Malam itu, kampung Cikabuyutan hangus di bakar jadi abu.
Prajurit Kadipaten Ciaruteun datang.
Membakar rumah. Membunuh orang tua.
Atas perintah satu nama: Adipati Rangga sasmita
Mereka membalas dengan cara nya sendiri.
Istana bilang mereka penjahat.
Rakyat bilang mereka harapan.
Karena mulai malam ini...
Dua buronan akan merampok orang kaya.
Dan membagi-bagikannya ke orang miskin.
Satu anak panah untuk keadilan.
Satu tusukan pisau untuk membongkar kebusukan.
Ini bukan balas dendam.
Ini revolusi.
Dan apinya... baru saja mulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galuh pravitasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25 : PERAMPOK BERHATI MULIA
Jalan setapak di pinggir hutan Wana Kelor melengkung lembut, membelah sawah yang mulai menguning. Siang itu angin bertiup kencang, membawa debu dan suara derap langkah berat dari kejauhan. Konvoi upeti Ki Surya baru saja berangkat dari Kadipaten, menuju gudang penyimpanan di kaki gunung. Lima gerobak ditarik kerbau, diiringi dua puluh prajurit bersenjata lengkap.
Bayu mengintai dari balik batang pohon beringin besar. Matanya mengikuti setiap gerakan konvoi. Di sampingnya Karta berjongkok, mulutnya terus bergerak menghitung barang di atas gerobak.
“Satu... dua... tiga gerobak beras! Satu kain tenun! Satu peti uang!” bisiknya riang. “Banyak banget Kang! Cukup buat makan tiga desa sebulan!”
“Itu hasil rampasan dari lima desa dalam setahun,” jawab Bayu pelan. “Ki Surya memungut dua kali lipat upeti bulan ini, katanya buat perbaikan jalan. Padahal jalan raya saja masih berlubang di mana-mana.”
“Terus kenapa kita ambil?” tanya Karta polos. “Katanya pencuri itu jahat.”
“Kita ambil kembali apa yang dirampas paksa,” koreksi Bayu lembut. “Lalu kita kembalikan ke pemilik aslinya. Bukan buat kita simpan atau nikmati sendiri.”
Karta mengangguk mantap. “Oh berarti kita perampok baik hati ya? Asyik!”
Konvoi berhenti di tempat yang agak sepi, dekat jembatan bambu yang melintasi sungai kecil. Ki Surya turun dari kuda, menunjuk ke arah gerobak.
“Cepat lewati sini sebelum hujan turun!” bentaknya pada pengawal. “Adipati Rangga Sasmita menunggu kiriman ini sore nanti. Jangan sampai terlambat gara-gara jalanan becek.”
Prajurit mulai menuntun kerbau perlahan. Saat gerobak pertama baru menginjak papan jembatan, Bayu melangkah keluar dari persembunyian. Busur Sanghyang Rasa sudah ada di tangannya.
“BERHENTI!” suaranya tenang tapi jelas terdengar sampai ke ujung jembatan.
Semua menoleh. Ki Surya menyipitkan mata, lalu tertawa sinis. “Hanya satu orang? Berani sekali kau menghadang konvoi Kadipaten! Tangkap dia!”
Dua prajurit berlari maju menghunus pedang. Bayu menarik tali busur, satu panah melesat cepat menancap di paha kiri prajurit depan. Dia jatuh terjerembab tanpa luka parah, hanya tak bisa bergerak. Prajurit kedua berhenti ragu, takut nasibnya sama.
“Siapa kau?” tanya Ki Surya mundur selangkah, tangannya mencengkeram gagang keris.
“Orang yang mengambil kembali apa yang bukan milikmu,” jawab Bayu. “Buka semua gerobak. Serahkan isinya.”
“Gila!” seru Ki Surya. “Ini milik Kadipaten! Kau mau dihukum gantung?”
“Kadipaten mengambilnya dari rakyat tanpa sisa,” sahut Bayu tegas. “Sekarang rakyat mengambilnya kembali.”
Dia memberi isyarat ke belakang. Karta melompat keluar dari semak-semak, lalu berlari cepat ke arah gerobak paling belakang. Pedang diayunkan ke arahnya, tapi dia menghindar lincah. Pisau Sanghyang Waja berkilau tajam di tangannya, memotong tali pengikat peti dengan mudah.
“Hati-hati Karta!” seru Bayu.
“Siap Kang!” teriak Karta sambil melompat ke atas gerobak beras. “Wah isinya penuh banget! Pasti enak kalau dimasak bareng lauk pauk!”
Sementara itu prajurit lain mencoba mengepung Bayu. Tiga panah lagi melesat, masing-masing mengenai lutut dan betis. Tak ada yang terluka parah, tapi tak ada yang sanggup maju selangkah pun. Mereka pernah mendengar cerita tentang kekuatan ini—tak ada senjata biasa yang bisa melawannya.
Ki Surya gemetar melihat anak buahnya tak berani bergerak. Dia mencoba menyelinap lari lewat pinggir sungai, tapi Karta melihatnya.
“Heh Pak Pengurus! Mau ke mana?” serunya sambil melempar kulit pisang. Kulit itu jatuh tepat di depan kaki Ki Surya. Dia terpeleset, jatuh terjerembap ke rumput basah.
“Kau anak nakal!” umpat Ki Surya bangkit kesal. “Kau tak tahu siapa aku!”
“Tahu kok,” jawab Karta santai. “Kau yang minta beras dua kali lipat dari Ki Lurah Cikaduwet kemarin. Bilangnya buat upeti, padahal buat pesta ulang tahun anakmu kan?”
Ki Surya memucat. Tak disangka anak desa ini tahu rahasianya.
