapan musuh daripada harus meminum cairan herbal yang dari aromanya saja sudah tertebak rasanya sepahit penderitaan hidup.

"Kim, aku sehat. Aku tidak butuh—"

"Mas Justin," potong Kimberly, melipat kedua tangannya di dada sambil menatap suaminya dengan mata bulatnya yang mengerucut tajam.

"Diminum. Atau malam ini tidur di sofa depan?"

Rahang tegas Justin seketika mengendur, Marco di pojokan sudah membalikkan badan menghadap dinding, pundaknya bergetar hebat karena menahan tawa yang hampir meledak.

Sang penguasa kegelapan yang tak pernah tunduk pada ancaman pembunuhan mana pun, kini tak berdaya hanya karena ancaman tidur di sofa dari seorang gadis desa.

Dengan pasrah, Justin meraih botol tersebut, membuka tutupnya, dan meminumnya dalam satu tegukan kilat.

Wajah tampannya yang biasa datar langsung berkerut hebat menahan rasa pahit yang luar biasa yang langsung menjalar di lidahnya.

"Pintar," puji Kimberly tersenyum manis, menyodorkan sepotong pisang goreng sebagai penawar rasa pahit.

Justin mengunyah pisang itu dengan cepat, mencoba menghilangkan rasa brotowali dari mulutnya, dia melirik tajam ke arah tangan kanannya.

"Marco. Kau menghadap dinding sejak tadi, apa ada yang salah dengan cat temboknya?"

"T-Tidak, Tuan Besar... maksud saya, Mas..." Marco keceplosan karena panik.

"Mau kupotong bonusmu, huh?!" geram Justin yang langsung membuat Marco kembali menegakkan tubuhnya dengan wajah kaku seperti patung.

Kimberly hanya tertawa renyah melihat kelakuan suaminya dan Marco, baginya, dunia bawah tanah milik Justin biarlah tetap berada di luar pagar pembatas mansion.

Di dalam rumah ini, kekuasaan tertinggi dipegang oleh sendok sayur dan botol jamu miliknya, rumah tangga mereka yang unik ini perlahan-lahan mencuci warna kelam di hidup Justin, menggantikannya dengan kehangatan yang penuh warna dan sedikit jenaka.

Setelah drama jamu brotowali yang menyiksa lidahnya pagi itu, Justin akhirnya berangkat kerja dengan kawalan ketat Marco.

Kimberly menarik napas lega, melepas celemeknya, dan memutuskan untuk menjelajahi area mansion yang selama ini jarang ia sentuh dapur utama.

Sebagai gadis yang terbiasa mandiri di desa, diam dan dilayani oleh belasan pelayan justru membuat tubuh Kimberly terasa kaku.

Dia melangkah menuju dapur belakang, tempat di mana para koki profesional biasanya menyiapkan hidangan mewah untuk sang Tuan Besar.

Begitu melangkah masuk, Kimberly disambut oleh jajaran kompor stainless steel modern, oven sebesar lemari, dan pisau-pisau dapur yang berjejer rapi bak senjata di gudang amunisi suaminya.

Di sana, tiga orang koki berseragam putih bersih sedang sibuk memotong sayuran dan menyiapkan daging premium.

"Selamat pagi," sapa Kimberly ramah, menyembulkan kepalanya dari balik pintu.

Ketiga koki itu tersentak, mereka segera meletakkan pisau masing-masing dan membungkuk hormat dengan wajah tegang.

"S-Selamat pagi, Nyonya Besar! Ada yang bisa kami bantu? Apakah hidangan sarapan tadi kurang berkenan?" tanya kepala koki dengan suara agak gemetar.

Mereka semua tahu bagaimana Tuan Besar sangat memuliakan wanita di depan mereka ini, salah sedikit, taruhannya adalah pekerjaan atau bahkan nyawa, Kimberly melambaikan tangannya cepat, merasa tidak enak.

"Eh, tidak, tidak! Sarapannya enak sekali kok. Aku cuma bosan di kamar. Boleh tidak... kalau siang ini aku saja yang memasak untuk makan siang Mas Justin?" Para koki saling berpandangan dengan wajah pucat.

"Tapi Nyonya, Tuan Besar sudah memesan menu makan siang khusus dari restoran Perancis—"

"Batalkan saja," potong Kimberly dengan senyum manis namun penuh tekad.

"Aku mau membuatkan sayur lodeh dan sambal terasi kesukaanku. Mas Justin harus belajar makan makanan rumahan supaya perutnya tidak manja."

Mendengar kata 'Mas Justin' dan 'sayur lodeh' dalam satu kalimat, para koki hanya bisa menelan ludah pasrah.

