Kisah perjalanan Pendekar Naga dalam membasmi kejahatan yang di sebabkan oleh Pendekar Aliran Hitam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adih Supriadi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 33
PERJALANAN PULANG
*Malam. Di tengah perjalanan pulang.*
Hutan lebat. Suara jangkrik dan burung hantu bersahutan.
Bulan setengah menggantung di antara dedaunan.
Seluruh pasukan berhenti dan berkemah.
Tenda-tenda kecil didirikan melingkar.
Api unggun dinyalakan di tengah-tengah.
Bau asap kayu bercampur wangi tanah basah.
Di salah satu api unggun...
Arden duduk sambil pegang perut. "Perutku keroncongan..."
Arden menoleh ke Apis.
"Apis... gimana kalau kita cari ayam hutan?"
Apis yang tadinya setengah tidur langsung melek. "Ide bagus! Aku lapar juga!"
Tanpa nunggu lama, keduanya ambil tombak kecil dan menghilang ke gelapnya hutan.
"Jangan jauh-jauh!" teriak Jendral Kerbau dari tenda.
Di sisi lain...
Beberapa prajurit sudah jalan ke sungai kecil dekat perkemahan.
Dengan jala dan tombak bambu mereka mencari ikan.
Tak lama terdengar sorakan, "Dapat! Dapat 3 ekor!"
*Tak lama kemudian...*
_Wusss!_
Arden dan Apis kembali. Tangan Arden gendong 2 ekor ayam hutan.
Apis bawa satu ekor dan pisang satu tandan. .
"Kita beruntung!" kata Arden sambil melempar ayam ke tanah. "Ada di dekat pohon beringin!"
Para prajurit bersorak.
"Sudah matang itu pisang Pis..." ucap Arden.
"Sudah Kak... Manis..." ucap Apis sambil makan Pisang.
"Sini bagi...." ucap Arden.
Api unggun dibesarin.
Ikan ditusuk bambu. Ayam hutan dibakar di atas batu panas, dibaluri bumbu dari daun-daun hutan.
_Ssssttt..._
Lemak ayam menetes ke api. Aromanya bikin semua orang ngiler.
Malam di hutan jadi rame.
Ada yang bakar ikan, ada yang bakar ayam, ada yang cerita tentang duel tadi pagi.
Jendral Garuda gigit ayam sambil ketawa. "Ini ayam hutan lebih enak dari jamuan kerajaan!"
Pendekar Naga Hijau duduk di batang kayu, bagi-bagi ikan ke prajurit muda.
Pendekar Naga Langit dan Jasiren duduk dekat api, ngobrol pelan sambil lihat peta.
Arden duduk sebelah Apis. Gigit paha ayam. "Enak banget... habis perang emang paling enak makan bareng gini."
Apis mengangguk sambil mulut penuh. "Setuju. Besok kita cari lagi."
Langit bertabur bintang. Angin sepoi-sepoi.
Untuk pertama kalinya setelah berhari-hari... *tidak ada rasa takut. Hanya tawa dan kenyang.*
****
*3 hari perjalanan berkuda.*
Siang panas, malam dingin, hujan sempat turun sekali.
Tapi semangat pasukan tidak padam.
Apis bernyanyi. "Nenek moyang ku seorang pelaut...... Tapi kenapa kita naik kuda... Slalalala uhuy...."
"Pis, diam pis..... Fokus perjalanan..." ucap Oval
"Tahu nii tiba tiba aja nyanyi... Laper lu ya..." ucap Arden.
Di hari ketiga... dari kejauhan terlihat *gerbang besar Kerajaan Rinjani*.
Tembok putih, bendera hijau-emas berkibar, dan Gunung Rinjani menjulang di belakangnya seperti penjaga.
_Dum... dum... dum..._
Tapak kuda semakin cepat.
*Sampai.*
Gerbang dibuka. Ratusan rakyat sudah menunggu di sepanjang jalan.
"PENDEKAR NAGA!!"
"HIDUP NUSANTARA!!"
Bunga dilempar. Genderang ditabuh.
Di depan istana... *Raja Rinjani* sudah menunggu.
Jubah kerajaan warna emas. Mahkota di kepala. Di belakangnya para penasihat dan dayang.
Raja melangkah maju. Menatap barisan para pendekar.
"*Selamat datang para pahlawan!*" suaranya lantang.
