Xu Ming adalah pemuda biasa dari Bumi yang sangat menggemari novel dan komik kultivasi. Suatu hari, keinginannya untuk menjadi tokoh utama benar-benar terkabul. Ia tiba-tiba terbangun di Dunia Tianxuan dan memperoleh Sistem Pembimbing Kultivasi. Namun, alih-alih menjalani petualangan besar, ia justru dipaksa berlatih pedang, berkebun, memasak, melukis, memainkan qin, menulis kaligrafi, hingga melakukan berbagai pekerjaan sederhana selama sepuluh tahun.
Saat Xu Ming mengira perjalanan sebagai seorang kultivator baru akan dimulai, sistem justru menghilang setelah menyatakan bahwa tutorial telah selesai.
Menganggap dirinya masih seorang mortal yang lemah, Xu Ming memilih tinggal di Desa Qinghe dan menjalani hidup tenang. Tanpa ia sadari, seluruh latihan itu telah membuatnya melampaui semua tingkatan kultivasi. Sementara Xu Ming terus meragukan kekuatannya, seluruh dunia justru memanggilnya Senior, menganggapnya sebagai pertapa agung yang menyembunyikan identitas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon D'Silent Novel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 — Harga Sebuah Kesalahpahaman
Di lantai dua sebuah rumah minum.
Seorang pria berjubah ungu duduk sambil memegang secangkir teh.
Tatapannya tertuju pada lapak kecil di tengah pasar.
Di sana, seorang pemuda biasa sedang menjual sayuran, kerajinan bambu, dan beberapa gulungan kaligrafi.
Namanya Xu Ming.
Namun bagi pria itu...
Pemuda tersebut sama sekali tidak terlihat biasa.
Pria berjubah ungu itu bernama Zhao Yuan.
Seorang penilai harta dari Paviliun Seratus Harta.
Selama hidupnya, ia telah melihat ribuan harta kultivasi.
Artefak kuno.
Pil langka.
Senjata spiritual.
Namun...
Baru hari ini ia melihat sesuatu yang benar-benar sulit dipahami.
Selembar kaligrafi.
Sebelumnya.
Zhao Yuan melihat seorang lelaki tua membeli gulungan kaligrafi Xu Ming.
Lelaki tua itu bukan orang biasa.
Ia adalah Tetua Agung Wen, seorang ahli kaligrafi terkenal yang telah menghilang dari dunia kultivasi selama bertahun-tahun.
Namun saat menerima kaligrafi itu...
Tetua Agung Wen menangis.
Bukan karena sedih.
Melainkan karena mendapatkan pencerahan.
Hal itu membuat Zhao Yuan penasaran.
"Apa sebenarnya yang ditulis pemuda itu?"
Ia akhirnya turun dari rumah minum dan berjalan menuju lapak Xu Ming.
"Saudara."
"Boleh aku melihat kaligrafi itu?"
Xu Ming yang sedang menghitung uang hasil dagangan menoleh.
"Oh, tentu."
Ia mengambil gulungan kaligrafi terakhir.
"Ini buatanku sendiri."
"Kalau suka, boleh dibeli."
Zhao Yuan menerima gulungan itu dengan hati-hati.
Ia membukanya perlahan.
Di atas kertas putih tertulis:
Air yang tenang memantulkan langit.
Tidak ada hiasan.
Tidak ada ukiran rumit.
Hanya kalimat sederhana.
Namun...
Semakin Zhao Yuan melihatnya, semakin ia merasa pikirannya menjadi damai.
Kegelisahan yang selama bertahun-tahun mengganggunya perlahan menghilang.
Tetapi berbeda dengan Tetua Agung Wen...
Ia tidak memperoleh pencerahan.
Karena hatinya masih dipenuhi terlalu banyak perhitungan.
Zhao Yuan segera menutup gulungan itu.
Tatapannya menjadi serius.
"Berapa harganya?"
Xu Ming menjawab santai.