Mereka akhirnya menyingkir, membiarkan Kimberly mengambil alih dapur megah tersebut.

Pukul satu siang, sebuah mobil sedan hitam memasuki pekarangan mansion, rupanya, Justin memutuskan untuk pulang makan siang di rumah.

Efek jamu brotowali tadi pagi ternyata membuat nafsu makannya meningkat, atau lebih tepatnya, dia merindukan suasana rumah yang kini terasa lebih hidup sejak ada Kimberly.

Justin melangkah masuk ke dalam rumah, membuka kancing atas kemejanya, dan langsung menuju ruang makan.

Namun, keningnya mengernyit ketika hidungnya menangkap aroma yang sangat menyengat kombinasi bau cabai yang digoreng, terasi bakar, dan kuah santan yang gurih.

Bau ini sangat asing bagi mansion yang biasanya beraroma steak atau sup krim jamu.

"Kimberly?" panggil Justin, melangkah menuju dapur.

Di depan pintu dapur, dia menemukan Marco sedang berdiri tegak, namun matanya terus melirik ke dalam dengan air liur yang hampir menetes.

Justin mengintip ke dalam dapur dan menemukan istrinya sedang sibuk mengulek sambal di atas cobek batu besar yang entah dari mana gadis itu mendapatkannya di kota ini.

Wajah Kimberly tampak sedikit berkeringat, dan beberapa anak rambutnya menempel di pipi, membuatnya terlihat sangat menggemaskan di mata Justin.

"Kim," panggil Justin lembut, Kimberly menoleh, matanya berbinar.

"Eh, Mas Justin sudah pulang! Pas sekali, ini sayur lodeh tempe dan sambal terasinya baru matang. Ayo duduk di meja makan, aku siapkan dulu."

Justin berjalan mendekat, mengambil alih ulekan dari tangan Kimberly dan meletakkannya di meja, dia mengeluarkan saputangan sutra dari sakunya, lalu dengan lembut mengusap keringat di dahi istrinya.

"Kau tidak perlu lelah-lelah memasak seperti ini, Kim. Kita punya koki untuk itu," ucap Justin, meskipun matanya tidak bisa bohong kalau hidangan di depannya terlihat sangat menggugah selera.

"Koki di sini masaknya makanan barat terus, Mas. Sekali-kali harus makan menu desa. Ayo, cepat ganti baju, kita makan sama-sama," perintah Kimberly sambil mendorong pelan punggung kekar suaminya ke luar dapur.

Sepuluh menit kemudian, mereka berdua sudah duduk di meja makan panjang, di atas meja marmer mewah itu, kini tersaji mangkuk besar berisi sayur lodeh yang mengepulkan asap hangat, sepiring tahu tempe goreng, ikan asin bulu ayam, dan cobek berisi sambal terasi yang merah merona.

Justin menatap makanan itu dengan ragu, sejak kecil, dia dididik untuk makan makanan dengan standar protokoler tinggi demi menghindari racun dari musuh-musuhnya.

Namun melihat Kimberly yang dengan telaten menyendokkan nasi dan menyiram kuah lodeh ke piringnya, rasa curiga itu hilang sepenuhnya.

"Coba deh, Mas. Ini lodeh resep asli ibuku di desa," ucap Kimberly antusias, menopang dagunya dengan kedua tangan, menanti penilaian sang suami.

Justin menyendok nasi beserta kuah lodeh dan ikan asin, lalu memasukkannya ke dalam mulut, kunyahan pertama berlalu dalam keheningan. Kimberly menahan napasnya.

Mata hitam Justin sedikit melebar, rasa gurih santan yang pas, berpadu dengan kehangatan sayuran dan asinnya ikan segar, menciptakan ledakan rasa yang belum pernah dia rasakan di restoran bintang lima mana pun, Itu adalah rasa 'rumah' yang sesungguhnya.

Tanpa bicara, Justin kembali menyendok makanan dengan porsi yang lebih besar, kali ini mencocolnya dengan sambal terasi buatan Kimberly.

"Bagaimana, Mas? Enak?" tanya Kimberly penasaran.

"Sangat enak," jawab Justin singkat, namun tangannya terus bergerak cepat menghabiskan makanan di piringnya.

Wajah dingin sang mafia kini meleleh, digantikan oleh kepuasan seorang suami yang menikmati masakan istrinya.

Kimberly tersenyum sangat lebar, hatinya membuncah bahagia, dia tahu, dia tidak perlu mengerti dunia bawah tanah suaminya yang penuh darah.

Cukup dengan kehangatan sayur lodeh dan kasih sayang yang tulus, dia sudah berhasil menaklukkan hati sang penguasa kegelapan di dalam rumah tangga mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!