Beliau menatap satu-satu.
Ke *Pendekar Naga Hijau*. Ke *Pendekar Naga Langit*. Ke *Pendekar Naga Sakti* yang berjubah abu-abu.
Ke *Pendekar Naga Hitam*. Dan terakhir ke *Arden - Pendekar Naga Putih* yang berdiri di samping *Jasiren*.
Raja Rinjani menunduk hormat.
"Aku berterima kasih sebesar-besarnya.
Atas bantuan dari prajurit Kerajaan Kencana yang dipimpin oleh Arden - Pendekar Naga Putih bersama Jasiren, Naga Hijau, Naga Hitam, dan guru para naga yaitu - Pendekar Naga Sakti*"
"Karena kalian... Nusantara tidak jatuh ke tangan Khan."ucap Raja Rinjani.
Semua prajurit menunduk. Arden dan Jasiren saling lirik. Bangga.
Raja tersenyum. "Kalian pasti lelah.
Maka aku minta... beristirahatlah 3 hari di Kerajaan Rinjani.
Karena akan diadakan pesta besar untuk merayakan kemenangan kita!"
Para rakyat langsung bersorak.
Pendekar Naga Sakti mengangguk. "Kami terima kasih, Raja."
Pendekar Naga Hijau menepuk bahu Arden. "Dengar itu? Istirahat 3 hari makan enak."
Arden ketawa. "Setuju! Akhirnya kasur empuk!"
*"SETUJU!!"* jawab semua pendekar dan prajurit Kencana serempak.
***
*MALAM PERTAMA: PESTA KEMENANGAN*
Lapangan istana Kerajaan Rinjani berubah jadi lautan lampu.
Lentera gantung, obor, dan api unggun besar menerangi seluruh halaman.
Meja panjang penuh makanan: ayam bakar, ikan asap, sate, kue, buah-buahan, dan kendi tuak manis.
Para penari datang dari berbagai kerajaan. Genderang dan suling mengiringi tarian.
Raja Rinjani berdiri di panggung kayu. Mengangkat cangkir emas.
"Untuk para pahlawan Nusantara! Untuk *Kerajaan Kencana*! Untuk *Pendekar Naga*!"
_HUAAAHHH!!!_ Sorakan menggema.
Arden - Pendekar Naga Putih duduk bareng Jasiren*.
Di seberang ada Pendekar Naga Hijau, Naga Hitam, Naga Langit, dan Guru Naga Sakti.
Jendral Kerbau sudah piring ke-3. "Ini pesta paling enak seumur hidup!"
Jendral Garuda malah diajak nari sama dayang istana.
"Kak Oval, joget yuu... Menari kita bersama wanita.... Ayoo..." ucap Apis ke Oval.
"Ahhh tidak Pis... Joget saya seperti orang kesurupan... Malu saya, tuh ajak Arden saja..." ucap Oval.
"Kak Arden, kuy lah joget nari cuy...." ucap Apis sambil melirik ke arah penari wanita.
"Hmmm Ayo lah.... Capek berbulan-bulan perang saat nya menari.. Ayo Pis...." ucap Arden.
Arden dan Apis bergabung menari dengan para wanita.
Selain pertunjukan menari,
Tengah malam ada pertunjukan: duel silat antar prajurit, dan cerita kepahlawanan dari para sesepuh.
Pesta usai.
Arden bersandar ke tiang. Liat langit bertabur bintang.
"Akhirnya... bisa ketawa tanpa mikir perang," bisiknya ke Apis.
Apis mengangguk sambil pegang ayam goreng "Besok kita tidur seharian."
*HARI KE-2: ISTIRAHAT TOTAL*
Pagi. Tidak ada latihan. Tidak ada patroli.
Semua boleh tidur sepuasnya.
Arden tidur sampai matahari di atas kepala. Bangun-bangun langsung ke pemandian air panas di belakang istana.
Apis malah mancing di kolam istana.
Pendekar Naga Hijau duduk di taman, minum teh sambil baca buku jurus lama.
Pendekar Naga Sakti meditasi di puncak menara, menatap ke arah laut.
Jendral Kerbau dan Garuda lomba makan. Jelas yang menang Kerbau.
Sore hari anak-anak istana minta diajari jurus.
Arden ajarin dasar tenaga putih. Apis ajarin cara bikin perangkap.