"Sepuluh keping perak."
Zhao Yuan terdiam.
"Sepuluh... keping perak?"
Xu Ming mengangguk.
"Iya."
"Hanya kertas dan tinta."
Zhao Yuan menarik napas dalam.
Ia akhirnya mengerti.
Bukan karena pemuda ini tidak tahu nilai barangnya.
Melainkan...
Pemuda ini benar-benar tidak menganggapnya berharga.
Setelah membayar, Zhao Yuan bertanya:
"Saudara Xu."
"Bolehkah aku bertanya?"
Xu Ming mengangguk.
"Tentu."
"Siapa guru kaligrafimu?"
Xu Ming berhenti sejenak.
Pertanyaan itu membuatnya mengingat masa lalu.
Sepuluh tahun.
Sepuluh tahun penuh dengan berbagai tugas.
Menulis seribu kaligrafi.
Melukis seribu lukisan.
Membuat berbagai kerajinan.
Awalnya ia mengira semua itu hanyalah tugas aneh.
Namun setelah sistem pergi...
Barulah ia menyadari bahwa semua kemampuan itu telah menjadi bagian dari dirinya.
Xu Ming tersenyum kecil.
"Guru ku..."
"...sudah lama pergi."
Zhao Yuan langsung terdiam.
Xu Ming melanjutkan.
"Beliau tidak meninggalkan nama."
"Hanya meninggalkan banyak hal yang harus kupelajari."
"Sampai sekarang pun aku masih merasa belum cukup."
Kalimat itu membuat Zhao Yuan membeku.
Di pikirannya...
Makna dari perkataan itu berubah sepenuhnya.
"Guru misterius Senior Xu telah pergi..."
"Namun bahkan setelah mewariskan semua itu, Senior Xu masih merasa belum cukup?"
Betapa mengerikan tingkat gurunya.
Dan betapa rendah hati muridnya.
Xu Ming lalu tersenyum.
"Namun tidak perlu membicarakan itu."
"Aku hanya belajar apa yang diajarkan."
"Kalau tidak ada bakat, sehebat apa pun ajaran tidak akan berguna."
Zhao Yuan hampir tersedak.
Bakat?
Dia melihat tangan Xu Ming.
Tangan seorang pemuda biasa.
Tidak ada aura.
Tidak ada tekanan.
Namun tangan itu mampu membuat kaligrafi yang bahkan ahli besar tidak mampu memahami sepenuhnya.
Setelah membeli kaligrafi, Zhao Yuan pergi.
Namun pikirannya tidak tenang.
Di jalan, ia terus memikirkan satu hal.
"Siapakah sebenarnya guru Senior Xu?"
Sementara itu...
Xu Ming hanya menghitung uang hasil penjualan.
"Hari ini lumayan."
"Besok mungkin aku bisa membeli benih baru."
Baginya...
Hari ini hanyalah hari dagang biasa.
Ia tidak tahu bahwa satu kalimat sederhana tentang "guru yang telah pergi" telah membuat dunia kultivasi semakin penasaran.
Di kejauhan.
Seseorang yang mengenakan jubah hitam mengamati Xu Ming.
Ia adalah utusan Sekte Bayangan Hitam.
Sebelumnya mereka hanya mendengar rumor tentang rumah Xu Ming.
Sekarang...
Mereka menemukan bukti baru.
Kaligrafi.
Harta yang dapat membuat seorang ahli memperoleh pencerahan.
Dan pemuda itu menjualnya...
Dengan harga sepuluh keping perak.
Utusan itu menelan ludah.
"Pemuda ini..."
"Apakah dia benar-benar tidak tahu nilai barang yang dimilikinya?"
Atau...
"Dia sengaja menyembunyikan identitasnya?"
Tidak ada yang tahu jawabannya.
Bahkan Xu Ming sendiri.
Karena baginya...
Dia hanya seorang pedagang kecil dari Desa Qinghe.
Bersambung...