“Kau... kau berani memfitnah pejabat!”
“Bukan fitnah, itu yang didengar nenek penjual jamu,” kata Karta cengengesan. “Dia dengar kau ngomong begitu sama istrimu di pasar kemarin.”
Bayu mendekat perlahan. “Kau lihat sendiri. Semua orang tahu apa yang kau sembunyikan. Serahkan kunci gerobak, atau kau yang akan menjelaskan semuanya ke Adipati Rangga Sasmita nanti.”
Ancaman itu lebih menakutkan daripada senjata apa pun. Ki Surya tahu kalau Adipati tahu dia menyembunyikan keuntungan pribadi, nasibnya pasti lebih buruk daripada sekadar kehilangan barang. Dia mengeluarkan kunci dari saku, melemparkannya ke tanah dengan kasar.
“Ambil saja!” serunya marah. “Tapi ingat! Kau akan dicari ke seluruh penjuru negeri! Kau pencuri resmi Kadipaten!”
“Kami tidak mencuri,” jawab Bayu tenang. “Kami hanya mengembalikan hak pemiliknya.”
Dia memberi isyarat agar prajurit yang masih bisa bergerak membawa teman mereka pergi. “Kalian boleh ikut dia. Katakan pada Adipati, Pamanah Rasa mengambil barang ini untuk rakyat. Kalau dia berani datang sendiri, aku tunggu di sini.”
Prajurit saling pandang, lalu membantu teman mereka yang terluka berjalan pergi. Ki Surya menyusul dengan langkah berat, terus menoleh ke belakang dengan wajah penuh dendam.
Setelah mereka hilang dari pandangan, Karta bertepuk tangan riang. “Berhasil Kang! Semua aman!”
Dia melompat turun dari gerobak, lalu tiba-tiba berhenti di dekat karung kain yang sedikit terbuka. Matanya berbinar melihat gulungan kain bermotif bunga melati.
“Wah kainnya bagus!” katanya sambil menyentuh permukaannya lembut. “Nanti ambilkan satu buat Emak di kampung ya? Kemarin kainnya robek waktu baju cari kayu bakar.”
“Boleh,” jawab Bayu sambil memeriksa isi peti uang. “Tapi harus dibagi rata. Jangan ada yang lebih.”
Mereka pun mulai bekerja. Mengikat kembali karung-karung beras, menyusun kain, dan membagi uang perak ke dalam kantong kecil. Sore itu juga, saat matahari mulai turun, mereka berkeliling dari desa ke desa. Tak mengetuk pintu, tak berteriak memanggil. Cukup meletakkan bungkusan di depan rumah, lalu menghilang sebelum ada yang keluar melihat.
Di desa Cikabuyutan, Mbah Suryanata keluar rumah mendengar suara langkah pelan. Di ambang pintu tergeletak karung beras dan selembar kain. Dia mengangkat wajah menatap ke arah hutan, tersenyum lembut.
“Terima kasih, Pamanah Rasa,” bisiknya pelan.
Kabar itu menyebar bagai api di musim kemarau. Malam itu juga, orang-orang berbisik di balik jendela tertutup.
“Dengar belum? Konvoi Ki Surya dirampok!”
“Bukan dirampok, Ki. Barangnya dibagi ke kita semua. Tadi pagi karung beras sudah ada di depan pintu.”
“Siapa yang berani begitu?”
“Pamanah Rasa. Katanya dia perampok yang tak ambil sehelai benang pun buat dirinya sendiri.”
“Perampok bertopeng... tapi hatinya lebih mulia dari pejabat mana pun.”
Sebutan itu menempel cepat. Di mana-mana orang mulai menyebutnya “Malaikat Bertopeng”. Bukan karena dia menutup wajah, tapi karena kebaikannya datang diam-diam, seperti pertolongan dari langit.
Jauh di pinggir sungai, di tempat persembunyian sementara, Karta duduk bersandar pada batu besar sambil mengunyah ubi rebus. Di sampingnya tersisa satu karung beras kecil dan sepotong kain.
“Kang, kenapa kita tak bilang siapa kita?” tanyanya tiba-tiba. “Biar mereka tahu kita yang bantu.”
Bayu menatap cahaya api unggun redup. “Pujian orang berat sekali, Karta. Kalau kita diteriaki pahlawan hari ini, kesalahan kecil besok bisa jadi alasan mereka membenci kita. Biarkan mereka menghargai kebaikan itu sendiri, bukan orangnya.”
Karta manggut-manggut, lalu tiba-tiba mukanya berubah kesal. “Tapi Ki Surya itu jahat banget! Dia ambil beras orang, terus marah kalau diambil kembali! Kalau dia datang lagi, aku kasih pelajaran biar dia tahu rasa!”
Seketika tangannya terkulai lemas. Pisau Sanghyang Waja terasa seberat batu kilangan, membuat tubuhnya miring ke samping. Dia mendengus kesal, tapi segera ingat aturannya. Menarik napas panjang, mencoba tenang. Perlahan beban itu hilang.
“Yaa... ya sudah deh,” gumamnya. “Nanti biar keadilan yang datang sendiri.”
Bayu tersenyum melihat kedewasaan yang perlahan tumbuh di diri anak itu. Di tengah bahaya yang makin dekat, di tengah tuduhan yang makin menumpuk, mereka tetap berjalan di jalan lurus.
Malam semakin larut. Angin membawa suara bisikan nama “Pamanah Rasa” dari kejauhan. Nama yang dulu disembunyikan, kini jadi harapan. Dan sebutan baru “Malaikat Bertopeng” kini terbang ke mana-mana, membuat si penindas gelisah dan si tertindas merasa tak sendirian.