Tawa anak-anak memenuhi halaman.
*HARI KE-3: PERSIAPAN PULANG*
Istirahat terakhir.
Para pandai besi Rinjani memperbaiki senjata yang rusak.
Tabib mengobati luka para prajurit. Kuda-kuda dimandikan dan diberi makan terbaik.
Malamnya makan malam terakhir bareng keluarga kerajaan.
Raja Rinjani memberi hadiah: jubah baru, pedang ukir, dan perbekalan untuk perjalanan pulang ke Kencana.
Pendekar Naga Sakti berdiri. "Terima kasih atas jamuan nya, Raja. Besok pagi kami berangkat."
Raja mengangguk. "Jaga diri di jalan. Nusantara masih butuh kalian."
***
*Pagi hari ke-4. Halaman Istana Rinjani.*
Kuda sudah siap. Gerobak penuh perbekalan.
Pasukan Kencana berbaris rapi mau berangkat pulang.
Tiba-tiba genderang pelan ditabuh.
Dari dalam istana keluar iring-iringan dayang.
Di tengahnya... *Putri Raja Rinjani*.
*Dewi Kunang .*
Gaun biru muda, selendang sutra, mahkota bunga tanjung. Wajahnya tenang tapi matanya berbinar waktu melihat ke depan barisan.
Semua prajurit menunduk hormat.
Dewi Kunang adalah Putri Raja yang dulu di utus oleh Kerajaan Rinjani ke Kerajaan Kencana untuk meminta bantuan prajurit dalam menghadapi serangan dari pasukan Kerajaan Khan.
Dewi Kunang berjalan ke arah Arden - Pendekar Naga Putih.
Arden kaget. Langsung menunduk. "Putri..."
Dewi Kunang tersenyum. Suaranya lembut tapi jelas.
"Pendekar Arden. Aku mendengar semua cerita tentang keberanianmu di perang kemarin.
Cara kau memimpin prajurit Kencana. Cara kau melindungi Nusantara." ucap Dewi Kunang .
Arden garuk kepala. "Itu... tugas saya, Putri."
Dewi Kunang melangkah maju. "Maka itu, izinkan aku ikut denganmu ke Kerajaan Kencana.
Sekalian membawa hadiah kenangan untuk Raja Kencana dari Ayahanda.
Sebagai tanda persahabatan antara Rinjani dan Kencana."
_Hening sejenak._
Semua mata tertuju ke Jasiren.
Sebagai pemimpin Kencana dan ayah Arden, keputusan ada di tangannya.
Jasiren menatap putrinya, lalu menatap Arden yang masih bengong.
Lalu dia tertawa kecil. "Hahaha..."
"Aku setuju."
"Putri Dewi Kunang boleh ikut. Sekalian dengan 10 pengawal terbaik Rinjani untuk menemani dan menjaga.
Biar perjalanan ke Kencana tidak membosankan untuk Arden."
Arden langsung tersedak. "Eh?! A-aku maksudnya... siap, Ayah!"
Para prajurit pada nahan ketawa. Pendekar Naga Hijau bisik ke Apis: "Wah... ini bukan cuma ngawal hadiah nih."
Apis cuma nyengir.
Dewi Kunang menunduk sopan ke Jasiren. "Terima kasih, Paman Jasiren."
Lalu dia melirik Arden sekilas. Senyumnya tipis.
Pendekar Naga Sakti. "Hmm... perjalanan pulang jadi lebih menarik, menarik hati Arden."
Apis dan Oval tertawa bersama.
***
*PANORAMA KEBERANGKATAN:*
Barisan panjang bergerak keluar gerbang.
Di depan: Arden dan Dewi Kunang berkuda berdampingan.
Di belakang: Jasiren, para Naga, dan 10 pengawal Rinjani mengawal kereta hadiah.
Rakyat Rinjani melambaikan tangan.
"Selamat jalan! Selamat sampai Kencana!"
Arden duduk kaku di atas kuda.
Dewi Kunang malah santai. "Terima kasih banyak ya Kak Arden sudah mau membantu Kerajaan Rinjani."
"Ehh hmmm itu sudah jadi kewajiban kita semua untuk saling membantu." ucap Arden.
Dewi Kunang mendekat.
"Terima kasih sudah izinkan aku ikut," bisiknya.